
SELAMAT MEMBACA......
Fitri, Mars dan Arthur sampai digerbang Villa. semua tentara yang berjaga disana membungkukkan badan memberikan hormat pada sang Tuan.
"Sayang".
"Cece".
"Dedek".
"Fitri".
"Shellena".
Mereka mematung saat melihat gadis kecil itu berjalan dengan santai diantara kedua pria yang menjabat sebagai ketua Mafia di dua kelompok Mafia terkejam.
"Ayah, Daddy". Fitri berlari kearah Sam dan Pedrosa. Awalnya Mars ingin mencegah, tapi belum juga berbicara gadis ini masih terobos saja.
"Sayang". Kedua pria paruh baya itu seakan tak mampu berkata-kata lagi.
"Ayah, Daddy, hikssss". Fitri memeluk keduanya secara bersamaan.
"Shellena". Lirih Sam memeluk putrinya.
"Fitri". Lirih Pedrosa juga membalas pelukkan Fitri.
"Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Apa ada yang sakit?". Cecar Sam pada putrinya.
"Ada".
"Dimana?". Tanya Sam dan Pedrosa panik.
"Disini". Fitri menunjuk hatinya "Sakit merindukan kalian. Maafkan Fitri Ayah Daddy". Ucap Fitri berkaca-kaca.
"Stttt, Fitri tidak salah. Ayah sama Daddy yang salah karena tidak bisa menjaga Fitri". Sam kembali memeluk Fitri. Rasanya tak mampu diungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya Sam saat ini.
"Cece".
"Sayang".
"Dedek".
Fitri menoleh kearah tiga Kakak kembarnya.
"Kakak". Fitri berhambur memeluk ketiga pria kembar itu "Hiks, Kak". Tangis Fitri.
"Maafkan Kakak". Ungkap Zean memeluk Fitri.
"Maafkan Fitri Kak". Ucap Fitri juga.
"Sudah jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang". Goda Zaen menghapus air mata adiknya.
"Kak Sean, hiks". Fitri berhambur kembali ke pelukkan Sean.
"Ce". Sean terharu sampai tak bisa berkata apa-apa "Kakak rindu Cece". Sean mengeratkan pelukkannya.
"Fitri juga rindu Kakak". Fitri melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Sean yang tinggi diatas Fitri, bahkan Fitri mendongkrak kan kepalanya supaya bisa menatap wajah sang Kakak.
"Apa ada yang sakit? Apa ada yang luka?". Cecar Sean memeriksa tubuh adiknya.
__ADS_1
Fitri menggelleng "Tidak Kak! Kak Mars dan Kak Arthur menjaga ku dengan baik". Mendengar ucapan Fitri mereka semua menoleh kearah Arthur dan Mars yang terlihat begitu tenang tanpa beban.h
"Sayang". Fillipo berkaca-kaca memanggil Fitri.
Fitri mengarahkan pandangan kearah Fillipo "Kak Popo, hiks". Fitri masuk kedalam pelukkan Filipo "Kak, hiks". Tangis Fitri pecah. Fitri benar-benar merindukan pria ini, kekasih hatinya. Pelukkan nyaman Fillipo seakan mampu menghilangkan semua rasa sakit ditubuh dan hati Fitri.
Fillipo mengelus lembut kepala gadisnya, meresapi rindu yang menggembang didadanya "Rindu?". Dan Fitri hanya mengangguk.
"Apa ada yang sakit?". Pertanyaan yang sama seperti yang lainnya. Fitri menggeleng dengan mata sembabnya.
"Jangan pergi lagi, hidupku berantakan tanpamu". Fillipo kembali merengkuh tubuh kecil itu.
Mars memalingkan wajahnya kearah lain. Entah apa alasannya? Kenapa hatinya panas saat melihat Fillipo dan Fitri yang terlihat mesra saling berpelukan melepaskan rindu?
Lain halnya dengan Dhanny yang terdiam dengan menunduk, Dhanny tak berani menatap kearah Fitri. Dhanny senang jika Fitri tidak apa-apa. Fitri justru terlihat lebih segar dari biasanya.
Fitri menatap tajam kearah Dhanny. Fitri berjalan kearah Dhanny, sedangkan yang lain hanya melihat apa yang akan Fitri lakukan pada lelaki berbadan kekar itu.
"Kak Dhanny".
Dhanny mengangkat pandangannya dan melihat Fitri yang sudah berada didepan nya.
"Fitri".
Fitri masih terdiam menelisik wajah Dhanny. Ada rasa marah dan juga kecewa terhadap Dokter ini. Namun, Fitri juga tak sepenuhnya menyalahkan Dhanny, Fitri tahu betapa Dhanny mencintai dirinya, wajar saja jika Dhanny melakukan segala cara untuk mendapatkannya.
Gleeeppppppppp
Fitri memeluk Dhanny secara tiba-tiba. Sedangkan Dhanny terdiam dan mematung.
"Jangan ulangi lagi Kak, hiks. Aku benar-benar takut, berada diruang gelap". Ucap Fitri terisak.
"Maaf". Lirih Dhanny membalas pelukkan Fitri.
Fillipo yang melihat hal itu berusaha untuk tenang, dia tidak mau egois. Fillipo tahu Fitri memeluk Dhanny karena alasan tertentu bukan karena Fitri menyukai Dhanny.
"Jangan lakukan lagi Kak". Fitri melepas pelukkan Dhanny.
Dhanny menatap Fitri "Maafkan aku! Aku sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Maafkan aku, aku hanya terobsesi dan ingin memiliki mu tanpa aku sadari bahwa itu justru melukaimu. Aku akan mencoba merelakanmu bersama Fillipo, bahagiakan gadis kecil". Dhanny menyeka air mata Fitri.
Fitri mengangguk paham "Kak Dhanny juga harus bahagia. Aku percaya suatu saat nanti, Kakak akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintai Kakak". Ucap Fitri sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah memaafkanku". Ucap Dhanny tulus.
Diruang tamu Villa milik Mars tampak beberapa lelaki dengan dua generasi dan seorang gadis cantik yang sedari tadi bergelut manja dilengan kekar Kakaknya.
"Apa alasanmu membawa Fitri kesini?". Fillipo menatap Mars dengan tajam intonasi suaranya terdengar dingin.
"Tidak perlu kujelaskan kau pasti tahu". Ketus Mars, lalu teralih pada Fitri. Gadis itu, terlelap dipangkuan Sean "Dia merubah segalanya". Bibir Mars melengkung menatap Fitri yang tidur dengan damai.
"Kondisikan matamu, dia milikku". Sanggah Fillipo. Jiwa cemburunya sudah kembali dipastikan setelah ini dia pasti posessif akut.
"Mars, apa ada kamar khusus untuk Fitri?". Tanya Sam mengalihkan pembicaraan.
"Ada Paman". Jawab Mars.
"Sean, sebaiknya bawa Fitri ke kamarnya. Biarkan dia istirahat. Sepertinya dia sangat lelah". Suruh Sam.
"Baik Dad". Sahut Sean.
__ADS_1
Sean menggendong Fitri kekamarnya dan mengikuti pelayan yang akan menunjukkan kamar Fitri.
"Mars, jawab pertanyaanku! Bagaimana mungkin putriku bisa seakrab itu denganmu. Bahkan terlihat kalian seperti orang yang sudah lama mengenal?". Tanya Sam pada Mars.
Mars menghela nafas dalam "Awalnya aku berniat untuk memanfaatkan nya dan bekerjasama untuk membuat senjata yang kurancang dengan beberapa perusahaan. Setelah itu aku akan melenyapkannya, karena dia sudah membuatku gagal menghancurkan perusahaan Sean".
"Kau....".
"Fillipo, biarkan dia selesaikan ucapannya dulu". Sanggah Zaen.
Fillipo menurut
"Hingga aku mengancamnya dengan hal-hal yang mengerikan. Namun, bukannya takut dia justru terlihat tenang dan santai. Dia selalu membuatku bungkam dengan permintaan anehnya. Sampai tanpa sengaja dia melihat Ibuku, dan terus mencecar ku dengan pertanyaan. Karena aku tipe orang yang tidak suka berdebat akhirnya aku mengalah dan menceritakan siapa diriku dan masa laluku". Mars terkekeh saat mengingat perdebatan nya dengan Fitri
"Dia membuat aku dan Ibu hidup kembali. Jujur saja awalnya aku memang membenci dan ingin sekali menenggelam kan tapi semua perasaan jahat itu hilang berubah menjadi rasa hangat saat dia memanggilku Kakak". Sudut bibir Mars tertarik.
"Kami selalu berdebat dan aku selalu kalah, anehnya aku tidak bisa marah dan hanya kesal tapi dibalik itu aku merasa senang". Senyum Mars yang malah membuat mereka tercenggang. Terima Zean dan Zaen yang memang mengenal Mars, sedangkan Fillipo teman kuliah Mars namun tak terlalu akrab jadi tidak tahu bagaimana sifat Mars.
"Akhirnya memutuskan segala dendamku dan memulai hidup yang baru bersama Ibu. Ibu juga menanggap Fitri sebagai putri nya sendiri. Tak pernah kulihat senyum manis Ibu selama ini". Jelas Mars.
"Zean, Zaen dan Fillipo, aku minta maaf yang sebesar-besarnya, entah apa yang membuatku dendam pada kalian. Tapi percayalah setelah bertemu Fitri, aku tidak lagi merasa dendam yang ada didalam hatiku adalah meminta maaf dan aku akan tenang". Ucap Mars tulus.
Zean, Zaen dan Fillipo menatap Mars mencari kebohongan disorot matanya, namun yang terlihat sebuah ketulusan.
"Aku ingin kita bersama-sama menjaga dan merawat Fitri". Lanjut Mars "Kalian harus tahu bahwa penyakitnya semakin parah. Nick mengatakan padaku, bahwa dia harus melakukan kemoterapi rutin, jika tidak sel kanker dalam tubuhnya akan semakin menyebar bahkan sudah memasuki syaraf, sebab itulah tingkat kejeniusan Fitri semakin meningkat". Jelas Mars.
"Apa maksudmu Mars?". Pekik Fillipo dengan nafas memburu.
"Aku tahu kau paham maksudku Fillipo". Sindir Mars "Aku akan mencoba mencari dokter terbaik dan obat terbaik untuknya". Ucap Mars dengan wajah sendu.
Sam dan Pedrosa tercekat mendengar penjelasan Mars.
"Kita harus segera kembali ke Amerika". Tintah Sam "Karena bisa jadi kondisi Fitri semakin parah". Sambung Sam.
"Tenang saja Paman! Di Villa ku sudah dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit. Besok saja kita kembali. Ada banyak hal yang harus kita selesaikan. Aku sudah meminta Nick untuk mengontrol kesehatan Fitri". Ucap Mars.
"Terima kasih Mars". Ucap Pedrosa dan Sam bersamaan.
"Dhanny bagaimana pendapat mu?". Tanya Zaen pada Dhanny, karena dia Dokter tentu pasti banyak yang dia tahu.
Dhanny menghela nafas berat "Dia tidak bisa selalu kemoterapi, karena efek dari kemoterapi cukup fatal. Dia bisa buta, infeksi paru-paru atau bahkan gagal ginjal". Jelas Dhanny.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?". Tanya Zean
"Berobat rutin dan dukung dia, kita tetap melakukan kemoterapi tapi hanya sebulan sekali". Sahut Dhanny.
Mereka kembali terdiam. Entah apa yang akan terjadi jika Fitri sampai menghilang dari kehidupan mereka semua.
**Bersambung......
Akhirnya Dhanny sadar juga. Hmmm karena kenyataannya memang benar bahwa cinta tidak bisa dipaksa dan cinta terbaik adalah melepaskan dengan ikhlas kebahagiaan nya bersama orang lain..........
Apa yang akan mereka lakukan untuk kesembuhan Fitri????
Poor Fitri........
GBU....
LoveUall**....
__ADS_1