Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 47. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


Zehemia, Zehekiel dan Zevanya segera menuju bandara. Zehemia dan Zehekiel yang masih bingung mau bawa kemana oleh Zevanya, hanya bisa menurut saja. Dalam benak keduanya bertanya mau kemana? Kenapa harus pakai jet pribadi? Apakah mereka dibawa keluar negeri? Namun semua pertanyaan itu hanya mampu dipendam dalam hati saja, karen jika bertanya langsung tidak akan dijawab yang ada malah ditanya ketus oleh adik mereka.


Sedangkan Myron dan yang lainnya menyusul. Meski bingung mereka tetap saja mengikuti apa yang dikatakan oleh Zehekiel. Saat Myron bertanya kenapa? Zehekiel hanya menjawab jika Myra diculik. Tentu saja jawaban Zehekiel seketika membuat Myron naik pitam dan juga cemas.


“Seratus kilo dari perkotaan”. Gumam Zevanya “Jauh juga?”. Gumamnya lagi asyik dengan ponsel ditanganya.


“Kak”. Panggil Zevanya.


“Iya sayang?”. Sahut Zehemia melihat adiknya.


“Apa Triple L yang dibuat Mommy masih bisa digunakan?”. Tanya Zevanya hati-hati takut menyinggung perasaan kakaknya.


Zehemia dan Zehekiel saling melihat ketika mendengar pertanyaan Zevanya.


“Memangnya kenapa sayang?”. Tanya Zehekiel penasaran.


“Jawab saja Kak, jangan banyak bertanya”. Ketus Zevanya dia masih memainkan ponselnya.


Zehekiel terkekeh, adiknya ini sungguh luar biasa. Dalam mode ketus saja wajahnya tetap menggemaskan “Ck, kau ini…..”. zehekiel mengacak rambut Zevanya dengan gemes. Sehingga membuat rambut adiknya itu berantakkan.


“Kakak”. Zevanya merenggut kesal. Rambut yang susah payah dia rapikan, tapi justru dibuat berantakkan oleh Kakak nya.


“Sini, biar Kakak yang ikat”. Zevanya berbalik badan dan membiarkan Zehemia merapikan rambutnya.


Zehemia menyisir rambut Zevanya dengan jarinya. Wangi shampoo yang Zevanya gunakan menyeruak masuk kedalam indra penciumannya. Namun mata Zehemia membelalak saat banyak rambut adiknya yang menyangkut dijari-jarinya.


“Sayang, kenapa rambutmu rontok sekali?”. Zehemia terlihat panic.


“Mana Kak?”. Zehekiel juga ikut melihat dan memang benar jika rambut adiknya rontok begitu banyak.


“Sayang”.


“Kak, aku hanya salah menggunakan shampoo saja. Tadi aku sudah membeli shampoo baru”. Kilah Zevanya tidak mau jika kedua kakak nya itu akan curiga padanya.


“Kau yakin sayang?”. Zehemia masih tidak percaya.


“Kakak tidak percaya?”. Ketus Zevanya, sebenarnya hanya menyembunyikan kecurigaan kedua kakak nya.

__ADS_1


“Tidak sayang, kakak percaya”. Zehemia kembali mengikat rambut adiknya. Meski dalam benak masih penasaran kenapa rambut adiknya bisa rontok begitu. Namun Zehemia tetap percaya karena memang adiknya tidak pernah membohonginya.


Sampai ditengah hutan. Jet pribadi itu mendarat didekat sebuah bangunan tua yang diyakini usianya lebih dari tiga puluh tahun.


“Tunggu Kak”. Zevanya mencengkram tangan kedua kakak nya saat hendak turun.


Kening Zehemia berkerut “Kenapa sayang?”. Tanya Zehemia heran


“Gunakan ini Kak”. Zevanya memberikan dua pistol kecil pada kedua kakaknya “Pistol ini bisa menghabisi mereka semua, pelurunya sudah aku campur dengan larutan asam. Sehingga langsung membuat tubuh melumpuh dan membeku”.


Zehemia dan Zehekiel hampir tersendak ludahnya sendiri saat Zevanya menjelaskan.


“Darimana kau mendapatkan benda ini sayang?”. Zehemia mengambil pistol kecil dari tangan adiknya.


“Aku membuatnya sendiri”. Sahut Zevanya santai. Namun tidak untuk kedua kakaknya “Sudah Kak, ayo jangan banyak melamun”. Zevanya turun dengan tidak sabar.


Zehemia dan Zehekiel benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah adik mereka ini.


“Kak pakai ini”. Zevanya memberikan dua earphone berbentuk headset kecil.


“Kak Tommy, Kak Math”. Zevanya juga memberikan pada dua asissten kakaknya.


“Tidak sayang, itu berbahaya”. Tolak Zehemia. Begitu juga dengan Math dan Tommy yang bingung dengan ucapan Nona Muda mereka.


“Kak, kita tidak punya waktu banyak. Kalian tenang saja, aku bisa jaga diri”. Senyum Zevanya menyakinkan kakak nya “Kalian awasi disini, aku akan menyelinap masuk. Setelah mendengar aba-aba dan perintah dariku, baru kalian masuk dan lakukan penyerangan”. Tintah Zevanya.


“Tapi…………”.


“Waktuku tidak banyak menjelaskannya Kak”. Ketus Zevanya memotong ucapan Zehemia “Kalian turuti saja”. Sambung Zevanya sambil mengikat rambutnya dengan rapih.


Zevanya hanya memakai kaos oblong dan celana bahan. Rambutnya dia kuncir kuda. Bahkan dia tidak memakai baju anti peluru. Zevanya memang jago bela diri.


“Sayang”. Zehemia dan Zehekiel bungkam melihat adiknya “Pakailah baju anti peluru”. Suruh Zehemia dia tampak khawatir.


“Tidak Kak, kakak saja yang pakai. Aku baik-baik saja”. Senyum Zevanya.


Zehemia dan Zehekiel akhirnya menurut setelah berdebat panjang dengan Zevanya. Pakai bahasa apapun mereka takkan menang berdebat dengan adik mereka yang notabene gadis suka berisik dan memiliki jutaan kosa kata ini. Mereka selalu saja dibuat kalah telak dengan ucapan spontan adiknya.


Zevanya masuk dengan mengendap-ngendap. Dia seperti anak kecil yang hendak mencuri buah mangga tentangga.

__ADS_1


Zevanya memincingkan matanya saat melihat betapa ketatnya penjagaan disana.


“Aku tidak akan mampu melawan mereka. Apa aku hubungi Triple L saja ya?”. Gumam Zevanya dia masih mengintip dari balik pintu, melihat kedalam betaap ketatnya penjagaan disana.


Zevanya mengotak-atik ponselnya. Dia terlihat tenang padahal sedang berperang. Duplikat Fitri benar-benar melekat penuh pada putrinya ini.


“Beres”. Zevanya tersenyum senang, lalu kembali menyimpan ponselnya disaku celana.


“Aku punya ide”.


Zevanya keluar dari persembunyian. Dia berjalan santai masuk, seperti orang tidak berdosa. Wajahnya polos dengan senyum smirk yang tergambar. Siapa yang menyangka jika gadis itu pemberani luar biasa.


“Siapa kau?”. Pekik beberapa pria berbaju hitam mengarahkan pistolnya kearah Zevanya.


Zevanya menyelonong masuk saja kesana, dia cuek dengan pertanyaan para pria berbadan besar dan menyeramkan itu.


“Hei, siapa kau?”. Teriak mereka lagi. Kini semua nya menodongkan senjata kearah Zevanya.


Zevanya menatap tersenyum kearah mereka “Hai Paman, perkenalkan namaku Zevanya?”. Zevanya mengulurkan tangannya kearah salah satu dari mereka.


Pria itu mengerjitkan dahi nya heran “Apa yang kau lakukan disini?”. Tanya pria itu tajam tanpa menyambut uluran tangan Zevanya.


“Aku juga tidak tahu Paman, apa yang aku lakukan disini”. Celetuk Zevanya sambil cenggesan.


Zevanya melanjutkan langkah kakinya.


“Hei, berhenti”.


Namun gadis itu tidak berhenti sama sekali. Dia malah terus berjalan dan masuk kedalam sebuah ruangan yang terlihat mengerikan dengan lampu yang temaram dan sedikit terang.


Pria-pria itu saling melihat heran. Mereka berhambur mengikuti Zevanya. Ingin menembak namun tidak tega melihat wajah menggemaskan gadis itu.


“Hei, apa yang kau lakukan disini?”. Tanya kepala rombongan yang berada di ruang penyiksaan itu “Siapa kau?”. Pria penjaga itu menodongkan senjatanya kearah Zevanya.


Bukannya takut gadis itu malah berdecih kesal “Cih, jangan menakutiku dengan pistol jelekmu itu Paman. Tentu saja aku disini ingin menjemput sepupuku”. Cibir Zevanya melipat tangan didada.


Mereka semua tercenggang mendengar jawaban santai dan tak masuk akal dari mulut Zevanya. Siapa gadis ini? Pikir mereka semua.


Bersambung.

__ADS_1


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2