
SELAMAT MEMBACA....
Zean dan Zaen melangkah keluar. Kedua pria berkarisma itu sempat mencuri perhatian, wajah tampan yang sangat mirip yang membedakan hanya ekpresi dan cara berpakaian. Jika Zaen menyukai penampilan yang urakkan, dengan kemeja yang kancingnya sengaja dibuka menampilkan dada bidangnya, tanpa dasi serta dibalut dengan jas mahal yang harganya ratusan juta. Sedang Zean pria ini menyukai penampilan yang rapih, kemeja dengan dasi yang senada dengan warna jas nya, membentuk tubuh atlit nya dengan sempurana, wajahnya yang dingin justru menambah kesan tampan dari pria tersebut. Tidak dijelaskan saja semua dokter dan perawat yang bekerja dirumah sakit tersebut sudah bisa menebak jika mereka adalah putra dari pemilik rumah sakit Tuan Samuel Ranlet Flint.
"Wil, apa kau sudah menyiapkan semuanya?". Tanya Zean saat mereka masuk kedalam mobil yang harganya milyaran rupiah tersebut.
"Sudah Tuan". Sahut Willy "Mereka sedang menunggu kita ke pelabuhan". Sambung Willy.
"Apa kau sudah menyiapkan anggota?". Tanya Zaen. Sebagai jaga-jaga, tentunya akan banyak munsuh yang mengintai mereka.
"Sudah". Sahut Zean dingin. Tatapannya fokus kedepan. Zean merongkoh saku di jas yang ia kenakan mengeluarkan sebuah pistol kecil yang memang sengaja ia selipkan disaku jas nya sebagai jaga-jaga. Pistol dengan harha milyaran rupiah itu Zean dapat dengan perjuangan yang panjang dan memakan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Zean tidak tahu saja jika yang membuat pistol itu adalah Sam, Ayah kandungnya.
"Hmmm, kau masih setia saja membawa senjata itu?". Ujar Zaen memperhatikan Kakak nya
"Senjata ini sangat berarti untukku". Sahut Zean sambil mengelap-ngelap senjata api tersebut "Kau lupa sudah berapa nyawa yang hilang karena benda kecil ini, hmm". Timpal Zean lagi.
"Cih, biasa saja kali". Gerutu Zaen menatap jenggah kearah Zean saudara kembar yang wajahnya benar-benar mirip.
Zean memasukkan kembali senjata api berbentuk mini tersebut. Ia menyenderkan punggungnya ke jok mobil, pikirannya menerawang jauh memikirkan sang adik.
"Apa yang kau pikirkan?". Tanya Zaen menatap sang Kakak yang tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong.
"Aku memikirkan Fitri". Lirih Zean "Aku tidak menyangka gadis yang hampir ku lecehkan itu ternyata adikku". Ucap Zean.
Sontak ucapan Zean membuat Zaen terkejut dan menatap Kakak nya dengan pertanyaan "Maksudmu?". Tanya Zaen menyelidik.
Zean menarik nafas pelan lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Zean menceritakan apa yang terjadi pada adiknya, bagaimana adiknya menggila saat obat perangsang itu mengontrol dirinya bahkan memberontak minta dipuaskan. Untung saja saat itu Zean bisa mengontrol hasratnya, karena ada rasa sakit saat melihat gadis itu menangis minta tolong. Bagaimana Fitri terkejutnya saat dirinya dijebak oleh sahabat-sahabatnya yang bahkan Fitri tidak tahu apa salahnya pada ketiga sahabatnya ini.
"Brengsekkkkkk". Zaen mengeraskan rahangnya dengan tajam saat mendengar cerita Zean. Hatinya panas saat adiknya dijebak oleh wanita-wanita murahan seperti mereka.
"Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus membalas mereka". Tegas Zaen dengan tatapan membunuh.
"Jangan gegabah Zaen. Kau tahu ini bisa saja membuat Fitri semakin dalam bahaya, sepertinya memang banyak yang tidak suka padanya. Tugas kita adalah melindunginya". Nasehat Zean yang memang berkepala dingin dalam menyelamatkan masalah, berbeda dengan Zaen yang keras kepala bahkan Zaen tak segan-segan membunuh sekalipun itu wanita.
"Tapi ini tidak bisa dibiarkan Zean. Untung saja yang bertemu dengan Fitri itu dirimu, jika bukan sudah pasti masa depan Fitri hancur". Ujar Zaen tak terima.
"Aku tahu Zaen. Tapi yang menjadi fokus kita sekarang bukan itu, yang harus kita utamakan adalah kesembuhan Fitri, kita harus cari Dokter terbaik yang bisa menangani penyakitnya". Jelas Zean.
"Edward, cari Dokter terbaik spesialis kanker. Bila perlu cari diujung dunia dan temukan. Aku tidak mau kau bekerja lelet dan lambat". Tegas Zaen yang membuat bulu kudung Edward merinding
"B-baik Tuan". Sahut Edward.
__ADS_1
Mobil mereka pun sampai di pelabuhan. Disana sudah banyak anggota Black Glorified yang menunggu kedatangan Tuannya.
Zean dan Zaen turun dari mobil dengan penuh karisma dan berwibawa. Mereka mendekati seorang pria berkacamata hitam yang berdiri tidak jauh dari kapal pesiar yang harganya ratusan milyar tersebut.
"Zean......". Sapa pria tersebut membuka kacamatanya dan menjabat tangan pria yang usia nya setara dengan Zean tersebut.
"Aku tidak perlu basa-basi". Ucap Zean dingin "Keluarkan senjatanya". Perintah Zean.
"Hahha, santai brother". Kekeh pria tersebut dengan tersenyum sinis.
Pria itu memberi kode kepada beberapa anggota nya untuk membawa senjata yang dipesan Zean padanya.
"Senjata keluaran terbaru dari rusia Colt M1191A1, senjata ini memiliki kekuatan seribu kali lebih kuat dari SIG Sauer P226". Jelas pria tersebut.
Zean mengambil senjata itu dan memeriksa ke asliannya. Sementara Zaen hanya memperhatikan saudaranya. Tatapan matanya menatap pria didepan Zean, pria itu terlihat sangat mencurigakan.
"Hmmm". Hanya direspon dengan deheman oleh Zean lalu meletakkan kembali senjata itu ketempatnya.
"Ini....". Zean melemparkan sekoper uang Dolar Amerika, yang jika dirupiahkan setara dengan 1,6 triliun rupiah..
"Hahah, senang berbisnis denganmu Zean". Tawa pria tersebut sambil menyerahkan koper itu kepada beberapa bodyguard nya.
Zean tak menjawab, ia berbalik dan langsung pergi meninggalkan pelabuhan dan pria yang bernama Arthur, ketua Mafia dari BTOB King. Arthur merupakan sahabat baik Zean, namun karena suatu insiden membuat kedua orang itu menjadi munsuh.
Dor dor dor dor dor.
Dor dor dor dor dor.
Suara pistol kembali terdengar saling bersahutan satu sama lain.
"Brengsekk". Pekik Zean saat melihat Arthur naik kedalam jet pribadi yang entah datang dari mana.
"Akan kubalas kau Arthur". Teriak Zean.
Dor dor dor dor dor.
Zean kembali menembak jet pribadi yang sudah mengudara itu. Namun tetap saja sia-sia, jet pribadi itu telah terbang sangat jauh dan meninggalkan Zean dengan segala umpatan.
"Periksa senjatanya". Perintah Zean pada anak buahnya. Tangan nya kembali mengepal, bisa-bisa nya ia ditipu oleh pria bajingan itu.
"Baik Tuan". Mereka pun membuka kotak senjata yang diberikan oleh Arthur tadi.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sepertinya senjata ini palsu". Jelas salah satu anggota Black Glorified.
"Arghhhh, brengsekkkk". Pekik Zean menendang senjata itu.
Zaen hanya memandang sambil melipat kedua tangannya. Menatap sang Kakak yang tengah marah. Zaen sudah tak heran ini bukan pertama kalinya Zean ditipu oleh pria iblis itu, tapi tetap saja ia masuk kedalam perangkap pria bajingan itu.
"Arggghhhhh". Teriak Zean frustasi sambil meremas rambutnya dengan kasar. Anak buahnya hanya menundukkan kepala takut akan amukkan sang Tuan mereka.
"Mau berapa lama kau berteriak seperti itu?". Ucap Zaen dengan malas "Ayo kembali". Ajak Zaen menarik tangan Zean masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan!!!". Pekik Zean menghempaskan tangan Zaen.
Zaen menghela nafas kasar melihat saudaranya itu "Jadi orang itu harus lebih pintar sedikit Zean". Sindir Zaen mencibirkan mulutnya kesal.
"Maksudmu?". Tanya Zean sedikit berteriak.
"Ini......". Zaen menyerahkan ponselnya pada Zean.
Zean menatap layar ponsel Zaen lalu menaikan kedua alisnya bingung "Aku menukar uang palsu dalam koper itu". Jelas Zaen memainkan alisnya naik turun "Karena aku sudah tahu jika mantan sahabatmu itu pasti akan menipumu. Jika Ayah tahu kau ditipu, sudah pasti aku akan kehilangan satu saudara kembar lagi". Celetuk Zaen tersenyum mengejek.
"Kau.....". Kesal Zean.
"Tapi bagaimana kau bisa tahu semua ini?". Tanya Zean heran.
"Jangan lupa Kakak ku yang tampan jika aku ini jenius". Sombong Zaen "Tidak seperti dirimu dan Ayah yang otaknya loading sampai 100%". Ejek Zaen sambil terkekeh.
"Kau.....".
Zaen hanya tertawa. Sedangkan Willy dan Edward menggelleng kan kepala. Kedua saudara kembar ini memang selalu bisa menciptakan kegaduhan.
"Harusnya kau berterima kasih pada adikmu yang tampan tiada tara ini Kak, karena sudah menyelamatkan dirimu yang kurang pintar itu". Goda Zaen sambil terkekeh melihat wajah kesal Zean.
"Willy, lain kali kau harus lebih hati-hati lagi! Aku tidak mau ini terjadi lagi". Tegas Zean tanpa merespon ucapan adiknya.
"Baik Tuan". Sahut Willy merasa bersalah. Padahal dia sudah memastikan bahwa kali ini mereka tidak tertipu. Tapi sayangnya tetap saja tertipu.
**Bersambung.......
Ikuti terus kisah nya
GBU....
__ADS_1
LoveUall**...