Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 46. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


Zehemia dan Zevanya keluar dari perusahaan. Mereka akan makan siang bersama Zehekiel di restaurant yang menjadi favorite mereka.


Zevanya bergelut manja di lengan kekar sang kakak. Zehemia menggeleng dengan gemes. Jika orang baru kenal pasti akan mengira mereka sepasang kekasih. Bukan saudara kembar. Karena wajah Zevanya dengan kedua kakak nya jauh berbeda.


“Kak Iel”. Sapa Zevanya saat melihat Zehekiel sudah menunggu didekat mobilnya.


“Sayang”. Zehekiel merentangkan tangannya, agar sang adik memeluknya


“Rindu?”. Renggek Zevanya manja didalam pelukkan Zehekiel.


Zehekiel tertawa gemes, dia mengacak rambut adiknya. Para karyawan yang melihat betapa hangatnya saudara kembar itu hanya tersenyum simpul. Ada rasa iri melihat betapa saling menyanyanginya ketiga saudara kembar itu.


Ditempat lain….


Shawn sedang keluar dari ruang menggajar. Dia dosen disalah satu universitas ternama.


“Kakak”. Panggil seorang gadis.


Shawn menoleh dan melihat Sherly bersama Myra “Iya”. Sahut Shawn malas melihat adiknya yang seperti cacing kepanasan itu.


“Kak, ayo makan siang”. Ajak Sherly memeluk lengan Kakak nya.


“Ya sudah ayo”. Ingin menolak percuma juga. Sherly adalah gadis manja yang tidak bisa menerima kata tidak, karena jika ditolak sudah pasti Sherly akan mengadu pada sang Ayah.


Shawn, Sherly dan Myra meninggalkan halaman kampus dan menuju restaurant untuk mereka makan siang.


Cittttttttttttttttttttttttttttttttt


“Apa apa Kak?”. Tanya kedua gadis itu saat mobil mereka berhenti mendadak.


“Jangan kemana-mana. Kakak akan keluar”. Perintah Shawn.


“Tapi Kak……..”.


Belum selesai Sherly berbicara Shawn sudah keluar duluan dari mobil. Sherly dan Myra melihat dari kaca mobil bahwa ada beberapa mobil berwarna hitam yang menghalangi mereka.


“Ly, sebaiknya hubungi Kak Myron, Kak Grabielle dan Kak Johannes atau Kak Kiel. Aku takut terjadi apa-apa pada Kak Shawn”. Ucap Myra.


“Baik”.


Sherly langsung menghubungi orang-orang itu. Dia juga takut, takut jika Kakak nya kenapa-napa.


“Tidak diangkat”.


“Coba lagi”.


Shawn keluar dengan membawa pelatuk disaku jas nya. Dia tahu jika itu adalah para munsuh nya yang menyerang.


“Apa yang kalian inginkan?”. Shawn langsung menodongkan senjatanya.


“Cepat tangkap dia”.


Dor dor dor dor dor dor


Shawn menembak. Namun tetap saja kalah banyak dari pria berbaju hitam itu.

__ADS_1


“Argghhhhhhhhhhhhh”. Pekik Shawn saat tanganya tertembak


“Tangkap dia”. Kedua tangan Shawn langsung diikat oleh mereka.


“Lepaskan brengsekkkkkk”. Shawn memberontak.


Pria-pria itu juga menangkap Sherly dan Myra yang berada didalam mobil. Dua gadis yang tengah ketakutan itu hanya menangis.


“Lepaskan adikku”. Pekik Shawn berusaha memberontak.


“Kakak”. Tangis Sherly ketakutan. Myra juga takut, apalagi melihat tangan kakak sepupunya itu berdarah.


“Cepat bawa mereka kedalam mobil”.


“Baik Tuan”.


Mereka dibawa oleh pria-pria berbaju hitam itu. Entah akan dibawa kemana. Sherly yang manja terus saja menangis ketakutan.


“Kakak”.


“Sherly tenang ya jangan menangis”. Ucap Shawn berusaha menenangkan adiknya. Sherly memang phobia ketakutan. Dia pernah mengalami hal tidak baik waktu kecil.


Myra juga menangis. Gadis itu berusaha memberontak agar talinya terlepas.


Plakkkkkkkkkkkkkkk


“Diam”. Bentak pria berbaju hitam menampar pipi Myra yang terus menangiss.


“Jangan menyakiti adikku brengsekkkk”. Sentak Shawn kasihan pada Myra.


“Kakak, hiksss”. Myra sungguh merasa takut. Apalagi tamparan itu sampai membuat bibirnya berdarah.


Myra dan Sherly masih menangis dengan sesugugukkan. Kedua gadis ini merasa ketakutan yang luar biasa. Meski Ayah dan kakak nya Mafia mereka tak pernah terlibat dalam dunia gelap itu.


Shawn hanya bisa mengepalkan tangan sambil menahan sakit dipergelangan tangannya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat kedua adiknya yang ketakutan membuat Shawn merasa bersalah. Andai saja tadi dia tidak membawa mereka makan siang pasti mereka tidak mengalami ini.


Mereka dibawa ditengah hutan. Sangat jauh dari perkotaan. Jalan yang ditempuh pun tidak mudah. Mobil triler yang memang sudah dikhususkan untuk melewati jalan itu sempat amblas beberapa kali.


Sampai disebuah gedung tua yang berusia puluhan tahun. Mungkin lebih tua dari umur mereka. Shawn, Sherly dan Myra ditarik secara paksa untuk masuk kesana.


“Lepaskan brengsekkkk”. Shawn masih memberontak. Namun tak bisa melawan.


“Kakak”. Sherly ketakutan dan kesakitan saat pria-pria itu menarik tangannya dengan kasar hingga memerah.


Brakkkkkkkkkkkkkkkk


Mereka melemparkan ketiganya dengan kasar kedalam ruang yang menyeramkan dipenuhi dengan senjata-senjata api, serta penunggunya disana.


“Kakak”. Sherly berusaha bergeser kearah Shawn menangis ketakutan.


“Tenang ya Dek. Semua pasti baik-baik saja”. Shawn berusaha tersenyum agar adiknya tidak merasa ketakutan.


“Myra, mendekat”. Panggil Shawn pada adik sepupunya itu.


“Iya Kak”. Myra bergeser agar lebih dekat dengan Shawn.


Ditempat lain..

__ADS_1


Zehemia, Zehekiel dan Zevanya masih menyantap makan siang mereka bertiga. Zehemia dan Zehekiel bergantian menyuapi adik bungsu mereka yang super manja itu.


“Minum sayang”. Zehekiel mengambil gelas Zevanya dan membantu adiknya minum.


“Terima kasih Kak”. Sahut Zevanya sambil tersenyum hangat.


Mereka lanjut makan dengan canda dan tawa yang menggema. Bahkan mereka tak peduli jika mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada direstourant.


Zehekiel memeriksa ponselnya “Ada apa Sherly menghubungiku?”. Gumam Zehekiel pelan.


“Ada apa Kak?”. Tanya Zevanya mendengar ucapan Kakak nya.


“Ini Sherly menelpon tadi, tapi tidak diangkat”. Zehekiel menunjukkan layar ponselnya.


“Lyly?”. Gumam Zevanya “Hubungi lagi Kak, mungkin ada penting”. Suruh Zevanya.


“Iya sayang”. Zehekiel kembali menelpon sambungan telpon Sherly.


“Tidak di angkat”. Zehekiel sudah mencoba beberapa kali


“Hubungi Shawn”. Perintah Zehemia.


“Baik Kak”. Sahut Zehekiel mencoba menghubungi Shawn “Tidak diangkat”. Ucap Zehekiel mematikan sambungannya


“Coba, Rara Kak”. Suruh Zevanya. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.


“Iya sayang”. Zehekiel mencoba menghubungi Myra


“Tidak diangkat juga”. Ucap Zehekiel.


Zevanya meronggoh ponselnya. Dia mencoba mengacak dimana para sepupunya. Sebelumnya Zevanya sudah memasang alat pelacak disemua ponsel saudara nya termasuk Zehemia dan Zehekiel. Tanpa sepengetahuan siapapun.


“Kak, ayo mereka dalam bahaya”. Zevanya langsung berdiri dari duduk.


“Pelan-pelan sayang”. Tegur Zehemia.


“Ayo Kak”. Zevanya menarik tangan kedua kakak nya dengan tak sabar.


Zevanya berjalan tergesa-gesa. Kedua tangannya menarik tangan Zehemia dan Zehekiel seakan mereka sedang dikejar oleh hantu.


“Kak cepat hubungi Kak Ron”. Suruh Zevanya.


“Untuk apa sayang?”. Tanya Zehekiel menaikan kedua alisnya heran.


“Kak berhenti bertanya, cepat hubungi Kak Ron dan yang lainnya. Sasan, Lyly dan Rara dalam bahaya”.


“Apa?”. Kedua pria itu terkejut.


“Baik”. Zehekiel langsung menghubungi kakak sepupunya itu. Tak lupa juga dia menghubungi Johannes, Shawn dan Grabielle.


“Ada apa sebenarnya sayang?”. Zehemia masih bingung dekat sikap adiknya.


“Mereka diculik”. Sahut Zevanya tanpa melihat kedua kakak nya dia malah focus mengotak-atik ponselnya.


“Apa?”. Lagi-lagi kedua kakaknya dibuat bingung.


Bersambung..

__ADS_1


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2