Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 45. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


Zevanya tersandar di dinding lift rumah sakit. Ternyata berpura-pura kuat cukup menguras energi.


“Mommy”. Gumam gadis itu berusaha menyangga tubuhnya. Setelah mengetahui dirinya menghindap kanker jaringan lunak, dia hampir saja mati jantungan. Namun berusaha terlihat baik-baik saja.


Dengan cepat Zevanya menyeka air matanya. Dia adalah gadis kuat sama seperti Mommy nya dulu. Yang kuat dan juga jenius.


Zevanya melangkah menuju mobilnya. Disana sudah ada Herry yang menunggu didepan mobil sambil melipat kedua tangannya bersandar.


“Paman”.


“Nona”. Herry segera menyambut kedatangan Nona muda nya.


“Silahkan Nona”. Herry membuka kan pintu dibagian penumpang untuk sang Nona Muda.


“Terima kasih Paman”. Senyum Zevanya masuk.


Herry masuk kedalam mobil dan siap menjalankan mobilnya “Kita mau kemana Nona?”. Tanya Herry pada Zevanya. Melihat Zevanya ayng hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, membuat Herry merasa bingunng.


“Kantor Kak Hem”. Balas Zevanya yang masih bisa tersenyum.


“Baik Nona”.


Zevanya kembali menatap keluar jendela. Tatapannya kosong, seandainya tidak ada Herry didalam mobil dia pasti sudah menangis sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin diusia semuda ini dia sudah mengindap penyakit mematikan. Bagaimana dengan masa depannya nanti?


“Mommy, apa Mommy tahu sekarang Zeva juga menderita penyakit ganas sama seperti Mommy. Apakah akhirnya Zeva juga akan pergi bersama Mommy? Apakah akhirnya Zeva juga akan meninggalkan Daddy, Kak Hem dan Kak Iel? Apa yang harus Zeva lakukan Mommy. Zeva takut, ini sakit sekali?”. Zevanya hanya bisa membatin.


Zevanya terdiam, tatapannya masih kosong kearah luar jendela kaca mobilnya. Dia masih belum bisa melupakan apa yang dikatakan dokter. Tentu saja Zevanya tahu seganas apa penyakit yang sekarang bersarang ditubuhnya.


“Anda baik-baik saja Nona?”. Tanya Herry yang diam-diam mengintip wajah Zevanya melalui kaca mobil.


Zevanya mengangguk dan hanya memaksakan senyum “Paman, aku pindah disampingmu ya? Tidak nyaman duduk dbelakang”.


“Sebentar Nona saya tepikan dulu mobilnya”.


“Tidak perlu Paman. Aku lewat disini saya”. Zevanya menyalipkan tubuh rampingnya disela-sela mobil dan berpindah disamping Herry.


Herry sampai melonggo tak percaya. Nona Muda-nya ini memang gadis tomboy luar biasa.


“Nona”.


“Hehehe”. Zevanya hanya cengegesan sambil mengaruk tengguknya yang tidak gatal.


“Paman, apa kau pernah takut mati?”. Tanya Zevanya sambil bersandar memangku tas munggilnya.


Herry terkesiap mendengar pertanyaan Zevanya “Semua orang pasti takut mati Nona. Tapi tidak ada yang bisa menghindari kematian”. Sahut Herry melirik kearah Zevanya “Jika anda sedang dalam masalah dan butuh teman curhat. Ceritalah padaku Nona. Meski tak bisa meringankan beban setidaknya saya bisa membuatmu merasa tidak sendirian”. Seru Herry.

__ADS_1


Zevanya tersenyum mendengar ucapan pengawal pribadinya ini “Tidak Paman. Aku hanya sedang memikirkan senjata Kak Ron dan Kak Hem yang dibobol kemarin”. Jawab Zevanya berbohong padahal bukan itu yang dia pikirkan.


“Iya Nona. Saya juga sempat memikirkan itu”. Sahut Herry masih focus menyetir.


Sampai digedung perusahaan Zehemia. Zevanya langsung turun tanpa menunggu Herry membuka pintu.


“Paman kau mau ikut atau menunggu disini?”. Tanya Zevanya.


“Saya menunggu saja Nona”. Jawab Herry yang memang sudah biasa menunggu.


“Baiklah, aku masuk ya”.


“Iya Nona”.


Zevanya berjalan dengan girang masuk kedalam gedung perusahaan Kakak nya. Dia seperti anak kecil yang tidak sabar menerima hadiah dari orangtuanya.


“Selamat siang Nona Muda”.


“Selamat siang semua”.


“Siang juga Nona”.


Zevanya selalu menyapa para karyawan kakak nya. Gadis ceria yang memang tidak sombong itu, selalu mudah akrab dengan orang lain. Meski pun orang yang baru dia kenal.


Zevanya masuk kedalam lift untuk menuju ruang kakak nya. Wajahnya terus tersenyum, tanpa ada orang yang tahu bahwa itu adalah tangis terbaik saat bibirnya bungkam untuk mengatakan yang sejujurnya.


Zevanya melankah menghampiri mereka “Ada apa ini?”. Semua nya langsung terkejut melihat kehadiran Zevanya.


“Astaga”. Betapa Zevanya terkejut ketika melihat wajah gadis itu lebam-lebam “Apa yang kalian lakukan padanya?”. Zevanya langsung menghampiri gadis itu yang hanya bisa menunduk. Pakaian nya berantakkan rambutnya juga tampak kusut.


“Apa yang kalian lakukan padanya?”. Tanya Zevanya pada keempat wanita yang menunduk dan melihatnya dengan takut.


Tak ada jawaban mereka hanya menunduk dengan wajah takut.


Zevanya langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi asissten pribadi kakak nya.


“Kak tenang ya”. Senyum Zevanya merangkul gadis itu dengan tangannya.


“Sayang”. Zehemia dan Math berjalan menghampiri Zevanya.


Zehemia hampir jantungan saat adiknya menelpon sang asissten dan meminta tolong.


“Sayang kau tidak apa-apa?”. Cecar Zehemia menarik adiknya mendekat.


Zevanya menggeleng dan tersenyum “Tidak Kak”. Sahut Zevanya “Tapi dia”. Zevanya menunjuk seorang gadis yang tengah menunduk ketakutan.


“Ada apa?”. Zehemia mengeritkan dahinya heran.

__ADS_1


“Mereka yang akan jelaskan Kak”. Lagi-lagi Zevanya menunjuk keempat wanita yang berdiri dengan tubuh bergetar karena ketakutan.


“Apa yang kalian lakukan padanya?”. Zehemia menatap tajam kearah keempat wanita itu.


“Maafkan kami Tuan”. Mereka hanya bisa menunduk


“Math, bawa mereka keruang HRD. Pastikan besok mereka tidak bekerja sini lagi”. Tintah Zehemia.


“Baik Tuan”.


“Tuan kami mohon jangan pecat kami Tuan”. keempat wanita itu memohon pada Zehemia.


“Cepat bawa Math”.


“Ayo Nona, ikut saya”. Bentak Math pada keempat wanita itu.


“Sayang, apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Zehemia lembut dia masih memeluk adiknya sambil menyelipkan anak rambut Zevanya.


“Ingin mengajak Kak Hem makan siang”. Jawab Zevanya bergelut manja.


“Ayo”. Ajak Zehemia.


“Kak, ayo. Biar aku obati luka kakak”. Zevanya menarik tangan perempuan itu.


“Tidak perlu Nona”. Tolak gadis itu. Dia tidak nyaman dengan tatapan Zehemia yang seakan siap menerkamnya.


“Aku tidak menerima penolakkan Kak”. Tintah Zevanya.


Akhirnya dengan terpaksa gadis itu mengikuti langkah kaki Zevanya. Zehemia menghela nafas berat. Adiknya itu selalu saja mudah berbuat baik pada orang lain. Padahal belum tentu orang itu orang yang baik.


Masuk kedalam ruangan Zehemia. Zevanya langsung menyuruh gadis yang seusia dengannya itu untuk duduk disoffa. Dia mengambil kotak P3K untuk mengobati luka-lukanya.


Sedangkan Zehemia hanya menonton sambil tersenyum hangat melihat adiknya. Andai saja jika Zevanya itu bukan adik dan saudara kembarnya sudah pasti Zehemia akan menjadikan Zevanya kekasihnya dan menikahi Zevanya.


“Mom, lihatlah Zeze dia sangat mirip denganmu. Apa kabarmu disana? Zehem rindu Mommy?”. Batin Zehemia menatap adiknya yang dengan telaten mengobati luka gadis yang ada disampingnya.


“Nama Kakak siapa?”. Tanya Zevanya lembut tangannya masih saja mengobati luka diwajah wanita itu.


“Eidra Nona biasa dipanggil Ei”. Sahut gadis itu.


“Awww”.


“Maaf Kak, sakit ya?”. Eidra menggelleng dengan senyum “Sebentar lagi ya Kak”. Zevanya melanjutkan mengobati luka diwajah Eidra.


Bersambung.........


LoveUsomuch ❤️

__ADS_1


__ADS_2