
SELAMAT MEMBACA....
Zevanya keluar dari kamarnya. Setelah merasa tubuhnya sudah lebih baik, dia memilih berkumpul dengan keluarganya. Dia tidak mau mengurung diri didalam kamar.
“Kak”. Zevanya tersenyum hangat pada kedua Kakak nya yang tengah mengobrol diruang tengah bersama Myron, Shawn dan Johannes.
“Sayang”. Zehemia dan Zehekiel berdiri dari duduknya dan menyambut adik kesayangan mereka.
Zehemia memberikan pelukkan hangat pada sang adik “Bagaimana perasaan adik Kakak ini?”. Zehemia melepaskan pelukkannya dengan lembut dan menatap wajah Zevanya yang masih pucat.
“Zeva baik-baik saja Kak”. Senyum gadis itu memaksakan diwajah pucatnya.
“Zeva”. Entah darimana datangnya Dean. Pria itu menghampiri Zevanya dan Zehemia serta Zehekiel dengan membawa segelas teh hangat ditangannya.
“Minum dulu”. Dean membantu sepupunya itu minum. Dean sangat menyanyangi Zevanya.
“Terima kasih Dean”. Ucap Zevanya.
“Sama-sama”. Balas Dean juga.
“Ayo sayang duduk”. Zehemia dan Zehekiel membantu Zevanya duduk disoffa.
“Bagaimana keadaanmu Kak?”. Tanya Grabielle cemas. Dia melihat wajah Zevanya sangat pucat.
Zevanya tersenyum “Kakak baik-baik saja Gebe”. Sahut Zevanya.
Grabielle berdecak kesal “Kak, nama aku itu Grabielle bukan Gebe. Jangan suka ubah-ubah dehhh”. Gerutu Grabielle kesal. Zevanya terkekeh.
“Gebe, nama yang bagus kok. Setampan orangnya”. Goda Zevanya.
Langsung saja wajah Grabielle bersinar setelah dipuji tampan “Terima kasih Kakakku. Karena sudah jujur”. Grabielle menyisir rambutnya kebelakang dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Shawn dan Johannes memutar bola matanya malas. Grabielle memang paling percaya diri tingkat tinggi. Padahal wajahnya biasanya saja tidak jauh berbeda dari mereka berdua. Karena Ayah mereka kembar, tentu saja gen nya masih melekat pada mereka bertiga.
Sedangkan Zehemia dan Zehekiel juga ikutan terkekeh begitu juga dengan Dean. Hanya Myron saja yang diam tanpa ekspresi. Tidak ada respon dari pria itu. Tidak ada juga yang tahu apa yang dia pikirkan.
“Bagaimana keadaanmu?”. Suara Myron membuyarkan mereka semua. Tatapan mereka terarah pada pria yang dari tadi diam tanpa ekspresi.
Zevanya tersenyum “Sudah lebih baik Kak”. Sahut Zevanya tersenyum kearah Myron. Myron juga membalas dengan senyuman manis.
__ADS_1
“Sayang, makan dulu”. Pearce datang dengan membawa nampan berisikan semangkuk bubur dan segelas air minum. Dia tidak mau pulang sebelum keponakkannya itu bangun dan makan. Pearce tidak mau jika Zevanya jatuh sakit.
“Bibi, biar aku saja yang suapin”. Pinta Zehemia
“Baik”. Senyum Pearce menyerahkan nampan itu. Padahal dia berharap menyuapi gadis itu. Pearce jadi teringat dulu, Fitri sering diperlakukan dengan hal yang sama oleh ketiga Kakak kembarnya.
“Terima kasih Bibi”. Ucap Zevanya pada Pearce.
“Sama-sama sayang”. Pearce tersenyum tulus sambil mengelus lengan Zevanya dengan lembut
Zehemia menyuapi adiknya dengan telaten. Sedangkan Zehekiel memegang gelas untuk Zevanya minum. Kehangatan tiga saudara kembar itu menjadi perhatian bagi mereka semua.
Pearce tersenyum bangga pada anak-anak Kakak nya. Mereka bertiga tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu. Namun mereka saling menyanyangi satu sama lain. Copyan Sean, Zean dan Zaen memang melekat pada Zehemia dan Zehekiel. Bagaimana dulu mereka memperhatikan Fitri begitu juga kedua pria itu menyanyangi adik nya
Sedangkan para pria paruh baya tengah berkumpul diruang kerja Fillipo. Mereka sedang serius berdiskusi masalah penembakkan Zevanya.
“Apa kau sudah menemukan jejak nya Zaen?”. Tanya Fillipo pada Kakak iparnya.
Zaen menggeleng “Tidak. Mereka menghapus jejak. Rekaman CCTV kita juga sudah diblokir. Sepertinya memang sudah direncanakan jauh-jauh hari”. Sahut Zaen focus dengan laptop didepannya.
Begitu juga dengan Lucas, pria berumur itu masih tampak lihai dengan dunia IT. Dia serius dengan laptop yang ada didepannya.
“Sama”. Sahut Lucas “Aku curiga yang bekerja sama dengan pembunuhan ini, orang yang berada disekitar kita. Karena dia tahu cara masuk ke Mansion itu”. Ucap Lucas. Yang lain menoleh kearah Lucas.
“Maksudmu salah satu dari penghuni Mansion ini?”. Tanya Zaen
Lucas mengangguk “Itu hanya prediksiku saja. Melihat Zevanya yang tiba-tiba pingsan, membuat ku yakin jika yang melakukannya adalah orang terdekat kita”. Timpal Lucas lagi.
Mereka semua tampak berpikir. Meski usia sudah tak muda lagi. Namun, aura kemafiaan masih melekat pada pria-pria itu. Sayang saja Mars tidak ada. Sedangkan Arthur sudah kembali ke wilayah timur. Sejak dua puluh lima tahun lalu, Arthur diminta oleh Sam untuk mengurus wilayah itu beserta senjata-senjata mereka yang ada disana.
“Apa ada yang kalian curigai?”. Dhanny ikut menimpali.
Fillipo tampak berpikir keras. Setahu dirinya, tidak ada yang bermasalah dengannya atau ketiga anaknya. Semua tampak berjalan seperti biasa tanpa ada yang mencurigakan.
Zean juga berpikir. Mencoba mencari tahu siapa yang kira-kira mencurigakan di Mansionnya. Keluarga mereka damai-damai saja. Tidak ada perdebatan yang terjadi baik bagi para orangtua mau pun anak-anak mereka.
“Rasanya tidak ada”. Sahut Fillipo menghela nafas “Apa kalian tidak bisa cari informasi yang detail?”. Seru Fillipo pada Zaen dan Lucas yang masih sibuk dengan laptop didepannya.
“Kami sudah berusaha”. Sahut Zaen ketus.
__ADS_1
Suasana kembali hening. Jika Zaen dan Lucas focus pada laptop didepan mereka. Maka Dhanny, Fillipo, Zean dan Sean sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Zean, aku tidak melihat Grace. Kemana dia?”. Tanya Sean karena memang sebelum acara dibubarkan Grace sudah tidak terlihat.
Zean menghela nafas “Dia sedang berada dibutiknya mengurus beberapa proyek pemesanan gaun”. Sahut Zean
“Kenapa Zeze tidak ikut?”. Fillipo ikut menimpali. Zevanya tidak mengatakan apapun padanya. Putrinya itu selalu jujur padanya dan mengatakan apa saja yang dia lakukan.
“Apa kau sudah selidiki putrimu, Zean? Kau tahu diluar sana bahaya? Banyak munsuh yang mengintai jangan sampai dia jadi korban”. Saran Sean dia juga takut jika putri dari Kakak kembarnya itu sampai terluka.
Zean terdiam “Aku yakin dia baik-baik saja”. Kilah Zean. Dia memang kurang perhatian pada putrinya itu.
Fillipo memincingkan mata kearah Zean “Kau tidak ingin tahu apa yang dia lakukan diluar sana?”. Sindir Fillipo.
Zean hanya mengedikkan bahunya. Dia yakin jika putrinya baik-baik saja dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
Dhanny menatap Zean dengan tatapan menyelidik. Dia heran, mengapa hubungan Zean dan putrinya sangat dingin? Padahal seharusnya seorang Ayah menjadi panutan yang baik untuk putrinya.
“Bagaimana Zaen apa ada sedikit informasi yang didapat?”. Tanya Fillipo
Zaen menghela nafas pelan “Tidak ada”. Sahut Zaen.
“Aron Smith”. Gumam Lucas. Mereka semua menoleh pada Lucas.
“Aron Smith?”. Beo mereka berenam.
“Siapa?”. Sambung Fillipo ikut memperhatikan layar laptop Lucas
“Ketua Black Tiger”.
“Aku belum pernah mendengar kelompok itu”. Ujar Zaen
“Tapi apa hubungannya dengan putriku?”. Ucap Fillipo. Dia tidak mengenal nama pria yang disebut oleh Lucas.
“Aku akan selidiki”. Lucas dan Zaen kembali berselancar diatas stut keyboard laptopnya.
Bersambung......
LoveUsomuch ❤️
__ADS_1