Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 138.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.......


Fitri merenggangkan otot-otot tangannya, dia juga menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri secara bergantian.


Fitri melipat kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya.


"Terima kasih Bapa untuk pagi yang indah ini. Amin". Lalu Fitri menangkup kedua tangannya diwajah sambil menutup doanya.


Fitri menyimak selimut yang menutup tubuhnya. Fitri segera kekamar mandi dan membersihkan diri, seperti kebiasaannya dia akan berendam di bathup beberapa menit untuk menghilangkan segala penat ditubuhnya.


Setelah merasa bersih, Fitri segera memilih baju yang memang sudah disiapkan oleh Mars "Aku seorang tawanan tapi aku diperhatikan seperti tamu spesial, ternyata Tuan pemaksa itu baik juga". Dia terkekeh sendiri "Jadi rindu ketiga Kakak kembar biasanya mereka yang menyiapkan semua keperluanku, tapi sekarang aku malah menyiapkannya sendiri. Jadi kangen mereka". Gumam Fitri sambil mengambil baju dalam lemari yang sudah disusun dengan rapih.


Fitri memilih baju berwarna cream dengan motif bunga-bunga yang bertebaran didalam kain gaun itu, lengan panjang yang menutupi bahunya. Gaun selutut itu menempel dengan sempurna ditubuh munggil milik Fitri.


Tidak lupa Fitri menempelkan bedak tipis diwajahnya, lipstik yang sudah disediakan oleh Mars juga dipakainya.


"Hmm ternyata aku cantik juga". Fitri memutar-mutar tubuhnya didepan cermin "Jika seperti ini terus, aku mau deh jadi tawanan tetap, biar dapat baju gratis". Fitri tertawa kecil dengan ucapannya.


Fitri keluar dari kamarnya. Sejak pembicaraan nya dengan Mars ditaman kemarin, pria itu seperti menghindari dirinya. Bahkan Mars sama sekali tak mengajak nya membuat senjata api yang dirancang oleh Mars. Fitri menunggu Mars mengajaknya membuat benda itu tapi hingga kini pria itu tak muncul sama sekali.


Gadis itu berjalan dengan gontai menuruni anak tangga di Villa mewah milik Mars, tampak sunyi dan para pelayan sepertinya sedang sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing.

__ADS_1


"Apa Ayah dan Daddy akan menemukanku disini? Apa Triple L bisa memberikan flashdisk itu pada Kak Zaen? Tapi aku rasa akan sulit untuk mereka bisa masuk kesini!". Batin Fitri sambil berjalan


"Pagi Nona". Sapa salah satu pelayan yang bekerja di Villa milik Mars.


"Pagi juga Bi". Balas Fitri dengan senyum manis.


Pelayan tersebut sampai pangling melihat Fitri yang benar-benar cantik pagi ini "Wah Nona cantik sekali". Puji pelayan tersebut.


"Heheh, Memang sudah dari lahir Bi. Bibi saja yang baru mengenalku dan sadar bahwa aku cantik". Celetuk Fitri dengan percaya dirinya sambil membenarkan poni nya.


Pelayan tersebut terkekeh mendengar jawaban Fitri "Mari sarapan Non". Pelayan itu menuntun Fitri menuju meja makan.


"Tuan ada diruang kerja nya Non, bersama Tuan Arthur". Sahut sang pelayan.


"Oh begitu Bi". Respon Fitri.


Fitri menyantap bubur buatan pelayan yang menurutnya sangat enak. Meski dipulau terpencil tapi Fitri merasa berada disebuah istana yang dilayani layaknya seorang ratu. Makanan disana juga rata-rata makanan Korea. Fitri yang memang dasarnya suka makan jadi semakin sehat sejak dikurung disana.


Fitri sempat bertanya-tanya dalam hatinya, padahal Mars bermaksud balas dendam dan meminta bekerjasama dengannya tapi kenapa Mars malah memperlakukannya dengan baik. Fitri adalah gadis jenius yang peka terhadap sekitarnya, tapi Fitri tidak melihat ada niat jahat di mata Mars.


Setelah selesai sarapan. Gadis itu berkeliling melihat-lihat Villa mewah milik Mars yang seperti bangunan istana, sangat megah dan besar bahkan fasilitas disana benar-benar lengkap.

__ADS_1


Langkah Fitri terhenti saat dia kembali melihat wanita paruh baya yang tidak lain adalah Ibu Mars. Ibu Mars masih duduk dikursi taman dengan tatapan kosong, mengarah kedepan. Tak bosan-bosannya wanita paruh baya itu melamun.


Fitri berjalan mendekat, sumpah demi apapun Fitri sangat penasaran kenapa wanita paruh baya itu begitu betah tidak berbicara seperti orang bisu, bahkan tampak tak ada niat untuk hidup.


"Bi". Fitri duduk disamping wanita itu, wajahnya terlihat sayu dan pandangannya sendu.


Wanita itu hanya menoleh lalu kembali menatap kedepan, tak ada niat untuk dia merespon panggilan Fitri. Baginya berbicara hanya akan menghabiskan energinya dan membuat dirinya kembali teringat pada sang suami.


Fitri duduk dengan tenang, bahkan gadis itu mendaratkan punggungnya dikursi taman. Dia menatap kedepan mengikuti wanita itu.


"Kau tahu, saat aku kecil aku pernah berlarian di Taman bersama kedua orangtuaku. Rasanya begitu bahagia sekali, mereka mengejarku dan kami saling kejar mengejar sambil tertawa lepas". Bibir Fitri terangkat "Aku selalu berdoa pada Tuhan, ingin selalu bahagia selamanya bersama kedua orangtuaku menghabiskan akhir dari usia". Fitri menarik nafas dalam "Hingga suatu hari takdir hidupku berubah, mereka pergi tanpa permisi, meninggalkan ku sendiri dengan segala rasa sakit dihati. Dalam waktu sekejap, aku hidup sebatang kara, padahal awalnya aku bertiga tapi beberapa saat kemudian aku jadi sendiri. Aku berjalan tanpa arah, menangis tanpa jeda. Aku kesepian, marah, kecewa, benci dan sedih karena aku harus menjalani hidupku sendiri tanpa siapapun. Aku kehilangan tujuan hidup, aku tidak tahu kemana aku harus pergi, bahkan menangis tak lagi membuat dadaku sesak malah memberi kelegaan disaat bersamaan. Aku memberontak dan marah pada Tuhan, kenapa aku dibiarkan hidup sendiri, sementara aku masih belum mengerti arti perpisahan. Lalu, aku diperhadapkan dengan satu kenyataan bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Aku semakin histeris dan meratap begitu lama kesepianku, hingga akhirnya aku memilih bangkit dan melupakan segala resah yang membellengu diriku". Ucap Fitri panjang kali lebar kali tinggi. Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya menatap Fitri, sedangkan Fitri menatap lurus kedepan.


"Kau tahu Bi? Aku pernah berada diposisimu dan bahkan sekarang aku berada diposisi mu. Mommy ku meninggal saat melahirkanku, aku bahkan tak tahu bagaimana wajahnya? Aku juga tak sempat hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih karena sudah membuatku ada didunia ini". Lirih Fitri, satu tetes air mata membasahi pipinya "Jika disuruh meminta satu permintaan, aku ingin melihatnya sekali saja. Aku ingin menatap wajahnya dan memeluknya dengan erat, sayang nya sampai kapanpun hal itu tidak akan mungkin terjadi". Fitri tersenyum kecut. Sementara wanita itu masih setia menatap Fitri.


"Kita tidak bisa menghindari yang namanya perpisahan, karena tidak ada kebersamaan yang abadi didunia ini. Saat perpisahan itu tiba, mau tidak mau, suka tidak suka, harus diterima dengan lapang dada. Karena diakhir ending cerita kita, semuanya akan kembali kepada Sang Pencipta kehidupan". Lanjutnya lagi.


"Aku tidak tahu bagaimana pendapat mu tentang ucapanku. Tapi percayalah Bi, hidupku jauh lebih menyedihkan dari pada hidupmu. Aku hanya berusaha menerima jalan hidup yang sudah digariskan untukku, hingga akhirnya kebahagiaan itu menjadi milikku". Senyum nya mengarahkan pandangan pada wanita itu.


Wanita itu berkaca-kaca menatap sang gadis. Tanpa sadar air mata mengalir dipipi ayunya saat mendengar ucapan gadis itu.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2