Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 135.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA........


Sam, Pedrosa, Philip dan Alexander menyerang Markas Black Shinee dan BTOB King. Keempat pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu benar-benar menyerang dan menghancurkan Markas itu dengan membabi buta. Semua pengawal dan anggot Mafia yang berada disana, dibunuh tanpa sisa. Mayat berserakkan dimana-mana, seakan membunuh bukan suatu hal yang sulit.


"Argghhhh". Pekik Sam frustasi saat tidak ada Mars dan Arthur disana "Kemana para brengsekkkk itu membawa putriku". Teriak Sam sambil mengusar rambutnya dengan kasar. Wajah pria paruh baya itu terlihat kacau dan berantakan, ini kali keduanya Sam merasa hidupnya kacau setelah kehilangan sang istri, yaitu Rachel. 21 tahun silam, Sam merasakan kehampaan saat Rachel pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya dengan kedua buah hati yang Tuhan titipkan padanya. Justru Tuhan menambah satu kebahagiaan lagi dimana putra sulungnya ternyata kembar tiga yang tidak pernah Sam sadari.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada putriku takkan ku maafkan kau Mars". Pedrosa mengeraskan rahangnya, tangannya terkepal begitu kuat.


Pedrosa cukup mengenal siapa Mars dan Arthur. Kedua pria itu pernah menjadi sahabat baik Zean dan Zaen. Bahkan dulu kedua putranya bagai paku lekat dipapan yang selalu menempel satu sama lain, selain sama-sama Mafia mereka juga punya misi yang sama.


Pedrosa tahu bahwa Mars takkan melepaskan seseorang yang sudah dalam genggaman nya, baik itu wanita sekalipun bagi Mars sesuatu yang sudah dia genganggam akan jadi miliknya, apapun alasannya. Mars salah satu Mafia paling kejam dan tak mengenal rasa kasihan, lebih kejam dari Fillipo dan Zean. Jika Fillipo tidak bersentuhan dengan wanita, berbeda dengan Mars yang tak pandang bulu baik wanita atau pun pria bagi Mars sama saja. Apalagi sejak kematian Ayahnya, menjadi kan pria itu psikopat.


Pedrosa tak bisa membayangkan jika Mars sungguh-sungguh menyakiti Fitri, entah apa yang akan Pedrosa lakukan jika mendapati putrinya lecet barang seinci pun.


Kembali tatapan Pedrosa tajam saat membayangkan hal itu, dadanya benar-benar terasa sesak.


"Apa yang akan kita lakukan?". Tanya Philip.


"Kita akan menyusul ke Korea Utara". Sahut Pedrosa "Adam, siapkan jet pribadi. Suruh para anggota membereskan tempat ini, jangan ada satu pun yang tersisa. Jika masih ada yang hidup, bunuh saja dan buang mayat mereka ke laut lapas". Tintah Pedrosa.


"Baik Tuan". Sahut Adam.


Dilain tempat.


Leo dan Triple L sedang berada di Apartemen Dea. Namun Dea mengunci pintu apartemen sehingga mereka tidak bisa masuk. Leo mengedor pintu Apartemen berkali-kali bahkan dengan begitu kencang, namun Dea tetap tak bergeming dan masih mengunci dirinya disana.


"Biar saya saja Tuan". Lian segera maju dengan mudah Lian membuka pintu Apartemen bersandi tersebut. Ya Fitri memang melengkapi manusia buatan ciptaannya dengan berbagai kemampuan, untuk berjaga-jaga saat mereka dibutuhkan. Benar saja Mutan itu memiliki kemampuan layaknya manusia, hanya saja mereka tidak memiliki perasaan apapun, seperti sedih, senang, kecewa atau marah.


Mata Leo membulat sempurna, bahkan Leo sampai bersusah payah menelan salivanya saat Lian membuka pintu Apartemen Dea dengan begitu mudah


Brakkkkkkkkkkk


Lian mendobrak pintu dan langsung masuk diikuti oleh yang lainnya. Mereka langsung menuju kamar Apartemen milik Dea. Namun dikunci dari dalam, dengan begitu mudah dibuka oleh Lian.


Brakkkkkkkkkkk


Leo langsung mendobrak pintu dengan kasar.

__ADS_1


"Siapa kalian?". Pekik Dea ketakutan


"Jangan pura-pura tidak tahu Nona". Leo tersenyum menyeringai "Cepat ikut kami, sebelum saya paksa". Leo menarik tangan Dea dengan kasar. Sebenarnya Leo tidak tega kasar dengan perempuan, tapi saat mengingat kejahatan yang Dea lakukan pada Nona Muda-nya, membuat Leo begitu geram dan benci pada wanita itu.


"Lepaskan tanganku brengsekkkkkk". Dea memberontak dan berusaha melepaskan lengan kekar milik Leo. Namun tangan Leo yang kuat tak mampu ditepis oleh Dea.


"Jangan membuat saya harus melakukan kekerasan Nona. Sekarang ikut kami". Ancam Leo.


"Triple L, bawa dia". Perintah Leo


"Baik Tuan". Sahut ketiga Mutan itu dengan kompak


Mereka membawa Dea dengan paksa bahkan tak memperdulikan teriakkan Dea yang meminta lepaskan.


Leo membawa Dea ke Markas Black Glorified dan Lion Killer sesuai dengan permintaan Fillipo.


"Lepaskan aku". Pekik Dea merintih.


"Ini adalah akibatnya anda berani menganggu Nona Muda kami, Nona". Louis tersenyum devil.


"Apa maksud kalian aku tidak mengerti". Sentak Dea menahan tangis dan ketakutan yang luar biasa.


"Nona Dea, kau pikir kami tidak tahu siapa dirimu?". Ejek Leo. Dea membulatkan matanya sempurna saat Leo menyebut namanya "Kendalikan ekpresi mu Nona. Sebelum kau menyambar menjadi Nona Maria, Nona Fitri sudah tahu rencana anda. Apa anda pikir, Nona Fitri gadis yang bisa kau bodohi? Kau tahu Nona, bahkan Nona Fitri mengetahui semua rencana busukmu. Kau pikir Nona Fitri yang berhasil masuk dalam perangkapmu, tanpa kau sadari kau lah yang masuk dalam perangkapnya". Leo tersenyum devil saat melihat ekspresi ketakutan diwajah Dea. Keringat dingin, membanjiri kening wanita tersebut.


"Kau tahu Nona Dea, Tuan Fillipo takkan melepaskan begitu saja orang yang sudah membuat seseorang yang dia sayang disakiti?". Leo mencengkeram keras rahang Dea "Tuan Fillipo, bisa membunuhmu tanpa peduli kau wanita! Memang benar kau ******". Leo menghempaskan rahang Dea dengan kasar.


"Awwwww". Rintih Dea merasakan rahangnya sakit dan memerah.


"Sebenarnya Tuan Fillipo menyuruh ku untuk melepaskan kuku kaki dan tanganmu. Hanya saja Nona ku yang baik hati itu akan marah jika sahabat nya disakiti, jadi aku akan membiarkanmu sampai Nona Muda datang kesini". Leo berbisik ditelinga dengan dengan tajam. Dea sampai mendelik merasakan bulu kudungnya berdiri.


"Bunuh saja aku". Pekik Dea.


Leo tertawa mendengar perkataan Dea "Tidak semudah itu Nona". Ejek Leo.


"Triple L, kurung dia". Suruh Leo.


"Baik Tuan". Mereka segera melakukan perintah Leo.

__ADS_1


Brakkkkkkkkkkk


Dea dilempar dijeruji besi. Wajah Dea tampak membengkak, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar yang sudah mengering. Bekas jari Leo menempel diwajah cantik Dea. Dea merintih menahan sakit.


"Kau tidak apa-apa?". Tanya suara tiba-tiba datang menghampiri Dea.


Dea mengangkat pandangan "Kau siapa?". Tanya Dea.


"Aku sama sepertimu! Perkenalkan aku Merry". Merry mengulurkan tangan kearah Dea.


"Dea". Dea menyambut tangan Merry. Setidaknya ada yang menemani Dea disini.


"Bagaimana kau bisa ada disini?". Tanya Merry lembut. Ibu hamil itu sudah tak mampu lagi menangis, bagi Merry dia pantas menerima hukuman seperti ini karena kesalahannya.


Dea hanya menunduk dan tak bisa menjawab, bahkan Dea bingung harus menjawab apa.


"Jika tidak mau bercerita tidak apa-apa. Istirahatlah, kita setidaknya bersyukur tidak dijadikan santapan ular Sanca itu". Timpal Merry sambil menuju ular yang berdesir dikandangnya, tidak jauh dari Dea dan Merry.


Dea bergidik ngeri saat melihat ular itu seperti kelaparan saat menatap dirinya.


"A-aku takut". Dea gegelapan sambil mendekat kearah Merry, bahkan dia memeluk wanita itu.


"Jangan takut, selama kita tidak membuat mereka marah. Mereka tidak akan tega membiarkan ular itu menyantap kita". Sahut Merry. Merry sudah terbiasa dengan horror ular tersebut.


"Apa kau menyakiti Tuan Sean? sehingga kau dikurung disini?". Tanya Merry menatap Dea


Dea menggeleng kepala "Aku menyakiti adiknya, Fitri". Lirih Dea menunduk. Kini gadis itu seakan sadar atas semua perbuatan dan rasa irinya pada Fitri.


Merry menautkan alisnya "Maksudmu Nona Fitri? Adiknya Tuan Sean?". Tanya Merry memastikan, Dea mengangguk "Apa yang kau lakukan padanya?". Merry masih tak puas. Merry berpikir dia akan sendirian tapi masih ada orang yang menemani nya.


Dea menarik nafas pelan lalu menghembuskannya dengan kasar. Dea perlahan menceritakan kisahnya, mengapa dia begitu membenci Fitri dan bahkan menjebak gadis polos tersebut. Dea juga menceritakan tentang dirinya yang operasi wajah dan mengubah wajahnya menjadi wanita lain demi menarik simpati pria yang dia cintai, dan semua rencana Dea diceritakan pada Merry, tak ada yang dikurangi atau dilebihkan.


Merry menatap tak percaya pada Dea. Bahkan Merry bertanya berkali-kali untuk memastikan bahwa Dea berkata jujur.


"Kau salah orang Dea". Ucap Merry penuh penekanan "Sepertinya nasib kita akan sama, menetap disini dan menjalani hukuman". Lirih Merry.


Merry menatap kedepan dengan tatapan kosong. Rasa penyesalan takkan bisa merubah segalanya. Merry takut bayi yang dikandungnya akan celaka jika dirinya berlama-lama disini.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2