Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 31. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


Myron dan Zevanya baru sampai ke wilayah timur, dengan Homer yang masih setia menemani dua orang beda jenis itu. Zevanya dengan langkah lebar dan juga tak sabar. Ini pertama kalinya dia pergi ke wilayah ini. Dari kecil dia sangat penasaran bagaimana suasana diwilayah itu. Apalagi Mommy nya sering menceritakan bahwa tempat ini sangat indah.


Myron menggeleng kepala saat Zevanya berjalan meninggalkannya. Gadis itu terlihat sumringgah, entah apa yang akan dia lakukan dengan Arthur. Tingkahnya sungguh membuat Myron gemes dan ingin mengigit gadis itu.


“Hai Paman jomblo ku”. Sapa Zevanya.


Arthur yang sedang mengelap senjata-senjatanya berjingkrak kaget mendengar suara cempreng yang tak asing ditelinganya.


“Astaga”. Arthur mengelus dadanya “Apa yang akan kau lakukan disini?”. Tanya Arthur ketus saat melihat Zevanya berjalan kearah nya, dibelakangnya ada Arthur dan juga Homer.


“Tentu saja bertemu denganmu Paman jomblo ku”. Arthur langsung mengendus kesal. Selalu saja di singgung jomblo oleh putri menyebalkan Fillipo itu.


“Ck, jika datang kesini hanya ingin membuat Paman mu ini naik darah, sebaiknya kau pulang saja”. Omel Arthur.


Bukannya tersinggung Zevanya malah menyelonong bahkan menggeser badan Arthur dan melihat senjata yang baru saja dibersihkan oleh Arthur.


“Apa ini senjata yang dibuat Mommy, Paman?”. Zevanya mengelus benda itu.


“Ze, jangan dipegang itu bahaya”. Tegur Myron maju satu langkah.


Kali ini Arthur yang dibuat terheran. Apalagi melihat Myron yang sangat perhatian pada Zevanya. Dia juga tahu jika putra sahabatnya itu mengindap penyakit OCD dan Gynopobia.


“Aku hanya penasaran Kak”. Seru Zevanya, dia memegang senjata itu “Mommy ku sangat hebat, dia bisa membuat senjata ajaib seperti ini. Aku juga ingin belajar”. Celetuk Zevanya mengangkat benda itu. Dia tidak tahu saja bagaimana sejarahnya senjata itu dibuat.


Arthur memutar bola mata nya malas “Jangan penasaran. Kau tidak akan bisa membuat benda itu”. Cibir Arthur jenggah.


“Cih, Paman. Aku sedang tidak membutuhkan pendapat mu”. Balas Zevanya tak mau kalah “Usia senjata ini seusia denganku, tapi masih terlihat canggih sama sepertiku”. Celoteh Zevanya. Dia terus saja berisik sendiri.


Myron dan Arthur hanya melihat sambil tertawa kecil. Zevanya seperti orang gila yang suka berbicara sendiri padahal tidak ada juga yang merespon ucapanya.

__ADS_1


Zevanya meneliti semua senjat buatan Fitri. Meski sudah berumur puluhan tahun, senjata-senjata itu masih terlihat mengkilat. Karena memang dirawat dengan baik oleh Arthur, setiap hari dia menggelapnya. Sebelum meninggal Pedrosa memang berpesan pada Arthur untuk menjaga senjata-senjata itu sampai pada keturunan selanjutnya.


“Aku pasti bisa membuat senjata ini. Tapi bagaimana caranya? Siapa yang akan membantuku? Kak Ron pasti tidak mau. Paman jomblo juga pasti tidak mau?”. Batin Zevanya tampak berpikir.


“Ze, kenapa?”. Tanya Myron heran melihat gadis itu yang diam dan bingung menatap keempat senjata didepannya.


“Tidak Kak”. Senyum Zevanya tidak mau jika Myron curiga padanya.


“Apa tujuanmu datang kesini, keponakkan menyebalkan?”. Tanya Arthur ketus sambil melipat kedua tangannya didada.


“Apa kau tidak ingin menyungguhkan makanan untuk tamu spesialmu ini Paman?”. Bukannya menjawab Zevanya malah menyindir Arthur.


“Ck, ayo”. Arthur berjalan meninggalkan ruang senjata nya.


Myron dan Zevanya mengikuti langkah Myron menuju ruang tamu. Markas mewah bak Mansion itu, dilengkapi dengan berbagai ruangan seperti rumah mewah pada umumnya.


“Silahkan Tuan, Nona”. Seorang pelayan meletakkan beberapa minuman dan cemilan diatas meja.


Zevanya memakan cemilan itu dengan lahap, seperti orang kelaparan dan tidak makan bertahun-tahun. Kue yang Zevanya makan sangatlah enak.


“Apa kau sudah tiga tahun tidak makan?”. Sindir Arthur dia sampai menelan salivanya saat Zevanya makan dengan lahap. Apalagi mulut Zevanya yang penuh dengan kue justru terlihat begitu menggemaskan dimata Arthur.


“Berhenti berbicara Paman, aku sedang focus makan. Apa kau mau jika cacing diperutku keluar dan demo padamu, karena kau menganggu mereka”. Celetuk Zevanya dengan mulut penuh makananya.


Arthur berdecak kesal “Cih, kau ini. Kau pikir cacing diperutmu bisa keluar seperti kentut?”. Omel Arthur yang tak habis pikir dengan ucapan Zevanya.


“Tentu saja bisa Paman. Bahkan mereka bisa menghancurkan isi perutmu”. Arthur bergidik ngeri. Yang benar saja jika cacing diperut Zevanya, bisa keluar dan menghancurkan isi perutnya. Meski hanya ucapan seorang gadis manja seperti Zevanya namun mampu membuat Arthur bergidik ngeri.


“Kau seperti dokter bedah saja”. Arthur masih tak puas berdebat dengan gadis yang tengah asyik memakan cemilan dipiringnya.


“Kau belum tahu saja Paman. Jika seribu persen kemampuan Mommy ku melekat padaku”. Sergah Zevanya.

__ADS_1


“Persen itu hanya ada seratus, bukan seribu”. Ralat Arthur.


“Alah, kalau seratus masih kecil Paman. Biar aku yang menambahkan Sembilan ratusnya menjadi seribu”. Tungkas Zevanya juga tak mau kalah, dia takkan kehabisan kata-kata jika berdebat dengan Arthur.


“Cih, kau bukan professor yang bisa melakukan penemuan”. Cibir Arthur.


“Kau juga bukan juri yang bisa menilaiku”. Sahut Zevanya. Alhasil mereka berdua berdebat dan terus berdebat dengan satu sama lain yang tak mau kalah. Arthur yang hampir berusia kepala enam terlihat seperti kanak-kanak jika bertemu dengan Zevanya.


Myron menghela nafas pelan. Pria itu menggeleng tak percaya, tangannya malah terulur memijit pangkal hidungnya. Mendengar perdebatan tidak penting kedua orang itu membuat nya tidak bisa berbicara apa-apa. Hanya masalah cacing diperut saja urusannya bisa sampai ke perubahan presentase.


“Ze, pelan-pelan”. Tegur Myron dia menyerahkan segelas air minum pada gadis yang makannya tak teratur ini.


“Hehe, terima kasih Kak”. Zevanya mengambil gelas dari tangan Myron “Kakak tidak mau coba?”. Tanya Zevanya karena dari tadi dia tidak melihat Arthur makan kue itu akan sekedar menyesap minuman dalam gelasnya.


Myron menggeleng dengan senyuman manis. Tingkah Myron terekam dalam mata Arthur. Pria berumur itu menatap tak percaya bahkan beberapa kali dia mengangga.


“Kondisikan, ekspresi wajah mu Paman. Kau mau katarak?”. Sindir Zevanya.


Lagi-lagi Arthur mengendus kesal “Ck, kau ini suka sekali berbicara hal-hal yang membuat Paman mu ini mati jantungan”. Kesal Arthur.


“Jangan mati duluan Paman, kau harus membantuku”. Celetuk Zevanya.


“Cihhh, sepertinya kau benar-benar berharap Paman mu ini mati”. Omel Arthur.


Zevanya terkekeh, mendengar Arthur yang mengomel membuatnya tertawa geli. Paman jomblo nya itu adalah teman debat yang mampu membuat mood Zevanya membaik, setelah Grabielle tentunya.


Myron juga ikut tertawa. Apalagi saat Arthur meniup-niup rambutnya menahan emosi. Jika setiap hari bersama Zevanya dipastikan dia akan darah tinggi, dan jantungnya akan lebih cepat berdegup dari biasanya.


Bersambung......


LoveUsomuch ❤️

__ADS_1


__ADS_2