
Dhanny melangkah dengan gontai, senyuman menghiasi wajah tampan dokter tersebut. Hatinya berbunga-bunga dan sudah tak sabar bertemu dengan gadis pujaannya, Fitri.
Senyum Dhanny memudar saat melihat pintu kamar hotel yang dia sewa khusus untuk Fitri, tidak ada yang menjaga. Mungkinkah Mars dan Arthur yang memerintah kan mereka untuk tidak berjaga disana?
Dhanny mempercepat langkahnya dan bahkan dia sedikit berlari untuk memeriksa kamar Fitri.
Brakkkkkkkkkkk
Dhanny mendobrak pintu masuk, dan matanya langsung menyapu seisi ruangan yang tampak kosong tak ada satu manusia pun disana.
"Fitri". Teriak Dhanny sambil mencari Fitri keseluruh area kamar.
"Dam ****". Umpannya "Kemana brengsekkkk itu membawa Fitri". Dhanny merongkoh sakunya mencari benda pipih itu, lalu menekan tombol hijau disana untuk menghubungi Mars.
"Arghhh, brengsekkkk nomornya tidak aktif". Dhanny melempar ponselnya asal dan terus saja mencari kemana Fitri. Namun sang pujaan hati tidak terlihat disana.
"Jika sampai terjadi sesuatu padanya aku akan membunuhmu Mars". Tangan Dhanny mengepal bahkan rahangnya sudah mengeras saat membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada Fitri.
"Argh, Mars dan Arthur pasti sudah tahu jika aku hanya memanfaatkan mereka". Dhanny melempar barang-barang yang terdapat dikamar itu.
"Alvian". Panggil Dhanny sambil berteriak memanggil Asisten nya.
"I-iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?". Tanya Alvian dengan nafas tersengal-sengal.
"Cepat periksa semua rekaman CCTV dihotel ini, dan aku mau segera". Perintahnya sedikit mendesak.
"B-baik Tuan". Alvian sedikit tergagap apalagi saat melihat wajah merah Dhanny yang terlihat sangat marah.
Tidak lama kemudian Alvian kembali lagi untuk memberitahu kan Dhanny
"Maaf Tuan, semua rekaman CCTV dihotel ini di nonaktifkan". Jelas Alvian.
Mendengar penjelasan Alvian rahang Dhanny seketika mengeras, bahkan giginya saling mengigit satu sama lain. Matanya terlihat memerah, terlihat sekali di mata dan wajahnya bahwa Dokter tampan itu sedang marah.
"Siapkan anggota kita akan sarang Markas Black Shinee dan BTOB King. Lacak keberadaan Mars dan Arthur". Tintah Dhanny.
"Baik Tuan". Alvian segera melaksanakan perintah Tuan-nya.
Ditempat lain
Setelah dari Bandara, Dea kembali lagi kekediaman Ranlet Flint. Sebelum para pria itu kembali Dea melancarkan aksinya. Dea membongkar semua brangkas di ruang kerja Sean. Tujuan utamanya adalah mencari data perusahaan milik Sean.
Ya sesuai dengan kesepakatan nya bersama Mars untuk membuat perusahaan Sean bangkrut.
"Sial". Umpat Dea "Kemana Sean menyimpan data perusahaan itu?". Dea terus membongkar semua berkas-berkas milik Sean. Namun data yang dia cari tetap tidak ada.
"Arggghhhhh, sebaiknya aku pergi dari sini sebelum mereka kembali". Dea berlalu pergi meninggalkan Mansion mewah itu.
Dea pergi ke Apartementnya. Segera Dea mengambil laptopnya dan membuka email. Sebelumnya Dea sudah memerintahkan seseorang untuk mengedit foto Fitri dan Mars yang sedang bermesraan diatas ranjang. Padahal foto tersebut adalah miliknya.
"Selesai". Dea menyalin foto itu ke ponsel miliknya "Aku akan mengirim ini ke Kak Fillipo. Aku yakin Kak Fillipo pasti langsung panas melihat foto ini, dan Fitri akan menjadi gadis terlupakan. hahhaha". Tawa Dea terdengar menggema dikamar Apartement miliknya.
Langsung Dea mengirim foto itu ke ponsel Fillipo. Dea yakin jika Fillipo akan langsung mengamuk saat melihat foto vulgar sang kekasih. Laki-laki mana yang tidak akan marah jika melihat foto kekasihnya dengan pria lain.
__ADS_1
Ting
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Fillipo. Fillipo mengabaikan ponselnya karena mereka sedang sibuk membahas untuk menyerang Markas Black Shinee dan BTOB King.
Ting
Satu notifikasi masuk, Fillipo merongkoh saku celananya dan mengambil benda pintar yang berdiam nyaman disaku celananya.
Mata Fillipo membulat sempurna saat melihat apa yang tertera dilayar ponselnya. Seketika tangannya mengepal, bukan karena dia cemburu dengan Mars tapi itu pertanda bahwa Fitri sedang bersama Mars, Fillipo tahu jika foto itu hasil editan
"Fitri". Lirih Fillipo.
"Ada apa Po?". Tanya Zaen penasaran yang langsung melihat layar ponsel Fillipo. Zaen menatap layar ponsel itu dengan seksama
"Fitri".
"Ada apa Son?". Tanya Sam
"Ada apa Zaen?". Sambung Zean juga penasaran.
"Edward, siapkan jet pribadi kita segera kembali". Teriak Zaen
"Baik Tuan". Sahut Edward.
"Ada apa Zaen?". Tanya Sean pada saudara kembarnya.
"Jangan bertanya Sean. Sekarang kita harus kembali. Fitri dalam bahaya". Zaen segera berlari kearah pintu keluar.
Mereka semua keluar mengikuti Zaen. Meskipun bingung dan dipenuhi tanda tanya, tapi mereka tetap mengikuti.
Jet pribadi itu mendarat langsung di Mansion mewah milik Sam. Semua yang ada didalam pesawat turun dengan perasaan tak karuan, rasa takut dan tak sabar.
Sean, Zean, Zaen dan Fillipo mereka segera masuk dengan berlari mencari keberadaan Fitri.
"Fitri".
"Cece".
"Shellena".
"Sayang".
Teriakan demi teriakan memenuhi Mansion mewah itu apalagi saat melihat para pelayan tergeletak dalam pengaruh obat bius.
"Arghhhh". teriak Fillipo saat sampai kekamar Fitri, Fillipo terus mencari dikamar mandi dan balkon kamar tapi tidak menemukan kekasihnya itu.
"Cece". Teriak Sean masuk kedalam kamar adiknya dan disusul oleh Zean dan Zaen.
Ketiga pria kembar itu tersungkur lemas dilantai saat melihat pakaian yang mereka siapkan masih utuh ditempatnya. Artinya adik mereka dibawa dalam keadaan tidak sadar.
"Cepat periksa CCTV". Perintah Sam berteriak.
"B-baik Tuan". Adam segera melakukan perintah Sam memeriksa semua rekaman CCTV.
__ADS_1
"Zaen, cepat lacak keberadaan Fitri". Sentak Fillipo, air mata sudah membasahi pipi pria tampan itu dadanya terasa sesak. Fillipo tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kekasihnya.
Segera Zaen mengambil laptop Fitri yang terletak diatas nakas. Tangannya sampai bergetar hebat saking syok nya dengan kehilangan sang adik.
"Sial, semua rekaman CCTV sengaja di nonaktifkan dan aku tidak bisa meretasnya". Pekik Zaen frustasi.
"Apa yang akan kita lakukan?". Sean sudah tak mampu menahan tangisnya.
"Ce, hiks". Tangis Sean pecah dan tersedu-sedu. Dia menyesal meninggalkan Fitri sendirian dikamarnya. Mereka terlalu fokus pada kedua kelompok Mafia yang sudah menipu mereka, sehingga mereka lupa bahwa gadis kecil itu tidak dalam penjagaan yang ketat.
"Dea". Tandas Fillipo "Ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan wanita itu". Timpal Fillipo
"Leo".
"Iya Tuan?".
"Tangkap wanita iblis itu dan jangan biarkan lepas. Langsung bawa ke Markas, cungkil kuku tangan dan kuku kaki nya". Tintah Fillipo.
"Baik Tuan". Sahut Leo. Leo sampi tercenggang mendengar perintah Fillipo. Selama ini Fillipo, tidak pernah menyakiti wanita dan selalu menghormati wanita.
"Tuan". Ketiga manusia buatan itu masuk secara bersamaan.
Sean, Zean, Zaen dan Fillipo yang masih serius dengan laptop didepan mereka menoleh kearah sumber suara itu.
"Ada apa Triple L?". Tanya Fillipo menatap ketiga Mutan itu.
"Ini". Louis memberikan sebuah benda kecil itu pada Fillipo.
"Apa ini?". Fillipo menyambut benda itu dari tangan Louis
"Benda pelacak yang bisa anda gunakan untuk menemukan Nona". Jelas Louis "Nona sudah memasang alat pelacak ditubuhnya. Benda ini akan membantu anda untuk menemukan dimana Nona sekarang". Sambung Louis.
Zaen langsung menyambar barang itu dari tangan Fillipo dengan tidak sabar. Zaen yang ahli IT dengan gampang memasukan benda berbentuk flashdisk itu di laptop milik Fitri.
Zaen membelakkan matanya saat melihat dimana adiknya sekarang.
"Bagaimana Zaen?". Tanya Zean tak sabar.
"Pulau terpencil Korea Utara". Sahut Zaen.
"Persiapkan semua pasukkan kita akan kesana". Timpal Sean.
"Triple L, kalian bantu Leo dan yang lainnya untuk menyerang Markas Black Shinee dan BTOB King". Seru Fillipo.
"Baik Tuan". sahut Triple L bersamaan.
Sean, Zean, Zaen, Fillipo dan Lucas, bersiap-siap untuk pergi ke tempat dimana Fitri berada. Mereka tak mau lengah dan gegabah.
Sedang Sam, Pedrosa, Philip, dan Alexander bersama para asissten bertugas menyerang Markas Black Shinee dan BTOB King.
Bersambung.........
Guys jangan lupa beri semangat author dengan cara like dan masukkan dalam kontak favorite kalian ya.....
__ADS_1
GBU...
LoveUall...