Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 90. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA......


Disebuah kamar mewah bak hotel bintang lima. Seorang gadis tengah makan dengan lahap dan disuapi oleh seorang wanita yang tengah hamil besar.


Ada seorang wanita paruh baya yang tersenyum sesekali tertawa mendengar celotehan gadis itu yang tak berhenti berbicara. Selalu menemukan bahan untuk dia ucapkan.


Diatas nakas, Ular Cobra kesayangan nya melingkarkan ekornya dengan tenang serta menatap gadis itu yang makan dengan lahap.


"Xiang, apa kau sudah makan?". Tangan Zevanya terulur mengelus kepala Ular Cobra itu. Seperti manusia Ular itu menggeleng.


"Kau pasti makan daging kan?". Ujar Zevanya lagi "Mulai sekarang kau jangan makan daging lagi ya. Kau makan Sushi saja itu bagus untuk kesehatan". Celoteh Zevanya seperti berbicara pada manusia.


Sedangkan Deva dan Elena meringguk takut melihat ular hitam menyeramkan itu. Astaga bagaimana Zevanya dengan mudah mengelus kepala ular itu? Apa dia tidak takut?


Seperti seorang anak yang patuh ular itu mengangguk dengan antusias. Mungkin benar, pemikiran Tian bahwa ular itu manusia yang sedang menjelma menjadi ular dan ular itu jatuh cinta pada Zevanya, sungguh pikiran Tian terlalu jauh.


"Kak, bisakah Xiang dimasukkan dulu dalam kandangnya. Aku takut melihatnya". Ucap Deva bergidik ngeri.


"Iya Nak. Bibi juga takut padanya". Sambung Elena.


Kedua wanita itu langsung mendapat tatapan tajam dari Xiang atau yang diberi nama Moy oleh Zevanya. Xiang tidak suka kalau waktunya bersama Zevanya terganggu.


Zevanya tersenyum hangat "Baiklah". Lalu Zevanya mengambil ular itu dari atas nakas "Moy, kau istirahat dulu dikandang mu. Nanti aku akan menyuapimu. Jangan sedih ya". Zevanya mencium kepala ular itu. Membuat Deva dan Elena kembali ketakutan. Astaga, apa Zevanya ini memiliki pawang ular.


Xiang mengangguk dengan cepat. Terlihat raut kesedihan diwajah ular hitam itu. Lalu Zevanya memasukkan Xiang kedalam kandang nya dan dibawa keluar oleh Tian.


"Kak, apa kau tidak takut pada ular itu?". Tanya Deva melanjutkan menyuapi Zevanya.


"Tidak. Kenapa harus takut". Sahut Zevanya.


"Dia berbahaya, Nak". Sambung Elena.


"Dia tidak berbahaya Bi. Dia masih kecil. Bahkan San yang lebih besar saja tidak pernah menyakitiku". Jawab Zevanya sambil mengunyah makananya.


Setelah selesai makan, Deva membantu Zevanya meminum obatnya. Gadis itu harus rutin minum obat untuk sementara waktu sebagai persiapan kemoterapi.


"Bagaimana kandunganmu Deva?". Tangan Zevanya terulur mengelus perut buncit Deva?

__ADS_1


"Dia sehat Kak". Senyum Deva dia merasa senang saat Zevanya mengelus perutnya respon bayi dalam kandungannya juga baik dan malah senang terlihat saat bayi itu bergerak.


Elena juga tersenyum simpul. Zevanya memang membawa aura positif untuk mereka berdua. Deva dan Elena masih belum tahu tujuan Dave menculik Zevanya. Bahkan Elena dan Deva tidak tahu jika Zevanya diculik. Yang mereka tahu Zevanya calon istri Dave.


"Wah, aku tak menyangka sebentar lagi memiliki keponakkan". Senyum Zevanya "Sasan, pasti senang saat tahu anaknya sehat".


Wajah Deva langsung berubah ketika Zevanya menyebut nama Shawn. Kepingan luka dan malas naas yang dialami menajdi trauma tersendiri bagi Deva.


Zevanya mengenggam tangan Deva "Apa sesakit itu? Ketika mengingatnya?". Deva mengangguk "Jangan khawatir, Sayang pria baik. Aku yakin dia akan bertanggung jawab saat tahu kau mengandung". Deva menggeleng


"Aku takut bertemu dengannya". Jawab Deva.


"Jangan takut. Meski dia menyebalkan. Tapi dia bukan pemakan manusia". Celetuk Zevanya.


"Bukan begitu maksudku Kak". Desah Deva sedikit kesal "Aku takut karena kejadian itu masih menghantuiku". Sambung Deva lagi.


Elena hanya menyaksikan ucapan kedua wanita didepannya ini. Tatapanya tertuju pada Zevanya. Entah kenapa Zevanya mengingatkan Elena pada seseorang di masa lalu. Sahabat baiknya yang menghilang tanpa kabar dan sampai hari ini, dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu


"Tenanglah. Setelah bertemu kembali dengannya, aku yakin kau pasti langsung jatuh cinta". Seru Zevanya melepaskan genggaman tangannya.


"Ahhh, aku bosan. Bisakah Bibi dan Deva mengajakku jalan-jalan mengelilingi, villa jelek ini?". Renggek Zevanya.


"Pasti Tuan menyebalkan itu melarang kalian kan?". Deva dan Elena mengangguk. Dave memang sudah mengatur penjagaan ketat agar Zevanya tidak bisa keluar kamar apalagi keluar dari villa ini


"Ahhh kalian payah sekali". Gerutu Zevanya "Deva, bolehkan aku pinjam ponselmu?". Pinta Zevanya.


Deva tampak ragu. Takut jika Zevanya menghubungi keluarga nya. Sesuai perintah Dave untuk menjaga gadis itu.


"Ini Kak". Deva menyerahkan ponselnya.


"Aku hanya ingin menghubungi Kakakmu yang jelek itu". Celetuk Zevanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Ditempat lain. Dave dan Arata tengah mengatur posisi dan menggabungkan Black Cobra dengan Yakuza.


Dave baru mendapat informasi dari anak buahnya jika Myron, Kenzie dan Zehemia baru saja menghancurkan Markas mereka yang ada di Korea dan China.


"Apa kau sudah mengamankan?". Tanya Dave.


"Sudah. Sepertinya mereka sudah menemukan persembunyian mu. Bersiaplah menerima serangan". Jawab Arata.


"Bagaimana bisa?". Tanya Dave setengah tak percaya.


"Kau tahu 'kan, jika Fillipo dan Mars orang paling berkuasa. Tentu dengan jentikkan jari mereka bisa menemukanmu. Mereka juga sudah membuka blokir akses yang kupasang". Ujar Arata.


"Aku akan pergi ke Belanda dan bersembunyi disana". Ujar Dave. Dia bukan mengkhawatirkan dirinya tapi mengkhawatirkan Zevanya.


Arata menggeleng "Kau tidak bisa terus menghindar Dave. Kemana pun kau pergi, mereka akan tetap menemukanmu. Jangan lupakan Fillipo dan Mars adalah mantan ketua Mafia paling kejam, hanya untuk mencari tikus kecil seperti mu. Bukan hal yang sulit bagi mereka". Ucap Arata "Aku yakin jika selama ini mereka mengetahui keberadaan mu. Hanya saja mereka sengaja memancing agar kau lenggah dan saat itu lah mereka menyerang". Lanjut Arata "Aku akan berjuang bersamamu bersama anggota Yakuza dan Black Cobra untuk menghadapi mereka". Arata menepuk pundak Dave dan menyakinkan sahabat nya itu bahwa semua akan baik-baik saja.


Dave mengangguk berusaha tenang. Selain memikirkan Zevanya. Dave juga memikirkan Deva dan Elena. Kedua wanita itu pasti akan menjadi incaran para munsuhny juga.


Dave menghela nafas berat. Kenapa sekarang dia sedikit menyesal menculik Zevanya. Dave lupa jika berurusan dengan Fillipo dan Mars selalu berakhir tragis. Dave hanya berharap bahwa semua baik-baik saja.


Zevanya, entah lah dia tidak tahu bagaimana responnya terhadap gadis itu. Ada perasaan aneh yang menjalar dihati Dave masalah Zevanya.


Drt drt drt drt drt drt


Ponsel Dave berbunyi. Segera Dave mengangkatnya. Walau keningnya berkerut namun dia tetap mengangkat telpon dari adiknya.


"Kenapa?".


"APA?". Dave langsung mematikan ponselnya.


"Dave ada apa?". Tanya Arata yang melihat Dave berlari seperti orang gila.


Dave tak menjawab dia terus berlari menuju mobilnya dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya panik dan juga takut. Berkali-kali Dave memukul stir mobilnya melampiaskan kemarahannya dan kekhawatiran dihatinya.


Bersambung.....

__ADS_1


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2