
SELAMAT MEMBACA...........
Seorang Dokter tampan tengah bergelut sibuk dengan berkas pasien yang ada diatas mejanya. Kacamata minus bertengger dihidung mancungnya. Beberapa kali dia menghela nafas.
Brakkkkkkkk
Pintunya terbuka dengan paksa.
“Astaga”. Dia mengelus dada.
“Selamat siang Kakakku tertampan”. Seorang gadis berrambut pirang masuk dengan menenteng rantang nasi ditangannya.
“Ck, kau ini”. Ketus Dean, melihat adik sepupunya.
“Heheh maaf Kak. Lucy disuruh Mommy antarkan makan siang untuk Kakak”. Ucap Lucy menampilkan deretan giginya tanpa seakan tak berdosa.
Dean berdecih kesal. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Lucy yang sudah menata makanan yang dia bawa keatas meja.
“Apa kau yang memasaknya?”. Dean mengendus-ngendus harumnya makanan yang dibawa Lucy.
“Tentu saja bukan, heheh”. Lucy cenggegesan sambil mengaruk tengguknya yang tidak gatal.
“Cihh, dasar”. Cibir Dean
“Sudah Kak, jangan banyak protes, aku mau kembali praktek. Setelah makan Kakak bereskan sendiri ya”. Lucy berdiri sambil memperbaiki jas dokternya.
“Kau tidak makan siang?”.
“Sudah Kak, aku pamit. Cup”. Lucy mengecup pipi Dean dengan langkah seribu dia segera berlari takut amukkan dari Kakaknya.
“LUCY”. Dean mengusap pipinya dengan kasar, dia tidak suka dicium sembaranganya “Dasar sepupu genit”. Cibir Dean menyuap makanannya.
Lucy adik sepupu Dean yang bekerja dirumah sakit miliknya, anak dari pasangan Dea dan Lucas. Lucy mengikuti jejak sang Ibu menjadi seorang dokter spesialis anak. Usia nya dua puluh tiga tahun, beda dua tahun dari Dean dan Kakaknya Luke.
Ditempat lain.
Zehemia masuk kedalam markasnya dan diikuti oleh Grabielle, Johannes, Myron dan juga Shawn sedangkan Luke dia tugaskan untuk mengawasi wilayah timur.
“Bagaimana masalah senjata itu Kak? Apa pemasarannya bisa menembus pasaran?”. Tanya Zehemia pada Myron yang usianya hanya beda dua bulan saja dari dia.
“Ya, seperti yang sudah kita rencanakan”. Sahut Myron mendudukan tubuhnya disoffa ruang markas miliknya.
“Apa Paman Arthur akan ikut bersama kita nanti saat peluncuran senjata itu?”. Tanya Johannes ikut menimpali.
“Tentu saja dia ikut. Kau tahu kan hanya Paman Arthur yang menguasai wilayah timur. Kita tidak mungkin meminta bantuan Paman Zean, dia pasti tidak mau”. Sahut Myron.
“Iya, Daddy pasti tidak mau. Dia kan sudah bilang angkat tangan masalah markas ini”. Grabielle menghela nafas berat. Zean memang tidak ingin lagi mengetahui masalah markas Lion Killer dan Black Glorified, dia sudah berjani pada Fitri waktu itu akan meninggalkan dunia hitam.
“Bagaimana dengan Paman Zaen?”. Tanya Myron.
“Ayahku juga tidak mau lagi ikut campur masalah Mafia”. Sahut Shawn.
“Paman Sean?”. Seru Myron melihat Johannes.
“Apalagi Ayahku dia memang bukan Mafia”. Jawab Johannes ketus.
__ADS_1
Sejenak kelimanya terdiam tampak berpikir.
“King”.
“Ada apa Math?”. Tanya Zehemia melihat assisstennya seperti dikejar hantu.
“Mereka menyerang wilayah timur. Tuan Luke butuh bantuan kita”. Lapor Math dengan nafas memburu
“Baik, siapkan jet kita segera berangkat”. Perintah Zehemia.
“Grabielle, persiapkan anggota”.
“Shawn, hubungi Kiel untuk membuat system keamanan yang ketat disana. Tegaskan pada Kiel jangan sampai Zeva tahu, gadis itu bisa berulah sesuka nya nanti”. Tintah Zehemia
“Baik”.
“Ayo”.
Mereka segera meluncur menuju wilayah timur. Wilayah yang dulu menjadi daerah kekuasaan Pedrosa dan tempat senjata Pedrosa dibuat. Wilayah itu memang selalu ingin dikuasai oleh Mafia lainnya, karena disana tempat yang banyak menyimpan keuntungan tersendiri bagi mereka.
Dor
Dor
Dor
Dor
Suara peluru saling bersahutan dan bertabrak. Beberapa pengawal tergeletak dan mati seketika.
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Street sreeeeeeeeeeeeeetttttttttt
Streeeeet sreettttttttttttttttt
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Kabut asap bekas peluru itu berterbangan memenuhi Markas tersebut.
“Arghhhhhhhhhhhhhhhhhh”.
“Arghhhhhhhhhhhhhhhhhh”.
“Arghhhhhhhhhhhhhhhh”.
Zehemia dan Myron bertarung habis-habisan menggunakan sniper buatan mereka sendiri. Sedangkan Johannes menggunakan pistol TAC-50-As, senjata api yang diwariskan Ayahnya Sean. Pistol itu sangat berarti untuk Sean dan dia memang memberikannya pada putranya, mengingat dirinya yang bukan Mafia tentu tidak akan bisa memakai senjata itu. Senjata itu adalah pemberian Fitri, ketika mereka menghadapi Black Shinee dan BTOB King.
Shawn dan Grabielle juga melakukan hal yang sama. Mereka membagi tim jadi tiga tim. Sedangkan Luke, focus pada laptopnya dan duduk santai sambil melakukan peretasan data bersama Zehekiel yang berada diperusahaannya.
Luke menuruni kemampuan Lucas dalam bidang IT, dia juga menguasai beberapa teknik computer lainnya dan tentunya juga Luke belajar banyak dari sahabatnya, Zehekiel.
__ADS_1
Sedangkan para assisten juga turut membantu Tuan mereka. Penyerangan tiba-tiba itu banyak memakan nyawa anggota Mafia Lion Killer 2, Black Shinee, Black Glorified dan BTOB King.
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Sahutan demi sahutan peluru masih menggema dengan nyaring. Zehemia dan yang lainnya benar-benar bertarung dengan hebat. Hingga munsuh habis tak tersisa.
“Tangkap yang masih hidup dan introgasi mereka”. Perintah Zehemia.
“Baik King”. Sahut beberapa anggota yang langsung menahan munsuh yang masih hidup.
“Bereskan mayat mereka, buang saja ke laut”.
“Rapikan tempat ini seperti semula. Cari siapa yang berani-berani mencari munsuh dengan kita”. Tintah Myron
“Baik”. Mereka melakukan tugas masing-masing.
Zehemia, Myron, Johannes, Shawn, Grabielle dan Luke, sedang berada diruang rahasia yang senjaga Pedrosa buat waktu itu. Ruang ini menjadi tempat penyimpanan senjata mereka, ada beberapa robot juga yang diterdapat disana.
Zehemia berjalan kearah robot yang berdiri didekat pojokkan, robot itu berdiri tegap seperti manusia.
Tangan Zehemia terulur mengelus robot itu “Mom”. Gumannya mengelus robot itu. Yah robot itu adalah buatan Fitri yang dia gunakan untuk menyelamatkan Fillipo dan yang lainnya dari tawanan Park dan Michael.
Pedrosa sengaja memuseumkan robot itu ditempat rahasianya, dia dan Sam ingin menyimpan kenangan yang dibuat oleh Fitri.
Johannes berjalan kearah Zehemia “Hem, sudahlah jangan terlalu bersedih”. Johannes menepuk pundak sepupunya yang seusia dengannya itu “Aunty Fitri sudah tenang disana”. Timpal Johannes.
Mereka yang lain hanya terdiam. Dua puluh tahun kepergian Fitri, membuat mereka merindukan Aunty mereka itu. Karena ketika mereka kecil, Fitri sering mengajari mereka dengan berbagai pelajaran yang tidak didapat dari bangku sekolah.
Zehemia menyeka air matanya. Dia berusaha tersenyum. Meski saat itu masih usia lima tahun tapi dia sangat merasakan kehilangan sang Mommy yang begitu mengerti apa yang dia mau.
“Iya”. Sahut Zehemia kembali duduk disoffa.
“Luke, apa kau sudah mencoba mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini?”. Tanya Myron mengalihkan pembicaraan mereka.
“Sudah Kak”. Sahut Luke menghela nafas pelan “Cut Silent”. Sahutnya singkat.
Mereka saling melihat satu sama lain “Siapa Cut Silent?”. Tanya Zehemia.
“Aku tidak tahu pasti. Namun sepertinya ini berhubungan dengan masa lalu orangtua kita”. Jelas Luke.
Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Berusaha mencari tahu siapa Cut Silent, nama kelompok Mafia itu seperti tidak asing.
**Bersambung........
Ikuti terus kisah triple Z ya guys.....
Maaf ya untuk season dua ini hanya fokus pada kisah anak-anak mereka.
Untuk Fillipo, Sean, Zean, Zaen, Lucas, Dhanny dan Mars mungkin akan masuk sedikit dalam cerita season 2 nya tapi tetap aja mereka akan author tampilkan....
okeh yuk jangan lupa ya like dan komen nya.....
LoveUsomuch ❤️**
__ADS_1