
SELAMAT MEMBACA...
Fillipo menghea nafas berat saat tahu jika putrinya pergi ke wilayah timur. Padahal Fillipo sudah menegaskan supaya putrinya jangan sampai pergi ke wilayah timur. Namun, Zevanya memag keras kepala sama seperti Ibu nya. Apa saja yang dia mau lakukan takkan ada yang bisa mencegah dan menahannya.
“Tenanglah Po. Myron akan menjaga putri mu”. Timpal Sean menepuk pundak adik iparnya.
“Kau tahu kan Sean, disana banyak senjata berbahaya. Yang aku takutkan Zevanya semakin bersedih jika melihat senjat buatan Mommy nya”. Fillipo menarik nafas dalam. Entah bagaimana lagi menghadapi putrinya yang super aktif itu.
“Tenanglah Fillipo, Zevanya pasti baik-baik saja”. Zaen ikut menenangkan adik iparnya
Fillipo mengangguk meski perasaannya masih belum tenang. Dia berusaha percaya bahwa putrinya akan baik-baik saja. Dia juga tidak mungkin mengekang Zevanya yang aktif itu akan berpengaruh untuk kesehatan mental putrinya.
“Bagaimana apa ada perkembangan masalah penembakkan itu?”. Fillipo mengalihkan pembicaraan.
Terdengar helaan nafas berat “Belum. Aron Smith bukan pelaku utama. Sepertinya benar katamu bahwa ada orang disekitar kita yang ingin mencelakai Zevanya”. Jawab Zaen mewakili karena dia yang paling diharapkan untuk mencari tahu informasi.
Zean dan Sean tampak berpikir. Meski usia sudah tak muda lagi namun masalah yang seperti ini mereka takkan tinggal diam. Apalgi bersangkutan dengan putri adiknya pasti mereka akan mencari kemana pun orang itu berada.
Sedangkan diwilayah timur, Myron dan Arthur tercenggang dengan penjelasan Zevanya. Antara percaya dan tidak ada benarnya yang diucapkan gadis itu.
“Jadi Kenzie Deventer itu anak dari Deventer, adik sepupu Michael dan Park?”. Tanya Arthur tak percaya
Zevanya mengangguk “Iya Paman”. Sahut Zevanya “Mereka juga yang menyerang Markas Black Shinee dan BTOB King”. Lanjut zevanya
“Apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi nya?”. Tanya Arthur. Arthur cukup mengenal Deventer, karena pria itu mantan sahabatnya dan Michael.
“Tidak ada”. Sahut Zevanya santai “Tanya Kak Ron saja Paman, aku bukan Mafia jadi aku tidak tahu”. Celetuk Zevanya.
Arthur mengendus kesal “Baiklah”. Sahut Arthur malas. Lagi-lagi gadis ini membuatnya kesal.
“Kak, ambil ini”. Zevanya memberikan pistol kecil pada Myron.
“Apa ini?”. Myron mengambilnya dari tangan Zevanya.
“Ini pistol buatanku. Dipelurunya sudah aku campuri dengan rabun yang mematikan seluruh sel dalam tubuh. Jika tertembak maka takkan bisa hidup atau sekedar bernafas untuk terakhir kali. Jadi Kakak pergunakan lah dengan baik, aku hanya membuat satu. Aku sengaja tidak membuat banyak karena bingung mau digunakan untuk apa”. Celetuk Zevanya.
Myron dan Arthur kembali tercenggang. Kapan gadis ini membuatnya? Apakah gadis ini berkata jujur atau malah berbohong?
“K-kapan kau membuatnya? Dan bagaimana caranya?”. Tanya Arthur setengah tak percaya.
“Kau tidak perlu tahu Paman. Aku takut umurmu jadi pendek saat aku menjelaskannya, jika kau mati duluan tidak ada lagi Paman jomblo yang bisa ku ledek”. Celoteh Zevanya.
__ADS_1
Arthur mencibir “Kau ini”. Arthur mengacak rambut Zevanya dengan gemes.
“Paman”. Gerutu Zevanya sambil memukul tangan Arthur pelan “Jangan suka mengacak rambutku Paman, nanti rontok”. Protes Zevanya.
Arthur mendelik “Hei, gadis kecil yang benar saja hanya mengacak rambut bisa membuatnya menjadi rontok. Kalau bicara yang benar”. Omel Arthur.
“Paman tidak tahu saja, jika rambut adalah mahkota terindah kepala”. Jelas Zevanya.
Myron hanya menghela nafas, lagi-lagi dua orang ini berdebat. Padahal harusnya masih focus membahas tentang munsuh yang menyerang Markas nya. Ini malah berdebat hal yang tidak penting-penting amat.
Ditempat lain..
Zoalva melangkah masuk kedalam Mansionnya. Mansion itu kembali sepi. Yoshua dan Candy melanjutkan dan mengurus rumah sakitnya yang ada di Sun Fransisco. Sementara Yoel dan Zoe memilih tinggal di villa milik Zoe, yang terletak tidak jauh dari pantai.
Di Mansion mewah dan sebesar itu hanya ditinggali oleh Zoalva dan Kenny. Mereka jarang bertegur sapa satu sama lain.
Zoava melempar tubuhnya diatas kasur king size miliknya. Aktivitas hari ini benar-benar membuatnya merasa lelah.
“Bagaimana keadaan Zeva?”. Gumamnya.
Zoalva meraba ponselnya. Dia duduk dan mencari nomor yang ingin dia hubungi.
Tut tut tut tut tut tut
“Kemana dia?”. Gumam Zoalva merasa kecewa. Padahal dia berharap bisa mendengar suara Zevanya.
Sejak kejadian Zevanya yang hampir tertembak saat itu juga dia tidak pernah lagi bertemu dengan gadis menyebalkan itu. Zoalva sibuk mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Dia tidak akan membiarkan orang yang menyakiti gadis-nya hidup dengan tenang. Zoalva ingin membuat perhitungan dengan orang itu. Namun sayang dia tidak menemukan siapa yang berani-berani mencelakai gadisnya.
Zoalva keluar dari kamarnya. Dia ingin menenangkan pikirannya dengan duduk dibangku taman Mansionnya. Mansion ini dingin sama dengan penghuninya. Langkah Zoalva terhenti.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya gadis itu harus segera kau habisi”. Tintah Kenny ditelpon. Zoalva memasang telingnya dengan jeli.
“Ayolah Aron. Kau tahu kan Zevanya itu gadis sialan. Jika kau hanya merusaknya, itu tidak ada gunanya. Dia akan tetap jadi primadona”. Rahang Zoalva mengeras. Tangan pria itu terkepal, dia sudah mendapatkan siapa pelakunya.
“Ya aku harap kau segera mencabut nyawanya. Aku tidak mau dia menjadi penghalang untukmu mendapatkan cinta Dean”.
“Masalah Grace biarkan saja dia tersangka. Toh memang ini semua rencana Grace ‘kan, aku hanya melengkapi saja”.
Zoalva maju satu langkah. Dia langsung menarik Kenny dengan kasar.
“Apa sih…..”. Mata Kenny membulat sempurna saat mengetahui siapa yang menarik tangannya.
__ADS_1
“Zo”. Suara Kenny seakan nyangkut ditenggorokkannya saat melihat Zoalva. Apa Zoalva mendengar semua ucapannya.
Zoalva menatap dengan tajam Kenny, gigi pria itu saling bergemeletuk seakan siap menerkam sepupunya itu.
“Katakan padaku bahwa kau yang mencoba membunuh Zeva?”. Desak Zoalva.
Kenny menelan salivanya kasar “Bukan aku”. Kilah Kenny wajahnya sudah ketakutan. Dia tahu siapa Zoalva.
Zoalva mencengkram dagu Kenny “Lepaskan Zo”. Pekik Kenny kesakitan.
“Cepat katakan”. Sentak Zoalva wajahnya memerah menahan amarah. Dia tak menyangka jika yang mencoba membunuh Zevanya adalah sepupunya sendiri dan tidak lain juga sahabat Zevanya.
“Bukan aku”. Kennya masih menyangkal.
“Ohh masih menyangkal ternyata”. Zoalva mengeluarkan belatinya yang selalu dia bawa kemana-mana.
“Kau mau apa Zo?”. Kenny ketakutan saat melihat benda kecil yang mampu merenggut nyawa.
“Hmmm, jika pisau ini kuturihkan ke wajahmu. Kira-kira kau masih cantik atau tidak ya?”. Zoalva tersenyum smirk. Dia memain-mainkan belati itu kewajah mulus Kenny.
“Zo, aku mohon jangan”. Mohon Kenny ketakutan.
“Apa kau masih tidak mau mengatakannya?”. Ancam Zoalva. Dia sudah membayangkan memutilasi sepupunya ini.
“B-baik aku akan katakan. Tapi toolong jauhkan benda itu dari wajahku”. Mohon Kenny
“Baiklah”. Zoalva menurun dan menyimpan kembali benda yang diyakini mampu membuat kulit mengeluarkan banyak darah.
“Siapa?”. Sentak Zoalva. Kenny menutup mata ketakutan.
“Grace dan Aron”. Jawab Kenny dengan badan bergetar. Dia tidak pernah melihat Zoalva semarah itu.
“Aron?”.
“Ketua Mafia Black Tiger”.
Zoalva melepaskan cengkramannya. Dia menatap Kenny dengan tatapan membunuh.
“Aku mengawasimu. Aku masih mengizinkanmu bernafas bukan karena aku kasihan. Aku hanya tidak mau Daddy dan Mommy bersedih. Tapi jika sekali lagi kau menyakiti gadisku. Maka bersiaplah pulang ke tempat asalmu”. Ancam Zoalva sebelum akhirnya meninggalkan Kenny.
Kenny memegang jantungnya yang berdegup kencang karena ketakutan. Dia menahan nafas beberapa saat saking takutnya. Zoalva adalah pria kejam dan pendendam, dia tidak peduli pada siapapun termasuk keluarganya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...
LoveUsomuch ❤️