Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 73. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.......


Myron, Zehemia, Zehekiel, Dean, Luke, Johannes dan Shawn langsung panik bukan main ketika mendengar wilayah timur diserang. Begitu juga dengan Mars, Fillipo, Sean, Zean, Zaen, Lucas dan Dhanny. Apalagi Lucas dan Fillipo yang tahu jika putri mereka sedang berada disana.


"Zean, sebaiknya kau urus saja masalah Grabielle biar kami yang terbang kesana". Ucap Mars.


"Tapi......".


"Benar Zean. Aku akan menemanimu disini". Sean menepuk pundak saudara kembarnya.


"Johannes, Shawn, Dean. Kalian fokus cari Grace dan Kenny. Sudah dua hari mereka hilang tanpa kabar. Retas semua rekaman CCTV dimana terakhir mereka berada. Lacak dimana keberadaan ponsel mereka". Suruh Mars.


"Baik Paman". Sahut ketiganya kompak. Meski Dean sempat menolak karena dia ingin memastikan keadaan zevanya.


"Yang lain ayo kita berangkat".


Mereka pun berangkat ke wilayah timur. Zehemia dan Zehekiel duduk disamping Ayah mereka. Fillipo, dari tadi Fillipo menangis memikirkan putrinya.


"Dad, Zeze pasti baik-baik saja. Kan disana ada Paman Jomblo yang menjaganya". Zehemia berusaha tersenyum. Meski hatinya juga panik dan khawatir.


"Iya Dad". Imbuh Zehekiel menepuk pundak Daddy-nya.


Sedangkan Lucas dan Luke juga tak kalah khawatir. Lucas bahkan meninggalkan Dea bersama Pearce dan Christy, karena istrinya itu terus saja menangis memikirkan Lucy. Lucas berusaha tenang dan tidak panik. Putrinya pasti baik-baik saja.


"Dad, apa kau bisa meretas CCTV disana?". Tanya Luke.


Luca menggeleng "Rekamannya sengaja di Nonaktifkan". Sahut Lucas.


"Apa Lucy akan baik-baik saja Dad?". Tanya Luke sedikit panik.


"Dia baik-baik saja". Ucap Lucas berusaha tersenyum.


Myron duduk tanpa ekspresi. Seandainya bisa berlari dia ingin berlari. Dia panik bukan main. Takut jika Zevanya-nya terluka atau celaka.


"Semoga kau baik-baik saja. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu disana. Maafkan aku". Batin Myron.


Sampai diwilayah timur. Mereka langsung turun dengan tak sabar. Mata mereka membulat sempurna ketika melihat keadaan disana.


"Arthur".


"Paman Arthur".


"Lucy". Lucas dan Luke berlari kearah Lucy yang sudah sekarat.


"Hiksss, sayang apa yang terjadi?". Tangis Lucas pecah sambil memeluk putrinya.


"Lucy". Luke juga ikut menangis.

__ADS_1


"Da-ddy. Ka-k-ak". Suara Lucy sudah tak tembus lagi. Hingga akhirnya gadis itu tak sadarkan diri.


"Arthur".


Mars dan Fillipo langsung mengangkat tubuh Arthur yang bersimpuh darah.


Myron, Zehemia dan Zehekiel juga ikut membantu.


Pandangan Arthur sedikit kabur. Dia tak bisa melihat jelas karena menahan sakit diperut, kaki dan tangannya.


"Z-ze-ze". Suara Arthur tak tembus.


"Zeze kenapa Paman? Kenapa?". Teriak Zehemia tak sabar.


"Z-ze-ze. Di c-ulik. Di di b-wa p-er-gi". Setelah mengucapkan nya Arthur langsung tak sadar kan diri.


"Arthur". Teriak Mars dan Fillipo.


"Zeze. Zeze. Dad, Zeze Dad". Zehemia menangis histeris.


"Zevanya". Teriak Zehekiel.


"Zevanya". Teriak Fillipo sambil menangis "Zeze". Fillipo tersungkur dilantai.


"Zeze". Gumam Myron air mata sudah luruh.


"Dhanny, sebaiknya kau dan Zaen bawa Arthur dan Lucy ke rumah sakit. Aku dan yang lainnya kan mencari dimana Zevanya".


"Baik".


Dhanny dan Zaen langsung mengangkat Arthur.


"Lucas, ayo kita bawa Lucy kerumah sakit". Rayu Dhanny pada adik iparnya.


"Putriku Dhanny". Renggek Lucas masih memeluk Lucy.


"Dia akan baik-baik saja. Kita akan bawa dia kerumah sakit. Ayo". Akhir Lucas menurut dan mengendong putrinya.


Luke berjalan dengan lemes. Dia juga ikut naik kedalam jet pribadi itu.


"Lucy, bangun. Ini Kakak". Luke mengenggam tangan adiknya.


Sedangkan Mars berusaha menenangkan empat orang pria yang tengah menangis histeris. Yang membuat Mars juga bingung melihat putranya Myron yang sedari tadi memanggil nama Zevanya.


"Kiel, retas CCTV disini". Tintah Mars.


"Baik Paman". Zehekiel menurut meski dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Seluruh kakinya terasa melemah.

__ADS_1


Fillipo sudah menggila. Dia melempar semua barang didepannya. Dia panik. Dia takut. Kejadian puluhan tahun silam terulang kembali. Dimana istrinya hilang tanpa jejak.


"Arrghhhhhhh. Zeze, hiks hiks". Fillipo tersungkur dilantai tangannya bahkan berdarah karena memukul lantai.


"Zeze". Lirih Myron. Pria itu terduduk lemah sambil menunduk. Dia tidak pernah bayangkan jika Zevanya akan hilang dan diculik.


"Bagaimana Kiel. Apa kau menemukan rekamannya?". Tanya Mars.


Zehekiel menggeleng " CCTV sengaja di Nonaktifkan Paman". Jawab Zehekiel lemas. Tangannya sampai bergetar menahan tangis.


"Apa ada jejak yang tertinggal?".


"Tidak ada Paman". Jawab Zehemia yang sudah bersimpuh air mata. Rasanya dia gagal menjadi seorang Kakak. Harusnya dia yang menjadi pelindung adiknya.


"Mars, kita harus temukan putriku. Aku takut terjadi sesuatu padanya Mars. Dia segalanya untukku Mars. Tolong aku". Renggek Fillipo memegang tangan Mars.


"Kau tenang Fillipo. Kita akan mencarinya. Dia pasti baik-baik saja. Dia gadis yang kuat". Mars menepuk pundak sahabatnya dan berusaha menyalurkan kekuatan pada pria paruh baya itu.


Myron melangkah pergi. Dia harus menemui Aron. Dia yakin jika Aron yang menculik Zevanya.


"Son, kau mau kemana?". Teriak Mars.


Namun Myron tak merespon dia terus melangkah dengan wajah merah padam. Tangannya terkepal. Tatapannya seperti siap membunuh siapa saja yang ada didepannya.


Kenzie dan Zoalva juga menuju jet pribadi milik mereka. Kabar penyerangan wilayah timur langsung tersiar begitu saja. Apalagi Kenzie tahu jika Zevanya berada disana.


"Bagaimana?". Tanya Zoalva pada Kenzie yang asyik dengan laptop ditangannya.


"Zevanya menghilang. Dia diculik. Sepertinya dia akan dijadikan ancaman. Agar mereka menyerahkan wilayah timur". Jelas Kenzie.


Deg


"Zeva hilang". Seluruh tubuh Zoalva melemas.


"Zeva". Lirih Zoalva menggeleng. Tidak, Zevanya-nya tak boleh pergi


Kenzie juga merasakan tangannya bergetar. Dia berusaha tidak menangis didepan Zoalva. Jangan sampai Zoalva tahu jika dia mengenal Zevanya. Bisa gagal rencananya untuk membalaskan semua dendamnya pada Fillipo.


"Zeva". Zoalva terduduk lemas dengan kaki bergetar. Pria itu menutup wajahnya menangis. Meski Zevanya hanya menganggapnya sahabat. Tapi sumpah demi apapun dia sangat menyanyangi gadis itu. Gadis yang selalu paham akan perasaan nya.


Tangan Kenzie berselancar. Dia harus tenang. Dia berusaha mencari dan melacak dimana keberadaan Zevanya. Kondisi gadis itu belum benar-benar pulih. Harusnya Zevanya sudah melakukan kemoterapi.


"Kemana kau gadis kecil? Kau sudah berjanji akan kemoterapi Minggu ini. Jadi tolong kembalilah". Batin Kenzie.


Kenzie sudah menugaskan anak buahnya untuk mencari dimana Zevanya. Dia harus menemukan gadis itu. Kenzie juga mengatur strategi untuk menyerang Markas Black Tiger dan Black Cobra.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2