
Terkadang harus mengorbankan harga diri demi menyelamatkan orang-orang dicintai.
Namun tak semua orang paham dan mengerti betapa beratnya sebuah perjuangan. Ada sebagian orang yang menganggap lelucon sehingga menyia-yiakan cinta yang hadir..
SELAMAT MEMBACA...
Fitri sudah memasuki daerah hutan dan ternyata memang sangat jauh dari kota. Jalan yang benar-benar ekstrim dan sepertinya mobil memang tidak bisa masuk kedalam hutan tersebut.
"Hufft, mereka sangat pandai mencari tempat bersembunyi". Gumam Fitri sambil terus menjalankan motornya.
"Astaga, ini jalan apa air sihhh kenapa becek sekali?" Gerutu Fitri. Gadis itu menjalankan motornya
Brukkkkkkk
Tiba-tiba pohon tumbang dan hampir saja mengenai dirinya, jika dia tidak segera mengela.
"Untung Tuhan masih memberiku kesempatan hidup". Gumam Fitri melirik pohon dibelakangnya.
Brukkkkkkkkkk
Tiba-tiba motornya terjatuh dan Fitri terhempas sangat jauh ketanah.
"Awwwww". Rintih gadis itu menahan sakit ditubuhnya. Tangannya terluka dan kakinya tergores.
Fitri melepaskan helm dikepalanya, ponselnya jatuh entah kemana. Sejenak gadis itu terduduk ditanah, menahan sakit dikaki dan tangannya.
Srettttttt
Fitri merobak ujung gaunnya dan membalut lukanya dengan sobekkan gaun itu.
"Sepertinya akan sedikit sulit berjalan". Keluhnya sambil membalut lukanya.
Fitri menarik nafas dalam. Mengedarkan pandangan nya menatap jalan hutan yang terlihat menyeramkan.
"Sepertinya sudah tidak jauh, sebaiknya aku berjalan saja. Motor itu sudah tidak bisa digunakan". Gumam Fitri sambil mencoba berdiri.
"Awwwww". Ternyata kakinya sangat sakit.
"Kenapa sangat sakit?". Gerutu Fitri "Aku harus bisa demi Daddy dan Kak Sean". Semangatnya.
"Sepertinya banyak jebakkan disini, aku harus hati-hati". Tandas Fitri.
Fitri berdiri dengan pelan. Dia juga melepaskan jaket yang melekat ditubuhnya, jaket yang sudah dilumuri lumpur dan tanah, membuat Fitri terpaksa membuat jaket itu.
Fitri berjalan pelan, sangat pelan dan hati-hati sambil memegang kakinya yang sakit.
"Pantas saja keringat itu rasanya asin, ternyata berjuang tak ada rasa manisnya". Celetuk Fitri sambil berjalan pelan dengan penuh hati-hati "Kenapa aku jadi rindu berdebat dengan Paman David ya?". Fitri tertawa hambar.
"Ahhh Paman cerewet itu tertangkap juga ternyata. Merepotkan sekali?". Gerutu Fitri. Namun setiba air mata jatuh dipipi nya.
"Tidak Fit, kamu harus kuat. Jangan cenggeng, jangan cenggeng". Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Sementara itu jet pribadi milik Zean dan Zaen mendarat disebuah Markas ditengah hutan. Jet itu mendarat dengan sempurna.
Mereka langsung disambut oleh seorang pria paruh baya dengan senyuman sumringgah.
"Akhirnya kalian sampai juga!!". Sambut pria paruh baya itu memeluk kedua putra kembarnya.
"Apa kabarmu Dad?". Tanya Zean membalas pelukkan Daddy nya.
__ADS_1
"Kabar Daddy selalu buruk, saat melihat kalian berdua tidak menikah-menikah". Kesal pria paruh baya itu.
Zaen terkekeh "Ayolah Dad, bukankah dirimu juga jomblo? Kenapa kau meminta kami menikah????". Celetuk Zaen.
"Dasar anak kurang ajar". Pria paruh baya itu memukul kepala putranya dengan gemes.
"Hahahaha". Zaen berlari berusaha berlindung dibelakang Zean.
"Sudahlah Dad, Zaen". Tegur Zean yang jenggah melihat tingkah konyol kedua pria yang sama-sama jomblo itu.
"Ya sudah ayo masuk". Ajak pria itu.
"Dimana Paman Park dan Michael?". Tanya Zaen.
"Mereka sedang bersenang-senang dengan tangkapannya". Sahut pria paruh baya itu santai sambil berjalan berdampingan dengan kedua putra nya.
"Edward, istirahatlah". Suruh Zaen.
"Baik Tuan". Sahut Edward.
"Kau juga Will". Perintah Zaen.
"Hei, dia assissten ku kenapa kau yang memerintah nya?". Protes Zean
"Sudahlah Zean. Jika aku tidak menyuruhnya istirahat kau tidak akan menyuruh nya bukan? Kau seperti lupa saja kalau dirimu itu Tuan yang kejam". Sindir Zaen sambil terkekeh
"Kau....". Kesal Zean.
"Sudah ayo masuk, jangan berdebat terus". Tegur pria paruh baya itu yang kesal melihat putranya jika bertemu selalu saja berdebat. Ya mereka adalah putra angkatnya, yang diam-diam ia culik saat seorang gadis yang ia cintai melahirkan anak kembar tiga disalah satu rumah sakit. Namun orangtua dari putra kandungnya tidak ada yang tahu jika putra mereka kembar tiga, karena dia menyembunyikan semua hal itu.
Sedangkan Fitri gadis itu masih menelusuri hutan. Angin sepoi-sepoi menerpa kulit putihnya. Gaun sebahu itu menampilkan kulit mulus yang terdapat beberapa luka.
Sretttttttttt
"Awwwwwww". Rintih gadis itu terduduk. Fitri mencabut panah yang menanjak dilengannya dengan kasar, darah bercucuran dilengannya.
"Arggghhhhh". Teriaknya kesakitan.
"Belum juga sembuh, sudah ditambah lagi luka nya". Gerutu Fitri. Dia merobek kembali bawah gaunnya dan membalut lengannya dan berusaha menghentikan darah yang mengalir.
"Jika begini, bisa-bisa habis gaunku kena sobek". Cemberut Fitri. Dalam keadaan seperti itu saja gadis itu masih suka berkata spontan padahal hanya dia sendiri. Semua ia tutupi supaya kesedihannya.
Fitri kembali melanjutkan jalannya. Kali ini dia sangat berhati-hati, mengingat dirinya yang memang tidak jago bela diri tentu saja akan sangat mudah bila ada lawan yang menyerangnya. Ditambah dia tidak memiliki senjata apapun bahkan ponselnya saja hilang entah kemana.
Fitri terus berjalan, hingga ia melihat beberapa pria berbadan kekar tidak jauh darinya. Dengan cepat gadis itu bersembunyi. Otaknya yang cerdik tentu saja bisa mengelabui para pria berbadan kekar itu.
"Tapi tadi aku mendengar seperti ada suara teriakkan disini. Aku yakin pasti ada orang disekitar sini". Ucap salah satunya.
"Iya aku juga mendengarnya". Sambung yang lainnya.
"Ayo kita cari". Timpal yang lainnya.
"Mati aku!!! Aku tidak boleh ketahuan, bagaimana pun caranya aku harus sampai digedung jelek itu". Batin Fitri menatap pria-pria berbadan kekar itu.
"Hmmm, aku punya ide". Senyum licik terpancar diwajah cantiknya.
Fitri keluar dari balik pohon dengan wajah setenang mungkin. Tapi hatinya ingin segera berlari karena ketakutan hanya saja jangankan berlari berjalan saja gadis itu kesusahan.
"Hei, siapa kau?". Beberapa pria berbadan kekar itu menghampiri Fitri dan langsung menodongkan senjata kearahnya.
__ADS_1
Fitri berusaha tenang, padahal hatinya ingin menangis ketakutan "Paman, bisakah kau menolongku. Aku tersesat dihutan ini, hiks hiks". Acting Fitri.
Pria-pria itu saling melihat "Jangan menipu kami!". Bentak salah satunya.
"Paman, ini bicara apa sih? Paman tidak lihat jika aku terluka bagaimana mungkin aku menipu Paman. Memang nya wajahku terlihat penipu?". Kesal Fitri dengan wajah cemberut. Dia melipat kedua tangannya di dadanya dengan wajah kesal yang tentunya pura-pura, padahal nyalinya sudah menciut saat melihat tatapan tajam pria-pria itu.
"Kau mau kemana dan mau apa?". Tanya salah satunya mulai lunak saat melihat wajah cemberut Fitri, yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
"Paman tuli". Kesal Fitri "Tadi kan aku sudah bilang jika aku tersesat, aku tidak tahu tentang hutan ini". Timpal Fitri.
"Jangan berbohong, tidak mungkin kau bisa tersesat dihutan seperti ini. Hutan ini tidak bisa dimasuki sembarangan orang". Sentak yang lainnya.
Fitri bergidik ngeri. Namun berusaha tenang dan setenang mungkin "Aku tidak menyuruhmu percaya padaku Paman, aku hanya menceritakan apa yang terjadi padaku". Ucap Fitri.
"Lalu apa yang kami bisa bantu?". Tanya salah satunya.
"Bisakah Paman menggendongku?". Pinta Fitri menampilkan jurus puppy eyes nya "Bawa saja aku kemana kalian mau Paman". Ucap Fitri meyakinkan.
Mereka saling melihat, menatap Fitri dengan wajah seperti itu sungguh mampu meluluhkan hati mereka.
"Baiklah, kami akan membawamu ke Markas dan mengobati luka-luka mu". Tandas yang satunya.
"Yess berhasil". Teriak Fitri dalam hati.
"Tapi aku mau Paman itu yang menggendongku". Renggek Fitri melihat salah satu pria berbadan kekar yang lumayan tampan dari pada yang lainnya.
"Kau ini, dikasih hati malah minta jantung". Kesal salah satu dari mereka.
"Sudah, sudah". Cegah pria tampan yang berbadan kekar "Biar aku saja yang menggendong Nona ini". Pria itu mendekati Fitri dan tersenyum.
"Apa kau bisa naik ke punggung ku Nona?". Tanya pria itu dengan senyum manis.
"Tentu saja Paman". Sahut Fitri antusias dan naik keatas punggung pria yang sudah mencongkokan tubuhnya didepan Fitri.
"Berpeganglah". Perintah pria itu sambil tersenyum.
"Terima kasih Paman". Senyum Fitri kesenangan. Fitri terkadang bertingkah seperti anak kecil kala mengelabui munsuhnya. Mereka benar-benar tidak curiga pada Fitri.
"Paman, apa Markas nya masih jauh?". Tanya Fitri basa-basi, padahal dia sudah tahu jika Markas nya tidak jauh dari sana.
"Sudah dekat". Jawab pria itu.
"Oh ya nama Paman siapa?". Tanya Fitri.
"Louis". Sahut pria itu.
"Aku panggil Kak Louis saja bagaimana? Sepertinya kau tidak terlalu tua seperti Paman-paman itu". Menunjuk pria-pria berbadan kekar yang berada dibelakang mereka.
Louis terkekeh "Kau ini ada-ada saja". Ucap Louis sambil tersenyum.
Sementara Fitri gadis itu hanya cenggegesan. Dia bagai mendapatkan jacpot, sudah ditolong digendong lagi oleh seorang pria tampan.
"*Hmm, setidaknya aku tidak perlu repot-repot berjalan". Batin Fitri.
**BERSAMBUNG.....
Ada lagi pendatang baru, siapa kah Zaen? saudara kembar Zean. katanya kembar tiga, siapa yang satunya??
Yuk tetap ikuti terus ya sayang sayangku.
__ADS_1
jangan lupa, vote, like dan komennya.
GBu***....