Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 63. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


Fillipo duduk dibibir ranjang tempat tidurnya. Tangannya terulur meraih foto pernikahan nya dengan sang istri 25 tahun yang lalu.


"Sayang?". Lirih Fillipo mengusap foto yang masih terlihat baru itu. Karena memang dia merawat foto itu agar tak usang.


"Aku masih belum percaya jika kau pergi meninggalkan ku". Air mata luruh dipipi pria paruh baya itu "Aku merindukanmu. Sangat merindukan mu. Bolehkah aku bertemu denganmu sebentar saja melepaskan semua kerinduan yang membelenggu dadaku?". Fillipo memukul-mukul dadanya, dia merasa pasokkan udara di paru-paru terhambat akibat air mata yang berjatuhan.


"Sayang, aku ingin melihatmu. Aku ingin memelukmu. Aku ingin, mengatakan bahwa aku rapuh dan lelah menjalani hidupku tanpamu. Kenapa kau meninggalkanku sayang? Kenapa kau pergi? Hiks". Tangis Fillipo pecah. Kenangan bersama Fitri masih belum bisa dia lupakan. Istrinya yang cantik dan jenius itu pergi meninggalkan banyak kenangan.


Fillipo memeluk foto sang istri. Berharap dengan memeluk foto itu bisa membuat rindunya sedikit terobati.


"Fitri". Fillipo berbaring sambil memeluk benda berbentuk pergi itu.


"Aku ingin bertemu dan melihat mu. Aku merindukan mu".


Ternyata terlihat kuat benar-benar menyakitkan. Kehilangan tak semudah yang dibayangkan. Melupakan juga tak segampang ucapan.


Fillipo adalah pria yang telah mengalami itu. Patah hati terhebat dalam hidupnya, ketika sang istri pergi untuk selama-lamanya. 20 tahun lamanya kepergian Fitri, itu bukan waktu yang singkat. Tapi sampai hari ini Fillipo tidak bisa melupakan sang istri. Terlalu banyak yang terjadi sehingga membuat nya tak bisa lupa barang sedetik pun.


Selama ini Fillipo berusaha tegar dan kuat karena tidak mau membuat para anak-anak nya sedih memikirkan dirinya. Padahal sejujurnya dia adalah pria rapuh yang kesepian. Fitri-nya tak terganti kan oleh siapapun. Bahkan putrinya Zevanya pun tidak bisa membuat Fillipo melupakan sang istri.


Bayangan dan kenangan tentang Fitri masih terus Fillipo rasakan. Teringat pertama kali bertemu sang istri, dia mengomeli Fitri dan mengomentari pakaian nya. Fitri adalah orang pertama yang duduk dikursi kebesaran nya setelah dirinya. Fitri adalah orang pertama yang berani memakai laptopnya. Fitri orang pertama yang memaksanya memakan sayuran. Fitri orang pertama yang membuat jantungnya berdebar. Sebelum bertemu Fitri, Fillipo sudah memutuskan untuk tidak akan pernah jatuh cinta pada siapapun. Namun pandangannya berbeda setelah bertemu Fitri.


"Sayang, hiks hiks hiks". Tangis Fillipo semakin pecah saat mengingat kenangan bersama Fitri.


"Maafkan aku yang gagal menjagamu".


Hati Fillipo teriris saat mengingat Fitri terbaring dengan waja kaku dan juga pucat. Dia berteriak memanggil nama istrinya. Namun tetap saja kematian tak bisa dihindari dan dicegah olehnya. Dia hanya lah pria biasa yang di izinkan mencintai wanita hebat. Namun dia sendiri gagal menjaga cinta yang sudah dianugerahi untuknya.


Ditempat lain....


Zean dan Luna sedang berjalan di koridor rumah sakit. Mereka ditelpon oleh Johannes yang mengatakan bahwa Grabielle tertembak dipergelangan tangannya. Meski Zean adalah pria keras tetap saja dia mengkhawatirkan putranya itu.


"Shawn, dimana Bielle?". Cecar Luna.


"Bielle sedang diperiksa Bi". Sahut Shawn yang sedang menunggu diruang tunggu bersama Johannes. Sementara Zehemia sudah kembali ke perusahaan.


"Hiksssssss". Luna terduduk lemas. Takut jika hal buruk terjadi pada putranya.


"Tenanglah sayang. Bielle pasti baik-baik saja". Zean merangkul bahu istrinya. Luna menangis dipelukkan Zean. Tentu sebagai seorang Ibu dia takut jika putranya terluka.

__ADS_1


"John, sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana Bielle bisa tertembak?". Cecar Zean.


"Markas diserang Paman. Kami sedang membalas serangan, lalu Bielle tiba-tiba tertembak ditangannya". Sahut Johannes.


Zean terkesiap mendengar penjelasan keponakan "Apa kalian sudah selidiki?". Tanya Zean. Mantan Mafia dan Cassanova yang satu ini terlihat begitu marah


"Kiel tengah menyelidiki nya Paman". Sahut Shawn.


Mereka kembali terdiam sambil menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Luna masih menangis dipelukkan suaminya. Grabielle tidak pernah terluka sedikit pun, ini adalah pertama kali dan wajar saja dia panik dan juga khawatir.


Dokter keluar bersama beberapa perawat dari ruang pemeriksaan Grabielle.


"Dok, bagaimana keadaan putra saya?". Cecar Zean tak sabar


"Putra anda mengalami keracunan dari peluru yang mengenai pergelangan nya. Untuk saat ini dia sudah melewati masa kritis nya. Hanya saja kita harus lebih cepat menemukan obat penawar. Jika tidak putranya bisa tidak selamat". Jawab dokter.


Tubuh Luna langsung melemes. Sementara Zean mematung tak percaya.


Johannes dan Shawn juga syok. Racun apa yang terdapat dalam peluru itu? Kenapa sampai membuat Grabielle kritis. Padahal tadi pria itu masih asyik bercanda.


"Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk putra saya. Saya mohon, hiksss". Ucap Luna.


Zean kembali terdiam. Lidahnya kelu. Kemana harus menemukan obat penawar itu.


"Baik Dok, akan kami usahakan". Ucap Zean.


Mereka masuk kedalam ruangan Grabielle. Tampak Grabielle terbaring lemah dengan beberapa selang melekat ditubuhnya. Serta oksigen yang menempel disela lubang hidungnya


"Bielle". Tangis Luna pecah melihat kondisi putra bungsunya itu. Hatinya sakit saat Grabielle yang biasa berisik kini malah terpejam dengan damai.


"Paman, Bibi. Kami permisi. Kami akan menemui Paman Yoel dan Yoshua untuk mencari penawar itu". Ucap Johannes.


"Baik. Kalian hati-hati. Paman benar-benar minta tolong pada kalian".


Shawn dan Johannes mengangguk. Lalu beranjak pergi dari sana. Keduanya berjalan dengan gontai.


Shawn dan Johannes masuk kedalam mobil. Mereka berdua memang tidak memiliki asisten seperti Myron dan Zehemia.


"Apa yang akan kita lakukan? Bukankah Paman Yoshua berada di Sun Fransisco?". Ucap Shawn sambil menyetir.


"Kita temui saja Daddy kita. Mungkin mereka bisa membantu".

__ADS_1


"Baik. Hubungi Kak Myron, Dean dan Luke. Siapa tahu mereka bisa membantu kita".


"Iya".


Johannes segera menghubungi para sepupunya. Berharap bisa membantu. Waktu mereka tidak banyak. Karena racun didalam tubuh Grabielle bisa menyerang sistem syaraf.


Grace berjalan tergesa-gesa. Setelah mendapat kabar bahwa adiknya tertembak wanita berusia 25 tahun itu panik bukan main. Meski sering berdebat dengan Grabielle tetap saja. Grabielle adalah adik yang disayangi oleh Grace


"Mom, Dad".


"Grace". Luna memeluk putrinya.


"Mom, apa yang terjadi pada Bielle? Kenapa bisa sampai tertembak?". Cecar Grace.


"Mom, tidak tahu Nak. Bielle, hiks hiks". Luna terlihat begitu rapuh. Hati keibuan nya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga putranya dengan baik.


"Dad". Zean hanya terdiam. Dia menatap putrinya tajam.


"Kemana saja kau?". Cecar Zean menatap putrinya.


"Zean". Tegur Luna. Namun Zean mengangkat tangannya, mencegah agar istrinya tidak protes.


"Aku.......".


"Cepat katakan". Sentak Zean. Dia benar-benar tak habis pikir pada putrinya yang suka menghilang ini.


"Maaf Dad". Grace menunduk. Jika sudah berbicara dengan Ayah nya dia seperti kucing kecil yang menurut.


"Apa yang kau lakukan diluar sana Grace? Apa alasanmu mengeluarkan Zevanya dari butik. Kau tahu bukan, butik itu milik Mommy dan Aunty Fitri". Zean mengusap wajahnya kasar. Dia baru tahun setelah Grabielle menyelidiki nya.


"Zevanya yang memilih keluar Dad". Kilah Grace


"Jangan berbohong Grace. Daddy tahu apa yang kau lakukan". Bentak Zean.


"Zean, stop... Kita sekarang berada di ruangan Bielle. Dia butuh istirahat". Luna mengelus lengan suaminya "Kita selesaikan dirumah secara baik-baik". Zean mengangguk patuh.


Sementara Grace meremes ujung gaunnya. Zean memang selalu begitu. Membuat putrinya takut dengan suara tegas dan bentakkan kasarnya. Grace memang begitu takut dengan Ayah nya ini. Pernah Grace tidak sengaja memecahkan barang kesayangan Zean, sehingga dia mendapat pukulan dari sang Ayah. Hal itu justru membuat Grace trauma dan ketakutan.


Bersambung.....


LoveUsomuch ❤️

__ADS_1


__ADS_2