Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 42. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


Zevanya melangkah dengan gontai dikoridor rumah sakit. Setelah puas merayu Herry untuk tidak ikut dengannya serta menyonggok supir sekaligus pengawalnya itu agar tidak mengatakan pada siapapun bahwa dia sedang berada dirumah sakit.


Zevanya berkali-kali menghembuskan nafas berat. Dia belum siap mendengar diagnose dokter tentang kondisi kesehatannya. Zevanya hanya merasa ada yang tidak biasa ditubuhnya, sebab itulah dia memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Zevanya sengaja tidak ke rumah sakit milik sepupunya itu, dia takut jika Dean akan mengaatakan pada keluarganya masalah kesehatan Zevanya.


Hari ini, Zevanya akan mendengar langsung apa yang akan diucapkan dokter padanya. Tak bisa dipungkiri jika dia takut ada hal yang tidak baik tumbuh dan berkembang dalam tubuhnya.


Zevanya sudah berada didepan ruangan dokter spesialis kanker. Zevanya berusaha menenangkan dirinya. Bahwa tidak akan ada apa-apa. Dia hanya kelelahan karena banyaknya pekerjaan dan juga pikirannya.


“Nona Zevanya Anggela”. Panggil Orlando saat membuka pintu ruang dokter.


“Iya dok, saya”. Zevanya segera mendekat.


“Silahkan masuk Nona, sudah ditunggu Dokter Kenz”.


“Baik Dok”.


Zevanya masuk dengan perasaan tak karuan. Gadis itu bahkan meremes ujung bajunya berusaha untuk tenang. Apapun yang akan dia dengar nanti dia harus siap.


“Dok”. Sapa Zevanya pada seorang dokter yang tengah membaca data pasien dengan kacamata bertengger dihidung mancungnya.


Sang dokter mengangkat pandangan nya. Dia tersenyum dan sempat terpesona dengan gadis yang ada didepannya ini. Sungguh cantik dan menggemaskan.


“Silahkan duduk Nona”. Suruhnya ramah, sambil menutup data yang dia baca.


“Terima kasih Dok”. Balas Zevanya tersenyum hangat untuk menetralisir perasaannya.


“Bagaimana kabarmu Nona?”. Tanya ramah “Perkenalkan saya Kenz, dokter spesialis kanker?”. Dia mengulurkan tangan kearah Zevanya dengan senyum manis.


“Zevanya Dok”. Zevanya ikut menyambut uluran tangan dokter tampan itu.


“Apa saja keluhannya?”. Dia mengambil kertas dan pulpen siap menuliskan apa saja yang menjadi keluhan Zevanya.

__ADS_1


“Nyeri perut dan sembelit. Batuk dan sesak nafas, Dok”.


Dokter itu mencatat semua keluhan yang Zevanya ucapkan. Dia manggut-manggut dan mengerti.


“Ayo Nona. Silahkan berbaring diranjang, saya akan memeriksa anda”. Tintah Dokter itu berdiri dari duduknya.


Zevanya menurut, lalu berbaring keatas ranjang rumah sakit diruangan dokter itu.


Sang Dokter mulai memeriksa Zevanya. Dia memeriksa Zevanya dengan telaten dan teliti. Sesekali dia menarik nafas dalam.


“Sudah Nona”. Senyum dokter membantu Zevanya bangun.


Zevanya kembali duduk dikursi depan dokter itu. Tangannya saling meremes satu sama lain. Dia berkali-kali mengigit bibir bawahnya.


“Bagimana Dok?”. Tanya Zevanya pelan, sebenarnya dia berusaha tenang dan yakin bahwa dia baik-baik saja.


Sang dokter menghela nafas berat “Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti pemindaian dengan foto Rontgen, CT Scan, MRI, atau PET Scan pada bagian tubuh yang akan diperiksa”. Jelas sang dokter “Selain itu saya juga akan melakukan Biopsi atau pengambilan sampel jaringan dengan menggunakan jarum Core Needle Biopsy atau melalui bedah terbuka, untuk memastikan apa penyakit yang ada ditubuh anda Nona”.


Zevanya terdiam “Apa saya menderita penyakit serius dokter?”. Wajahnya yang tadi gelisah berubah menjadi penasaran. Dia tak boleh gegabah apalagi panic.


Zevanya menghela nafas pelan “Kalau begitu kita test sekarang saja Dok”. Desak Zevanya dia sudah tak sabar ingin mengetahui penyakit yang ada dalam tubuhnya


Dokter itu tersenyum lucu, kebanyakkan orang takut mengetahui penyakitnya. Namun berbeda dengan gadis cantik didepannya ini.


“Baik”.


Zevanya melakukan serangkaian pemeriksaan. Pemeriksaan yang Zevanya jalani adalah pemindaian dengan foto Rontgen untuk melihat dengan klise apa yang sedang bersarang ditubuh Zevanya.


Setelahnya Zevanya juga mengikuti pemeriksaan melalui CT Scan, dimana merekam atau melihat bagian tubuh yang janggal.


Test terakhir teknik Bone Marrow Aspiration atau yang dikenal dengan pengambilan sampel melalui tulang sumsum belakang.


Zevanya berbaring dibrangkar pasien dengan menyamping. Gadis itu terlihat tenang tanpa rasa sakit. Yang ada dipikirannya adalah segera tahu apa penyakit yang ada didalam tubuhnya.

__ADS_1


“Maaf Nona, ini akan sedikit sakit”. Ucap sang dokter.


Zevanya hanya mengganguk dan paham. Lalu dokter mulai memasukkan jarum untuk mengambil sampel darah melalui tulang sumsum belakang.


Zevanya mengigit ibu jarinya untuk menahan sakit. Sakit luar biasa yang Zevanya rasakan. Dia meringgis saat jarum itu menusuk tulangnya. Sakit yang tak bisa Zevanya jelaskan dengan kata-kata.


“Sudah Nona. Mari saya bantu”. Sang dokter membantu Zevanya bangun.


Zevanya meringgis pelan. Dia mengigit bibir bawahnya saat berusaha bangun dan mengerakkan anggota tubuhnya.


“Apakah sakit Nona?”. Dokter itu merasa kasihan melihat gadis cantik itu kesakitan. Wajahnya sampai pucat menahan sakit.


“Tidak dok. Rasa nya seperti gigit semut”. Celetuk Zevanya turun dari brangkar.


Dokter itu terkekeh dalam keadaan seperti ini saja gadis ini masih suka bercanda. Sang dokter menggeleng dengan gemes.


“Perlu saya bantu Nona?”. Tawar sang dokter saat melihat Zevanya yang berjalan sangat pelan. Sedangkan perawat yang membantu sudah keluar.


“Perlu sekali dokter, jika tidak keberatan, hehe”. Zevanya cenggesan sambil mengaruk tengguknya. Karena sejujurnya dia memang sedikit mengalami kesusahan berjalan.


“Mari”. Dokter itu merangkul pinggang Zevanya untuk lebih mendekat. Sedangkan tangan Zevanya melingkar dilehernya.


“Atau saya gendong saja?”. Tawar dokter itu lagi kasihan pada Zevanya yang berjalan seperti menyeret kakinya.


Zevanya menggeleng “Saya berat dok. Takut dokter encok”. Ledek Zevanya tertawa kecil.


Bukannya tersinggung dokter itu malah tertawa “Jangan meremehkanku Nona. Menggendong mu sambil berlari saja aku mampu”. Seru dokter itu dengan nada sedikit sombong.


Zevanya menggeleng sambil tersenyum “Aku lebih suka berjalan saja dok. Kaki ku masih kuat”. Ujar Zevanya.


Mereka berdua berjalan sambil mengobrol dan bercanda ria. Zevanya yang memang ramah dan mudah bergaul gampang sekali akrab meskipun dengan orang baru. Dokter yang baru saja dia temui cukup menyenangkan sehingga membuat Zevanya tidak takut.


Bersambung...

__ADS_1


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2