
SELAMAT MEMBACA......
Zoalva merenung dibalkon kamarnya. Hatinya selalu sakit saat melihat Kenny. Karena itu mengingatkannya pada masa dimana sang Nenek membencinya dan mengatakan jika dia anak pembawa sial. Dia juga teringat bagaimana Yoshua menyalahkan dan meneriakkinya pembunuh. Hal itu membuat hati Zoalva kian sakit luar biasa.
“Grandfa”. Lirih Zoalva. Dia begitu dekat dengan David. Kakek nya itu adalah teman curhat yang selalu mendengarkan apa yang dia ceritakan.
“Maafkan Al”. Gumamnya pelan, dia menatap langit malam yang dipenuhi dengan taburan bintang.
“Aku merindukanmu Grandfa”. Ucapnya lagi. Dari kecil dia sudah terbiasa bersama David, bermain dan belajar mobil-mobilan. Bahkan Zoalva pernah bercita-cita menjadi menjadi dokter seperti Kakeknya David.
“Andai saja saat itu Al tidak menjadi Mafia, pasti Grandfa tidak akan meninggalkan Al”. Ucap Zoalva. Pria itu menutupi rasa sedih dan bersalahnya dengan sikap dinginnya. Dia jarang bergaul dengan orang lain dan sangat tertutup.
Drt drt drt drt drt drt drt
“Ada apa?”. Tanya mengangkat telpon.
“Segera datang ke markas. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu”.
“Baik”.
Zoalva mengambil jacket dan kunci mobilnya. Dia tidak pernah memakai assisten. Dia melakukan semuanya sendiri, karena dia tidak suka bergantung pada orang lain.
Zoalva melajukan mobilnya meninggalkan Mansion kediamanan Daglish. Dia menambah kecepatan tinggi, agar sampai tepat waktu ditempat tujuan.
Mobil Zoalva berhenti disebuah bangunan tua yang berumur puluhan tahun. Pria tampan itu turun dari mobil dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Selamat datang Tuan, sudah ditunggu Tuan Muda”. Ucap sang pengawal sambil memberi hormat.
Zoalva tak menjawab, dia masuk kedalam dan diikuti oleh beberapa anggota Mafia nya. Dia masuk kedalam ruang rahasia. Dimana disana sudah ditunggu oleh seorang pria tampan yang juga duduk tanpa ekspresi.
“Ada apa?”. Zoalva langsung duduk disoffa. Ruangan tersebut tampak temaram, hanya ada lampu-lampu kecil yang menerangi ruangan.
Pria tersebut berjalan kearah Zoalva dan duduk disampingnya.
“Aku sudah menghancurkan Markas Black Glorified dan BTOB King”. Ucapnya
“Kau serius? Bagaimana bisa?”. Setengah tak percaya.
“Tentu saja aku bisa”. Sahutnya bangga dan berdecih somobong.
Zoalva memutar bola matanya malas “Apa Myron dan Zehemia tidak menyerang balik?”. Tanyanya.
__ADS_1
“Sepertinya ada serangan balik”. Sahut pria itu “Aku memanggilmu kesini, agar membantuku untuk mengagalkan peluncuran senjata baru Zehemia. Kita akan merebut senjata itu, jika tidak kitra akan kalah”. Jelasnya
“Apa bisa? Kau tahu kan Myron dan Zehemia bukan tandingan yang bisa kita lawan begitu saja. Mereka memiliki banyak akses. Apalagi dibelakangnya ada Paman Mars dan Paman Fillipo. Mereka pasti tidak akan tinggal diam”. Timpal Zoalva
“Aku tahu”. Dia tersenyum smirk “Aku akan hancurkan perusahaan mereka dan mereka akan kehilangan segalanya. Aku ingin mereka merasakan bagaimana sakitnya kehilangan”. Ucap pria itu dengan tatapan tajam dan membunuh.
Dia adalah Kenzie Deventer, pria berusia 30 tahun. Kenzie dan Zoalva merupakan sahabat baik, pertemuan keduanya di lelang senjata beberapa tahun lalu. Sehingga Zoalva memutuskan untuk bergabung bersama Kenzie. Tidak ada yang tahu jika Zoalva bagian dari Cut Silent dan Winner King, selain anggota keluarganya.
Persahabatan kedua pria ini berjalan selama bertahun-tahun. Keduanya memiliki ambisi yang sama yaitu membalaskan semua dendam mereka. Zoalva juga memiliki dendam pada Zehemia karena pria itu selalu lebih tinggi darinya. Sehingga dia mau saja menerima tawaran Kenzie untuk melenyapkan keluarga Wilmar dan Ranlet Flint.
Disebuah ruangan penyiksaaan. Myron menatap tajam pada dua orang pria yang tangan dan kakinya teringat. Wajah keduanya luka-luka dan menggenaskan.
“Siapa kalian?”.
Tak ada sahutan, kedua pria itu malah menunduk dengan tubuh bergetar hebat. Mereka sudah disiksa dengan cambuk dan pukulan benda-benda tumpul sehingga menyebabkan wajah nya menyeramkan dengan mata membengkak.
“Katakan brengseekkkkkk”. Myron menarik rambut pria itu dari belakang.
Tetap tak ada sahutan. Pria itu hanya menahan sakit dibagian tubuh dan wajahnya. Myron makin kuat menarik rambut pria itu dengan kasar.
“Ternyata kau tidak bisa dengan cara lembut ya”.
Myron membuka lidah pria itu lalu menariknya
Srettttttttttttttttttt
Sretttttttttttttttttt
“Arghhhhhhhhh”.
Teriakkan histeris dan kesakitan terdengar begitu rintih dan menyeramkan. Myron menarik jari-jari pria itu. Dia menarik dengan paksa
Tak tak tak tak tak
“Argggghhhhh”.
“Arghhhhhhh”.
Myron mencincang jari-jari pria itu seperti mencincang daging ayam. Tak peduli dengan teriakkan yang terdengar menggenaskan.
“Argghhhhhhh”.
__ADS_1
Myron tersenyum puas. Dia menarik belatuknya. Dan mengarahkannya dikepala pria itu.
Dor dor dor dor dor
Brughhhhhhhhhhhh
Tubuh pria itu tergeletak tak bernyawa ditanah. Darah menggalir dari mulut dan jari-jarinya. Sungguh sadis, seperti penyiksaan neraka.
Zehemia, tersenyum bangga pada Kakak sepupunya itu. Pria itu memang cocok menjadi pembunuh bayaran yang pasti bisa menghabisi targetnya tanpa sisa. Sedangkan Luke, sampai muntah-muntah karena merasa jijik dan menyeramkan.
Berbeda dengan Zehekiel, pria itu sibuk memotret dan mengabaikan moment seram Myron yang menghabisi lawannya tanpa belas kasihan. Shawn dan Johannes menutup mata. Sungguh Kakak sepupu mereka itu kejam tak ada duanya.
“Homer, bereskan”. Perintahnya.
“Baik Tuan”. Sahut Homer.
Myron menatap pria yang satunya. Pria itu sudah dipenuhi dengan keringat yang menetes dikening nya. Badannya bergetar menahan takut. Tubuhnya terasa panas dingin, saat menyaksikan temannya disiksa secara langsung didepannya dan dibunuh tak berperikemanusiaaan.
Myron berjongkok menyamakan tingginya dengan pria itu. Dia menatap sinis kearah pria yang tampak ketakutan, karena terlihat dari keringat yang menetes didahinya.
“Kau mau seperti dia?”. Myron memainkan belati nya, diwajah pria yang sudah ketakutan bukan main “Kau tahu kan? Aku tidak suka bertele-tele”. Ucap Myron “Sekarang katakan siapa kalian dan siapa yang menyuruh kalian?”. Tanya Myron sekali lagi, dia menatap tajam pria itu sehingga tatapan mereka bertemu. Sang pria sudah pasrah apapun yang dilakukan padanya. Karena dia takkan mengatakan yang sebenarnya, jika dia mengatakan sama saja dia juga terjun kedalam lubang neraka.
Tak ada jawaban, yang ada hanya rintihan ketakutan dan kesakitan terdengar dari mulut pria itu.
“Kau ternyata sama bisu juga”.
Myron meminting leher pria itu dari arah belakang dan..
Srettttttttttttttttttttt
Sekali tarikkan lehernya putus. Tak terdengar erangan kesakitan karena belum sempat berteriak lehernya sudah putus. Pria itu jatuh tergeletak dan darah banjir seperti air manjur yang deras.
“Bereskan”.
“Baik Tuan”.
Myron menyerahkan belatinya pada Homer dan mengelap tangannya yang dipenuhi dengan darah serta baju dan juga celananya sudah penuh darah berwarna merah.
Yang lain bergidik ngeri. Meski bukan pertama kalinya melihat Myron membunuh. Namun tetap saja mereka merasakan bagaimana sakitnya dibunuh dengan cara seperti itu.
**Bersambung.........
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️**