
Keberanian akan membuka banyak pintu.
SELAMAT MEMBACA....
Fitri masuk dengan langkah gontai ke dalam kediaman Keluarga Wilmar. Tatapannya kosong, ia berjalan tanpa arah. Rasa sakit dan kecewa menyeluruh dalam hatinya. Sulit sekali percaya, sulit sekali untuk bisa diterima bagaimana teganya seorang sahabat menjebak sahabatnya sendiri, tanpa tahu kesalahan apa yang dia perbuat.
Hingga langkah Fitri terhenti saat menyadari Mansion itu sepi, Mansion yang biasanya dihuni oleh puluhan manusia itu tak terdengar ada orang didalamnya. Fitri mengedarkan pandangannya, matanya terbelalak menatap semua pelayan tergelatak dilantai dengan darah yang mengalir dimana-mana.
Mata Fitri tertuju pada satu pelayan yang sangat dia kenal.
"Kelly". Fitri berlari kearah Kelly. Samar-samar Kelly mendengar suara itu, keadaannya sudah sekarat darah mengalir dikepalanya.
"Kelly apa yang terjadi Kelly?". Tangis Fitri sambil memangku kepala Kelly.
"No-na". Suara Kelly tidak tembus "No-na". Suara Kelly kembali terdengar tidak jelas. Hingga akhirnya pembantu dan pelayan yang sangat baik pada Fitri itu menghembuskan nafas terakhir nya dipangkuan Fitri.
"Kelly". Teriak Fitri histeris sambil menangis.
Fitri berlari kelantai atas. Mansion mewah itu terlihat hancur dan berantakan, barang-barang berserakan dimana-dimana, bahkan bangkai para pelayan itu terdapat diberbagai sudut.
"Dea, Luna, Pearce". Panggil Fitri memeriksa kamar mereka. "Dimana kalian?". Tangis Fitri ketakutan.
"Mommy Piranda, Mommy Diandra dan Bibi Mouth, kalian dimana?". Fitri terus mencari tapi tidak ada satu orang pun di Mansion itu.
Segera Fitri berlari kekamarnya, ia mencari laptopnya dan segera menghidupkannya.
Wajah Fitri terlihat sangat panik, tangannya sampai bergetar saat menekan tombol keyboard laptop itu. Fitri berusaha meretas rekaman CCTV di Mansion mewah itu.
"Kenapa rekamannya tidak ada? Siapa yang menonaktifkan CCTV ini?". Tanya nya pada diri sendiri, nafasnya mulai memburu.
Fitri berusaha mencari dan mencari rekaman yang akan menjadi petunjuk tentang hilangnya orang-orang di Mansion dan siapa yang melakukan hal itu.
Hingga tubuhnya terasa lemas saat melihat satu rekaman yang berhasil ia retas.
"Daddy, Kak Sean!!". Fitri menutup mulutnya menahan tangis. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat kedua pria yang dia cintai berada disalah satu ruangan dengan tubuh luka-luka serta biru dengan wajah yang sudah lebam.
"Tuan Fillipo". Lirih Fitri saat melihat pria yang sudah masuk kedalam hatinya itu terlihat menyedihkan dan menyeramkan.
"Siapa yang melakukan ini semua?". Gumamnya tangannya terus saja berselancar di keyboard laptop
"Paman David, Bibi Athala, Kak Yosh, Kak Yoel". Fitri juga melihat keluarga David ada disana. Seketika dadanya sesak dan nafasnya mulai tak beraturan.
"Tuan Michael". Fitri bisa melihat Michael yang tertawa lepas saat menyiksa, Dea, Luna dan Pearce. Wajah mereka tampak luka dengan sayatan belati.
Drt drt drt drt
Ponsel Fitri berbunyi. Dengan tangan gemetar Fitri mengambil benda pipih itu dalam tas selempang miliknya
__ADS_1
"Siapa?". Gumam Fitri saat melihat nomor tak dikenal tertulis dilayar ponsel nya.
Fitri menarik nafas dalam, sebelum ia menekan tombol hijau dilayar ponsel itu.
"Hallo Girl, apa kau mengenal suaraku?". Sapa Michael ditelpon.
"T-tuan Mike!". Ucap Fitri terbata dan matanya sudah berkaca-kaca
"Kau pasti bingung kan? Bagaimana aku bisa bebas dari penjara aneh mu itu?". Tanya Michael sinis "Hmmm, apa kau tahu semua orang kau sayangi, termasuk Daddy dan Kakak kesayangan mu itu sedang berada dalam tawananku?". Ucap Michael dengan sinis.
"Jangan sakit mereka Tuan, aku mohon". Isak Fitri yang tak mampu menahan sesak dalam dadanya saat melihat betapa menggenaskannya wajah Sam dan Sean yang terpampang dilayar laptopnya.
Michael tertawa sinis "Aku tidak akan membunuh mereka, jika kau tidak menolak untuk bekerja sama denganku dan menikah dengan ku". Timpal Michael.
Fitri memejamkan matanya berusaha setenang mungkin "Apa yang kau mau?". Tanya Fitri tegas.
"Hmm, tidak perlu serius begitu sayang, hahah". Tawa Michael "Aku hanya menginginkan kejeniusan dan tubuh perasanku itu. Jika kau bersedia aku akan dengan rela hati melepaskan mereka". Ungkas Michael.
"Datanglah ke sini. Dan jangan menggunakan senjata apapun, atau orang lain selain dirimu. Jika kau berani melakukan hal itu, jangan salahkan aku jika mereka tinggal nama". Ancam Michael.
"Baik, aku akan datang. Tapi kumohon jangan sakiti mereka". Lirih Fitri.
"Haha, good girl". Tawa Michael menggema.
"Aku akan kirim alamatnya". Ucap Michael "Ingat kau harus datang sendiri, dan jangan coba-coba bermain dengan ku". Ancam Michael lagi.
Fitri menjatuhkan telponnya. Air mata sudah tak bisa dibendung lagi. Rasa takut kehilangan akan kedua pria itu semakin menjadi-jadi.
"Tunggu aku, Daddy Kak Sean. Aku akan menyelamatkan kalian". Lirihnya.
Fitri merasa kepalanya berat, sakit luar biasa mungkin terlalu banyak menangis. Hidungnya menyeluarkan darah segar. Fitri langsung mencari obat yang biasa ia konsumsi
Pandangannya mulai kabur dan bahkan terasa gelap.
Brukkkkkk
Gadis itu terjatuh keatas kasur. Matanya sudah sembab karena menangis, darah dihidungnya sudah berhenti mengalir. Gadis itu tak sadarkan diri. Entah apa yang akan terjadi padanya
Keesokkan harinya, sinar mata hari menyinari wajahnya. Sehingga ia terbangun dari tidur indah yang ternyata dirinya pingsan.
Segera Fitri sadar dan terbangun. Fitri meraba laptopnya, mencari alamat yang dikirim oleh Michael semalam.
"Letaknya ditengah hutan". Gumamnya.
"Aku harus segera pergi". Ia bergegas memasukkan laptopnya kedalam tas ransel miliknya.
Fitri juga mencari salah satu mobil didalam bagasi Mansion itu. Mobil keluaran terbaru milik Fillipo. Dengan kejeniusan dan kepintarannya, Fitri berhasil membobol kontak mobil sehingga tidak perlu memerlukan kunci.
__ADS_1
Mobil sport itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Mansion mewah keluarga Wilmar. Bahkan Fitri tidak Menganti pakaiannya, ia masih memakai gaun yang ia pakai semalam. Fitri terlihat sangat cemas dan panik, dan sialnya darah dihidungnya masih saja sempat menetes. Dengan kasar Fitri menyeka hidungnya dengan tissue.
"Menyebalkan sekali kau darah! Apa kau tidak lihat aku buru-buru?". Gerutu Fitri sambil menghapus darah dihidungnya. Dia juga tidak lupa meminum obat.
"Ahh aku lapar, sebaiknya aku singgah saja dulu di Minimarket itu". Ucap Fitri dan langsung menepikan mobilnya.
Fitri masuk membeli beberapa cemilan dengan begitu buru-buru.
Brakkkkkk
Tiba-tiba Fitri menabrak seseorang.
"Maaf Tuan". Fitri mengambil barang-barang yang jatuh dilantai.
"Apa kau baik-baik saja?". Tanya pria yang ditabrak Fitri sambil membantu gadis itu mengambil barangnya yang berserakan dilantai.
"Aku baik-baik saja Tuan". Balas Fitri mengambil barang-barang itu.
"Aku duluan Tuan". Fitri segera meninggalkan pria yang masih mematung ditempatnya dan menuju mobil.
"Siapa gadis itu? Cantik sekali". Gumam pria tersebut dengan senyum manis.
"Semoga kita bertemu lagi gadis kecil". Ucapnya pelan sambil menatap mobil Fitri yang menjauh dari Minimarket.
Sementara Fitri masih melajukan mobilnya dengan cepat menuju bandara Internasional Jerman, sesekali ia mengigit roti yang baru ia beli tadi.
"Hmm, kalau tidak terisi perutku benar-benar susah berpikir". Celetuknya "Untung saja aku tidak lupa membawa kartu black Card yang diberikan Kak Sean". Gumamnya sambil mengunyah roti itu dengan lahap.
"Aku baru sadar jika aku lapar, kebanyakkan menangis ternyata menguras tenaga". Ia terkekeh sendiri seakan melupakan kesedihan dan tujuannya.
"Ternyata benar kata orang-orang, menangis itu butuh energi apalagi patah hati". Celetuknya sendiri "Ahh, Tuan Fillipo belum jadian saja aku sudah patah hati saat melihatmu terluka". Ucap Fitri bermonolog sendiri. Hingga cemilannya tandas tak tersisa, dia memang belum makan dari tadi malam jadi wajar saja jika gadis itu sangat kelaparan.
Mobil Fitri sampai di bandara, Fitri memarkir mobilnya diparkiran bandara. Dengan langkah gontai dan buru-buru ia masuk kedalam bandara.
"Astaga, aku kan tidak punya tiket?". Fitri menepuk jidatnya. Gadis itu terlihat seperti tak ada beban, masih saja tertawa dengan kebodohannya padahal hatinya sudah meronta.
"Ahh aku punya ide". Senyumnya smirk.
Fitri mengeluarkan laptopnya kembali meretas semua data penumpang yang ada dibandara. Memasukkan data palsu.
"Selesai". Ia menutup laptopnya dan memasukkannya kembali.
Beberapa menit kemudian namanya dipanggil untuk check in. Gadis itu dengan senyum sumringah masuk tanpa dosa dan tak ada satu petugas bandara pun yang curiga padannya.
Pesawat yang Fitri tumpangi sudah mengudara dengan kecepatan sedang. Perjalanan cukup jauh.
"Astaga, ini pesawat atau burung sihh? Kenapa lambat sekali??". Protes Fitri.
__ADS_1
Bersambung.....