Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 10. S2.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA...


Zevanya dan Myron masih berada ditaman. Myron heran melihat Zevanya yang biasanya manja dan cerewet tiba-tiba saja banyak diam. Malah lebih focus memainkan laptopnya.


Myron juga tercenggang dan hanya bisa melonggo mendengar apa yang diucapkan Zevanya.


“Apa kau mengetahui semuanya?”. Tanya Myron menyelidik. Sedangkan Zevanya masih focus dengan laptop dipangkuannya.


Zevanya menganguk “Tapi Kakak janji jangan katakan pada siapapun, termasuk pada Kak Hem dan Kak Iel”. Ucap Zevanya.


Myron mengangguk paham “Lalu apa yang akan kita lakukan?”. Ucap Myron karena Zevanya melarangnya mengatakan pada siapapun.


“Kakak tahu jika sekarang wilayah timur sedang diintai?”. Myron mengangguk.


“Nah, aku sudah membuat system keamanan disana. Jadi tidak akan ada yang bisa meretasnya termasuk Kak Iel dan Luke”. Sahut Zevanya.


Myron tercenggang “B-bagaimana bisa?”. Tanya Myron setengah tak percaya. Sebab kedua sepupunya itu memiliki kemampuan IT yang luar biasa, bahkan mereka bisa membuka sandi tersulit.


Zevanya tersenyum menampilkan gigi ginsulnya. Dia menutup laptopnya.


“Kakak lapar tidak?”. Tanya Zevanya, karena sudah jam makan siang tentu sebentar lagi dia akan makan siang bersama Zehemia dan Zehekiel.


“Kita mau pulang?”. Tanya balik Myron, karena memang mereka dari pagi sampai siang masih berada ditaman.


Zevanya menggelleng “Makan siang sama Kak Hem dan Kak Iel?”. Tawar Zevanya.


“Aku tidak bisa”. Tolak Myron cepat.


Myron adalah pria penderita OCD akut, dia tidak bisa makan diluar selain Mansion dan masakkan Ibu nya Merry. Alasannya karena Myron tidak bisa berada dikeramaian yang dipenuhi dengan para wanita.


“Ayolah Kak”. Rayu Zevanya bergelut manja dilengan Myron tak lupa jurus andalannya, puppy eyes nya.


Myron memalingkan wajahnya, lagi-lagi ada getaran dihatinya saat kulitnya dan kulit Zevanya bersentuhan.


“Kau tahu kan aku tidak bisa makan diluar?”. Myron tidak mau menatap Zevanya karena jantungnya sudah berdegup tidak karuan.


“Sesekali Kak”. Zevanya menaik turunkan alisnya “Kakak harus belajar sembuh dari phobia itu. Kalau Kakak tidak berusaha, Kakak mau jika phobia terus sampai tua?”. Celetuk Zevanya.

__ADS_1


“Ayolah Kak”. Renggek Zevanya lagi “Kasihan Kak Hem dan Kak Iel, mereka sudah menunggu”. Ucap Zevanya lagi.


Myron menghela nafas berat, jika tidak dituruti gadis yang satu ini takkan berhenti merenggek padanya.


“Baiklah”. Ucap Myron.


Zevanya berjingkrak senang saat Myron mau makan siang bersamanya. Sedangkan Myron tersenyum tipis, gadis ini benar-benar lucu dan menggemaskan. Selama dua puluh lima tahun hidup dalam satu atap yang sama, baru kali ini Myron melihat Zevanya dengan jarak dekat. Gadis itu sungguh membuatnya geleng-geleng kepala.


“Apa kosa kata dikepalamu tidak pernah habis?”. Sindir Myron sambil mengelleng kepala mendengar Zevanya yang tak berhenti berbicara.


“Kau tidak tahu saja Kak, jika banyak berbicara mencegah penuaan pada wajah”. Celoteh Zevanya.


Myron mengerutkan dahinya “Memang ada yang begitu?”. Tanya Myron heran.


“Tentu saja ada”. Sahut Zevanya santai.


Myron hanya tersenyum sambil menyetir dan melanjutkan perjalanan mereka. Hari ini full dia bersama Zevanya, tidak mengurus markas dan perusahaan. Anehnya lagi Myron betah saja. Dia adalah pria yang gila kerja, baginya satu detik tidak gunakan untuk bekerja adalah sia-sia. Tapi hari ini dia malah merasa senang.


“Kak, apa senjata api yang diproduksi Kak Hem bisa membantu kalian melawan Cut Silent?”. Tanya Zevanya, wajahnya kembali serius. Bahkan tak menunjukkan kemanjaan disana.


“Ya sepertinya bisa. Kenapa?”. Hari ini Myron yang irit bicara yang biasa bicara hanya lima kata dalam sehari, sekarang dia sudah bisa berbicara membentuk paragraph.


Myron menatap Zevanya dengan tatapan tak terbaca “Apa kau yakin ingin pergi kesana? Sebenarnya apa yang ingin kau lalukan?”. Cecar Myron. Dia heran, kenapa Zevanya berbeda dari gadis manja lainnya? Contohnya saja Myra, adiknya itu manja dan menyusahkan. Tapi Zevanya dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki gadis pada umumnya.


“Cih, Kakak dari tadi hanya menanyakan itu”. Zevanya kesal sambil melipat tangan didada.


Myron terkekeh, saat Zevanya kesal gadis itu malah terlihat menggemaskan.


“Hhehe, iya maaf”. Myron mengacak rambut Zevanya dengan gemes.


“Ihhhhh, Kakak”. Zevanya memukul pelan lengan Myron yang masih setia dikepalanya. Myron makin gemes dan tertawa lepas.


Sedangkan Zevanya mengumpat kesal. Dia merapikan rambutnya yang berantakkan. Dia mencibir kesal pada pria yang ada disampingnya itu.


Mobil mereka terparkir diperusahaan milik Zehemia. Zevanya langsung turun saat melihat kedua Kakaknya sudah menunggu sambil berdiri.


“Kakak”. Pekik Zevanya sedikit berlari menghampiri kedua Kakaknya.

__ADS_1


“Zeze, jangan lari-lari”. Tegur Zehemia khawatir, dia selalu memperhatikan hal-hal kecil tentang Zevanya.


“Heheh, Kakak”. Memeluk Zehemia dengan sayang. Zehekiel menggeleng.


Myron turun dari mobil, bukan hanya Math dan Tommy yang terheran tapi Zehemia dan Zehekiel. Zehemia dan Zehekiel sempat mengira jika adiknya berbohong.


“Kak Myron”. Sapa keduanya kompak saat Myron berjalan mendekat kearah mereka.


Myron membalas dengan anggukan kepala. Tatapan Myron tertuju pada Zevanya yang masih bergelut manja dipelukkan Zehemia. Gadis ini benar-benar lucu dan menggemaskan.


“Kak, ayo”. Zevanya menarik tangan Zehemia.


“Pelan-pelan sayang”. Senyum Zehemia mengikuti langkah kakinya.


“Kak Myron, mau ikut makan bersama kita?”. Tawar Zehekiel menatap Myron yang berjalan menuju mobil.


‘”Iya”. Sahut Myron singkat.


“Tom, kalian makanlah berdua. Ini”. Zehekiel memberikan beberapa lembar uang dollar pada kedua asistennya.


“Terima kasih Tuan”. Senyum Tommy mengambil uang itu dari tangan Zehekiel.


Mereka memilih menaiki mobil Myron, karena tahu jika pria itu tidak suka naik mobil lain. Dia akan muntah-muntah atau malah alergi karena duduk dibekas orang.


“Kak, apa sudah telpon Daddy?”. Tanya Zevanya dia bersandar dilengan Zehekiel. Zevanya duduk diantara kedua Kakak nya, dibangku penumpang. Sedangkan Myron yang menyetir karena pria itu tidak mau duduk dibekas orang selain asissten yang menemaninya.


“Sudah sayang”. Sahut Zehekiel


dengan senyum mengembang sambil mengelus kepala Zevanya.


“Sayang, apa kau hari ini tidak pergi ke galeri?”. Tanya Zehemia “Ini laptop siapa?”. Lanjut Zehemia menunjuk laptop yang adiknya peluk.


“Tidak Kak”. Sahut Zevanya “Ini aku beli baru. Tadi pakai uang Kak Ron, nanti Kakak yang ganti ya”. Zevanya cenggesan sambil tertawa kecil. Dia yang berhutang tapi Kakak nya yang bayar.


“Iya sayang”. Sahut Zehemia ikut mengelus kepala adiknya.


Zehemia kadang heran melihat penampilan adiknya. Zevanya hanya memakai kaos oblong dan celana bahan, penampilan nya tidak mencerminkan bahwa dia adalah putri dari orang terkaya didunia. Zevanya juga memiliki hobby yang terbilang unik, dia tidak suka berbelanja di mall kecuali membeli barang elektronik seperti laptop dan ponsel. Namun tak pernah dia melihat adiknya itu membeli barang yang biasa dibeli wanita.

__ADS_1


Bersambung........


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2