
SELAMAT MEMBACA....
Zevanya mengerjitkan dahinya heran. Dari tadi Grace mengacuhkannya. Tak biasanya yang suka bercanda dan berisik.
“Ge, kau kenapa?”. Tanya Zevanya melihat sahabatnya. Dari tadi Grace mendiamkannya tanpa sebab.
Brakkkkkkkkkkk
Grace memukul meja dengan keras. Saat ini mereka sedang berada diruang kerja Grace mendesain beberapa gaun yang akan mereka luncurkan awal bulan.
Zevanya terkejut bukan main. Dia sampai mengelus dadanya.
“Ge, ada apa?”. Tanya Zevanya menatap Grace heran.
Grace menatap Zevanya tajam dengan amarah “Kau masih bertanya kenapa?”. Tunjuk Grace “Kau tidak tahu kesalahan mu ‘kan?”. Zevanya mengangguk dengan wajah polosnya.
“Biar aku kasih tahu”. Grace menatap Zevanya dengan sinisnya.
“Dengar kan aku Zevanya Angela Wilmar. Jadi wanita jangan sok kecantikkan dan jangan kegatelan”.
Deg
“Kau bilang tidak menyukai Kak Myron, tapi kemarin kau menghabiskan waktu sehariannya dengannya. Apa kau berusaha menggodanya?”. Tuduh Grace sinis menatap kearah sepupunya yang bingung dengan ucapan Grace.
“Ge, maksudmu apa? Aku tidak menggoda Kak Ron. Aku juga tidak ada hubungan apa-apa dengan dia”. Jelas Zevanya.
“Ohhh pura-pura tidak ada hubungan. Hebat ya. Jangan mentang-mentang jenius dan bisa segalanya dan kau mau berbuat semaumu”. Sindir Grace melipat tangan didada “Pantas saja kau tidak mau membantuku mendekati Kak Myron, ternyata kau tidak ingin bersaing denganku”. Ucap Grace menatap Zevanya dengan tatapan benci.
“Ge, aku….”.
“Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu lagi Nya. Mulai sekarang aku tidak mau lagi berteman denganmu dan aku peringatkan jangan pernah mendekati Kak Myron lagi. Dia milikku dan hanya milikku”. Zevanya menatap Grace tak percaya.
“Ge……”.
“Mulai hari ini, jangan datang ke butik ini lagi. Butik ini milik Mommy pun bukan Mommy mu”. Grace meninggalkan Zevanya yang mematung dan bingung ditempatnya.
__ADS_1
Zevanya bingung mendengar perkataan sepupunya itu. Padahal dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Myron. Dia juga tidak memiliki perasaan apa-apa pada Kakak sepupunya itu. Zevanya saja tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.
“Ge”. Lirih Zevanya menatap punggung Grace yang menghilang dibalik pintu. Zevanya menghela nafas dalam. Tiba-tiba pipinya terasa panas, dia sekuat tenaga menahan tangisnya. Dia tidak mau menangis, tidak dia bukan gadis cenggeng. Namun tetaplah dia gadis yang hatinya mudah sekali rapuh. Apalagi Grace memutuskan hubungan pertemanan dengannya. Bagaimana bisa putus hubungan padahal mereka tinggal dalam satu rumah.
Zevanya menangkup wajahnya “Mommy, hiksss. Mommy”. Isak Zevanya. Dia menyeka air matanya, lalau mengambil tas munggilnya.
Zevanya melangkah meninggalkan butik Grace. Butik dan bertulisan kan “LNF Butik” lama Zevanay menatap nama yang terpampang didepan butik. Hampir dua puluh tahun dia mengelola butik ini dari usia lima tahun bersama Bibi Luna nya. Namun saat ini dia harus keluar hanya karena kesalahpahaman.
Zevanya melangkah gontai masuk kedalam mobilnya.
“Kemana Nona?”. Tanya supir pribadi miliknya. Zevanya tak diizinkan membawa mobil sendiri oleh kedua Kakak kembarnya. Dia kemana-mana selalu bersama supir.
“Pemakaman Mommy”. Sahut Zevanya pelan dan lemes.
Sang supir melihat Zevanya melalui kaca mobil. Dia menatap heran kearah gadis yang biasanya berisik kenapa jadi banyak diam. Wajahnya sedih dan matanya sembab.
“Nona baik-baik saja?”. Tanya Herry sang supir.
Zevanya memaksakan senyum “Iya Paman”. Senyum paksa Zevanya “Kita singgah ke tokoh bunga sebentar Paman. Aku ingin membeli bunga kesukaaan Mommy”. Perintah Zevanya.
Zevanya menatap kosong keluar jendela. Hatinya berdenyut sakit mendengar ucapan kasar Grace. Tak pernah sepupunya itu marah apalagi berkata kasar padanya. Hanya karena masalah pria, dan Zevanya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Myron. Dia dan Myron sebatas adik Kakak.
Herry berhenti didepan tokoh bunga. Segera Zevanya turun dari mobil. Meski Herry meminta untuk turun membeli, namun Zevanya menolak.
Zevanya memilih bunga-bunga kesukaan Ibunya. Bunga yang juga disukai oleh Zevanya. Zevanya mengambil bunga mawar bewarna merah dan putih. Kedua warna bunga isi kesukaan Mommy nya dulu. Bahkan sekarang kamar Zevanya juga dipenuhi dengan tanaman bunga mawar yang sengaja dia buat dalam kamarnya.
Zevanya mengambil beberapa tangkai bunga itu. Dia mencium bunga itu dengan senyum kerinduan. Dia sangat merindukan Mommy nya. Mommy yang selalu tahu apa yang dia mau. Mommy yang mendidiknya dengan kelembutan dan kesabaran.
Brakkkkkkkkkkk
Zevanya menabrak sebuah benda yang cukup keras sehingga bunga yang ada ditangannya jatuh ketanah.
“Maaf, maaf”.
“Maaf, maaf”.
__ADS_1
Zevanya dan pria tu mengambil bunga yang jatuh ketanah secara bersamaan. Seketika pandangan mereka bertemu.
Deg deg deg deg deg
Jantung pria itu berdegup kencang saat melihat wajah Zevanya. Gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda. Wajahnya putih dan mulus.
Zevanya mengerjitkan dahinya heran, melihat pria yang menatapnya tak berkedip itu.
“Tuan….”. Zevanya melambaikan tangannya.
“Tuan”. Sekali lagi Zevanya melambaikan tangannya.
“Ehhhhh,, iya”. Pria itu tersadar dan menutupi kegugupannya “Maaf ya, ini bunga mu”. Pria itu menyerahkan bunga Zevanya yang terjatuh.
“Tidak apa-apa Tuan. Ini bungamu juga”. Balas Zevanya menyerahkan bunga yang dia ambil ditanahnya tadi yang tidak lain adalah bunga pria itu.
“Terima kasih”. Ucap pria itu tersenyum. Gadis ini sungguh cantik dan menggemaskan.
“Saya duluan Tuan”. Zevanya mellengang pergi meninggalkan pria yang masih menatapnya dengan kagum itu. Zevanya adalah gadis polos yang belum mengerti apa-apa. Meskipun dia jenius tapi dia bukan gadis yang paham tentang perasaan.
Pria itu menatap Zevanya yang masuk kedalam mobil. Jantungnya masih berdegup kencang. Gadis tadi adalah gadis pertama yang tidak terpesona padanya. Malah dia yang terpesona pada Zevanya, padahal Zevanya gadis yang penampilannya tomboy dan jauh dari kata anggun.
“Kau milikku Little Girl”. Gumamnya tersenyum smirk.
Pria itu masuk kedalam mobil dan bayangan gadis yang dia temui tadi masih saja terbayang dimatanya. Tanpa sadar sudut bibir pria itu tertarik. Mengingat wajah cantik Zevanya kembali membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
Mobil pria itu berhenti disebuah pemakaman. Dia turun dengan membawa sebuket bunga ditangannya. Kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya. Dia sangat tampan bahkan luar biasa tampannya. Rahang yang tegas disertai wajah yang dingin dan siapa saja wanita yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta dan rela menyerahkan diri mereka padanya. Namun, tidak berlaku dengan gadis yang dia temui ditoko bunga tadi. Gadis itu terlihat biasa saja dan tidak terpesona sama sekali dengan ketampanan wajahnya.
Pria itu berjongkok didua pemakaman. Dia meletakkan bunga yang dia beli tadi diatas pusara kedua orangtuanya.
“Dad, Mom”. Dia mengelus batu nisan kedua orangtuanya secara bergantian.
“Aku merindukan kalian. Semoga kalian baik-baik saja disana”. Dia tersenyum kecut. Dia tersenyum kecewa. Dia tersenyum sedih. Sejak usia lima tahun sudah menjadi anak yatim piatu yang hidup tanpa siapapun.
**Bersambung.....
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️**