
SELAMAT MEMBACA...
Mars, Merry dan Myra baru saja tiba di bandara Internasional Amerika. Selama dua bulan lamanya mereka tinggal di Korea Utara, mengurus segala hal disana. Sebenarnya Mars ingin mengajak istri dan anak-anaknya tinggal disana. Namun teringat lagi akan pesan Fitri untuk tetap tinggal di Mansion mewah Ranlet Flint. Selama dua puluh lima tahun Mars tak pernah kembali kesana. Tempat itu terlalu banyak kenangan yang membuat Mars enggan untuk menginjakkan kaki disana. Ada luka yang Mars tahan saat melihat tempat itu, sulit dilupakan namun sakit untuk diingat.
“Dad, Mom”. Myron berjalan dengan senyum menghampiri kedua orangtuanya.
“Son”.
“Boy”.
“Kak Myron”.
Ketiga orang itu mengembangkan senyum manis saat orang yang mereka tunggu-tunggu dari tadi sudah datang. Myron langsung memeluk kedua orangtuanya secara bergantian. Myron merindukan Ayah dan Ibu nya, dua bulan terasa begitu lama untuknya.
“Apa kabarmu Son?”. Mars melepaskan pelukkan putranya. Meski dingin seperti gunung es, namun saat bersama kedua orangtuanya Myron tetaplah seorang anak yang mengasihi Ayah dan Ibunya.
“Baik Dad”.
“Kak Myron”. Myra berhambur memeluk Myron. Meski sang Kakak alergi wanita tapi dia tidak peduli dia sangat merindukan Kakak nya yang dingin ini “Rindu”. Renggek Myra manja.
“My, jangan peluk kuat-kuat, Kakak sesak nafas nihhh. Pengen muntah juga”. Myron melepaskan pelukkan adiknya dengan paksa.
Myra mengendus kesal “Ck, Kakak keterlaluan”. Protes Myra “Kenapa sih Kakak harus punya penyakit aneh seperti itu?”. Cibir Myra kesal bukan main. Padahal dia ingin melepaskan rindu dengan memeluk Kakak nya sampai puas, tapi apa daya penyakit aneh itu harus membuatnya kalah.
“Sudah-sudah”. Sergah Merry sambil tersenyum menggeleng.
“Ayo”. Ajak Mars.
Mereka berempat masuk kedalam mobil Myron dan meninggalkan bandara. Tampak sekali kebahagiaan diwajah Mars dan Merry. Keduanya tak menyangka jika Myron dan Myra tumbuh menjadi seorang pangeran dan putri yang sangat tampan.
“Kak, Kak Zeva kemana? Kenapa dia tidak ingin menjemput?”. Tanya Myra. Ketika dia menelpon Zevanya, gadis itu mengatakan akan menjemputnya tapi malah tidak terlihat batang hidungnya.
“Dia sibuk”. Jawab Myron ketuss. Sudah beberapa hari ini Zevanya memang terlihat menghindarinya. Dia juga heran apa yang terjadi pada Zevanya, tak biasanya gadis ceria itu menghindar saat melihat dirinya.
Merry menatap putranya “Kau dan Zeva baik-baik saja, Boy?”. Merry penasaran apa yang membuat Myron seketika kesal. Padahal Merry berharap Myron dan Zevanya dekat, karena hanya Zevanya yang bisa menyembuhkan penyakit aneh putranya itu.
“Iya Mom”. Sahut Myron memaksakan senyum.
__ADS_1
Sedangkan Mars menyelidik wajah Myron yang sedang focus menyetir. Mars yakin jika putranya ini sedang dilema, terlihat dari wajahnya yang biasa dingin justru terlihat murung dan sedih.
Mars tak ingin menanyakan apapun pada putranya. Mars yakin jika Myron bisa menyelesaikan masalah nya sendiri.
Sampai dikediaman Ranlet Flint. Mereka sudah disambut hangat oleh para pria dan wanita paruh baya.
Fillipo, Sean, Zean dan Zaen menyambut kedatangan Kakak angkatnya itu. Senyuman mengembang diwajah tua mereka. Mars adalah sosok Kakak yang mengayomi mereka.
“Apa kabarmu Mars?”. Fillipo memberikan pelukkan hangat pada Mars.
“Seperti yang kau lihat”. Balas Mars.
Setelah menjemput dan mengantar keluarga nya ke Mansion. Myron segera menuju perusahaannya. Wajahnya semakin dingin tanpa ekspresi. Takkan ada yang bisa menebak apa yang dia pikirkan. Wajahnya selalu begitu.
“Ada apa dengannya?”. Gumam Myron memfokuskan tangannya menyetir namun tidak dengan hatinya.
“Apa aku melakukan kesalahan?”.
“Kenapa aku sangat merasa kehilangan?”.
“Kenapa aku sedih saat dia menghindariku?
Berbagai macam pertanyaan muncul dibenak Myron melihat sikap Zevanya. Gadis yang biasanya menebarkan senyum manis padanya kini malah menjauh. Tak jarang Zevanya membuang muka dan tak mau menatapnya.
“Kenapa aku merindukannya?”. Myron memegang dadanya yang terasa sakit saat mengingat Zevanya. Dia pria kaku yang tidak paham jatuh cinta.
Myron memarkir mobilnya diparkiran perusahaan. Pria itu segera turun dari mobil. Dia menyetir sendiri, sedangkan asistennya Homer mengurus segala pekerjaannya.
Sampai diruangannya Myron segera menghempaskan tubuhnya dikursi kebesaran miliknya. Dia menghela nafas berat. Tangannya terulur memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Entah kenapa hatinya hampa saat tak mendengar suara Zevanya?
“Homer”.
“Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”. Tanya Homer yang berdiri didepan meja Myron dan siap melaksanakan perintah dari Tuan-nya itu.
“Bagiamana keadaannya hari ini?”.
“Dia baik-baik saja Tuan. Seperti biasa melukis di galeri, setelah itu mengunjungi took buku nya dan makan siang bersama kedua saudara kembarnya”. Jelas Homer dengan sopan.
__ADS_1
“Apa kau sudah mencari tahu, apa alasan dia menghindariku?”.
“Sudah Tuan. Tapi saya tidak menemukan apa-apa selain Nona Zevanya yang sibuk dengan pekerjaannya”. Jawab Homer.
Terdengar nafas Myron yang begitu berat. Pria penderita OCD itu terlihat frustasi. Dia tidak tahu dimana salahnya sehingga gadis yang biasanya membuat telinganya sakit kini diam seribu bahasa.
“Bagaimana tentang kerjasama dengan Deventer Group?”. Myron mengalihkan pembicaraan.
“Sudah siap Tuan. Semua berkas sudah saya buat, hanya menunggu persetujuan dan tanda tangan dari anda”. Homer memberikan beberapa dokumen pada Myron.
“Bagaimana peluncuran senjata baru Zehemia?”. Myron membolak-balik berkas itu.
“Beberapa bulan lagi senjata itu akan segera diluncurkan Tuan. Tuan Zehemia sudah mengatur acara pameran”.
“Baik. Kau boleh keluar”.
“Saya permisi Tuan”.
Myron menutup berkasnya. Dia mengambil ponselnya dari saku celananya. Myron mengeser layar ponselnya, membuka menu kontak dan mencari nama seseorang yang membuatnya gelisah dari tadi.
Tut tut tut tut tut tut
Tak ada jawaban disana. Ponsel itu tak diangkat oleh pemiliknya. Entah suaranya yang disenyapkan atau memang sang pemilik tak ingin menjawab.
“Argghhhhhhhhhhh”. Pekik Myron melempar ponselnya. Pria itu meremes rambutnya dengan kasar. Ada apa dengannya? Kenapa dia kesal saat telponnya diabaikan?
Ditempat lain..
Zevanya masih asyik dengan kuas dan kanvas ditangannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Zevanya menatap nama yang tertera dilayar ponselnya. Berulang kali gadis itu menghela nafas pelan. Dia menyimpan kembali ponselnya dan tidak ingin menjawab. Zevanya sedang tidak ingin berbicara dengan pria itu.
“Maafkan aku Kak. Ini demi kebaikkan kita. Sebaiknya kita seperti semula saja. Aku tidak mau jika Gege terus salah paham”. Gumam Zevanya
Zevanya sengaja menghindari Myron. Dia tidak mau kesalahpahaman ini akan membuat keluarganya pecah. Zevanya tak ingin Myron dekat-dekat dirinya lagi. Zevanya tak ingin Grace membencinya semakin dalam.
Zevanya menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaannya. Ketika Myron mengajaknya makan siang bersama, Zevanya mengatakan sibuk. Ketika Myron mengajaknya menjemput Mars, Merry dan Myra di bandara Zevanya mengatakan dirinya tak sempat karena banyak pekerjaan. Dia selalu mencari alasan, agar tidak dekat pria itu.
Bersambung.........
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️