Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 123


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


Mobil yang dikendarai oleh Rio, memasuki halaman Mansion mewah keluarga Ranlet Flint. Sebelumnya Fitri sudah mengirim pesan pada ketiga Kakak kembarnya dan juga pada sang kekasih, Fillipo. Bahwa akan ada tamu tak diundang yang datang, Fitri meminta keempat pria itu bekerja sama untuk menahan emosi mereka, karena sedikit saja kecoblosan maka Dea dan Dhanny bisa saja menyerang tiba-tiba.


Fitri turun, tanpa menunggu Rio membuka pintu mobil dan begitu juga dengan Luna dan Pearce. Sementara Dea, wanita itu dibantu oleh Rio.


"Cece".


"Sayang".


"Dedek".


"Fitri-nya Kakak".


Keempat pria tampan itu langsung menyambut kedatangan Fitri dengan tak sabar. Bahkan keempatnya tak lagi memperdulikan yang lain. Yang ada dipikiran mereka adalah gadis kesayangan mereka, yang hampir saja mereka lupakan karena sibuk mengurus masalah perusahaan dan Markas.


"Kakak". Fitri berlari menyambut pelukan mereka. Sean, Zean dan Zaen memeluk adik mereka secara bersamaan dan Fitri memeluk ketiganya dengan senyum bahagia.


"Cece, baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Apa ada yang tidak nyaman? Kemana Cece pergi? Kakak khawatir sekali?". Cecar Sean dengan beberapa pertanyaan sambil meneliti tubuh adiknya.


"Iya sayang! Apa Dedek baik-baik saja?". Sambung Zean juga melakukan hal yang sama seperti Sean.


"Bilang sama Kakak, apa ada yang mencoba melukai Fitri?". Zaen menimpali


Fitri sampai menggeleng kepala dan tersenyum "Fitri baik-baik saja Kak". Balas Fitri dengan tersenyum.


"Baru beberapa jam saja jauh dari Cece Kakak rasanya tidak sanggup". Lirih Sean berkaca-kaca, Sean hampir saja mati jantungan saat tidak mendapati adiknya di butik Luna. Bahkan pikiran Sean sudah berkelana dan buruk, Sean takut jika Dhanny benar-benar membawa Fitri pergi.


"Kakak". Fitri kembali memeluk Sean membenamkan kepalanya didada bidang sang Kakak.


"Sini Kak". Fitri mengajak Zean dan Zaen juga ikut berpelukkan. Mereka berrempat berpelukkan, seakan sudah terpisah berpuluh-puluh tahun padahal baru berpisah beberapa jam saja, rasa rindu dihati mereka tak bisa dibendung. Bahkan keempatnya tak lagi memperdulikan sekitarnya, dunia serasa milik keempat nya.


"Ehem!". Fillipo berdehem karena dari tadi merasa diabaikan oleh manusia-manusia penikmat rindu itu.


Pelukkan keempatnya terlepas. Fitri mengarahkan pandangannya pada sang kekasih, wajah Fillipo tampak cemberut karena dari tadi pria itu hanya jadi penonton padahal dia juga sudah menahan rindu setengah mati.


"Kak Popo". Fitri masuk kedalam pelukkan Fillipo, saat pria itu merentangkan tangannya untuk memeluk gadis yang sangat dicintainya.


"Kemana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu! Jangan membuatku takut!". Fillipo mengeratkan pelukkannya sesekali ia mengecup ujung kepala gadis nya itu.


"Ketempat Paman David!". Jawab Fitri tangannya masih melingkar ditubuh Fillipo. Fitri bahkan mendongkrak kan kepalanya untuk melihat wajah pria yang tingginya sangat jauh itu.


"Jangan ulangi lagi. Dunia ku bisa hancur jika sedetik saja tak mendengar kabarmu". Ucap Fillipo sambil memperbaiki anak rambut gadis itu.


"Cih, lebay". Cibir Zaen jenggah melihat kebucinan Fillipo. Lebih tepatnya Zaen cemburu.


Fillipo tak menanggapi hanya dianggap angin lewat yang tak terlihat.


Sedangkan Dea sudah merapalkan tangannya hingga buku-buku tangannya terlihat memutih. Andai saja dia sedang tidak melancarkan rencanannya, sudah Dea pastikan bahwa Fitri tidak berada didunia ini lagi.

__ADS_1


"Pearce kau juga ada disini?". Tanya Fillipo pada adiknya


"Iya Kak. Aku menemani Kakak Ipar". Balas Pearce tersenyum canggung saat melihat tatapan tajam dari Sean, Zean dan Zaen.


"Ya sudah ayo masuk". Ajak Fitri pada semua orang.


"Kak Maria, ayo". Fitri hendak meraih tangan Dea tapi dicegah oleh keempat pria itu.


"Jangan". Sentak keempatnya sambil menarik Fitri.


"Maksudnya biar Rio yang membantunya masuk". Timpal Zean takut yang lain curiga.


"Ayo Paman Rio bawa Kak Maria masuk". Suruh Fitri.


"Baik Nona". Ucap Rio.


"Dasar laknat, tunggu saja pembalasanku". Batin Dea kesal.


Mereka semua masuk kedalam Mansion mewah itu. Fillipo merangkul pinggang Fitri dengan posessif bahkan tak memberi celah untuk Sean, Zean dan Zaen menyentuh kekasihnya atau sekedar memegang tangannya.


"Ck". Kesal Zaen memincing mata kesal kearah Fillipo.


Mereka langsung duduk diruang tamu. Segera Sean menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman dan cemilan untuk tamu mereka. Tatapan mereka terus saja mengawasi Dea, bahkan segala pergerakan gadis itu tak lepas dari tatapan Sean, Zean dan Zaen. Jika Fillipo dia hanya fokus pada satu objek yang membuat hatinya selalu bergetar yaitu Fitri.


"Sayang". Sam dan Pedrosa berjalan tergesa-gesa menghampiri putrinya.


"Daddy, Ayah". Fitri segera berdiri menghampiri kedua pria paruh baya itu.


"Aku bermain dengan mereka". Tunjuk Fitri pada Pearce dan Luna, membuat kedua wanita itu tersenyum canggung saat Sam dan Pedrosa menatap mereka tajam.


"Jangan menatap mereka begitu Dad, Yah. Kalian tidak akan cocok untuk jatuh hati pada mereka". Celetuk Fitri yang berhasil membuat Sam dan Pedrosa berjingkrak kaget. Astaga yang benar saja Fitri, mengatakan jika Sam dan Pedrosa menyukai Luna dan Pearce.


"Ck, kau ini". Sam mengeratkan pelukkannya pada Fitri.


"Ayah". Fitri beralih pada Pedrosa.


"Jangan, membuat Ayah khawatir lagi okey". Pedrosa memeluk Fitri juga.


Fitri menatap kearah Dea, dan langsung menghubungi David untuk segera datang ke Mansion mewahnya.


Tidak lama kemudian David datang dengan wajah ditekuk kesal. Bagaimana tidak? Fitri hanya memberinya waktu 20 menit untuk sampai ke Mansion nya, sedangkan Mansion David cukup jauh. Berkali-kali pria paruh baya itu mengendus kesal.


"Kenapa wajahmu terlihat kesal begitu?". Tanya Sam heran pada David, setelah ia selesai mengobati Dea.


David memutar bola mata malas "Tanyakan pada putri anehmu itu. Dia memberiku waktu 20 menit untuk sampai ke Mansion ini, jika tidak, dia akan meledakkan Mansionku". Gerutu David kesal. Sedangkan mereka terperangah mendengar ucapan David, ancaman Fitri sungguh manjur untuk David.


Sedangkan Fitri gadis itu terlihat santai sambil bergelut manja dilengan zaen. Fillipo bahkan kesal setengah mati karena Zaen menarik Fitri untuk bersandar padanya.


Sam dan Pedrosa memijat pelipihnya. Mereka berdua berkai-kali menghembuskan nafas kasar, karena David seperti anak kecil jika bertemu Fitri tak ubah kedua orang itu selalu membuat suasana ramai.

__ADS_1


"Berhenti mengerutu Paman, kau bisa cepat tua dan mati jantungan. Apa kau mau Bibi Athala menikah dengan Daddy atau Paman?". Cibir Fitri. Sam dan Pedrosa sampai menelan salivanya kasar. Sungguh putri mereka ini selalu menemukan kata-kata untuk membuat David kesal.


"Ck, sepertinya kau benar-benar ingin Paman mu ini cepat mati". Sindir David kesal menatap Fitri jenggah.


"Pikiranmu terlalu jauh Paman". Cibir Fitri "Jika kau mati duluan, siapa yang akan berdebat denganku dan tidak ada lagi orang yang bisa ku aniaya". Celetuk Fitri.


Yang lain hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan kedua orang itu. Sean, hanya bisa terkekeh saja melihat David selalu berhasil membuat David bungkam.


"Kak Maria, tinggallah disini sampai Kakak sembuh. Jika Kakak sudah sembuh baru boleh pulang kerumahmu". Tawar Fitri dengan tersenyum.


Dea terjingkrak mendengar tawaran Fitri, Dea tak mengira jika Fitri dengan mudah masuk dalam perangkapnya


"Apa tidak merepotkan?". Tanya Dea tak enak hati.


"Tidak apa-apa Nak, tinggallah disini. Menemani putri kesayangan kami ini". Sambung Sam yang juga ikut menawarkan.


"Iya Nona". Seru Sean, Zean dan Zaen bersamaan. Ketiga pria itu sudah sepakat untuk ikut main drama bersama adiknya.


"Terima kasih Tuan, dan Nona. Maaf merepotkan. Saya janji setelah keadaan saya pulih saya akan kembali kerumah saya. Saya hanya sedikit trauma saja". Lirih Dea memandang wajah sendu nya. Tentu saja itu membuat Sam, Pedrosa, David, Luna dan Pearce percaya. Tapi tidak untuk Sean, Zean, Zaen dan Fillipo yang memang tahu siapa Dea.


"Tidak perlu sungkan". Senyum Zean menatap Dea dengan senyum mengejek dan licik seakan dirinya benar-benar memberi izin.


"Jika perlu sesuatu mintalah pada pelayan, anggap saja rumah sendiri". Sambung Sean dengan senyuman juga, tentu mereka semua sudah dilatih oleh Fitri untuk beracting. Meski awalnya keempat pria itu menolak, tapi keinginan Fitri adalah sesuatu yang mutlak dan tak terbantahkan.


Luna termanggu melihat senyum Sean. Hatinya bergetar hebat saat melihat senyum diwajah tampan Sean. Sudah lama Luna menaruh rasa pada Sean, tapi dirinya sadar bahwa lelaki sempurna seperti Sean takkan mau dengan wanita yang sudah tak suci seperti dirinya, apalagi Luna pernah menjebak adiknya tentu saja Sean akan semakin membenci Sean. Luna berusaha menepis semua perasaan nya, namun ia adalah wanita biasa yang tentu selalu merasakan getaran saat bertemu dengan Sean.


"Kalian mandi dan bersihkan diri, setelah itu kita makan malam". Perintah Sam "Luna, Pearce kalian menginaplah menemani Fitri malam ini, dan bersihkan diri di kamarnya". Sambung Sam "Dan kau Maria, bersihkan diri dikamar tamu yang sudah disediakan oleh pelayan". Timpal Sam.


"Baik Paman". Sahut Luna dan Pearce bersamaan.


"Baik Tuan". Balas Dea.


Sementara David berpamitan pulang, karena hari sudah hampir petang dan dia akan makan malam bersama keluarganya.


Sean, Zean, Zaen dan Fillipo berkumpul diruang kerja Sean, entah apa yang akan dibahas oleh keempat pria itu.


Sam dan Pedrosa kembali kekamar mereka masing-masing, membersihkab diri dan bersiap untuk makan malam.


**Bersambung....


Jangan lupa untuk supportnya teman-teman. author berharap novel ini masuk dalam rak favorute kalian🙏


Maaf cerita berbelit-belit 🙏 Ini adalah novel pertama author, sebelumnya author belum pernah menulis novel, karena biasanya lebih tertarik menulis puisi atau cerpen diberbagai event. Hingga suatu ketika ada keringinan buat coba-coba nulis, meskipun awalnya ragu tapi author mencoba melawan segala rasa takut itu.


Maaf juga tidak bisa up banyak perhari, karena kehidupan dunia nyata author sangat sibuk, pekerjaan dikantor kadang menumpuk dengan tugas-tugas meeting dari Boss, ditambah setelah pulang dari kantor author harus mengajar dirumah dengan beberapa meteri yang juga harus disiapkan. Jadi kesibukkan author berlibat kali ganda, sebab itulah kadang up kadang juga tidak, disela jam istirahat baru nyempatin buat nulis. hehhe.


Terus dukung karya author ya guys, Tinggalkan jejak kalian sebagi bukti dukungan.


Thanks all.

__ADS_1


GBU....


LoveUall**......


__ADS_2