Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 113.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


Fitri masih menatap layar laptopnya. Ia sampai menggeleng kepala, ternyata pengiriman senjata itu ditunda sampai bulan depan.


"Ck, Kak Dhanny suka sekali bermain-main". Celetuk Fitri masih menekan tombol keyboard laptopnya.


"Sayang". Zaen berjalan kearah Fitri sambil membawa segelas air putih.


"Minum dulu". Zaen memberikan gelas itu pada Fitri dan membantunya meminum.


"Terima kasih Kak". Senyum Fitri kembali pada laptopnya.


"Kenapa?". Tanya Zaen penasaran. Sebab tidak biasanya Fitri betah dikamar memainkan laptopnya.


"Pengiriman senjata itu di tunda bulan depan Kak". Jelas Fitri.


Zaen mengerjitkan keningnya heran "Kenapa?". Tanya Zaen bingung.


"Mana Fitri tahu Kak". Sahut Fitri kesal.


Zaen terkekeh sambil mengacak rambut Fitri yang malah membuat Fitri semakin cemberut.


"Sudah jangan main laptop lagi". Zaen mengambil laptop diatas pangkuan Fitri dan menutupnya "Hari ini Kak Zaen, Kak Zean dan Kak Sean ingin mengajak Fitri jalan. Sejenak kita lupakan semua masalah kita. Kakak tahu penundaan pengiriman senjata itu, lebih baik kita jalan-jalan untuk refreshing". Jelas Zaen menatap lembut Fitri.


"Benarkah jalan-jalan?". Wajah Fitri berbinar "Ayo Kak". Fitri berdiri menarik lengan Zaen.


"Ganti baju dulu sayang". Suruh Zaen "Kakak tunggu dibawah!". Zaen menggeleng melihat tingkah Fitri.


Fitri segera mandi dan membersihkan diri. Sudah lama ia tak jalan-jalan, dan hari ini ketiga Kakak nya akan mengajaknya.


Kebetulan Fillipo sedang perjalanan bisnis ke Jerman jadi dia tidak perlu repot-repot meminta izin sudah pasti kekasihnya itu tahu bahwa ketiga Kakak nya mengajaknya jalan.


Fitri tertegun saat melihat pantulan dirinya dicermin, darah kembali mengalir dihidungnya dan rambutnya kian rontok.


Air mata luruh dipelupuk matanya. Fitri berusaha untuk tidak menangis tapi bagaimana pun, ia gadis yang rapuh.


"Tidak, tidak Fit! Kau harus kuat okey". Ia menyeka air matanya dan membersihkan darah yang mengalir dihidung Fitri. Meski pun begitu air matanya tak mau berhenti.


Fitri memakai gaun selutut berwarna nude, ia lapisi wajahnya dengan sedikit bedak dan lipstik berwarna pink menghiasi bibir indahnya. Rambutnya ia kuncir kuda, menampilkan leher jenjang milik Fitri.


Fitri turun menghampiri ketiga Kakaknya. Fitri tersenyum saat melihat ketiga pria itu memakai pakaian yang sama, warna dan model bajunya.


"Kakak". Sapa Fitri tersenyum.


Lagi-lagi ketiga pria kembar itu tak bisa berkata apa-apa saat menatap wajah cantik Fitri. Gaun yang benar-benar pas ditubuh munggilnya.


"Pantas saja Dhanny tergila-gila, adikku benar-benar cantik". Batin Zean menelan salivanya kasar saat melihat tubuh munggil Fitri yang benar-benat membuatnya tak bisa berkutip.


"Astaga, dia benar-benar menggemaskan. Rasanya aku tidak rela jika Fillipo memintanya nanti". Batin Zaen


"Cece-nya Kak Sean benar-benar cantik". Sean menghampiri Fitri merangkul bahu adiknya dengan sayang.


Mereka pun masuk kedalam mobil. Terpaksa Zean harus menggunakan mobil besar milik disebabkan ketiga pria itu tidak ada yang mau mengalah, mereka betiga ngotot ingin duduk disamping Fitri dan alhasil mereka harus menggunakan mobil besar.

__ADS_1


Willy sampai geleng-geleng kepala, melihat ketiga Tuan-nya.


"Cece, kalau merasa tidak nyaman bilang ya?". Ucap Sean lembut pada adiknya.


Fitri menampilkan senyum manis hingga deretan gigi susulan itu terlihat begitu menggemaskan membuat Sean tak tahan dengan wajah lucu Fitri.


"Uw uw Cece-nya Kakak cantik banget sihhh". Sean mencubit pipi Fitri dengan gemes.


"Kakak". Kesal Fitri.


"Sean, kau menyakiti kesayangan ku". Pekik Zaen mengelus pipi Fitri yang memerah.


"Maafin Kakak ya sayang, habisnya gemes banget sih". Ucap Sean merasa bersalah. Fitri hanya bisa tersenyum.


Zean memutar bola matanya malas, kedua saudara kembarnya itu benar-benar menyebalkan. Diantara mereka bertiga memang Zean yang terlihat begitu dingin dibanding Sean. Zean seakan tak tersentuh padahal dia mantan Cassanova. Tapi saat bertemu dan mengenal adiknya, Zean dengan suka rela meninggalkan kebiasaan buruk itu.


Mereka sampai di Mall terbesar di Amerika. Semua mata tertuju pada mereka berempat. Gadis cantik nan imut dikelilingi oleh tiga pria tampan yang memiliki wajah yang sangat mirip bahkan pakaian yang mereka kenakan juga sama, sehingga susah membedakan yang mana yang Sean, Zean atau Zaen.


"Wah siapa mereka?".


"Apa artis pendatang baru?".


"Mereka kembar tiga! bahkan sulit membedakannya, benar-benar mirip".


"Gadis itu cantik sekali, sangat menggemaskan. Ahh aku jadi ingin mengigit pipinya yang cubby itu".


Begitulah bisik-bisikkan yang dilontarkan oleh setiap orang yang melihat mereka berrempat.


"Cece, mau beli apa?". Tanya Sean saat mereka memasuki toko elektronik di bagian Mall tersebut.


"Baiklah". Sahut Sean.


"Tolong, Carikan keluaran terbaru dan termahal ditoko ini". Perintah Sean pada para pegawai toko


"Baik Tuan".


"Sayang, setelah ini makan dulu ya". Ucap Zean.


"Iya Kak". Sahut Fitri.


Setelah membeli ponsel. Mereka menuju restourant yang terdapat dalam Mall tersebut.


"Ingat ya Ce, jangan makan yang pedas-pedas". Tegas Sean saat melihat adiknya memilih menu makanan.


"Iya Kakak". Kesal Fitri. Sean hanya terkekeh.


"Biar Kakak yang suapin". Zaen sudah mengambil makanan dalam sendoknya. Seakan tak mau didahului oleh Zean dan Sean.


Sean dan Zean menggerutu kesal. Mereka selalu kalah dengan Zaen yang notabene memiliki kepribadian urakkan. Beda dengan mereka berdua yang memiliki sifat dingin.


"Kak lepas rambut aku". Pekik Fitri saat Zaen mengacak rambutnya.


"Hehhee". Zaen menggaruk tengguk nya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Sini sayang, biar Kak Zean ikat". Zean mengeluarkan ikat rambut disaku celananya. Sebelumnya Sean sudah memperingati Zean dan Zaen untuk membawa ikat rambut saat bersama Fitri. Karena adiknya itu selalu saja suka ceroboh dengan rambutnya.


"Sini sayang". Fitri menurut saja.


Zean dengan telaten mengikat rambut Fitri. Menyisir rambut Fitri dengan jarinya. Sean dan Zaen tersenyum hangat melihat permandangan itu. Fitri benar-benar seperti malaikat kecil yang membuat kehidupan mereka berwarna.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah menatap mereka dengan intens. Bahkan tatapan itu begitu tajam, namun tak ada yang menyadari karena mereka sibuk dengan Fitri. Sibuk bercanda tawa dengan gadis kecil itu.


Tatapan itu mengarah pada Fitri, gadis kecil yang terlihat begitu mencolok diantara tiga pria tampan yang memiliki wajah sama.


"*Jadi ini gadis kecil yang mereka perebutkan itu! Sangat terlihat jelas bahwa dia jenius!". Batin pria itu.


"Lihat saja nanti gadis kecil, aku akan menangkap dan membunuhmu! Kau adalah ancaman besar bagiku". Ia tersenyum licik.


"Aku akan lihat kehancuran Fillipo, saat gadis itu mati. Kau harus merasakan pembalasan bajingan". Batinnya geram tangannya terkepal dan rahangnya mengeras*.


Lalu meronggoh ponsel dalam saku celananya.


"Siapkan semuanya. Aku sudah menemukan gadis kecil itu, pastikan kali ini tidak ada kata gagal lagi". Perintahnya matanya masih menatap keempat orang yang menjadi pusat perhatian yang lainnya.


Fitri merasa ada yang mengawasinya. Tapi gadis itu terlihat tenang, ia tahu dari tadi ada yang memperhatikan. Sepertinya ketiga pria kembar itu tidak menyadari nya, tapi Fitri gadis itu memang sangat peka terhadap sekitarnya.


"Hmmm, ternyata kejeniusan nya tak berfungsi, dia tidak sadar jika aku mengawasi nya. Lihat saja nanti, akan ku jadikan manekin dirumahku". Batinnya berlalu pergi dengan santai.


Fitri menghela nafas saat melihat orang yang mengawasinya sudah pergi.


"Apa itu orang suruhan Dea? Tapi sepertinya bukan, wajahnya terlihat tidak asing. Tapi siapa?". Batin Fitri. Ekor matanya menatap kepergian pria itu


"Ce, kenapa?". Tanya Sean yang melihat Fitri terlihat bingung.


"Ahh tidak apa-apa Kak". Senyum Fitri.


"Setelah ini kita mau kemana lagi Dek?". Tanya Zean menyuap makanan kedalam mulutnya.


"Ke Butik Luna". Sahut Fitri.


"Butik Luna?". Beo ketiganya.


"Iya Kak". Sahut Fitri "Luna buat butik baru dia kembali menjadi desainer, kemarin dia menghubungiku untuk berkunjung ke butiknya". Jelas Fitri.


Mereka bertiga saling melihat. Jujur saja mereka masih belum percaya, jika Luna berubah karena wanita itu pernah menjebak adiknya.


"Tidak perlu khawatir Kak, Luna sudah berubah". Ujar Fitri yang tahu apa yang dipikirkan oleh ketiga Kakaknya.


"Ya sudah, ayo". Ajak Sean merangkul bahu Fitri.


Meskipun ada perasaan kurang yakin jika gadis itu berubah, tapi ketiga pria tampan itu tetap saja mengikuti keinginan adiknya.


**Bersambung.......


Yuk ikuti terusss....


ditunggu boom like nya ya😘😘😘

__ADS_1


GBU.....


LOVEUALL**....


__ADS_2