
*Flashback on
21 tahun yang lalu disebuah rumah sakit terbesar di Amerika John Hoplinks Hospital, Baltimore. Seorang wanita yang sedang betarung diruang persalinan, bersama beberapa dokter dan juga perawat. Disampingnya seorang pria yang setia menggengam tangan wanita itu sambil sesekali menyeka peluhnya yang sudah bercucuran sejak tadi.
“ Ayo sayang, kau pasti bisa”. Ujar Sam sambil mengecup kening Rachel
“ Sam, jika terjadi sesuatu padaku tolong jaga kedua buah hati kita”. Ujar Rachel matanya sudah berkaca-kaca sambil menahan sakit yang luar biasa.
“ Jangan bicara begitu, kau harus bertahan demi aku dan mereka”. Tandas Sam sambil menggengam erat tangan kekasih halal nya itu.
Kontraksi demi kontraksi telah Rachel lewati. Rasa sakit yang luar biasa, membuatnya benar-benar lemah
“ hoek hoek”. Tangisan seorang bayi perempuan munggil yang baru saja lahir
“ Selamat Tuan atas kelahiran putri anda”. Ucap sang dokter dan menyerahkan bayi itu kepada Sam. Sam menyambutnya dengan senyum bahagia, dan dengan perasaan yang senang dia menyambut bayi munggil itu. Mengucapkan seuntaian doa ditelinga munggilnya, tangisan bayi itu memecahkan keheningan. Sean yang menunggu diruang tunggu, benar-benar sudah tidak sabar menanti kelahiran adiknya yang sudah lama sekali dia inginkan. Sean kecil yang baru berusia 11 tahun itu sangat antusias menunggu kelahiran sang adik.
“ Mari Tuan, biar bayi nya saya simpan di box”. Pinta seorang perawat pada bayi munggil nan imut itu. Sam memberikannya kepada perawat dengan senyum bahagianya.
“ Terima kasih sayang”. Ucap nya pada Rachel tak lupa mengecup kening gadis itu. Rachel hanya tersenyum bahagia, wajahnya sangat pucat tanpa darah tapi wajah ceria nya tetap saja terlihat ceria seperti biasanya.
“ Tuan dokter ingin berbicara”. Ujar seorang perawat pada Sam
__ADS_1
“ Baik sus”. Ucap Sam
“ Sayang, istirahatlah. Sean akan menemanimu. Aku akan bertemu dokter”. Ucap Sam lembut dan tak lupa selalu mengecup kening wanita hebatnya itu. Lalu Sam keluar dan sebelumnya dia harus menemui Sean kecil
“ Daddy bagaimana dengan Mommy dan adik Sean?”. Tanya Sean tak sabar.
“ Mereka baik-baik saja. Masuklah, Daddy akan menemui dokter”. Ucap Sam tersenyum, sejak bayi perempuannya lahir senyum tak pernah pudar dari wajah tampannya itu. Sean sangat bahagia, dengan keceriaan Sean kecil masuk dalam ruangan Rachel dan tak sabar ingin bertemu kedua wanitanya itu.
Sam menuju ruang dokter. Entah apa yang akan dokter katakan padanya, yang pasti hati Sam terlalu bahagia dan tidak sabar ingin memberitahukan tentang kelahiran putrinya pada kedua orangtua nya
“ Silahkan duduk Tuan”. Ucap Dokter Maddy, wakil direktur rumah sakit milik Sam
“ Katakanlah apa yang ingin kau bicarakan padaku”. Tandas Sam tegas dan tidak mau bertele-tele.
“ Apa apa dengan istriku?”. Tanya Sam penuh selidik dan pikirannya mulai merasa cemas
“ Nyonya Rachel mengalami pendarahan hebat didinding rahimnya dan menyebabkan gagal pada rahim. Sebenarnya hanya ada dua pilihan Nyonya akan selamat tapi tidak dengan bayinya. Tapi Nyonya memilih melahirkan bayinya dan maaf Tuan Nyonya tidak bisa kami selamatkan”. Jelas Dokter Maddy, dengan wajah menunduk karena ketakutan melihat ekspresi wajah Sam.
“ Apa maksudmu? Apa yang kau katakan?”. Sam menarik keras gerah baju wanita cantik itu
“ Maaf Tuan ini memang yang terjadi”. Jawab Dokter Maddy dengan wajah pucat pasih karena ketakutan
__ADS_1
“ Kenapa kau tidak memberi tahuku, hah?”. Teriak Sam
“ Maaf Tuan, semua karena keinginan Nyonya yang memintanya pada kami”. Ucap Dokter Maddy lagi
Sam mengusap wajahnya kasar, apa yang harus ia lakukan. Hanya menangis dan menangis jujur saja dia belum siap kehilangan istri yang sangat dia cintai.
Sam kembali keruang rawat inap Rachel. Dia sudah meminta kepada dokter untuk menyediakan ranjang yang lebih besar agar ia dan keluarganya bisa tidur seranjang untuk yang terakhir kalinya. Wajah Sam tampak lesu tak bertenaga, sedari tadi air mata mengalir memenuhi pipinya, tak bisa ia bayangkan hidup tanpa istrinya. Jangankan berpisah mati, saat istrinya pergi sebentar saja Sam hampir gila, apalagi berpisah untuk selamanya. Sungguh tidak bisa Sam bayangkan, tapi bagaimana lagi takdir memang kejam bukan?
Tanpa diketahui Sam ternyata selama ini Rachel menderita kanker rahim yang mengopne nya untuk tidak bisa punya anak lagi, tapi karena Rachel bersikeras dan melanggar larangan dokter dia pun harus mengorbankan nyawanya untuk kebahagiaan suami dan anaknya.
Cekreeek pintu ruang rawat inap Rachel terbuka. Disana sudah ada orang-orang yang sangat dia cintai. Sean yang tak henti mencium pipi imut adiknya itu meskipun dalam posisi tidur. Sudah lama Sean ingin memiliki seorang adik perempuan dan kini keinganan nya telah terwujud, tanpa Sean tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Sam mendekati ranjang Rachel, ia melihat wajah pucat istrinya yang tersenyum manis saat melihatnya masuk. Rachel sudah tahu apa yang Sam pikirkan, karena sebelum ia mengambil tindakan untuk melahirkan putrinya beberapa dokter sudah memberikan peringatan padanya, tapi karena keinganannya untuk mewujudkan keinganan Sean maka Rachel ikhlas menerima jalan takdir hidupnya.
“ Sayang”. Sam berjalan menghampiri Rachel lalu mengusap lembut rambut wanita yang sangat ia cintai itu. Ia mengecup kening wanita itu dengan begitu lembut dan penuh rasa penyesalan didalam hatinya.
“ Sean ayo naik diatas ranjang Mommy dan bawa adikmu”. Panggil Sam pada Sean. Sean masih tersenyum bahagia, lalu dia mengambil Shellena kecil dan membawanya naik ketas ranjang. Sam menyusul dan naik sambil memeluk Rachel dengan erat.
“ Sam, aku titipkan kedua buah hati kita. Jaga dan rawat mereka dengan baik, maaf aku tidak bisa memberikan apapun padamu hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikkanmu padaku”. Senyum Rachel sambil memandang wajah suaminya. Sementara Sean kecil hanya mendengarkan dan sesekali mencium wajah adiknya yang ia baringkan diantara Sean dan Mommy nya.
“ Maafkan aku”. Lirih Sam sambil mengenggam erat tangan Rachel sudah terasa dingin. Sungguh dia tidak ingin kehilangan istrinya
__ADS_1
“ Sam, kau tidak salah mungkin ini adalah jalan takdir hidup kita. Sean dan Shellena yang akan menemani hidupmu. Maaf aku tidak bisa merawat mereka bersamamu karena waktuku sudah habis”. Lirih Rachel matanya sudah berkaca-kaca.
**Bersambung***......