
SELAMAT MEMBACA.....
"Vian, urus semua identitas baru Dea. Ingat jangan sampai ada yang curiga tentang hal ini". Tegas Dhanny.
"Baik Tuan". Sahut Alvian.
"Aku akan kembali ke Amerika dalam beberapa hari sebelum senjata itu datang ke pelabuhan. Pastikan tidak ada kegagalan, atur sebaik mungkin supaya Arthur bersedia hadir disana". Ucap Dhanny lagi.
"Baik Tuan". Jawab Alvian dan langsung melaksanakan tugasnya.
Dhanny melangkah menuju Bandara. Kaos oblong dan celana jeans berwarna yang melekat ditubuh altletisnya benar-benar membuat Dokter tersebut terlihat tampan dan mempesona. Siapa saja kaum hawa yang menatapnya pasti akan jatuh dalam pesona Dokter Dhanny, kecuali Fitri. Gadis itu sama sekali tidak terpesona dengan wajah tampan Dhanny. Bagi Fitri Dhanny adalah sosok Kakak yang baik. Namun sayang semua tak sepenilaian dengan karakter Dhanny.
Fitri tengah bersiap-siap, sesuai dengan janjinya bahwa ia akan menjemput Dhanny ke Bandara.
Fitri harus melewati beberapa drama terutama meyakinkan ketiga Kakak kembarnya dan Tuan Fillipo sang kekasih. Mereka berempat sangat keberatan ketika Fitri meminta izin untuk menjemput Dhanny. Meskipun Sean, Zean dan Fillipo belum tahu siapa Dhanny yang sebenarnya, tapi mereka cukup takut membiarkan Fitri bersama Dhanny.
Namun, Fitri tak kehilangan akal gadis jenius tersebut selalu menemukan berbagai cara untuk menyakinkan para pria posessif yang selalu membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Zaen yang sudah tahu pun masih merasa keberatan dengan rencana Fitri untuk ikut bermain dalam drama Dhanny. Zaen takut jika Fitri celaka, apalagi sekarang kondisi adiknya itu belum benar-benar pulih.
"Cece, yakin pergi sendiri? Memangnya si Dhan Dhan itu tidak bisa pulang sendiri?". Sean kesal dengan wajah cemberut. Bagaimana pun Sean takkan melupakan Dhanny yang membunuh kedua orangtua angkat Fitri.
Fitri terkekeh "Kakak jangan lupa Kak Dhanny juga Kakak ku". Jawab Fitri
"Cih, mana ada Kakak yang mencintai adiknya". Sambung Fillipo juga tampak kesal. Sangat Fillipo tak rela jika Dokter gadungan itu mendekati kekasihnya, meskipun Dhanny merupakan sahabatnya tapi itu dulu saat mereka sama-sama mencari Fitri.
Fitri berangkat diantar oleh Rio supir pribadi Fitri, yang ditugaskan untuk mengantar gadis itu kemana pun ia pergi.
"Paman, singgah di Minimarket itu aku ingin membeli sesuatu". Fitri menunjuk salah satu Minimarket yang tidak jauh dari mobil mereka.
"Baik Nona". Sahut Rio.
Mobil mereka berhenti didepan Minimarket, segera Fitri turun dan masuk kedalam untuk membeli sesuatu.
"Beli apa?". Tanya suara menganggetkan Fitri saat hendak mengambil beberapa cemilan dan minuman.
Fitri menoleh kearah sumber suara "Tuan Lucas". Senyum Fitri canggung. Bagaimana pun pria ini pernah menyukainya dan Fitri tidak tahu jika sampai sekarang pun Lucas masih menyukai Fitri.
"Beli minuman sama cemilan". Jawab Fitri polos sambil tersenyum ramah kearah Lucas "Tuan, sedang apa disini?". Tanya Fitri lagi sambil mengambil beberapa cemilan dan memasukkannya kedalam ranjang.
"Aku bayar dulu". Lucas mengikuti Fitri menuju meja kasir.
"Biar aku yang bayar". Lucas menyedorkan blackcard nya kepada kasir mendahului Fitri.
Setelah membayar keduanya keluar dari Minimarket.
"Tuan, Lucas mau kemana?". Tanya Fitri. Kini mereka berdua duduk dikursi depan Minimarket.
"Hanya jalan-jalan, bosan". Sahut Lucas sambil meminum minuman kaleng.
"Don't call me Tuan". Ucap Lucas.
"Kak Lucas".
__ADS_1
"Ya itu lebih baik". Lucas terkekeh.
"Kenapa Kak Lucas dingin sekali, sama seperti Tuan Kulkas Berjalan?". Sindir Fitri memutar bola matanya jenggah. Saat pertama bertemu Lucas, pria itu tidak sedingin sekarang.
"Kulkas Berjalan?". Lucas menaikkan kedua alisnya.
"Kak Fillipo". Lalu Fitri tertawa. Lucas yang sadar siapa yang dijuluki Kulkas Berjalan juga tertawa lepas saat mendengar nama panggilan aneh itu.
"Bagaimana keadaan Luna?". Tanya Fitri sambil mengunyah cemilan yang ia beli tadi.
"Baik! Dia ingin bertemu denganmu. Jika ada waktu temuilah dia di butiknya". Senyum Lucas manis sekali.
"Butik?".
"Iya, Luna sekarang sudah kembali lagi menjadi desainer". Jelas Lucas "Wajahnya sudah sembuh, obat ajaib yang kau berikan benar-benar mujarab". Ucap Lucas menatap Fitri dengan senyuman.
"Ahhh benarkah?". Wajah Fitri berbinar "Sepertinya aku perlu menemui Paman David, Kak Yosh dan Kak Yoel untuk berterima kasih". Gumam Fitri sambil terkekeh.
"Ya sepertinya begitu". Lucas juga ikut terkekeh menatap gadis kecil disampingnya. Andai saja ia bisa memiliki gadis ini pasti sangat bahagia. Tapi Lucas sudah memutuskan untuk untuk membuang semua perasaannya, meskipun tak bisa dibohongi jika jantungnya selalu berdetak hebat setiap kali melihat wajah gadis itu. Namun, ia memilih mengalah karena Lucas tahu bahwa Fitri takkan pernah mencintainya. Cukuplah ia yang mencintai gadis itu, bukankah cinta tidak harus memiliki?
Fitri melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kak, aku jalan duluan ya". Fitri berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?". Lucas juga ikut berdiri.
"Mau jemput seseorang. Terima kasih traktirannya Kak". Fitri beranjak dan berjalan menuju mobil tanpa menunggu jawaban Lucas.
Lucas menatap langkah Fitri, pertama kalinya dia bisa mengobrol berdua dengan gadis pujaannya. Namun, Lucas sadar diri bahwa ia takkan bisa menggapai hati gadis itu
Didalam mobil Fitri terus saja berbicara pada Rio. Bahkan Rio sampai memegang perutnya karena tertawa terlalu banyak mendengar celotehan Nona Muda-nya.
"Kenapa Paman Rio tidak menikah?". Tanya Fitri penasaran
Ria tersenyum kikuk "Saya hanya seorang supir Nona, tidak akan ada yang mau dengan saya". Ucap Rio merendah.
Fitri memincingkan matanya, tidak suka dengan kalimat Rio yang ucapkan.
"Kenapa begitu?". Tanya Fitri kesal "Dengarkan aku Paman Rio, tidak semua wanita memandang pria dari hartanya. Mereka lebih melihat tanggung jawab dari pria itu, dan bagaimana caranya memperlakukan wanita. Ingat Paman Rio, tidak semua selalu diukur dari jabatan dan harta". Jelas Fitri panjang kali lebar kali tinggi.
Rio tersenyum mendengar penjelasan Fitri. Pantas saja gadis ini menjadi rebutan, selain cantik dan jenius gadis ini juga dewasa padahal usia nya baru 21 tahun.
"Nona benar". Balas Rio tersenyum.
"Jangan suka senyum-senyum sendiri Paman Rio, nanti kemasukkan. Otak jenius ku tidak bisa bekerja sama dengab roh halus". Sindir Fitri.
Rio mengaruk tengguknya yang tidka gatal, sambil menelan salivanya dengan kasar. Ahh gadis ini benar-benar membuat nya gemes.
"Nona bisa saja". Rio terkekeh.
Mereka pun sampai di Bandara. Dengan jantung berdebar Fitri turun dari mobil. Bukan karena jatuh cinta, tapi ada rasa takut saat akan bertemu Dhanny. Tapi Fitri berusaha melawan perasaannya. Ia harus mengikuti permainan Dhanny, bukankah ia sangat ahli acting?
Seorang pria tampan turun dari pesawat, kacamata tebal berwarna hitam bertengger dihidung mancungnya. Ia berjalan dengan wajah datar, tangan kanannya menarik koper dan tangan kirinya ia masukkan kedalam saku celana sebelah kirinya.
__ADS_1
Senyum menghiasi wajahnya saat melihat sosok gadis yang tengah berjalan kearahnya. Ahh ingin ia berlari memeluk gadis itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Fitri".
"Kak Dhanny".
Keduanya saling menghampiri. Fitri tersenyum melihat Dhanny. Fitri tahu pria itu sangat ingin memeluknya, namun Fitri sengaja menjaga jarak. Karena Fitri tidak mau membuat Fillipo kepanasan dan bersikap semakin posesif padanya, tentu saja diam-diam Fillipo dan ketiga Kakak kembarnya itu mengawasinya dengan penagawal bayangan.
"Apa sudah lama menunggu?". Tatap Dhanny pada Fitri terlihat benar-benar tak biasa.
Fitri tahu, dia berusaha tenang "Baru saja sampai". Senyum manis Fitri, yang semakin membuat Dhanny terpesona.
Andai saja ia tak menjalankan rencananya pasti Dhanny sudah menculik Fitri dan membawa gadis itu pergi. Tapi dia tidak mau gegabah dan akhirnya salah.
"Ya sudah ayo". Ajak Dhanny.
Mereka berjalan saling beriringan sembari tertawa ria. Dhanny terpukau saat melihat Fitri yang tertawa. Benar-benar cantik.
"Silahkan Nona, Tuan". Rio membukakan pintu untuk kedua orang itu.
"Terima kasih Paman". Mereka berdua masuk kedalam mobil.
Mereka pun meninggalkan Bandara. Dhanny tak melepas pandangannya dari Fitri. Pria itu seakan tak rela jika semenit pun tak melihat wajah Fitri.
"Apa aku terlalu cantik sehingga sayang untuk tidak dipandang?". Goda Fitri yang sadar bahwa dari tadi Dhanny menatapnya tak berkedip.
Dhanny gegelapan "Ahhh tidak". Dhanny berusaha menyembunyikan kegugupannya didepan Fitri.
"Kak Dhanny darimana, kenapa baru pulang?". Tanya Fitri, dan jangan lupakan wajahnya yang tampak tanpa dosa. Jika dia artis mungkin sudah mendapat penghargaan sebagai artis dengan acting terbaik.
Dhanny terlihat gugup "Hmm, Kakak dari Jerman mengunjungi Daddy dan Mommy. Sekalian mengantar Dea". Jawab Dhanny dengan nada gugup terlihat sekali dari wajahnya
"Dea kembali ke Jerman? Kenapa tidak memberitahu ku Kak?". Tanya Fitri dengan wajah sedihnya.
"Dea, tidak ingin membuatmu sedih. Maafkan Dea ya". Dhanny mengelus kepala Fitri dengan sayang.
Fitri mengerecutkan bibirnya kesal "Sudah jangan kesal begitu, jika ada waktu nanti Kakak ajak Fitri kembali ke Jerman". Seperti anak kecil yang mendapat permen wajah Fitri langsung berbinar padahal hanya acting.
"Benarkah?". Tanya Fitri kesenangan.
Dhanny mengangguk sambil terkekeh. Ia mengacak rambut Fitri dengan gemesnya.
**Bersambung....
Jangan lupa selalu meninggalkan jejak ya para cintaku.
Sebelumnya author minta maaf belum bisa memberikan visual dari para pemain. Karena kendala sinyal tidak mampu upload gambarš maklum tinggal dikampung, ini aja harus wifi'an biar bisa up tiap hari.
Sebab itu author berharap selalu dapat dukungan dari kalian......
Sepertinya rencana Dhanny sudah berjalan?
Yuk ikuti kisah mereka....
__ADS_1
GBU....
LOVEUALL**....