
SELAMAT MEMBACA......
Zevanya dan Grace sedang serius dengan pekerjaan mereka yaitu mendesain gaun pesanan yang mereka terima.
Zevanya bekerjasama dengan butik yang dikelola oleh sepupunya itu. Butik itu adalah butik Luna yang dia bangun setelah sembuh dari luka diwajahnya. Nama butik itu pun masih sama “LNF Butik” nama Luna dan Fitri yang sengaja Luna gunakan.
“Nya”. Panggil Grace
“Iya Ge, kenapa?”. Tanya Zevanya tanpa mengalihkan pandangannya pada sepupunya itu.
“Kak Myron itu tampannya”. Grace tersenyum membayangkan wajah Kakak sepupunya itu. Usia mereka hanya beda dua bulan, tapi mereka memanggilnya Kakak dan itu semua atas perintah Fitri ketika mereka masih kecil.
Zevanya mengerjitkan dahinya dan melihat kearah Grace “Kenapa? Kau menyukai nya?”. Tebak Zevanya menghentikan ukiran yang menuntun tanganya.
Grace tersenyum malu “Ehem, aku mengangguminya. Dia tampan dan juga cerdas, selain itu dia menarik dengan sikap dinginnya”. Jelas Grace malu-malu. Sudah lama dia menaruh rasa pada Kakak sepupunya itu. Hanya saja Myron seperti pria yang tidak tertarik pada wanita dan terlalu dingin.
Zevanya tersenyum dia yakin jika sepupunya menyukai Myron “Jika kau menyukainya, kejarlah dia”. Saran Zevanya kembali focus pada kertas dan pensil ditangannya.
“Tidak mungkin aku mengejarnya. Dia saja tidak mau melihatku sama sekali”. Jawab Grace dengan wajah sendu dan juga tak percaya diri jika dia bisa mendekati pria dingin itu.
Zevanya malah tertawa kecil “Kau mau menyerah sebelum berjuang?”. Ledek Zevanya “Ayolah, cinta itu butuh perjuangan Ge. Kau tidak cukup hanya mengatakannya saja jika tidak membuktikkanya”. Lanjut Zevanya lagi.
Grace menghela nafas “Aku takut dia menolakku”. Lirih Grace pelan. Namun masih bisa ditangkap dengan jelas oleh Zevanya.
“Kau tidak akan tahu hasilnya jika kau tidak mencoba”. Celetuk Zevanya.
“Tapi……..”.
“Itu tanda nya kau masih ragu Ge. Jika kau yakin dengan perasaanmu, perjuangkanlah, masalah berhasil atau tidaknya itu urusan belakang setidaknya kau sudah mencoba”. Saran Zevanya.
“Baiklah, akan kucoba nanti”. Sahut Grace dengan semangatnya “Apa kau mau membantuku?”. Pinta Grace dengan sedikit memohon.
“Tidak”. Sahut Zevanya cepat “Aku tidak tahu banyak masalah hati. Sebaiknya kau minta ajarkan saja pada Kenny, dia kan paling tahu masalah hubungan asmara”. Ucap Zevanya sedikit ketus.
“Ohh iya kau benar. Sebaiknya aku minta tolong Kenny saja”. Senyum sumringgah Grace. Zevanya hanya menggeleng kepala mendengar ucapan sepupunya.
Drt drt drt drt drt
Ponsel Zevanya bergetar. Zevanya menghentikan gerakkan tangannya dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
“Iya Kak?”.
“Sayang, apa sudah makan siang?”. Tanya Zehemia dibalik telpon. Dia selalu memperhatikan gadis kecilnya itu.
“Belum Kak”. Jawab Zevanya.
“Ya sudah, nanti Kakak jemput ya. Kita makan siang sama Kak Kiel”. Ucap Zehemia.
“Iya Kak. Zeva tunggu ya”. Balas Zevanya.
“Jangan dipaksakan kerja nya ya. Kalau capek istirahat. Bye sayang, Kakak tutup telponnya ya”.
“Iya Kak, byeeeee”. Zevanya meletakkan kembali telponnya.
“Siapa?”.
“Kak Hem”. Sahut Singkat.
“Mau mengajak makan siang pasti?”. Tebak Grace.
“Iya”. Sahut Zevanya singkat.
Mobil Zehemia berhenti didepan butik milik Grace, lebih tepatnya butik Luna karena nama butik itu belum diganti dan tidak akan diganti.
“Sayang”.
“Kakak”. Zevanya berlari kearah Zehemia. Zehemia menyambut adiknya dengan pelukkan hangat.
“Sudah lapar?”. Tanya Zehemia lembut sambil mengelus kepala adik kembarnya itu. Mereka hanya beda beberapa menit saja, tapi sikap manja Zevanya tak ada duanya.
“Kak Iel tidak dipeluk?”. Celetuk Zehekiel berdiri dibelakang Zehemia sambil melipat tangan didada.
“Heheh Kak Iel”. Zevanya berhambur memeluk Zehekiel. Zehekiel tersenyum gemes. Meskipun dia playboy dan Cassanova tapi dia sangat menghargai perempuan yaitu adiknya.
“Ya sudah ayo”. Ajak Zehekiel mengenggam tangan adiknya
“Ohh ya Grace, tidak ikut makan dengan kita?”. Tanya Zehemia sambil masuk kedalam mobil. Dia membawa dan menyetir mobilnya sendiri. Dia jarang mengajak asistennya saat menghabiskan waktu dengan kedua adiknya.
“Tidak Kak”. Sahut Zevanya singkat. Dia duduk dibelakang bersama Zehekiel sambil bergelut manja dilengan kekar Kakak-nya.
__ADS_1
Mereka pun menuju restaurant favorite untuk makan siang bersama. Begitulah kebiasaan mereka setiap hari, membagi waktu ditengah kesibukkan mereka. Zehemia dan Zehekiel memang bekerjasama untuk memberikan perhatian pada Zevanya. Zevanya yang tumbuh tanpa seorang Ibu membuat kedua pria itu ingin memberikan segalanya untuk adik perempuan satu-satunya itu.
Sepanjanng perjalanan membelah kota New York, Zevanya terus saja berceloteh dengan ucapan-ucapannya yang lucu, sungguh duplikat Fitri seratus persen melekat pada putri kecilnya itu, hanya yang membedakannya Zevanya manja luar biasa tidak seperti Ibu nya yang mandiri karena sudah terbiasa hidup sendiri.
“Kau ini……….”. Zehekiel mengacak rambut adiknya dengan gemes sekali.
“Kakak”. Pekik Zevanya kesal sambil memperbaiki rambutnya yang berantakkan.
“Hehhe, sini Kakak bantu rapiiinnn”. Zehekiel merapikan rambut Zevanya dengan telaten dan lembut.
Sedangkan dibangku kemudia, Zehemia tersenyum simpul melihat kedua saudaranya itu. Hubungan mereka sangat hangat, karena dari kecil mereka memang diajarkan untuk saling mengasihi satu sama lain.
“Kak, Zeva telpon Daddy ya. Apa dia sudah makan siang?”. Zevanya meronggoh ponselnya yang dia simpan didalam tas kecil miliknya.
“Iya sayang”. Sahut Zehekiel tersenyum lembut. Wajah mereka berbeda, jika Zehemia dan Zehekiel copyan Fillipo waktu masih muda, maka Zevanya copyan Fitri. Banyak yang tak mengira jika mereka kembar tiga, karena wajah Zevanya berbeda dari kedua Kakak nya.
“Hallo Dad”. Sapa Zevanya dengan suara lengkingan.
“Dek, pelan-pelan bicaranya, jangan teriak-teriak”. Tegur Zehemia dibangku kemudi.
“Heheh iya Kak”. Zevanya cenggesan.
“Iya sayang kenapa putri Daddy ini?”. Tanya Fillipo, mereka sedang melakukan video call. Fillipo tersenyum manis menatap wajah putrinya dilayar ponsel miliknya.
“Apa Daddy sudah makan siang?”.
“Sudah sayang. Zeva mau makan sama Kakak ya?”.
“Iya Dad. Ya sudah Zeva tutup telponnya ya. Daddy istirahat jangan banyak pikiran”. Ucap Zevanya.
“Iya sayang”. Panggilan pun ditutup. Zevanya memasukkan kembali ponselnya kedalam tas kecil miliknya
“Sayang, minum dulu”. Zehekiel membuka botol minumannya dan memberikannya pada adiknya itu.
Zevanya meminum air dalam botol yang diberikan sang Kakak. Tenggorakkannya terasa kering. Entah kenapa akhir-akhir ini dia suka sekali dehigrasi dan suka meminum air dalam jumlah banyak.
Sampai direstourant ketiganya langsung turun dari sana. Tentu saja menjadi pusat perhatian para penghujung restaurant. Mereka kagum pada kecantikan dan ketampanan ketiga orang itu. Mereka bisa melihat jika mereka bukan orang sembarangan karena sangat terlihat dari penampilan mereka.
**Bersambung........
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️**