
SELAMAT MEMBACA.....
Sherly dan Joanna baru pulang dari kampus. Mereka satu kampus dengan Myra, tapi sekarang Myra sedang cuti karena mengikut kedua orangtua nya pergi ke wilayah timur.
Kedua nya masuk kedalam Mansion mewah keluarga Ranlet Flint. Suasana Mansion tampak sepi karena para Kakak nya belum pulang dari kerjanya.
“Mom”. Sherly menghampiri Elizabeth yang sedang memasak bersama Luna dan juga Christy.
“Hei sayang”. Balas Elizabeth tersenyum hangat pada putrinya “Bagaimana hari ini suasana kampus?”. Tanya Elizabeth dia masih sibuk dengan masakkan ditangannya.
“Yahh seperti biasa Mom”. Jawab Sherly lemes, dia duduk dimeja makan bersama Joanna.
“Mom, apa Kak Johan sudah pulang?”. Tanya Joanna pada Christy.
“Belum sayang, kenapa?”. Tanya Christy.
“Tidak”. Jawab Joanna membaringkan kepalanya diatas meja makan. Luna hanya tersenyum dan melanjutkan masaknya. Begitu juga dengan Elizabeth. Sejak menikah ketiga wanita itu memutuskan untuk menjadi Ibu rumah tangga dan berhenti bekerja. Luna juga hanya memantau butiknya saja, dia jarang datang ke butik. Apalagi sejak butiknya dikelola oleh Grace dan Zevanya.
Sedangkan diruang keluarga, tampak empat pria paruh baya tengah berbincang serius. Sambil menikmati secangkir kopi dengan beberapa cemilan yang dibuat oleh para istri.
“Jadi, Cut Silent dan Winner King yang menyerang Markas Myron?”. Tanya Zaen saat Fillipo menjelaskan pada mereka “Tapi siapa yang memimpin kelompok itu, bukankah tidak ada yang tersisa sejak dua puluh lima tahun silam?”. Timpal Zaen heran.
“Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya orang yang berdiri dibelakangnya bukan orang sembarangan. Dia memiliki akses yang cukup hebat, sehingga dengan mudah menghancurkan markas itu”. Jelas Fillipo.
“Lalu bagaimana cara kita membantu putra kita?”. Tanya Zean menghela nafas berat. Sudah ada lagi munsuh yang akan menyerang mereka. Memang menjadi Mafia bukan pilihan yang baik karena pasti akan selalu ada munsuh yang mengintai mereka.
“Kita harus selidiki siapa sebenarnya yang memimpin Cut Silent dan Winner King”. Saran Sean
“Ya sepertinya begitu. Walau aku yakin mereka mampu melawan. Namun, mereka tidak tahu siapa Cut Silent dan Winner King”. Sahut Fillipo.
“Zaen, buat system keamanan disana seketat mungkin”. Perintah Zean.
“Baik”. Zaen mengambil laptopnya. Pria paruh baya yang sudah berusia itu masih ahli dalam bidang IT. Kemampuannya tak luntur bersama usia. Setiap hari dia terus mengasah kemampuannya untuk melindungi data keluarga. Namun, Zaen heran kemampuannya tidak menurun sama sekali pada kedua anaknya. Shawn sama sekali tidak mengerti IT dan begitu juga dengan putri bungsunya Sherly.
__ADS_1
Sedangkan ketiga kecambah jenius. Anak-anak dari adiknya Fitri, mewarisi semua kemampuan Ibunya. Zehemia dan Zehekiel juga ahli dalam IT, meski Zehemia tak sehebat adiknya tapi setidaknya pria itu mengerti. Sedangkan Zevanya, tak ada yang tahu jika dia juga memiliki kemampuan yang melebihi kedua Kakak nya dibidang IT karena dia menyembunyikan semua itu dan tidak mau membuat orang lain mengetahui keahliannya.
Zaen masih mengotak-atik laptopnya dengan lihai karena memang sudah terbiasa.
“Bagaimana?”. Tanya Sean.
Mata Zaen membulat sempurna saat melihat apa yang ada dilayar laptopnya “Sepertinya sudah ada yang membuat system keamanan ini? Tapi siapa?”. Gumam Zaen.
Fillipo, Zean dan Sean. Ikut melihat ke laptop Zaen.
“Apa mungkin Kiel atau Luke?”. Tanya Fillipo yang juga heran, melihat system keamanan itu.
Zaen menggeleng “Bukan”. Sahut Zaen “Kedua bocah itu tidak tahu banyak tentang sandi ini karena aku mengetahui kemampuan mereka. Sepertinya ada orang lain yang membuatnya”. Lanjut Zaen masih focus pada laptop dipangkuannya.
“Lalu siapa?”. Gumam Fillipo tampak berpikir keras “Apa mungkin Zehem?”. Gumamnya lalu menggeleng, karena putranya itu tidak terlalu ahli dalam bidang IT.
Mereka berempat tampak berpikir keras. Siapa yang memiliki kemampuan yang bisa menandingi Zaen? Jika dulu Fitri yang lebih menonjol dan memang kejeniusannya tak ada duanya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang tidak ada yang seahli gadis jenius itu?
“Selamat malam semua”. Teriak Zevanya masuk dari pintu masuk bersama kedua Kakaknya dan juga ada Myron, Johannes, Shawn dan Grabielle.
“Zeze, pelan-pelan. Jangan teriak”. Tegur Zehemia pada adiknya sambil menggeleng kepala.
“Heheh”. Zevanya cenggesan.
“Daddy”.
“Sayang”. Fillipo menyambut putri kecilnya dengan pelukkan hangat
“Bagaimana kabar putri Daddy ini?”. Fillipo mengecup kepala putrinya.
“Baik Dad”. Senyum Zevanya.
Yang lain hanya tersenyum sambil menggeleng. Kecuali Myron yang memang selalu menampilkan wajah dingin dan sulit menebak apa yang ada dipikiran pria dingin itu.
__ADS_1
“Ya sudah Zeze mandi dulu nanti makan malam bersama”. Suruh Fillipo lembut pada putrinya.
“Iya Dad”. Ucap Zevanya
“Ayo Dek”. Zehekiel mengandeng tangan adiknya “Dad, kita mandi dulu”. Pamit Zehekiel pada Fillipo.
“Iya Son”.
Zehemia dan Zehekiel mengandeng tangan Zevanya dengan posessif luar biasa. Fillip, Sean, Zean dan Zaen menatap punggung mereka. Kembali lagi ingatan mereka pada Fitri yang dulu mereka perlakukan seperti itu juga. Mereka selalu berrebut dan memperdebatkan gadis itu. Tapi berbeda dengan Zehemia dan Zehekiel keduanya tak pernah bertengkar dan malah membagi tugas untuk memperhatikan Zevanya.
Myron juga menatap dengan tatapan sulit diartikan. Seharian berduaan bersama gadis itu membuatnya merasakan ada keanehan dalam hatinya. Ada kehangatan yang mengelajar dihati Myron. Tanpa sadar sudut pria itu tertarik. Dia merasa senang hari ini, meski markas diserang habis-habisan namun tetap saja perasaanya senang karena seharian dia merasakan hal yang belum pernah Myron rasakan sebelumnya.
Dimeja makan semua sudah berkumpul. Zehemia dan Zehekiel kompak mengambilkan makanan untuk Zevanya. Fillipo tersenyum hangat melihat kedua putranya, dan selalu mereka menjadi pusat perhatian.
Diam-diam Myron melirik bagaimana, kedua pria kembar untuk memperhatikan Zevanya. Dia kagum pada persaudaraan mereka yang hangat dan juga harmonis. Sedangkan dia tidak bisa memperlakukan Myra seperti itu.
Berbeda dengan Grace, dari tadi gadis itu cemberut dan wajahnya tampak menahan kesal dan juga seperti ada kemarahan disana. Dia makin jengkel menyaksikan drama yang selalu sama di meja makan.
“Kak”. Grabielle menyenggol lengan Kakak nya.
“Ada apa?”. Tanya Grace ketus.
“Dimakan. Jangan dipelototin seperti itu. Cacing diperut Kakak bisa menangis karena belum dapat jatah”. Celetuk Grabielle setengah berbisik dia terkekeh.
“Kau…..”.
Grabielle tertawa pelan melihat wajah kesal Kakak nya. Dia tahu jika Grace sedang marah dan cemburu pada sepupunya Zevanya. Grabielle berusaha menghibur Kakaknya.
“Makan yang serius Bielle”. Tegur Zean menatap putranya tajam.
Nyali Grabielle menciut, saat melihat tatapan Ayahnya. Segera dia menyantap makanan dalam piringnya. Sementara Luna hanya tersenyum saja melihat suami dan anaknya yang suka berdebat itu.
**Bersambung.....
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️**