Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 92


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA...


Zean dan Zaen kembali kerumah sakit, karena sejak Fitri mengalami koma kedua pria ini hampir tidak pernah pulang ke Mansionnya, segala kebutuhan mereka sudah diatur oleh assisten mereka yang stand by 24 jam melayani kedua Tuan nya.


Mobil mereka berhenti dilobby rumah sakit, segera Willy turun membukakan pintu untuk kedua pria tampan itu. Sementara Edward menjadi supir yang siap mengantar kemana saja.


"Wil, baliklah ke perusahaan, kerjakan semua pekerjaan. Handle semua meeting bersama klien, jika butuh tanda tanganku datanglah ke rumah sakit". Perintah Zean.


"Baik Tuan". Sahut Willy.


"Kau Edward, kembali lah ke Markas dan suruh Leon menangani masalah perusahaan". Tintah Zaen juga.


"Baik Tuan". Sahut Edward memberi hormat. Kedua asissten itu melaksanakan tugasnya masing-masing.


Zean dan Zaen masuk ke dalam lift, mereka tampak tak sabar untuk sampai keruangan sang adik. Mereka rindu, baru saja meninggalkan gadis kecil itu beberapa jam sudah merasa sangat rindu.


Mereka masuk kedalam ruangan Fitri, senyum mengembang diwajah kedua saudara kembar itu.


"Kalian sudah kembali?". Tanya Sean saat melihat kedua Kakak nya masuk kedalam ruangan.


"Hmmm". Sahut Zean cuek


"Iya adikku". Tekan Zaen.


Fillipo menatap ketiga itu dengan tatapan sulit diartikan.


"Jangan menatapku begitu Tuan Fillipo, atau kau takkan ku izinkan mencintai adikku". Tatap Zaen tajam kearah Fillipo.


Fillipo hanya diam tanpa ekspresi. Dia sudah cukup mengenal saudara kembar Sean itu. Awalnya ia merasa sedikit kaget melihat sifat Zaen yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari Sean.


"Bagaimana keadaannya?". Tanya Zean mengalihkan pembicaraan. Zean sudah tak heran dengan sifat bar-bar Zaen, adik bandel nya itu.


"Seperti yang kau lihat". Ucap Sean dengan sendu, tangannya mengelus kepala Fitri dengan sayang.


"Hei, Cece-nya Kakak kapan bangunnya? Cece tahu tidak Kakak sangat merindukanmu". Ucap Sean dengan mata berkaca-kaca "Apa Cece tidak mau bangun? Cece tahu tidak, ternyata Kak Sean ada tiga lho. Tapi tetap saja Kak Sean yang paling tampan dari antara mereka berdua". Celetuk Sean sambil terkekeh pelan.


Zaen mengendus kesal "Jangan dengarkan omongan Kakak jelekmu itu ya sayangnya Kak Zaen. Disini Kak Zaen yang paling tampan". Ucap Zaen tak terima.


"Kalian ini......". Sergah Zean menggeleng kepala.


"Hai sayang Kakak. Bangun donk, Kakak rindu banget sama Fitri". Lirih Zean mengenggam tangan Fitri dengan erat.


Fillipo hanya terdiam dan menatap ketiga saudara itu. Saudara yang begitu hangat tanpa ada konflik bahkan mereka terlihat saling menyayangi meskipun merek baru bertemu beberapa Minggu lalu.


"Po, sebaiknya kau pulang lah. Kami akan menjaga Fitri". Sean menepuk pundak sahabatnya itu.


"Tapi....".

__ADS_1


"Pulanglah Po, kau harus jaga kesehatan. Adikku akan aman karena disini ada tiga Kakak nya yang sekaligus menjaganya". Timpal Zean pada sahabat adiknya itu.


"Baik". Fillipo mengalah.


Fillipo mendekati ranjang Fitri. Ia menampilkan senyum manis, Fillipo yakin jika Fitri bisa mendengar suaranya "Sayang, aku pamit pulang sebentar ya. Kamu baik-baik disini, aku akan kembali". Cup Fillipo mengecup kening gadis itu, memberikan kekuatan pada gadis yang sudah menjadi bagian dari jiwanya "Cepat bangun". Ucap Fillipo lagi. Fillipo sudah lelah menangis, ia memutuskan untuk kuat dan tidak mau mengeluarkan air mata.


Setelah berpamitan pada ketiga saudara kembar itu, Fillipo keluar dari ruang rawat inap Fitri. Langkahnya terasa berat meninggalkan gadis itu, meskipun ada tiga pria sekaligus yang menjaganya. Tapi tetap saja ia merasa khawatir dan takut jika terjadi sesuatu pada pria tersebut.


Fillipo sampai di lobby rumah sakit, disana sudah ada Leo yang menanti sejak tadi.


"Silahkan Tuan". Leo membuka pintu mobil untuk Fillipo.


Setelah Fillipo masuk, Leo mengitari mobil dan masuk langsung menjalankan mobil tersebut meninggalkan rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Pearce?". Tanya Fillipo.


"Nona, masih mengurung dirinya dalam kamar Tuan". Sahut Leo.


"Sampai kapan gadis itu akan sadar?". Fillipo menyenderkan punggungnya ke jok mobil sambil memejamkan matanya.


"Maaf, Tuan sepertinya rasa bersalah didalam diri Nona muda membuatnya depresi. Ditambah lagi dengan keadaan wajahnya yang rusak". Jelas Leo


Fillipo menatap Leo "Apa operasi plastik itu tidak berhasil?". Tanya Fillipo.


"Maaf Tuan, seperti yang kita lihat operasi plastik itu sama sekali tidak memperbaiki wajah Nona". Jawab Leo.


"Dea dan Luna bagaimana?". Tanya Fillipo.


"Nona Luna juga sama Tuan masih mengurung dirinya, sedangkan Nona Dea gadis itu memaksa untuk kembali ke Indonesia tapi Tuan Dhanny tidak mengizinkannya". Jelas Leo lagi.


Lagi-lagi Fillipo menghembuskan nafasnya berulang kali. Fillipo tak menyangka perasaan Dea terhadapnya benar-benar berakibat fatal bahkan tega menjebak orang yang dia sayang hanya karena rasa iri.


"Bagaimana keadaan Markas? Apa kau sudah menemukan dalang dibalik terhalangnya senjata kiriman yang sudah mendapat izin dari Negara?". Tanya Fillipo lagi.


"Sudah Tuan". Sahut Leo "Dia ketua Mafia dari BTOB King, Tuan Arthur ". Sambung Leo.


"Siapa lagi itu Leo?". Tanya Fillipo memijit pangkal hidungnya. Begitu banyak masalah yang berdatangan akhir-akhir ini.


"Menurut orang kita, dia punya dendam masa lalu dengan anda tentang kematian Tuan Michael, karena dia sahabat Tuan Michael dan Tuan Zean, Tuan". Ungkap Leo.


"Baik". Jawab Fillipo singkat, ia akan bicarakan ini dengan Zean "Kita kembali ke Mansion". Ucap Fillipo.


"Baik Tuan". Jawab Leo.


Sampai di Mansion mewah, Fillipo langsung turun dari mobil.


"Leo kembalilah ke Markas dan besok atur pertemuanku dengan Dhanny dan Lucas". Tintah Fillipo.

__ADS_1


"Baik Tuan". Ucap Leo dan berlalu dari hadapan Fillipo.


Fillipo masuk kedalam Mansion mewah tersebut. Sejak kejadian penculikkan dan tawanan, keluarga besar Wilmar dan Alexander serta Dion mereka memutuskan untuk menetap ke Amerika dan tidak kembali lagi ke Negara Jerman.


Fillipo disambut oleh pasangan paruh baya yang berdiri di pintu masuk.


"Kau sudah pulang Son?". Sambut Piranda memberikan pelukkan hangat pada putra sulung nya itu. Sejak Fitri koma penampilan Fillipo benar-benar kacau, untuk yang kedua kalinya Fillipo terlihat rapuh.


"Iya Mom". Sahut Fillipo membalas pelukkan Piranda. Hubungan anak dan Ibu itu kembali hangat setelah kehadiran Fitri dalam hidup nya.


"Dad". Fillipo juga memberikan pelukkan pada Philip.


"You okay Son?". Balas Philip memeluk putranya.


"Bagaimana keadaan Pearce?". Tanya Fillipo


"Ayo, kita lihat bersama". Mereka bertiga pun menuju kamar Pearce.


Dikamar Pearce. Pearce terduduk melamun sambil melingkarkan kedua tangannya yang di telungkupkan.


"Pearce". Panggil Fillipo menghampiri adiknya. Awalnya ingin mengamuk saat tahu jika Pearce terlibat dalam rencana Luna dan Dea untuk menjebak Fitri. Namun saat melihat kondisi adiknya, Fillipo menjadi tidak tega.


"Kakak". Ucap Pearce berkaca-kaca "Maafkan Pearce Kak". Lirih gadis itu air mata berjatuhan dipipinya.


Fillipo menarik Pearce kedalam pelukkannya. Untuk pertama kalinya ia memeluk adik kecilnya itu setelah dewasa. Ada rasa bersalah ketika melihat Pearce hancur karena diabaikan oleh dirinya


"Maafkan Kakak". Fillipo mendekap Pearce dengan erat.


"Hiks, maafkan Pearce Kak. Maafkan Pearce, Pearce sudah menyakiti gadis yang Kakak cintai. Pearce juga sudah hancur, hiks". Tangis Pearce pecah didalam dekapan Kakak nya


"Sttttt, lupakan semuanya Pearce, Kakak menyanyangimu. Bagaimana pun keadaanmu saat ini, Kakak sayang kamu". Ucap Fillipo.


Philip dan Piranda turut saling memeluk saat melihat kedua buah hati mereka saling memaafkan. Sudah lama sekali hubungan Kakak adik itu tak akur, sejak kematian putra sulungnya yaitu, Fietter.


**BERSAMBUNG.....


Maaf ya guys aku belum bisa kasih visualnya, aku lagi cari ya pas.


tapi tenang ntar pasti aku kasih visual yang sesuai karakter dari tokoh.


terima kasih.


Ikuti terus kisah mereka.


GBU.


LOVEUALL**........

__ADS_1


__ADS_2