Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 70


__ADS_3

***Kadang harus melepaskan seseorang yang dicintai. Bukan karena tidak cinta, hanya saja melepaskan sesuatu yang bukan milik kita akan lebih baik dari pada mempertahankannya lalu berakhir sakit...


SELAMAT MEMBACA***...


Fillipo menatap wajah cantik Fitri. Tangan munggil itu, menyentuh wajahnya dengan lembut mengoleskan salep penghilang bekas luka diwajah Fillipo.


"Cantik". Gumam Fillipo tanpa sadar.


Fitri mendengar ucapan Fillipo, terkekeh geli saat pujian itu keluar dari mulut Tuan dingin nya "Tuan, baru sadar saja jika aku memang cantik". Ucap Fitri sambil mengedipkan matanya genit.


"Hahahaha". Tawa Fillipo pecah, saat Fitri mengedipkan matanya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Kau ini!!!". Fillipo mengacak rambut Fitri dengan gemes.


Saat ini mereka berdua sedang duduk dibangku taman Mansion mewah keluarga Wilmar. Bintang yang bertebaran dilangit seakan mewakili kedua sejoli yang berbeda usia tersebut.


"Terima kasih sudah kembali". Ucap Fillipo tulus. Fillipo menatap wajah cantik gadis yang benar-benar sudah masuk kedalam kehidupannya.


Fitri mengarahkan pandangan pada Fillipo seketika tatapan mereka bertemu membuat jantung keduanya berdegup kencang.


"Maaf, sudah membuatmu panik dan khawatir". Ucap Fitri merasa bersalah. Fitri sakit mendengar cerita Pearce yang mengatakan Kakak nya sangat frustasi.


"Aku yang salah! Maaf sudah membuatmu takut". Lirih Fillipo.


Fillipo mengenggam tangan Fitri. Menyatukan tangannya dengan tangan munggil gadis kecil itu.


"Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku mencintaimu Fitriani Yuri Kwon". Ungkap Fillipo menatap mata biru gadis itu.


Fitri tersendak mendengar pengakuan dan ungkapan pria dingin itu. Matanya berkaca-kaca tak menyangka jika pria ini memang mencintainya. Tak bisa Fitri pungkiri bahwa dia juga mencintai pria ini. Bahkan pria ini berhasil membuat semua rasa takutnya menghilang berganti dengan cemas panik dan juga rindu menjadi satu.


Namun sekilas Fitri sadar tentang penyakitnya. Tidak, Fitri tidak boleh menunjukkan perasaan nya pada pria ini. Fitri tidak ingin membuat pria ini kecewa jika suatu saat dia harus pergi meninggalkan dunia ini.


"Maaf Tuan". Fitri melepaskan genggaman tangan Fillipo. Fitri berusaha menampilkan raut wajah biasa saja.

__ADS_1


"Kenapa?". Tanya Fillipo kecewa. Hatinya sakit saat gadis itu melepaskan genggaman tangannya. Genggaman yang menciptakan kehangatan menyeluruh dihatinya.


"Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu Tuan". Fitri memalingkan wajahnya. Dia takut jika Fillipo dapat membaca raut wajah bohongnya.


Jeduarrrrrr, bagai tersambar petir disiang bolong saat mendengar ucapan Fitri. Fillipo sangat yakin bahwa gadis ini memiliki perasaan yang sama dengannya karena Fillipo bisa merasakan tatapan dan sentuhan Fitri padanya.


"Apa kau berkata jujur?". Tanya Fillipo, hatinya sangat sakit mendengar kata-kata gadis ini.


"Iya Tuan". Sahut Fitri berusaha tenang. Meski hatinya sudah meronta-ronta ingin berteriak.


Fillipo memalingkan wajahnya kearah lain, berusaha menutupi kesedihan dan patah hatinya. Ungkapan cinta pertama dan pertama kalinya juga ia ditolak oleh gadis yang dia cintai selama ini.


"Maaf Tuan, aku masuk duluan. Mau istirahat". Tandas Fitri berpamitan. Ia beranjak dari duduknya.


Fillipo menatap punggung gadis itu yang menjauh darinya. Air mata luruh dipipi tampan pria itu. Pertama kalinya dia menangis karena seorang wanita. Wanita yang berhasil memberikan warna dalam hidupnya. Wanita berisik yang membuat ramai dunia sepinya.


Fitri berjalan menuju kamarnya. Ia menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Fitri tidak mau menunjukkan kerapuhannya pada semua orang.


"Ce....". Panggil Sean dari tadi dia mencari adiknya.


Memang selama berada di Jerman, mereka tinggal di Mansion keluarga Wilmar dan semua atas permintaan Phillip dan Piranda yang sangat merindukan mereka.


"Dari mana? Tadi Kakak cari-cari Cece?". Tanya Sean khawatir. Sean menatap mata adiknya yang memerah.


"Cece menangis?". Tanya Sean. Sean sempat melihat Fillipo dan Fitri sedang berbicara ditaman Mansion dan diam-diam, Sean mendengar percakapan kedua manusia itu.


Fitri menggeleng "Tidak Kak". Sahut Fitri memaksakan senyum.


"Cece sudah janji sama Kakak, bahwa tidak akan ada yang disembunyikan?". Ucap Sean memutar kembali percakapan mereka.


Fitri mengangguk dan matanya berkaca-kaca


"ya sudah, ayo masuk. Kita bercerita ke kamar saja". Sean merangkul bahu adiknya dan masuk kedalam kamar. Ini masalah privasi yang tidak boleh banyak orang tahu. Apalagi di Mansion mewah ini sudah dipasang CCTV disetiap sudut, kecuali kamar.

__ADS_1


"Sekarang, cerita kan pada Kakak apa yang terjadi?". Tanya Sean lembut.


Fitru tak menjawab, ia memeluk Sean sambil menangis. Perasaannya tak bisa dibohongi, gadis jenius ini memiliki hati yang rapuh.


Hati Sean sangat sakit melihat air mata mengalir dipipi Fitri. Ia memeluk gadis kecil itu dengan erat. Berusaha menyalurkan kekuatan pada gadis itu.


"Fitri, tidak tahu apa yang harus Fitri lakukan Kak". Isak Fitri "Fitri, takut akan membuatnya terluka. Fitri mencintainya Kak". Tangis Fitri dipelukkan Sean.


Sean memejamkan matanya. Ada rasa sakit saat adiknya mengakui perasaannya untuk pria lain. Sean cemburu, karena artinya Fitri akan membagi kasih sayangnya dengan pria lain. Tapi Sean tidak mau egois, baginya kebahagiaan Fitri adalah yang terutama. Karena tidak akan selamanya mereka hidup bersama, akan ada waktu dimana mereka harus memilih hidup dan mencari kebahagiaan masing-masing.


"Kenapa Cece, mengungkapkan perasaan Cece?". Tanya Sean ia mengelus kepala adiknya dengan lembut, Sean berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Fitri, tidak pantas mencintai seseorang Kak. Karena pada kenyataanya suatu hari nanti Fitri akan pergi meninggalkan dunia ini".


"Sttt, kenapa bicara seperti itu?". Air mata jatuh dipipi Sean "Cece, tidak akan pernah meninggalkan dunia ini. Apalagi meninggalkan Kakak. Cece segalanya untuk Kakak, jadi Kakak mohon jangan bicara seperti itu lagi". Ucap Sean menghapus air mata adiknya.


"Fitri takut Kak, penyakit ini terasa sangat menyiksa. Kakak tahu Fitri berusaha kuat menahan dan melawannya tapi tetap saja Fitri akan kalah". Akhirnya gadis itu mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya yang selama ini ia sembunyikan.


Hati Sean terasa beku. Sean tak pernah menyangka jika adiknya berusaha menutupi rasa sakitnya dengan senyuman serta canda tawa yang ia ciptakan.


"Cece, tidak perlu takut!! Kakak akan mencari dokter terbaik didunia ini untuk kesembuhan Cece. Cece harus kuat demi Kakak". Tandas Sean tak bisa Sean pungkiri bahwa ia juga sakit.


Lama mereka saling bertangisan satu sama lain. Kakak adik berbeda usia 11 tahun ini, mengungkapkan segala rasa sakit yang menjalar dihati mereka. Sean takkan sanggup kehilangan gadis kecil itu.


Hingga terdengar suara dengkuran halus dari mulut gadis itu. Perlahan Sean melonggarkan pelukannya, Sean memindahkan Fitri ke kasur king size miliknya.


Sean menatap wajah cantik adiknya, menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik itu.


"Cece, harus janji tidak akan pernah meninggalkan Kakak. Cece segalanya untuk Kakak. Terima kasih Cece sudah hadir dihidup Kakak". Sean mengecup kening gadis itu dengan sayang. Sean tersenyum dan mengkhayal seandainya Fitri adalah istrinya, mungkin Sean akan menjadi pria paling bahagia didunia ini.


***Bersambung......


Guys, maaf ya dibeberapa part memang belum ada actionnya, karena author lagi cari konflik baru agar ceritanya lebih mudah dipahami...

__ADS_1


Terima kasih jangan lupa tinggalkan jejak ya...


GBU****......


__ADS_2