
Teman dekat adalah munsuh terbaru yang harus diwaspadai.....
SELAMAT MEMBACA...
Dea, Luna dan Pearce sedang keluar dan mereka menuju Mall tentunya dijaga ketat boleh bebarapa pengawal.
"Kau akan beli apa De?". Tanya Luna sambil memilah-milah baju yang dia pegang.
"Hmm, aku hanya ingin mengambil beberapa potong baju". Sahut Dea sambil mengambil beberapa gaun.
"Apa kita akan membelikan juga untuk Kakak Ipar?". Tanya Pearce.
Luna dan Dea sama-sama terdiam, mereka menunjukkan ekspresi yang sama
"Ada apa dengan wajah kalian?". Tanya Pearce heran sambil menaikkan kedua alisnya.
"Pearce, apa kau merasa jika Fitri merebut semua lelaki yang kita suka? Bahkan perhatian Kakak dan orangtua kita lebih banyak kepadanya dari pada kita". Ucap Dea dan diangguki oleh Luna.
Pearce terkesiap mendengar ucapan Dea. Lalu Pearce menatap Luna dan Dea dengan penuh tanda tanya
"Apa maksud kalian?". Tanya Pearce.
"Aku jujur Pearce sangat iri dengan gadis kecil itu!!!". Dea menarik nafas dalam "Dari dulu Kak Dhanny tidak pernah peduli padaku dan apa-apa pasti Fitri. Dia lebih mementingkan gadis yang bukan siapa-siapa nya dibanding aku adiknya". Keluh Dea.
Luna tersengum smirk "Ya sepertinya gadis kecil itu akan menghalangi kebahagiaan kita, bagaimana jika kita singkirkan saja dia?". Saran Luna.
Pearce semakin terbelalak dengan ucapan Kakak sepupunya itu "Kak Luna, kau jangan gila". Pekik Pearce "Apa kau tahu bagaimana posessif nya Kak Sean padanya! Jangankan untuk menyingkirkannya, menyentuhnya saja kita tidak bisa". Lanjut Pearce.
"Hahha, justru itu". Senyum licik diwajah Luna "Aku ingin mendapatkan Kak Sean, jadi aku harus singkirkan adiknya". Tandas Luna.
"Aku juga setuju denganmu Luna". Timpal Dea "Gadis itu memang harus disingkirkan, sebenarnya sudah lama aku tidak menyukainya! Ketika dia menghilang aku sangat berharap dia tidak kembali lagi, tapi ternyata ****** itu datang lagi dan merebut semua orang yang kita sayangi". Tatap Dea dengan sinis.
Pearce hanya terdiam, jauh dalam lubuk hatinya dia juga merasakan hal yang sama. Perhatian Mommy Piranda lebih ditunjukkan kepada Fitri dibanding dirinya yang seorang anak kandung. Apalagi Fillipo, Kakak nya ini memang dari dulu tidak pernah perhatian dan ditambah dengan kehadiran Fitri.
"Bagaimana Pearce?". Tanya Dea pada Pearce. Dea tahu ada keraguan diwajah Pearce.
__ADS_1
"Aku setuju". Senyum Pearce.
Mendengar jawaban Pearce, Luna dan Dea tertawa lepas. Ya Dea memang dari dulu tidak menyukai Fitri, karena semua perhatian orang yang Dea sayang berpindah pada gadis kecil itu. Tapi Dea berusaha menutupi perasaannya, karena Dhanny sangat mencintai gadis sialan itu. Sekarang karena Dea tahu jika Fitri tidak pernah mencintai Dhanny dan hal ini menjadi kesempatan baginya untuk menyingkirkan gadis itu.
Mereka bertiga keluar dari Mall. Senyuman diwajah para gadis cantik itu tidak memudar sama sekali. Rencana mereka untuk menyingkirkan Fitri akan terwujud.
"Lalu apa rencana mu De?". Tanya Luna saat mereka sudah sampai didalam mobil.
Dea tersenyum smirk "Lihat ini". Dea menunjukkan ponselnya "Zean adalah mantan teman ranjang kita. Aku rasa dia akan tertarik dengan Fitri yang masih perawan". Tawa Dea menggema didalam mobil.
"Kita yang bekas saja masih diincar oleh Cassanova tajir ini". Sambung Luna
"Apa Kakak yakin ini akan berhasil?". Tanya Pearce ragu "Kakak tidak lupa kan jika dia gadis jenius. Aku takut dia bisa membaca keadaan?". Tanya Pearce.
"Kau tenang saja Pearce, aku tahu kelemahannya". Senyum licik diwajah Dea.
"Baiklah!! Kuharap berhasil". Timpal Luna.
"Tapi bagaimana jika kita ketahuan?". Tanya Pearce lagi.
"Hmmmm". Sahut Pearce hanya dengan deheman.
Mobil mereka sampai di Mansion mewah itu. Dengan wajah sumringah ketiga gadis itu masuk kedalam Mansion. Mereka mendengar canda tawa di dapur, hati penasaran mereka menuntun mereka menuju dapur.
Tangan ketiganya terkepal, saat melihat pemandangan yang paling mereka benci. Piranda, Mouth dan Diandra sedang tertawa ria sambil memasak bersama Fitri. Gadis itu menciptakan lelucon yang membuat ketiga wanita paruh baya itu tertawa sampai sakit perut.
"Dasar gadis tidak tahu diri, sebentar lagi aku akan menyingkirkan mu". Batin Dea.
"Benar kata Kak Dea dan Kak Luna, Fitri memang harus disingkirkan!! Lihatlah Mommy terlihat sangat bahagia, padahal Mommy tidak pernah tertawa lepas begitu saat bersama ku". Batin Pearce.
"Fitri? Kenapa gadis ini benar-benar membuatku benci. Awas saja kau, akan kubuat hidupmu menderita". Batin Luna sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sayang, kalian sudah kembali?". Tanya Mouth yang melihat ketiga gadis itu menatap mereka.
"Iya Mom". Ucap Luna memasang senyum diwajahnya.
__ADS_1
"Mom". Pearce menghampiri Piranda
"Iya sayang". Senyum Piranda meletakkan alat masaknya dan menghampiri putri kesayangannya "Apa ini?". Tanya Piranda saat Pearce menyerahkan satu paper bag untuknya.
"Aku belikan gaun buat Mommy malam ini kan Mommy ada arisan dengan teman sosialita Mommy". Senyum Pearce.
"Wah, terima kasih sayang". Piranda memeluk Pearce, sudah lama dia tidak memeluk putri kecilnya ini.
"Dea kau baik-baik saja?". Tanya Diandra pada Dea, karena dari tadi Dea terus saja terdiam
Dea terkesiap "Dea baik-baik saja Mom". Ucap Dea "Ini untuk Mommy, malam ini kan Mommy akan ikut Bibi Diandra dan Bibi Piranda". Senyum Dea.
"Ahhh terima kasih sayang". Diandra mengambil paper bag dari tangan Dea dengan antusias.
"Apa punya Mommy juga ada?". Goda Mouth pada putrinya.
"Tentu saja, apa sih yang tidak untuk Mommy ku cantik ini". Ucap Luna menggoda Mouth.
"Ini untukmu". Senyum Luna memberikan juga paper bag pada Mouth.
Fitri hanya melihat dengan senyum keharmonisan anak dan Ibu itu. Tak ada raut sedih diwajah gadis itu, Fitri tak pernah membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Bagi Fitri masih bisa melihat senyum Sean dan Sam saja sudah lebih dari cukup.
Dea, Luna dan Pearce sengaja mengabaikan gadis itu. Mereka ingin menunjukkan dan membuat Fitri iri akan keakraban anak dan Ibu. Mereka ingin Fitri tahu bahwa bukan hanya dia yang bisa mendapatkan semua kasih sayang, tapi mereka juga bisa.
Dea, Luna dan Pearce menatap Fitri dengan sinis dan tatapan mengejek.
"Rasakan, ini belum seberapa?". Batin Dea menatap Fitri
Sedangkan Fitri, gadis itu tersenyum simpul tak ada raut sedih sama sekali justru ia merasakan bahagia melihat hubungan mereka. Meski tak bisa dipungkiri kerinduan akan hadirnya seorang Ibu begitu menggema dihatinya. Namun, Fitri tak mau egois dengan hidupnya, bukankah letak kebahagiaan bukan didapat dari orang-orang sekitar. Kebahagiaan terletak didalam rasa syukur yang tak pernah memudar. Jika terus meratap dan merintih bukankah hanya akan menambah banyak masalah? Apalagi yang dicari dalam hidup ini, jika Fitri merasa sudah bahagia karena kehadiran dua pria tampan dalam hidupnya.
Bersambung....
Ternyata diam-diam, Dea, Luna dan Pearce merencanakan sesuatu untuk menjebak Fitri.
Bagaimana cara Fitri menghindari nya???
__ADS_1
Yuk ikuti terus kisah mereka.