
SELAMAT MEMBACA....
"Kak, apa kau bisa menemaniku menemui Paman Arthur?”. Pinta Zevanya tapi dia masih focus di laptop yang ada didepannya.
“Mau apa?”. Myron bertanya balik. Dia heran dan juga bingung apa yang akan dilakukan Zevanya bertemu dengan Paman Arthur-nya.
“Nanti juga Kakak akan tahu. Aku ingin menjengguk Paman jomblo itu, biar dia tidak kesepian”. Celetuk Zevanya.
Myron terkekeh gemes. Zevanya selalu saja mampu membuat suasana dingin jadi hangat karena ucapan dan keberisikkannya.
“Ya sudah, kapan mau kesana?”. Tanya Myron lembut sambil menatap gadis yang malah tak berkedip melihat layar laptopnya.
“Sekarang Kak”. Jawab Zevanya.
“Baik”. Sahut Myron “Homer, siapkan jet pribadi kita akan terbang ke wilayah timur. Beritahu juga anggota bahwa hari ini aku tidak bisa ke Markas. Suruh Luke dan Kiel membuka kembali rekaman CCTV yang terblokir di Mansion”. Tintah Myron.
“Baik Tuan”. Homer langsung melaksankan perintah Myron.
“Kak, apa kau tahu banyak tentang Aron Smith?”. Ucap Zevanya yang masih belum puas dengan jawaban Myron. Zevanya yakin jika Aron bukan hanya ingin mengambil senjata milik Kakek nya tapi ada motif lain.
“Aku tidak tahu banyak. Tapi dia adalah pria berambisi yang selalu mendapatkan apa saja yang dia inginkan. Dia juga akan melakukan cara untuk melumpuhkan munsuhnya”.
“Sepertinya kau cukup mengenalnya Kak?”.
“Iya, dia anak dari teman Daddy. Aku dan dia sudah berteman sejak kecil”. Sahut Myron.
Zevanya menangguk paham. Dia harus menyelidiki siapa sebenarnya Aron Smith? Apakah pria ini memiliki hubungan dengan Cut Silent dan pemimpin nya, Kenzie Deventer. Zevanya yakin jika dua orang ini saling berhubungan dengan Grace dan Kenny.
Zevanya belum berani mengatakan bahwa semua ini ulah Grace, karena dia menghargai Paman Zean-nya. Jika Paman nya itu tahu, bisa jadi dia akan menghajar Grace habis-habisan. Bukan Zevanya tidak percaya pada orang lain untuk menceritakan masalahnya, hanya saja dia tidak mau masalahnya semakin besar.
“Tuan, semua sudah siap”.
“Baik”. Sahut Myron berdiri dari duduknya. Dia masuk kedalam kamar rahasia diruanganya. Sedangkan Zevanya masih asyik dengan laptop yang ada didepannya.
__ADS_1
“Apa Kenzie dan Aron punya hubungan? Jika mereka bekerja sama, bisa-bisa senjata milik Grandfa akan jatuh ke tangan mereka?”. Gumam Zevanya.
“Ze, sudah siap?”. Myron baru keluar dari ruang rahasianya. Pria itu menganti bajunya dengan kaos oblong dan celana bahan. Memang karyawannya tidak tahu jika dia ketua Mafia. Myron tidak mau jika identitasnya sebagai Mafia membuat para karyawannya merasa tidak nyaman.
“Ayo Kak”. Zevanya menutup laptopnya dan memasukkannya kembali kedalam tas.
“Sini, biar aku yang bawa tasnya. Pasti berat”. Myron mengambil alih menenteng tas Zevanya.
“Kakak yakin mampu bawa?”. Ledek Zevanya sambil terkekeh kecil.
“Jangankan membawa tas ini, mengendongmu sampai ke wilayah timur saja aku mampu”. Ucap Myron dengan sombongnya dan bangga diri.
“Oh ya. Gendong aku”. Goda Zevanya.
“Sini”. Myron malah menanggapi dengan serius.
“Hahah, tidak Kak. Aku hanya bercanda”. Seru Zevanya sambil terkekeh. Mereka berdua tertawa. Homer yang mengekor dari belakang terheran-heran. Homer bahkan sampai menampar pipinya berkali-kali meyakinkan dirinya jika yang ada didepannya ini benar-benar Myron si penderita OCD dan Gynopobia,
Ditempat lain.
Grace memutuskan kembali ke kediaman Ranlet Flint. Benar apa yang dikatakan Kenny, mereka akan curiga jika dia menghilang tiba-tiba. Saat Zevanya tertembak saja, mereka heboh mencari dimana Grace untung saja Aron yang memiliki banyak akses langsung mengabari Grace bahwa orang-orang di Mansion mencurigainya.
Grace masuk sambil menyeret kopernya. Sebenarnya dia jenggah harus pulang ke Mansion ini. Apalagi harus menyaksikan drama membosankan Zevanya saat dimeja makan, membuat gadis berambut blonde itu semakin benci pada sepupunya.
“Kau dari mana saja Kak?”. Tanya Grabielle yang baru turun dari lift. Dia mencari Kakaknya itu namun tidak tahu dimana Grace berada. Tidak juga dibutik dan galeri Zevanya.
Grace berbalik menatap adiknya “Bukan urusanmu”. Ketus Grace sambil berjalan mengabaikan Grabielle.
Grabielle terheran-heran, tidak pernah Kakak nya berkata cuek dan ketus padanya, biasanya mereka selalu bercanda tawa.
“Tentu saja urusanku, aku adikmu. Jika sampai terjadi sesuatu padamu, maka aku yang akan kena akibatnya. Daddy dan Mommy mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu dibutik. Sebenarnya kau pergi kemana Kak?”. Cecar Grabielle.
Langkah Grace terhenti, lalu berbalik “Untuk apa mencariku? Aku tidak kemana-mana”. Jawab Grace.
__ADS_1
Grabielle menggelengkan kepala “Apa ini berhubungan dengan Kak Myron?”. Tebak Grabielle “Berhentilah Kak, mengejar sesuatu yang bukan milikmu. Sampai kapan pun Kak Myron tidak akan membalas perasaanmu”. Tungkas Grabielle
Grace menatap adiknya dengan tajam “Aku tidak peduli. Aku akan memperjuangkan cintaku, bagaimana pun caranya. Aku juga tidak peduli siapa yang harus berkorban dan dikorbankan”. Jelas Grace berbalik dan melanjutkan langkah kakinya.
Grabielle menggeleng tak percaya. Grace berubah sejak Myron dan Zevanya mengantar Mars dan keluarganya ke bandara. Padahal Kakak nya itu tipe gadis yang baik dan juga cerdas, tidak pernah berkata kasar pada siapapun termasuk dirinya.
“Ada apa Gab?”. Tanya Shawn yang baru keluar dari ruang gym dia juga masih mengenakan baju olahraga ketat dengan handuk yang melingkar dilehernya.
“Aku bingung, apa yang terjadi pada Kak Grace? Kenapa dia jadi begitu?”. Gumam Grabielle
“Memangnya kenapa dengan Grace?”. Shawn penasaran saat melihat wajah sepupunya itu.
Grabielle menghela nafas, lalu menceritakan sikap Grace yang menurutnya tidak biasa.
“Jadi Grace menyukai Kak Myron?”. Tanya Shawn tak percaya.
“Iya. Aku takut dia melakukan hal yang berbahaya untuk mendapatkan Kak Myron. Kau tahu kan jika Kak Myron sama sekali tidak suka padanya. Aku juga tidak mau jika Kak Grace tersakiti”. Grabielle menghela nafas berat.
“Aku curiga jika Kak Myron menyukai Zevanya”. Sambung Shawn.
“Bagaimana mungkin? Kak Myron tidak bisa dekat dengan wanita?”. Kilah Grabielle
“Apa kau tidak perhatikan bagaimana sikap Kak Myron sejak Zevanya hampir tertembak hari itu?”. Timpal Shawn.
Grabielle berpikir sejenak “Iya kau benar. Jangan.. jangan”.
“Jangan,.. jangan apa?”. Shawn penasaran.
“Tidak”. Grabielle menepis dugaannya. Dia yakin jika Grace tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu demi ambisi dan obsessi.
Bersambung....
LoveUsomuch ❤️
__ADS_1