Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 88. S2.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA........


Dave meletakkan tubuh Zevanya dengan pelan diatas ranjang yang sudah disediakan oleh Richardo.


Dave tersenyum hangat menatap wajah Zevanya yang tertidur lelap tanpa terganggu sedikit pun. Wajahnya lucu, imut dan menggemaskan seperti bayi baru lahir.


"Richardo, persiapkan semua alat medisnya. Kita akan merawat nya disini. Rumah sakit terlalu rawan untuknya". Tintah Dave.


"Baik Tuan". Sahut Ricardo.


"Bibi Elena, Deva. Kalian jaga dia. Aku ada urusan sebentar. Jika ada apa-apa. Segera hubungi aku". Ujar Dave.


"Iya Dave".


"Baik Kak".


Dave melangkah keluar. Dia menuju ruang rahasia yang tidak lain adalah Markas Yakuza.


"Silahkan Tuan".


"Terima kasih".


Dave masuk dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tian mengekor dari belakang dan selalu siap siaga berada disamping Dave.


"Akhirnya kau datang". Seorang pria tampan berdarah Jepang sedang menghisap rokok yang terselip disela jarinya.


Dave memberi hormat dengan kedua tangan menelungkup didadanya.


"Iya Tuan". Ujar Dave.


Lelaki tampan itu terkekeh "Tidak perlu terlalu formal padaku, kau sudah kuanggap adikku". Pria itu menepuk pundak Dave "Panggil saja Arata". Arata memberikan pelukkan hangat pada Dave.


"Terima kasih Arata". Senyum Dave lalu ikut duduk disamping pria itu.


"Kau pasti sedang dalam masalah. Jika tidak, mana berani kau menemuiku". Sindir Arata membuat Dave terkekeh pelan.


"Seperti yang sudah aku ceritakan padamu". Ujar Dave.


"Masalah Shawn?". Dave mengangguk "Lalu bagaimana dengan sepupunya itu?". Sambung Arata.


"Dia masih bersama ku". Sahut Dave.


"Kau tidak sedang menaruh rasa pada nya kan?". Tanya Arata curiga. Tidak biasa sahabatnya itu mau berhubungan dengan wanita.


"Apa yang aku bicarakan?". Kilah Dave "Bagaimana mungkin aku menyukai nya. Kau tahu kan misi ku adalah balas dendam". Arata mengangguk paham.


"Ku saran kan padamu. Jangan libatkan perasaan dalam urusan balas dendam. Karena kau harus memilih diantara nya. Jika kau kalah oleh perasaan mu maka siap-siaplah menerima serangan munsuh. Jika kau mengutamakan misi balas dendam mu, maka bersiaplah untuk kehilangan. Kedua nya memang menyakitkan tapi kau harus memilih salah satu diantara nya". Nasehat Arata.


Dave terdiam mendengar nasehat sahabat nya memang benar jika sudah melibatkan perasaan maka akan susah urusannya.


"Lalu apa rencana mu selanjutnya?". Arata mengalihkan pembicaraan. Dia tahu jika Dave memiliki perasaan pada gadis yang sedang dia tawan itu.


"Menyembunyikan nya. Aku ingin Shawn merasakan bagaimana rasanya kehilangan". Dave tersenyum licik "Dan gadis itu, akan ku jadikan santapan Xiang". Timpal Dave lagi.

__ADS_1


"Kau yakin?". Arata setengah tak percaya dengan ucapan Dave.


"Begitulah". Sahut Dave singkat "Aku butuh bantuan mu". Dave menatap Arata penuh harap.


"Aku selalu siap membantu". Arata tersenyum simpul.


"Seperti dugaan kita bahwa Cut Silent, Black Glorified, Lion Killer 2 dan Black Shinee akan menyerang kita". Dave menghela nafas pelan "Aku sedikit khawatir mereka menemukan tempat persembunyian kita". Ucap Dave wajah nya memang tampak khawatir.


"Tenanglah. Kita Yakuza. Aku memiliki banyak jaringan untuk membantu. Persiapkan dirimu". Ucap Arata.


"Baik". Sahut Dave mengangguk paham.


"Tuan". Tian setengah berlari menghampiri Dave dan Arata.


"Ada apa Tian?". Kening Dave berkerut "Apa mereka menyerang?". Tebak Dave.


Tian menggeleng masih dengan nafas memburu "Nona... Nona". Suara Dave tidak tembus.


"Nona siapa? Nona kenapa?". Tanya Dave juga panik.


"Nona Zevanya, Tuan". Tian menghela nafas


"Zevanya? Ada apa dengannya?". Cecar Dave.


"Zevanya?". Arata ikut penasaran "Siapa?". Sambung Arata


"Nona Zevanya Tuan. Dia d-dia". Suara Tian putus-putus.


"Nona Zevanya kejang-kejang Tuan". Jawab Tian.


Tangan Dave langsung terlepas. Tanpa menunggu penjelasan Tian. Dave melangkah pergi dengan langkah tergesa.


Arata juga mengikuti langkah Dave. Dia ikutan panik ketika melihat Dave panik.


Sampai dikamar Zevanya. Ricardo dan beberapa perawat lainnya sedang memasang beberapa saluran di bagian tubuh Zevanya.


"Ricardo, bagaimana keadaannya?". Cecar Dave tak sabar.


"Nona Zevanya, kritis Tuan. Secepatnya kita harus melakukan operasi". Jawab Ricardo.


"Operasi?". Beo Dave.


"Iya Tuan. Sel kanker yang menyebar membuat syaraf tubuh Nona Zevanya mati. Kita harus melakukan operasi secepatnya untuk mengeluarkan sel dalam tubuhnya". Jelas Richardo.


"Apakah dia akan baik-baik saja?". Tanya Dave sedikit khawatir.


"Saya tidak bisa memastikan Tuan". Jawab Ricardo.


"Kenapa tidak bisa?". Sentak Dave dia mencengkeram kerah baju Ricardo"Katakan padaku kenapa tidak bisa dipastikan?". Desak Dave dengan nafas memburu.


"Dave, hentikan. Bicarakan baik-baik". Tegur Arata.


Tangan Dave terlepas dari kerah baju Ricardo. Pria itu menatap wajah gadis yang masih terlelap dengan beberapa selang infus ditangannya.

__ADS_1


"Kak, kulitnya tumbuh bintik-bintik. Rambutnya juga mulai rontok". Ujar Deva. Dia mengenggam tangan Zevanya.


"Dia akan baik-baik saja". Sahut Dave pelan. Entah kenapa dia khawatir? Entah kenapa dia bisa sepanik ini?


"Ricardo. Katakan apa saja yang kau butuhkan untuk pengobatan nya. Aku akan menyediakan nya". Sambung Arata.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit Tuan. Disana kita juga bisa melakukan test laboratorium". Ucap Ricardo menimpali. Sedangkan Dave hanya terduduk lemas.


"Kenapa harus dirumah sakit? Bukankah itu akan mempermudah kan mereka menemukan persembunyian ku". Cecar Dave.


"Tenanglah Dave. Anggota Yakuza akan berjaga dengan ketat. Aku akan memastikan tidak satu pun yang bisa masuk negara ini tanpa seizin ku". Sahut Arata menepuk pundak sahabatnya.


"Terima kasih Arata".


Jari lentik Zevanya sedikit bergerak. Bulu mata lentik itu juga mengerjab-ngerjabkan dan bergerak-gerak.


"Ricardo, cepat periksa dia".


"Baik Tuan".


Ricardo maju memeriksa keadaan Zevanya. Dia cukup terkejut melihat pergerakan tangan dan mata Zevanya. Padahal gadis itu masih belum bisa melalui masa kritisnya.


"Bagaimana Ricardo?". Tanya Dave.


"Dia sudah melewati masa kritis nya. Sebentar lagi dia akan sadar". Jawab Ricardo "Saya permisi Tuan, untuk menyiapkan semua peralatan medis Nona Zevanya".


"Baik".


Kini hanya ada Dave dan Arata diruangan Zevanya. Elena dan Deva sedang istirahat. Sedangkan Tian dan Ricardo mempersiapkan semua yang Zevanya butuhkan.


Perlahan mata Zevanya terbuka. Dave melihat tak sabar. Tak sabar mendengar suara gadis itu. Pergerakan Dave tidak lepas dari pengawasan Arata. Arata menggelleng dengan senyum. Dia yakin jika Dave menyukai gadis ini.


"Hai.......". Dave melambaikan tangannya kearah mata Zevanya.


"Tuan". Zevanya hendak duduk namun dicegah oleh Dave.


"Jangan bergerak. Istirahat lah". Cegah Dave


Zevanya menggeleng "Aku ingin buang air kecil". Ucap Zevanya dengan wajah memelasnya. Dia merasa baru bangun dari panjangnya.


Dave mengendus kesal. Bukannya bertanya aku sedang dimana? Apa yang terjadi? Zevanya malah ingin ke toilet.


"Bagaimana dengan selang ditangan mu?". Tanya Dave ketus. Arata sampai melihat tak percaya.


"Aku akan mencabutnya".


"Jangan..".


Percuma saja. Zevanya sudah mencabut selang infusnya hingga darah segar mengalir ditangannya. Membuat Dave dan Arata panik. Padahal kedua orang itu sudah biasa membunuh dan melihat darah. Tapi ketika melihat darah Zevanya mereka panik seperti orang gila.


**Bersambung......


LoveUsomuch ❤️**

__ADS_1


__ADS_2