
SELAMAT MEMBACA.....
Fitri mengeliat dibawah selimut tebalnya. Fitri mengucek-ngucek matanya, segera gadis itu terduduk mengumpulkan sejuta nyawa yang melayang kealam mimpi. Pantulan sinar matahari mengenai wajah cantiknya.
"Terima kasih Tuhan. Masih memberiku nafas hidup hari ini". Doa Fitri sambil melipat kedua tangannya.
Setelah selesai berdoa, Fitri menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Hari ini, dia akan ikut Sean ke kantor untuk mengklarifikasi kerja sama perusahaan Sean dengan De Wilson Corp.
Seperti biasa ketiga Kakak kembarnya sudah menyiapkan keperluan Fitri. Dari mulai air mandi, bahkan baju yang dia kenakan pun dipilih oleh ketiga Kakaknya, kecuali pakaian dalam.
Fitri mengenakan baju yang dipilihkan oleh Kakaknya. Setelah merasa cukup puas dengan penampilannya, Fitri segera keluar.
Fitri menghampiri kamar Dea, baru saja ingin mengetuk, pintu itu sudah terbuka
"Selamat pagi Kak Maria". Sapa Fitri tersenyum manis.
Dea terlonjak kaget, untung saja dia tidak punya penyakit jantung, jika tidak sudah pasti dia jantungan setengah mati.
"Pagi Nona". Balas Dea dengan senyum manis, padahal dalam hati wanita itu sudah mengeram kesal.
"Just call me Fitri". Ralat Fitri tidak suka dipanggil Nona.
"Okey Fitri". Jawab Dea.
"Ayo Kak kita sarapan". Fitri mengandeng tangan Dea, bahkan Fitri melingkarkan tangannya ke lengan putih milik Dea. Dalam hati Dea benar-benar merasa jijik ingin sekali dia tepis tangan Fitri, tapi itu sama saja membawa dirinya ke lubang neraka.
"Ayo". Sahut Dea berusaha tersenyum.
Mereka turun menggunakan lift di Mansion mewah itu. Fitri dan Dea segera menuju ruang makan. Disana kelima pria tampan tampak menunggu mereka.
"Selamat pagi Ayah, Daddy, Kakak-kakak tertampanku". Sapa Fitri dengan suara cempreng nya.
Mereka berlima tersenyum saat kedatangan sang Tuan Putri dari tadi mereka menunggu dengan tak sabar.
"Pagi sayang". Jawab kelimanya kompak.
"Pagi Tuan". Sapa Dea juga, meskipun canggung berusaha mengubah mimik wajahnya sebaik mungkin.
"Pagi juga Nona Maria, silahkan duduk dan sarapan". Ucap Sam ramah.
"Sayang, sini biar Kak Zean yang suapin". Zean langsung menarik kursi disampingnya agar Fitri segera duduk.
"Terima kasih Kak Zean". Ucap Fitri lalu duduk dikursi samping Zean.
Sean dan Zaen cemberut karena mereka berdua tidak bisa menyuapi sang adik. Lagi-lagi Sam dan Pedrosa menggeleng melihat tingkah mereka.
Zean dengan telaten, menyendok bubur didalam mangkuk lalu menyuapi Fitri dengan sabar. Fitri menurut apa yang dilakukan Zean padanya, sudah tidak heran lagi jika Kakak nya itu memperlakukannya dengan baik dan lembut.
"Kak, Fitri ingin ikut Kak Sean ke kantor". Ucap Fitri yang sukses membuat mereka semua mengalihkan perhatian padanya.
"Untuk apa ke kantor Kakak, Nak?". Tanya Pedrosa heran, karena putrinya ini biasa sangat jarang mau ikut Kakak nya ke kantor.
"Fitri ikut bisnis kerja sama dengan De Wilson Corp, Yah". Jawab Sean mewakili. Memang sebelum nya Fitri sudah memberitahukan pada Sean alasan dia kekantor hari ini.
"Bisnis?". Cicit Sam dan Pedrosa. Sedangkan Zean dan Zaen hanya diam menyimak, karena sudah tahu apa yang akan dilakukan adiknya disana.
"Iya Ayah, Dad". Sambung Fitri sambil menunggak air dalam gelas yang dibantu oleh Zean.
Sedangkan Dea, cukup terkejut. Dea tahu jika hari ini pertemuan kedua perusahaan besar yang merajai dunia bisnis, karena semalam Mars sudah memberitahunya.
"Ya sudah kalau begitu Fitri hati-hati ya". Timpal Sam pada Fitri.
__ADS_1
Fitri mengangguk sambil tersenyum dengan perkataan Daddynya.
Setelah sarapan, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Zean dan Zaen pergi ke perusahaan mereka serta mengurus Markas untuk persiapan penjemputan senjata di pelabuhan.
Sam dan Pedrosa juga berangkat ke cabang perusahaan mereka. Kedua pria paruh baya ini, sedang membangun satu anak perusahaan yang berada di New York dan bergerak di bidang properti. Sebenarnya kedua nya tidak perlu repot-repot bekerja, bahkan ketiga putra nya melarang mereka bekerja dan istirahat saja. Namun, Sam dan Pedrosa tetap memilih untuk bekerja dengan alasan bosan dirumah.
Fitri dan Sean, berangkat ke perusahaan Ranlet Flint. Untuk mengurus kerja sama dengan De Wilson Crop.
Sedangkan Dea, wanita itu hanya diam di Mansion. Namun Dea diberi kekebebasan untuk pergi kemana saja, dengan satu catatan harus bersama supir. Dea merasa rencananya berhasil ketika keluarga Ranlet Flint memperlakukannya dengan istimewa.
Mobil yang dikendarai oleh Boy, memasuki lobby gedung pencakar langit dengan tingkat 100 milik keluarga Ranlet Flint. Ini kali keduanya Fitri mengunjungi perusahaan milik Kakak nya Sean. Tidak heran jika perusahaan ini, masuk dalam daftar perusahaan terbesar didunia.
Sean turun dari mobil, dia mengitari mobil dan membuka pintu untuk sang adik. Tangan Sean terulur untuk menyambut tangan Fitri, dengan senyum mereka Fitri menyambut tangan Kakaknya.
Mereka berdua masuk dan diikuti oleh Boy dibelakangnya. Tatapan memuja dari para karyawan sangat terlihat, ada yang iri, ada yang sinis dan ada juga yang tersenyum bangga. Tidak ada diantara mereka yang tahu jika Fitri adik Sean, yang mereka lihat Sean dan Fitri adalah sepasang kekasih.
Sean dan Fitri memasuki ruang CEO, yang tidak lain adalah ruangan Sean.
"Selamat pagi Kak Merry!". Sapa Fitri pada sekretaris Sean yang berdiri menyambut mereka.
"Selamat pagi Nona, selamat pagi Tuan". Sapa Merry juga pada atasannya.
"Pagi Kak". Balas Fitri. Sementara Sean pria itu tak merespon sama sekali dan langsung masuk kedalam sambil menggenggam tangan Fitri.
"Kak Sean". Renggek Fitri.
"Ehem, ada apa Ce? Apa Cece tidak nyaman?". Tanya Sean memegang pundak adiknya.
Bukannya menjawab Fitri justru mencibirkan bibirnya kesal yang membuat Sean bingung.
"Cece, kenapa? Kenapa cemberut begitu?". Sean menarik sudut pipi adiknya "Senyum donk". Goda Sean sambil menarik pipi Fitri dengan gemes.
Sean terkekeh mendengar perkataan Fitri, lalu dia mengajak Fitri duduk.
"Boy, panggilan Merry". Perintah Sean.
"Baik Tuan". Boy keluar untuk memanggil Merry.
Tidak lama kemudian Merry datang bersama Boy. Ditangan Merry terdapat sebuah maff yang diyakini itu adalah data meeting mereka.
"Bagaimana dengan data meeting kerjasama dengan De Wilson Corp?". Tanya Sean tangannya fokus pada keyboard laptop.
"Semuanya sudah siap Tuan. Silahkan anda tanda tangani". Merry menyerahkan maff itu ketangan Sean.
Sean mengambilnya, lalu membolak-balik dokumen itu.
"Ce". Sean beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri Fitri yang tengah asyik dengan benda canggih ditangannya.
"Iya Kak". Fitri menyimpan ponselnya lalu menatap sang Kakak
"Coba Cece lihat dulu ini". Sean menyerahkan dokumen itu pada Fitri.
Fitri dengan cepat memeriksanya. Keningnya tampak berkerut saat membaca isi dari dokumen itu.
"Siapa yang membuat dokumen ini Kak?". Tanya Fitri sambil memperhatikan isi dokumen.
"Merry". Jawab Sean
Fitri menatap kearah Merry yang tampak gugup "Kak Merry sini". Fitri melambaikan tangannya supaya Merry mendekat padanya.
__ADS_1
Merry mendekat pada Fitri "Iya Nona?". Tanya Merry.
"Benar ini Kak Merry yang buat?". Tanya Fitri menyelidik wajah Merry yang tampak gugup.
"I-iya Nona". Jawab Merry terbata dan gugup.
Fitri kembali memeriksa dokumen ditangannya. Fitri yakin, jika Merry bekerjasama dengan Mars, entah apa isi dokumen itu yang pasti Fitri paham isi nya tapi tidak dengan Sean.
"Kenapa Ce?". Tanya Sean bingung karena dari tadi adiknya itu tampak serius menatap dokumen ditangannya.
"Tidak apa-apa Kak". Senyum Fitri menutup dokumennya.
"Kak Merry, siapkan semuanya". Perintah Fitri masih menatap Merry.
"I-iya Nona. K-kalau begitu saya permisi". Merry berlalu keluar dari ruang Sean, tampak sekali kegugupan diwajahnya.
"Ada apa sayang?". Tanya Sean heran.
"Kak Boy, bisakah kau keluar sebentar?". Pinta Fitri.
"Baik Nona". Boy segera keluar dari ruangan Sean.
Fitri menghela nafas kasar, lalu kembali membuka dokumen itu. Sean menatap bingung kearah adiknya
"Ce, ada apa?". Tanya Sean mengelus lembut pundak Fitri.
"Sudah berapa lama Kak Merry bekerja sebagai sekretaris Kakak?". Tanya Fitri.
"Sekitar tiga tahun". Sahut Sean jujur.
"Apa ini kerja sama pertama Kakak dengan De Wilson Corp?". Tanya Fitri lagi.
"Tidak! Ini yang ketiga kalinya". Sahut Sean "Kenapa Ce?". Tanya Sean kembali.
"Lihat ini Kak". Fitri menunjuk kearah kertas dokumen. Kening Sean tampak berkerut tidak mengerti "Ini adalah data palsu yang dibuat oleh Kak Merry, dalam data ini tercantum jika Kakak menyerahkan 50% saham Kakak kepada De Wilson Corp. Tampaknya Kak Merry bekerjasama dengan Tuan Mars". Jelas Fitri. Mata Sean terbelalak mendengar ucapan Fitri.
"Ce, apa itu benar?". Tanya Sean tak percaya.
Fitri mengangguk dengan serius "Tidak usah khawatir Kak. Kita bisa hadapi ini! Tuan Mars, seperti nya memang mengincar perusahaan ini Kak". Timpal Fitri lagi.
"Apa yang harus kita lakukan Ce?". Tanya Sean bingung, karena dia sudah mendatangi dokumen tersebut.
"Tidak ada! Ikuti saja rapat dengan mereka". Fitri menutup dokumen itu dan memberikannya pada Sean.
"Tapi Kakak sudah mendatangi nya Ce?". Seru Sean panik.
"Tenang Kak, adikmu yang jenius ini sudah tahu rencana mereka. Jadi dokumen yang Kakak tandatangani itu palsu, yang aslinya ada di laci Kakak". Jelas Fitri sambil tersenyum santai.
Sean menatap Fitri bingung "Kapan Cece melakukan nya?". Tanya Sean tak percaya.
"Kemarin malam". Jawab Fitri "Aku tidak sengaja meretas rekaman CCCTV, diperusahaan dan melihat Kak Merry tampak serius berbicara dengan seseorang didalam telpon, karena penasaran aku menyadap ponsel Kak Merry dan aku terkejut ternyata Kak Merry bekerjasama dengan Tuan Mars dan Dea". Ujar Fitri serius. Lagi-lagi Sean tampak terkejut. Dea juga terlibat
"Lalu Fitri, mengambil dan meretas dokumen itu mengambil aslinya dan menganti dengan yang palsu". Sambung Fitri.
Sean masih mematung diam, tak menyangka jika sekretaris yang bersamanya selama tiga tahun ini ternyata mengkhianati dirinya.
**Bersambung....
Yuk Ikuti Kisah mereka...
GBU....
__ADS_1
LoveUalll**...