Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 87


__ADS_3

Perpisahan abadi adalah kematian. Tak peduli sehebat apa jabatan yang kau punya, sebanyak apa uang yang ada. Tak ada satu manusia pun yang bisa menghindari kematian. Tak peduli seberapa keras kau menolaknya, ia akan tetap menghampiri orang yang kau sayangi. Mengambil nya dengan paksa, mengikis nya begitu saja. Tak peduli seberapa hebat kau terluka, seberapa lama kau menangis, jika Tuhan sudah mengambil hakNya apapun yang kau lakukan dan katakan semua akan sia-sia.


SELAMAT MEMBACA....


David keluar dari ruang operasi dengan wajah sendu, matanya memerah dan sembab.


"David, bagaimana putriku?". Sam menghampiri David dan mencecar sahabatnya dengan pertanyaan.


David diam tak bergeming "Paman David, cepat jawab bagaimana kondisi Fitri". Sentak Fillipo yang sudah tak sabar


David menggelleng dan menunduk "Cepat katakan Paman". Teriak Sean "Katakan". Desak Sean lagi.


"Katakan David". Pedrosa turut ambil bicara. Mendesak David yang sedari tadi terdiam.


"Maafkan aku". Lirih David menunduk.


"Apa maksudmu David?". Sam menarik kerah baju David.


"Kita kehilangan dia". Ucap David dengan nada sendu.


Deg


Jeduarrrr bagai tersambar petir disiang bolong. Seluruh dunia serasa runtuh, pecah dengan kepingan-kepingan yang terpecah belah.


Keenam pria itu langsung mematung. Cengkraman Sam di kerah David seketika terlepas, pria paruh baya itu hanya diam mematung sesat.


"Cece".


"Fitri".


Sean dan Fillipo berteriak, langsung masuk kedalam ruang operasi.

__ADS_1


"Fitri". Teriak Pedrosa yang juga berlari keruang operasi diikuti oleh Zean dan Zaen.


"Shellena". Sam baru tersadar dari lamunannya. Dia berjalan menuju ruang operasi dengan tubuh bergetar hebat.


"Shellena". Teriak Sam.


Mereka bereenam mematung didepan seorang gadis yang terbaring dengan wajah pucat tanpa darah, gadis itu terlelap tanpa terganggu dengan teriakkan dan tangisan histeris mereka.


Philip, Alexander, Dion, Diandra, Mouth, Dea, Luna dan Pearce juga berada disana setelah mendapat kabar dari beberapa dokter yang lewat didepan mereka. Semua orang mematung didepan pintu.


Tak ketinggalan Lucas, Dhanny dan Leo juga berada disana. Bahkan Dhanny merasa jantungnya berhenti bernafas, seluruh tubuhnya serasa mati rasa.


Namun berbeda dengan Dea, gadis itu nampak tersenyum puas


"Hahha, akhirnya kau mati juga, jadi aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan mu tikus kecil. Hmmm sebentar lagi aku akan mendapatkan Kak Fillipo, ah aku tidak sabar menikah dengan pria itu". Batin Dea sambil tertawa dalam hatinya. Ya Dea sudah lama menyukai Fillipo saat pertama kali melihat pria itu Dea merasa tersihir dengan ketampanannya. Namun ia berusaha menutupi perasaannya dengan berpura-pura tidak peduli.


"Cece, kau sudah berjanji pada Kakak bahwa kau tidak akan pergi. Kau bilang ingin bahagia bersama Kakak tapi kenapa kau meninggalkan Kakak. Bangun Ce, bangunnnnn hiks". Teriak Sean histeris memeluk tubuh Fitri.


"Nak, ini Ayah! Bukankah kau berjanji akan menunggu Ayah. Ini Ayah sayang, Ayah datang untukmu. Ayah... Ayah, disini Nak hiks ". Tangis Pedrosa pecah. Pria paruh baya itu bahkan tak peduli memeluk kaki Fitri dengan tangis yang menggema. Gadis ini tidak boleh pergi.


"Bangun sayang". Teriak Sam menggema, tangisnya terdengar begitu rintih. Semua yang berada di ruangan itu terdiam membisu, air mata mereka mengalir dengan deras kecuali Dea. Wajah gadis itu terlihat tenang dan biasa saja.


Sean, Sam dan Pedrosa melepaskan pelukkan mereka. Mereka tak sanggup lagi, mereka tak kuat lagi. Mereka ingin pergi bersama Fitri, bersama kenangan yang Fitri ciptakan.


Fillipo menghampiri ranjang Fitri. Pria tampan yang satu itu berjalan dengan tatapan kosong, matanya sembab wajah nya berantakkan. Dasi yang ia kenakan sudah terlepas dari lehernya, jasnya entah kemana. Kini hanya kemeja warna putih yang ia gulung sampai kesiku.


"Fitri". Lirihnya.


Zean dan Zaen tak tahan. Mereka berdua menangis sejadi-jadinya, tak ada rasa malu atau gengsi. Hati mereka begitu sakit, perih dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Zean memang menyangi Fitri, apalagi Sam pernah mengatakan bahwa dirinya adalah saudara kembar Sean yang berarti Zean adalah Kakak kandung Fitri.


Zaen pria yang satu ini, tidak tahu entah apa yang membuatnya menangis. Seumur hidup dia tidak pernah menangis kecuali ketika lahir. Tapi kini bahkan mata pria itu terlihat memerah, matanya juga bengkak karena kebanyakan menangis.

__ADS_1


"Bangun sayang". Fillipo memeluk Fitri dengan erat. Mengangkat tubuh gadis munggil itu.


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu". Ucap Fillipo lagi "Bangun, kau bilang ingin membuatku tersenyum dan tertawa kan? Kau bilang juga akan mengajakku ibadah di Gereja. Ayo bangun, kita pergi ke Gereja bersama aku sudah siap!!! Aku rela meninggalkan dunia gelapku demi datang ke dunia terangmu! Kau dengarkan aku 'kan sayang?". Rintih Fillipo.


Fillipo membelai lembut wajah Fitri "Kau tahu tidak? Sejak pertama bertemu denganmu, aku merasakan jantungku berdetak hebat, aku pikir diriku menderita penyakit jantung sampai-sampai aku memeriksakan diri pada Dokter, eehhh tahu-tahunya aku jatuh cinta, aku lucu 'kan sayang? Jatuh cinta saja tidak tahu, hahah". Kekeh Fillipo sambil menangis.


Yang lain menyaksikan dengan hati perih. Yoshua dan Yoel bahkan sudah tak mampu menangis. David memeluk erat Athala yang sempat histeris saat mendengar kabar itu.


Fillipo menyelipkan anak rambut Fitri kedaun telingannya "Sayang, kau tahu tidak saat kau menghilang waktu itu? Duniaku serasa runtuh dan gelap, aku bahkan tak bisa lagi melihat dengan jelas. Aku berjalan tanpa tujuan". Senyum Fillipo kecut "Aku rasanya mau gila waktu itu, sampai-sampai nasi saja muak melihatku". Kekeh Fillipo "Niat kita pergi ke Jerman untuk menuntaskan masalah perusahaan, ehhh tahu nya malah membuatmu bertemu saudara dan Ayah kandungmu, kau terlihay bahagia sayang, aku senang melihatnya". Lanjut Fillipo


Fillipo kembali memeluk Fitri. Fillipo yakin Fitri belum mati dia masih hidup, Fillipo yakin Fitri masih hidup. Dia yakin jika Fitri hanya sedang tidur dan bermimpi indah, ya Fitri tidur kan ya begitulah pemikiran Fillipo.


"Maaf Tuan, kami harus segera memandikan jenazah Nona Fitri". Ucap salah satu perawat yang bertugas pada Fillipo.


"Tidak, apa yang kau katakan? Kenapa kau ingin memandikannya? Dia masih hidup, dia hanya tidur! Dia sudah berjanji padaku, akan membuatku tersenyum dan tertawa. Dia belum membuat ku tersenyum jadi dia masih berhutang padaku". Bantah Fillipo.


Dea yang melihat itu tanpa sadar menitikkan air mata. Bisa Dea lihat betapa besarnya cinta Fillipo pada Fitri. Hatinya sakit melihat pria itu menangisi seseorang yang telah tiada. Dea mellengang pergi dari sana ia tak sanggup melihat hal itu.


**Bersambung....


Author sampai nangis nulisnya😭


Keingat sama almarhum Bapak😭


Benar-benar rasanya jiwa terpisah dari raga😭


Tak tahu seberap lama menangis rasanya, dunia berhenti berputar......


Ikuti terus guys......


GBU....

__ADS_1


LoveUall❤️**


__ADS_2