
SELAMAT MEMBACA...
"Gege. Kenny. Bagaimana kalian bisa ada disini?". Tanya Zevanya setengah berbisik. Dia memang sudah lama tidak bertemu dengan kedua sahabatnya itu.
"Bukan urusanmu". Tatap Grace dengan penuh kebencian "Ini semua salah mu". Ujar Grace nafasnya memburu menahan emosi. Ingin rasanya dia cakar wajah Zevanya. Entah kenapa dia sangat membenci sepupunya itu.
Zevanya terkesiap mendengar ucapan Grace "Kenapa salahku? Apa yang sudah ku perbuat?". Tanya Zevanya bingung dan heran
"Jangan pura-pura tidak tahu". Hardik Kenny menimpali "Gara-gara kau mendekati Dean dan Kak Myron kami berdua ada sini".
Alis Zevanya saling bertaut heran. Apa hubungannya dengan dia dan Myron serta Dean?
"Ka..............".
"Mereka berdua istriku". Seru Aron menimpali dia dan Dave mendengar percakapan ketiga wanita itu.
Mata Zevanya membulat sempurna "Kapan aku menikahinya Tuan Aron? Bagaimana bisa?". Zevanya setengah tak percaya, bukan setengah lagi tapi memang tidak percaya.
"Kenapa kau bisa mengenal namaku?". Tanya Aron heran ketika Zevanya menyebut namanya.
"Ck, Tuan aku tidak menyuruhmu bertanya tapi aku yang sedang bertanya. Sekarang cepat jawab pertanyaan ku". Protes Zevanya.
Dave, Aron, Grace dan Kenny saling menatap mendengar jawaban Zevanya yang begitu berani dengan Aron.
"Apa kau tidak tahu siapa aku?". Tatap Aron tajam.
Zevanya malah memutar bola matanya malas. Dari tadi dia yang bertanya tapi malah dilempari dengan pertanyaan juga.
"Kau Aron Smith. Ketua Mafia Black Tiger, yang tidak pandai menebak itu kan?". Cibir Zevanya "Ck, Tuan kau payah sekali. Sepertinya aku perlu belajar menembak dariku".Celetuk Zevanya.
Keempat orang itu terkesiap lagi mendengar ucapan gadis kecil itu.
"D-dari mana kau bisa tahu?". Tanya Aron terbata-bata.
"Jangan bertanya terus Tuan. Sekarang jawab pertanyaan ku". Hardik Zevanya. Aron mengepalkan tangannya dan hendak memukul Zevanya "Ck, Tuan tangan mu jika berani berani menyentuh wajahku. Maka kupastikan akan menjadi makanan Ular Cobra milik Tuan tampan". Tatap Zevanya tajam.
Tangan Aron yang tadinya sudah melayang diudara hendak memukul gadis itu perlahan turun. Dia dibuat terkejut lagi saat Zevanya mengatakan Ular Cobra peliharaan Tuan tampan.
"Kau...............".
__ADS_1
"Hoammmmmmm". Zevanya menguap "Pegal sekali tanganmu". Zevanya menekan-nekan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bunyi. Membuat Dave mendelik ngeri mendengar suara jari-jari wanita itu yang terdengar seperti ingin patah.
"Wajahnya biasa saja kali Tuan". Ujar Zevanya sambil bersandar. Setelah makan perutnya sudah terisi penuh. Matanya juga mengantuk.
"Tuan, ayo bawa aku kekamar. Aku mengantuk sekali". Zevanya mengulurkan tangannya manja pada Dave.
"Tidak mau". Tolak Dave melipat tangan didada.
"Ya sudah kalau tidak mau, jangan salah kan aku jika rumah mewah ini nanti kuledekkan". Ancam Zevanya "Kau tahu Tuan, aku bisa meruntuhkan bangunan ini hanya dalam waktu dua detik". Ujar Zevanya lagi dengan santainya.
Dave mendelik "Cih, kau pikir aku percaya dengan ucapanmu". Cibir Dave.
"Apa aku menyuruhmu percaya Tuan?". Tungkas Zevanya "Aku hanya mengatakannya saja, mau kau percaya atau tidak itu bukan urusanku".
Aron, Grace dan Kenny benar-benar dibuat tercengang dengan keberanian Zevanya pada Dave. Apa Zevanya tidak tahu siapa Dave? Dave bisa saja langsung meledakkan kepala gadis itu dalam hitungan menit.
Tangan terkepal, dia menatap Zevanya dengan tatapan elangnya. Lalu Dave mengambil pelatuk disaku celana nya dan menempelkannya pada kening Zevanya.
Bukannya takut, gadis itu malah memutar bola matanya malas. Dia menguap dengan santainya tanpa rasa takut. Sedangkan Aron, Grace dan Kenny menelan Saliva mereka dengan susah payah. Dave pasti akan menembak gadis itu.
"Apa kau mau kepalamu kuledakkan?". Ancam Dave yang masih menempelkan pistol itu ke kening Zevanya.
Zevanya mendorong pistol itu dengan jari telunjuknya. Membuat Dave kembali heran. Apa gadis ini tidak merasakan takut sama sekali?
"B-bagaimana kau bisa tahu?". Tanya Dave. Dari mana Zevanya tahu tentang wilayah timur dan keinganan nya untuk mengambil senjata dan robot ajaib yang sengaja di museumkan ditempat itu.
Zevanya tersenyum smirk. Dia ingin sekali rasanya tertawa mendengar pertanyaan Dave.
"Aku saja tidak tahu. Aku kan asal menebak". Celetuk Zevanya.
"Paman". Panggil Zevanya pada pelayan pria yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Iya Nona. Ada yang bisa saya bantu?". Tanya sang pelayan sopan. Sedangkan Dave bingung apa yang akan dilakukan gadis itu
"Bantu aku masuk kekamar ya Paman. Kaki ku sakit sekali, tidak bisa berjalan". Lirih Zevanya terdengar sendu.
Entah kenapa lirihan Zevanya begitu menyayat hati Dave.
"Mari Nona".
__ADS_1
Saat Zevanya hendak memegang tangan pelayan itu. Dave langsung mengambil tubuh gadis itu dan mengendong nya ala bridal style.
"Tu-tuan". Zevanya terkejut ketika merasakan tubuhnya berada diatas udara.
Sementara Aron menatap tak percaya. Dave pertama kalinya mau bersentuhan dengan wanita. Dave pertama kalinya juga peduli pada wanita selain adiknya.
"Cieeeee. Diam-diam peduli". Ledek Zevanya menunjuk wajah Dave yang memerah.
"Jika kau terus berbicara. Aku akan membuangmu ke lantai". Ancam Dave.
"Ck, begitu saja marah". Cibir Zevanya membuang muka dengan mengerutkan bibirnya kesal.
Dave menahan tawanya. Kenapa gadis ini sangat menggemaskan saat kesal seperti itu. Secepatnya Dave memalingkan wajahnya jangan sampai dia diperdaya oleh perasaan nya sendiri.
Dave meletakkan Zevanya dengan lembut dikasur size milik nya. Disana Xiang masih tertidur lelap. Ular Cobra berwarna hitam menyeramkan itu tidur tanpa terganggu dengan Zevanya yang duduk disampingnya.
"Aku akan memindahkannya". Dave mengambil ular itu dengan pelan seakan takut jika ular itu terganggu dan terbangun.
"Biarkan dia tidur bersamaku Tuan. Aku ingin memeluk nya". Dava terkesiap.
"Tidak bisa. Ini bahaya". Tolak Dave tegas.
Ular itu langsung terbangun. Dengan cepat ular itu turun dari gendongan Dave dan naik ke ranjang lalu duduk dipangkuan Zevanya.
Dave sampai menelan ludahnya dengan kasar, apalagi ular itu menatapnya tajam. Baru kali ini dia melihat Xiang yang seperti nya sedang marah padanya.
"Kau lihat kan Tuan. Dia tidak bisa jauh dari ku?". Zevanya mengelus kepala ular itu "Malam ini kau tidur denganku saja ya?". Ujar Zevanya.
"Ingat kau harus ku hukum karena sudah menghancurkan Markasku. Jangan lupa, bahwa tujuan aku menculikmu adalah membalas kan dendamku". Ancam Dave menatap Zevanya tajam.
"Tidak perlu melihatku begitu Tuan. Aku tahu". Cibir Zevanya "Sebelum menjalani hukuman. Biarkan aku istirahat dulu bersama Moy". Ujar Zevanya mengelus kepala ular itu dengan sayang.
"Ck, Namanya Xiang bukan Moy". Protes Dave.
"Aku akan memanggil nya Moy". Senyum Zevanya tak mau kalah.
"Terserah padamu".
Dave keluar dengan membanting pintu. Dia kesal. Dia marah bukan main. Dia cemburu karena Xiang lebih dekat dengan Zevanya dibanding dirinya.
__ADS_1
**Bersambung......
LoveUsomuch ❤️**