Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 71. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.......


Kenny dibawa ke Markas Black Cobra.


"Lepaskan aku". Kenny berusaha memberontak.


"Sebaiknya anda diam Nona, sebelum kami menyakitimu". Ancam salah satu dari mereka.


Kenny meringgis kesakitan dipergelangan tangannya.


Kenny ditarik dengan paksa keluar dari mobil dan membawanya masuk kedalam Markas. Meski memberontak tetap saja tak membuat para pria berbaju hitam untuk menghentikan aksinya.


Brakkkkkkkkkkk


Mereka mendorong Kenny hingga tersungkur dijeruji besi.


"Kenny".


"Grace, hiksss".


Grace menghampiri Kenny dan memeluk sahabatnya.


"Grace hikssss".


"Kenny bagaimana kau bisa ada disini?'. Cecar Grace memeluk sahabatnya.


"Si brengsekkkk Aron itu yang membawaku, hiksss". Ujar Kenny ketakutan dan juga kesakitan.


"Nona sebaiknya anda dan jangan berisik. Kalian bisa menganggu istirahat Xiang". Ucap salah satu pengawal yang berjaga.


Kedua wanita itu terdiam. Tentu saja mereka tahu siapa Xiang. Ular Cobra berwarna hitam yang menyeramkan dan tatapannya seakan mau melahap mereka hidup-hidup.


Setelah puas saling bertangisan, keduanya duduk meringguk disudut ruang penyiksaan itu. Ruangan tersebut terlihat sangat menyeramkan dan bau amis darah juga tercium menyengat.


"Apa yang harus kita lakukan Grace?". Tanya Kenny mereka berdua terlihat begitu takut.


Grace menggeleng "Aku tidak tahu Kenny. Semoga Daddy kita segera mencari kita". Ucap Grace.


Wajah Kenny langsung sendu "Sepertinya Daddy-ku tidak akan mencariku Grace. Kau tahu kan hubungan kami tidak pernah baik dari dulu. Mungkin dia senang melihatku hilang begini". Ujar Kenny dengan nada sendunya.


Grace pun langsung terdiam. Mereka berdua memiliki kisah yang sama. Jika Kenny memang melakukan kesalahan. Tapi berbeda dengan Grace yang tidak tahu dimana letak kesalahannya. Namun sang Ayah justru mendidiknya dengan begitu keras, sehingga menjadikan dia wanita yang keras kepala dan hancur.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara Zevanya. Wanita ****** itu penyebab nya". Geram Grace dia mengeletukkan giginya menahan amarah.


"Kau benar Grace". Ujar Kenny "Setelah kita keluar dari sini, kita harus menyingkirkan ****** itu sejauh mungkin". Ucap Kenny.


"Iya itu pasti". Sahut Grace "Tapi kita harus segera cari cara untuk bisa keluar dari tempat menjijikan ini". Timpal Grace lagi.


"Apa kau bawa ponsel?". Tanya Grace penuh harap.


Kenny menggeleng "Ponsel dan tas ku diambil oleh si brengsekkkk Aron. Sepertinya dia memang sudah tahu jika kita akan kabur". Jawab Kenny.


Grace menghela nafas. Dia melihat kearah pintu masuk yang dijaga dengan ketat oleh para anggota Black Cobra. Wajah mereka sangat menyeramkan. Tato-tato juga terlihat ditangan dan wajah mereka. Kepala plontos serta kalung berwarna hitam yang terlihat seperti dukun.


Tidak ada benda yang bisa mereka gunakan untuk keluar dari sana. Sepertinya Aron memang sengaja membuang benda-benda itu agar mereka tak bisa kabur kemana pun.


Ditempat lain.


Aron tengah tertawa penuh kemenangan. Dua tempat duel ranjangnya kini tengah histeris ketakutan. Aron sengaja memasang kamera CCTV di ruang penyiksaan agar bisa menonton apa yang dilakukan kedua wanita itu.


"Kalian tidak akan bisa keluar dari sana. Kalian yang sudah mencari gara-gara denganku". Aron tersenyum licik.


Sedangkan Dave hanya asyik memangku ular Cobra dipangkuan nya. Dia sama sekali tak mengubris sepupunya yang seperti orang gila tertawa sendiri sambil menatap layar laptop didepannya.


"Kak, apa kau sudah merencanakan menculik gadis itu?". Tanya Aron.


"Kita harus bertindak secepatnya Kak. Wilayah timur harus menjadi milik kita. Jika kita menculik gadis itu, kita bisa mengancam mereka untuk menyerahkan wilayah timur. Kakak juga bisa membalaskan dendam Kakak pada Shawn". Jelas Aron.


"Aku tahu". Sahut Dave dingin "Kau tenang saja, aku akan menculik dan membalaskan dendam ku". Lanjut Dave.


Aron mengangguk dengan senyum "Harus itu Kak. Orang-orang seperti mereka memang tidak pantas untuk diberi ruang menghirup udara segar". Seru Aron.


Dave tak menjawab dia kembali asyik mengelus kepala ular yang sudah tidur dengan lelap dipangkuan nya. Dia mengalihkan semua pikirannya pada ular dipangkuan nya ini, meski sebenarnya dia sama sekali tidak fokus. Entah apa yang dia pikirkan.


Aron beranjak "Kak, aku pergi dulu. Jika ada waktu datang lah ke rumah membawa Deva. Mom sangat ingin bertemu dengannya".


"Hmmmmmmmmmm".


Aron melengang pergi dari sana meninggalkan rumah Dave.


Setelah kepergian Aron. Dave segera membawa Ular Cobra itu ke kandangnya. Lalu membiarkan ular peliharaan nya itu tertidur lelap.


Dave masuk kedalam kamar nya. Dia mengambil laptop dan berusaha mencari identitas dan informasi tentang Zevanya.

__ADS_1


Dave mengotak-atik laptopnya. Dia memang pembunuh bayaran yang sering membunuh orang-orang incaran para kliennya. Selain dosen dikampus, sebagai profesi tetap untuk menutupi identitasnya dia juga pembunuh bayaran, ketua Mafia dan CEO perusahaan ternama di New York, Amerika serikat.


"Zevanya Anggela Wilmar". Gumamnya "Menarik". Sudut bibir pria itu tertarik.


Dave mencari akun media sosial Zevanya. Dia penasaran secantik apa gadis itu? Karena ketika melihat rekaman CCTV yang dia retas dari Markasnya, gadis itu memang sangat cantik dan menggemaskan.


"Dia memang cantik".


Dave melihat-lihat foto Zevanya yang dia posting di akun media sosialnya.


"Menggemaskan".


Tangan Dave tak berhenti mengeser foto demi foto Zevanya. Hingga tangannya terhenti saat melihat satu foto yang terlihat janggal dimatanya.


"Apa dia kekasih Myron?". Gumam Dave. Myron merupakan rekan bisnis Dave. Namun Myron tidak tahu jika Dave ketua Mafia dan begitu juga sebaliknya.


"Ada hubungan apa dia dan Myron? Sepertinya Myron menyukai gadis ini.". Ujar Dave tampak berpikir.


Dia kembali mencari identitas Zevanya. Tangannya terlihat ahli menekan tombol demi tombol keyboard.


"Aku harus atur strategi untuk bisa menculiknya. Gadis ini terlihat berbeda. Jadi pasti tidak mudah menipunya". Ucap Dave


Dave menutup kembali laptopnya. Dia melangkah keluar dari kamar miliknya. Langkah kakinya tertuju pada kamar disebelahnya.


Cekreekkkk


Dave masuk dengan langkah pelan. Dia menatap adiknya yang tengah terlelap. Dave melangkah menghampiri sang adik.


Dia berjongkok untuk mengapai wajah cantik adiknya.


"Maafkan Kakak yang gagal menjagamu". Dave mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Kakak berjanji akan melindungi mu. Kakak akan membalaskan semua dendam mu". Gumam Dave lagi. Dia merasa sakit melihat adiknya yang depresi karena ulah laki-laki tak tahu diri seperti Shawn.


"Selamat tidur".


Cupppppppppppppppp


Dave mengecup kening adiknya dengan sayang. Dia tersenyum simpul menatap wajah menggemaskan itu. Menjadi kakak sekaligus orangtua bukan pilihannya. Tapi takdir justru membawanya kesana.


Bersambung....

__ADS_1


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2