Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 109.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


Fillipo mengantar Fitri kembali ke Mansionnya. Fillipo sangat kesal dari tadi Sean terus saja menerror nya ditelpon untuk segera mengantar Fitri pulang. Benar-benar Kakak tak ada akhlak. Fillipo sampai menggelengkan kepalanya melihat sikap Sean, Zean dan Zaen yang tak ada bedanya jika berbicara tentang Fitri.


"Sayang kenapa ketiga Kakakmu itu sungguh menyebalkan?". Protes Fillipo, bersandar manja dibahu munggil Fitri. Tangannya ia satukan dengan tangan gadis itu.


Leo yang melihat sikap Fillipo, menggeleng tak percaya.


"Sepertinya Tuan sudah bucin akut pada Nona". Batin Leo hanya bisa berbicara dalam hati saja. Jika bicara langsung bisa-bisa peluru bersarang dikepalanya.


Fitri tersenyum mendengar ucapan Fillipo. Tangan munggilnya mengelus kepala pria yang bersandar dibahunya itu.


"Mereka terlalu menyanyangiku Kak". Ucap Fitri "Memang terlihat berlebihan, tapi begitulah cara mereka menunjukkan rasa sayang mereka. Perpisahan selama 21 tahun membuat mereka sadar betapa pentingnya kebersamaan". Jelas Fitri dengan suara lebih lembut "Kadang memang menjengkelkan melihat sikap posessif mereka, kadang juga merasa dongkol namun kembali lagi, mereka hanya sudah pernah merasa kehilangan jadi mereka menjaga apa yang saat ini ada dalam genggaman mereka sebelum terlepas dan tak bisa mereka genggam lagi". Lanjut Fitri.


Fillipo bangkit mendengar ucapan Fitri. Fillipo menatap sang kekasih yang selalu membuat hatinya berdebar hebat.


"Aku akan menjagamu sayang dan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja". Fillipo menarik Fitri kedalam dekapannya, membenamkan kepala gadis itu didada bidangnya. Sesekali Fillipo mengecup ujung kepala gadis itu dan bersyukur bisa memiliki gadis seperti Fitri.


Sampai di Mansion mewah keluarga Ranlet Flint


Fillipo turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk sang kekasih, seperti Pangeran yang sedang menyambut Tuan Putri.


Fillipo mengenggam tangan Fitri dan berjalan masuk. Disana sudah ada tiga orang pria yang bersigap dada menunggu Fillipo dan Fitri. Wajah ketiga pria itu seperti ditekuk, terlihat kesal dan cemburu. Ketiga nya menatap Fillipo dengan tajam, melihat tangan Fillipo mengenggam tangan Fitri.


Fitri menampilkan senyum pada ketiga Kakak kembarnya, sungguh lucu meihat wajah cemburu ketiga pria tampan itu.


"Kakak". Panggil Fitri menghampiri ketiganya.


Wajah mereka langsung berubah menjadi binar saat mendengar suara cempreng yang membuat dunia mereka serasa berwarna.


"Cece-nya Kak Sean sudah pulang?". Sean langsung memeluk adiknya dan melepaskan genggaman Fillipo.


Fillipo mengeram kesal karena kekasihnya direbut paksa dari tangannya. Ingin ia memukul wajah Sean yang menyebalkan itu.


"Kau baik-baik saja 'kan sayang?". Sean memeriksa tubuh adiknya takut ada yang kurang.


"Cih, tidak usah lebay Sean! Adikmu sangat berarti bagiku, jadi kau tidak perlu meragukan cintaku". Sindir Fillipo dengan wajah kesal.


Zean dan Zaen juga ikut memeluk Fitri. Mereka baru saja berpisah beberapa jam lalu tapi sudah merasakan rindu pada gadis kecil itu.


Fillipo memutar bola mata malas melihat ketiga pria tak berakhlak itu, ia mencibir dan mengumpat dalam hatinya. Menyebalkan.


"Sebaiknya kau segera pulang. Ini sudah malam". Usir Sean.

__ADS_1


"Ck, kau mengusirku?". Tanya Fillipo tak terima.


"Sayang, aku pulang ya. Langsung istirahat, jangan begadang tidak baik untuk kesehatanmu". Fillipo mengecup kening Fitri dengan lembut sambil memejamkan matanya.


"Hmmm". Zaen berdehem menatap tajam kearah Fillilpo. Tapi Fillipo tidak peduli.


"Iya Kak hati-hati". Balas Fitri tersenyum manis.


Sean, Zean, Zaen dan Fitri tengah berada dikamar Fitri. Seperti biasa mereka akan menidurkan Princess kecil mereka.


"Besok Ayah dan Daddy, akan kembali". Ucap Zaen pada adiknya.


"Benarkah? Aku sungguh merindukan mereka". Ucap Fitri kegirangan saat mendengar kabar bahwa Sam dan Pedrosa akan kembali. Hampir satu Minggu tidak bertemu dengan dua pria itu membuatnya begitu rindu.


"Cece, sekarang istirahat ya". Sean menuntun Fitri ke kasur king size dan membaringkan adiknya, lalu menyelimuti Fitri.


"Good night sayang". Sean mengecup kening Fitri dan dikuti oleh Zean dan Zaen.


Mereka masuk kedalam kamar masing-masing.


Zaen menatap langit-langit kamarnya. Entah apa yang dipikiran pria tampan yang satu ini.


Ting


"Apa Kakak sudah tidur?". Pesan yang masuk diponsel Zaen. Zaen menyunggingkan senyum dibibirnya.


"Belum sayang! Kenapa kau belum tidur, ini sudah hampir tengah malam. Apa Fitri ketakutan sehingga tidak bisa tidur?". Zaen mengirim pesan itu pada Fitri.


Tidak lama kemudian masuk balasan ke ponsel Zaen.


"Kak, cepat ke kamar Fitri. Ada yang ingin Fitri bicarakan pada Kakak". Balas Fitri.


"Baik sayang. Tunggu Kakak". Zaen langsung meletakkan ponselnya.


Zaen berjalan masuk kekamr Fitri. Tampak Fitri tengah duduk memainkan laptopnya.


"Sayang, ada apa?". Tanya Zaen sambil menghampiri adiknya.


"Duduk Kak". Perintah Fitri tanpa beralih dari laptopnya.


"Apa ada sesuatu?". Tanya Zaen menyelidik.


"Kak, diamlah kau berisik sekali". Gerutu Fitri. Zaen terkekeh, adiknya ini sungguh menggemaskan.

__ADS_1


"Kak, lihat ini?". Fitri menunjukkan layar laptopnya.


Zean menatap layar laptop itu. Tentu otaknya yang jenius langsung memahami apa yang ditunjukkan Fitri.


"Pengiriman senjata yang baru kita beli, apa ada masalah? Bukankah Daddy dan Ayah sudah mendapatkan izin dari Negara?". Tanya Zaen heran.


"Iya Kak! Tapi saat aku meretas sistem keamanan disana ternyata, mereka menipu Ayah dan Daddy. Senjata itu bukan dari Negara tapi dari Tuan Mars, ketua Mafia Black Shinee. Mereka bekerja sama dengan Dea dan Kak Dhanny, dan menjadikan Tuan Arthur sebagai pion mereka". Jelas Fitri. Zaen mengangga dengan mulut terbuka lebar mendengar penjelasan Fitri.


"Besok, Kak Dhanny akan kembali ke sini. Setelah kesini dan menyusun rencananya dia akan kembali ke Indonesia". Jelas Fitri masih sering mengotak-atik laptopnya.


"D-dari mana Fitri tahu semua ini?". Tanya Zaen menelan Saliva nya kasar. Sungguh Zaen benar-benar pusing memikirkan kemampuan adiknya.


"Berhenti bertanya Fitri tahu dari mana Kak". Protes Fitri "Yang harus kita pikirkan bagaimana caranya menghadapi mereka". Jelas Fitri.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sayang?". Tanya Zaen.


"Kita harus meminta bantuan Kak Popo. Fitri yakin Kak Popo, bisa diajak kerja sama". Sambung Fitri "Minggu depan senjata itu akan datang dipelabuhan, Kak Zean dan Kak Zaen harus pergi kesana bawa juga Kak Popo, mereka akan menyerang kita". Ucap Fitri lagi.


"Baiklah, Kakak akan datang kesana!". Sahut Zaen.


"Jangan lupa berhati-hati Kak". Pesan Fitri "Kita harus membicarakan ini dengan Kak Popo, Kak Sean dan Kak Zean. Bagaimana pun ketiga orang ini harus tahu". Sambung Fitri.


"Baik". Sahut Zaen. Meskipun bingung dengan ucapan adiknya Zaen tetap mengiyakan saja. Mereka akan menghadapi nya bersama-sama.


"Lalu bagaimana dengan Dokter Dhanny?". Tanya Zaen


"Aku akan menemuinya besok dan berpura-pura tidak tahu". Sahut Fitri santai.


"Apa perlu Kakak temanin?". Tawar Zaen.


"Tidak Kak! Besok aku akan menjemputnya dibandara. Jika Kakak ikut bersamaku, Kak Dhanny akan curiga!". Jelas Fitri.


Zaen mengangguk dan paham dengan apa yang dikatakan adiknya.


**Bersambung....


Sekedar mengingatkan kembali sayang-sayangku, jangan lupa like, komen dan votenya ya. Like itu membuat author semangat menulis jadi author pengen selalu didukung biar ceriat ini bisa berlanjut hingga ending.....


Yang baca hampir 50k orang tapi yang like gak sampe 2k😭 sedih atuh author nya😶


Author sayang kalian😘


GBU**....

__ADS_1


__ADS_2