
SELAMAT MEMBACA...
Mobil Zean memasuki halaman sebuah butik yang cukup besar. Butik yang sedang naik daun di New York, Amerika. Bahkan banyak kalangan atas yang berlangganan dibutik ini. Didepan butik tertulis nama "LNF desainer". Ya nama itu adalah singkatan nama Luna dan Fitri. Luna sudah menganggap Fitri sebagai adiknya sendiri
Fitri segera turun dari mobil setelah pintu mobil dibuka oleh Zaen.
"Sayang, pelan-pelan jalannya". Tegur Zaen saat melihat Fitri sedikit berlari memasuki butik Luna.
"Luna...". Teriak Fitri saat melihat Luna berdiri didepan pintu menyambut kedatangannya.
Luna tersenyum "Fitri". Luna menghampiri Fitri dan memeluk gadis kecil itu "Terima kasih sudah datang". Ucap Luna mengelus lembut punggung Fitri.
"Terima sudah mengundangku juga Luna". Balas Fitri sambil melepaskan pelukkannya.
"Ayo masuk". Ajak Luna.
"Kak Sean, Kak Zean dan Kak Zaen. Silahkan masuk Kak". Seru Luna sedikit kaku dan canggung, sebab tatapan ketiga pria itu begitu dingin padannya. Luna sampai mengigit bibirnya takut, karena tatapan mereka terlihat tidak menyukai dirinya.
"Ayo Kak". Ajak Fitri.
Mereka masuk kedalam, Luna mengandeng tangan Fitri dan menuntunnya masuk, lalu menyuruh mereka duduk disofa tamu ruang kerja Luna.
"Silahkan duduk". Senyum Luna pada para tamunya.
"Terima kasih Lun". Fitri duduk dan diikuti oleh ketiga Kakak kembarnya. Ketiga pria kembar itu duduk berdempetan dengan Fitri seakan tak mau jauh dari adiknya.
"Sa, tolong buatkan minum untuk tamu kita ya". Suruh Luna pada salah satu pegawainya.
"Baik Nona". Sahut Risa.
"Ohhh, ya Fit. Ini gaun untukmu. Gaun ini karya pertamaku, semoga kamu suka ya". Luna menyerahkan paper bag pada Fitri.
Wajah Fitri sumringgah langsung mengambil gaun itu "Wahhh cantik sekali Luna. Terima kasih". Seru Fitri membuka gaun itu dan tersenyum.
"Sama-sama Fit". Luna tersenyum simpul "Oh ya aku minta maaf mengambil namamu untuk nama butikku, aku ingin mengajakmu mengelola butik ini bersama". Tawar Luna.
__ADS_1
"Tidak boleh". Sentak ketiga pria tampan itu bersamaan. Fitri menoleh kearah tiga Kakaknya dengan mengerutkan keningnya
"Fitri tidak boleh jauh dari kami, dia tidak akan mengelola butik itu". Tegas Sean menatap Luna tajam.
Luna menundukkan kepalanya saat pandangan Sean menatapnya dengan tajam. Tak bisa Luna pungkiri bahwa setiap kali melihat wajah pria itu jantungnya berdegup kencang. Ya Luna menyukai Sean sejak pertama bertemu pria itu.
"Kak".
"Tidak bisa sayang! Ingat kau tidak boleh capek". Tegas Zaen merangkul bahu Fitri.
"Tapi Kak...".
"Fitri hari nurut sama Kakak". Sambung Zean.
Fitri memutar bola matanya malas. Sungguh ketiga Kakaknya ini membuat dirinya jengkel setengah mati.
"Maaf Nona, ini minumnya". Risa datang meletakkan lima gelas minuman diatas meja.
"Terim kasih Sa". Ucap Luna tersenyum
"Kakak dengarkan Fitri! Fitri bantu Luna kelola butik ini tidak setiap hari datang ke butik, tapi Fitri akan mengontrol dari Mansion kita". Jelas Fitri.
"Tapi Ce....".
"Kak Sean! Fitri juga ingin berkarya". Potong Fitri "Memangnya Kakak mau Fitri buat snipper dan bom terus setiap hari. Fitri mau saja, kalau Kakak-kakak tidak melarang". Celetuk Fitri dengan wajah cemberut yang mana justru terlihat menggemaskan
Mereka bertiga menghela nafas "Baiklah, tapi harus dibawah pengawasan Kakak". Sahut Zean menimpali.
Fitri tersenyum "Kakak terbaik". Fitri memeluk Zean dengan senyum bahagia.
"Hmm, Kak Sean dan Kak Zaen tidak dipeluk nihhh?". Kesal Zaen.
"Kakak juga terbaik". Fitri berhambur memeluk ketiga Kakak kembarnya itu.
Luna tersimpul melihat permandangan hangat didepannya itu. Tak bisa dipungkiri kehidupan Fitri memang menyenangkan dikelilingi oleh para pria yang menyanganginya. Luna, bahagia karena diberikan kesempatan untuk berteman dengan Fitri. Walaupun ada rasa bersalah tapi Luna berusaha berdamai dengan hatinya.
__ADS_1
Ditempat lain, seorang pria tengah duduk dikursi kebesarannya. Kaki nya ia taikkan diatas meja dan kaki yang satunya ia jadikan tumpuan. Tangan kanan nya terselip sebatang rokok yang ia hisap sedari tadi. Tatapannya tajam.
"Hmmm, aku tidak sabar menangkap gadis itu". Gumamnya sambil menyemburkan asap rokok itu keatas.
"Nial, retas semua perusahaan Ranlet Flint, Glorified dan Wilmar pastikan mereka bangkrut dalam satu malam". Suruhnya "Serang Markas Glorified sebelum senjata itu datang ke pelabuhan. Pastikan tidak ada yang tersisa dan buat Sean dan Fillipo menyerahkan gadis itu padaku". Ucapnya lagi sambil.
"Baik Tuan". Sang assisten berlalu pergi meninggalkan ruangan.
Pria itu meronggoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku sudah melakukan rencana. Kita akan menyerang Markas Glorified dan membuat perusahaan mereka bangkrut dalam satu malam". Ucapnya.
"Baik". Sahut suara diseberang sana "Tapi jangan sampai gadisku kau sakiti, kau ingat bulan dia berarti untukku. Jika secuil saja kulitnya tergores maka dipastikan kau akan jadi santapan hiu dilaut". Ancamnya.
"Hahha, baru saja aku berencana melenyapkan gadis itu kau sudah mengancamku". Kekeh nya "Baiklah aku tidak akan menyakitinya. Aku hanya ingin dia bekerja sama denganku". Timpalnya lagi.
"Aku tahu apa yang dipikiranmu, jangan macam-macam atau kau sendiri tahu akibatnya". Ancam suara itu lagi.
"Hmmm, Baklah!!! Cih, kau terlalu lebay". Geram pria itu.
"Itulah aku". Ia terkekeh "Kutunggu kabar darimu! Aku tidak bisa ikut bertarung untuk senjata itu, jadi sebisa mungkin kelabui pria-pria bodoh itu agar tidak tahu siapa dalang dibalik semuanya". Serunya
"Baiklah". Setelah lama berbincang ia menutup telponnya.
Pria itu menatap tajam kedepan, ia berdiri didekat jendela kantornya yang menampilkan penampakan indahnya kota malam.
Tatapannya kosong "Daddy". Lirihnya menatap kelangit malam, tanpa terasa air mata jatuh di pipi tampannya.
"Aku akan membalaskan dendamku Dad. Aku akan membunuh mereka semua". Ia mengepalkan
**Bersambung......
Yuk Ikuti terus...
GBU...
__ADS_1
LoveUall**....