Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 75


__ADS_3

Penyesalan terkadang datang diakhir masalah, ketika sesuatu yang dilakukan itu ternyata salah...


SELAMAT MEMBACA....


Dea, Luna dan Pearce tertawa puas


"Hahha, aku yakin Zean sudah bermain dengan gadis sialan itu!!". Tawa Dea pecah. Dokter cantik itu terlihat sangat bahagia saat berhasil menjebak gadis yang sudah lama ia benci.


"Cassanova seperti Zean tentu takkan menyia-nyiakan kesempatan emas ini". Timpal Luna


"Hmm, kira-kira berapa ronde". Sambung Pearce.


Mereka bertiga merayakan kemenangan mereka, tanpa tahu akibat apa yang terjadi nantinya


Dor dor dor dor dor.


Bunyi peluru menggema diseluruh Mansion keluarga Wilmar


"Apa yang terjadi???". Ucap Pearce berdiri dari duduknya


"Ayo, kita lihat". Ketiga gadis itu langsung keluar dari kamar


Mereka diam mematung, saat melihat darah bersimpahan dilantai. Para pelayan itu tak ada yang bernyawa, semua tergeletak dilantai. Darah mengalir dimana.


"S-siapa kalian?". Tanya Pearce terbata-bata.


Ketiga gadis itu saling memeluk sambil bertangisan. Tubuh mereka bergetar hebat, keringat bercucuran.


"Mari ikut kami Nona". Salah satu pria berbadan kekar menarik Pearce


"Tidak, lepaskan kami. Apa mau kalian?". Teriak Pearce ketakutan.


"Ikuti, perintah kami. Atau kami akan membunuh kalian". Tegas salah satu diantaranya.


"Jangan sentuh aku". Pekik Luna.


Plakkkkkkkk


Pria berbadan kekar itu menampar Luna.


"Sebelum saya melakukan lebih dari ini, lebih baik kalian ikuti perintah kami". Ucap pria itu.


"Bawa mereka". Beberapa pria berbadan kekar langsung menangkap ketiga gadis yang sudah ketakutan itu. Mereka mengikat, tangan mereka.


"Lepaskan". Teriak Dea. Tapi pria-pria itu tidak menggubris sama sekali. Mereka dengan kasar menarik ketiga gadis itu.


"Jalan". Perintahnya pada sang supir.


"Siapa kalian?". Tanya Dea penuh emosi.


"Kenapa kalian menangkap kami?". Lanjut Dea.


"Sebaiknya tutup mulutmu Nona, sebelum ku sumpal dengan kain ini!!". Ancam salah satunya.


Dea terdiam, air mata luruh begitu saja karena ketakutan.


"Kak, aku takut". Lirih Pearce.


"Tenanglah, Pearce mereka tidak akan melukai kita". Ucap Luna menenangkan adik sepupunya itu


Mereka dibawa kedalam jet pribadi. Entah kemana jet pribadi itu akan terbang. Ketakutan semakin terlihat jelas di mata ketiga gadis itu


Sementara ketiga wanita paruh baya juga sudah disekap disana. Mata mereka saling bertemu.


"Pearce". Lirih Piranda saat melihat wajah lembab putrinya.


"Mom". Gumam Pearce yang juga melihat Mommy nya ada didalam jet pribadi itu.


Mereka disekap disebuah ruangan yang cukup menyeramkan.


"Lepaskan kami". Pekik Diandra ketakutan melihat para pria berwajah seram itu.

__ADS_1


"Sebaiknya diam, jika kalian tidak bisa diam maka kami akan menyiksa kalian". Tekuk pria itu.


Mereka menangis karena ketakutan. Disekap dalam ruang gelap itu, dan entah akan dibawa kemana. Mereka bahkan tak mengenal siapa yang menyekap dan menculik mereka.


Hingga pesawat pribadi itu mendarat ditengah hutan. Sepertinya tempat tersebut memang sudah dibuat untuk bandara jet pribadi, karena tampak rapih dari rerumputan yang terpangkas.


"Cepat jalan". Para pria berbadan kekar itu menyeret mereka dengan kasar, hingga pergelangan tangan mereka memerah.


"Awwwww". Rintih Pearce kesakitan saat merasakan pergelangan tangannya dipegang kuat oleh lelaki itu


"Bisa pelan-pelan tidak?". Kesal Pearce.


"Jangan sampai saya pakai kekerasan". Bentak pria yang memegang lengan Pearce.


Mereka masuk kedalam gedung yang sangat besar itu. Markas dari Glorified King, yang terletak ditengah hutan sangat jauh dari daerah perkotaan, untuk menempuh jalan ini pun tidak mudah. Tidak sembarang mobil bisa masuk banyak tantangan yang harus dilewati. Selain jalan yang ekstrim beberapa jebakkan juga dipasang dijalan Markas ini.


Gedung besar terlihat mewah, tak terlihat bagai Markas, lebih mirip Mansion khas Eropa.


Brakkkkkkk


Para pria berbadan kekar itu melempar keenam wanita berbeda usia tersebut.


"Awwwww". Pekik Dea, Luna dan Pearce bersamaan.


"Jangan kasar seperti itu pada putriku". Teriak Mouth.


"Mom, Pearce". Panggil Fillipo saat melihat kedua wanita itu juga berada disana dan disekap. Wajah mereka terlihat lebam. Sepertinya mereka ditampar oleh pria-pria itu.


"Kak Fillipo". Lirih Pearce air mata mengalir di pipinya.


"Ayo cepat". Mereka kembali menyeret para wanita itu hingga mendekat kearah para lelaki yang tidak lain adalah suami dan Kakak mereka.


"Sayang". Panggil Philip pada istrinya.


"Dad". Gumam Piranda menatap sang suami. Wajah kedua paruh baya itu sudah luka-luka bahkan darah terlihat kering diwajah mereka.


"Dea, Mommy". Lirih Dhanny juga melihat kedua wanita itu. Ada rasa sakit yang tak tertahan


"Kak, tolong Luna". Gumam Luna air mata mengalir dipipi cantiknya.


"Semua akan baik-baik saja Luna??". Ucap Lucas berusaha menguatkan adiknya.


Sean menatap sekeliling mencari keberadaan Fitri. Tapi dia tidak melihat adiknya tersebut.


"Luna, dimana Shellena?". Tanya Sean.


Luna menunduk dan tidak tahu harus jawab apa, tatapan Sean seakan menghentikan peredaran darahnya.


"Jawab Luna!!!". Bentak Sean.


Namun Luna masih tak bergeming dia masih menunduk.


"Maaf Kak". Sahut Luna masih menunduk.


"Tenanglah Son, Shellena pasti baik-baik saja". Ucap Sam menenangkan putra nya.


Sean terdiam, kaki dan tangannya terikat. Sakit dipergelangan tangannya yang terkena tembakkan sudah tak dipedulikan pria tampan tersebut. Yang ada di pikirannya adalah Fitri sang adik


Begitu juga dengan Fillipo, pria yang satu ini bahkan tak fokus lagi pada adik, Mommy dan Daddy nya. Yang ada dipikirannya juga Fitri


"Pearce, jawab Kakak dimana Fitri?". Tanya Fillipo pelan, sambil sedikit berbisik pada Pearce.


Pearce terbata, tidak mungkin Pearce mengatakan bahwa mereka menjebak Fitri


"Aku tidak tahu Kak, dia keluar dengan seorang pria". Ucap cPearce berbohong. Pearce sengaja memfitnah Fitri supaya Kakak nya tidak lagi menyukai gadis sialan itu.


"Apa yang kau katakan benar Pearce?". Kali ini Piranda yang bertanya. Karena Piranda tahu seperti apa gadis yang disukai putranya itu.


"Tentu saja Mom". Sahut Pearce.


Prok prok prok

__ADS_1


Tepuk tangan dari Michael menggema didalam ruangan tersebut.


"Kita bertemu kembali". Senyum sinis Michael menatap mereka.


Tatapan Michael tertuju, pada Dea, Luna dan Pearce. Michael tersenyum smirk melihat ketiga gadis itu. Michael tahu bahwa ketiga gadis ini menjebak gadis kesayangan nya yaitu Fitri. Ya Michael belum menyerah untuk mendapatkan Fitri.


"Bawa ketiga gadis itu kesini!!!". Tunjuk nya pada Dea, Luna dan Pearce.


"Baik Tuan". Sahut anak buahnya.


Mereka pun diseret mendekat pada Michael. Michael menatap gadis-gadis itu, tatapan membunuh ia layangkan.


Michael menjongkok kan badannya, menyamakan tingginya dengan ketiga gadis yang sudah tersungkur dilantai itu.


Michael mencengkram rahang Dea dengan kasar "Apa yang kau lakukan pada gadisku?". Tanya Michael tajam


"Awwwww". Pekik Dea menahan sakit dirahang nya.


"Jangan berani-berani menyakiti adikku Michael". Teriak Dhanny.


"Hahahaha". Tawa Michael menggema.


Sementara Park hanya menonton apa yang dilakukan putranya. Pedrosa, ia menonton dibalik layar. Tak ingin terlalu ikut campur, meskipun ia ingin sekali melenyapkan Sam dan Philip, tapi semua takkan membuat yang hilang kembali.


"Kau tahu Dhanny, adikmu ini telah menjebak gadis kesayangan ku? Hmm, jadi aku tidak akan membiarkannya hidup begitu saja jika sampai terjadi sesuatu padanya!!!". Ucap Michael tajam.


"Apa maksudmu Mike?". Bentak Sean. Siapa yang dimaksud Michael gadis kesayangan nya


"Hmm, kau tidak tahu Sean! Jika adikmu dijebak oleh mereka". Tunjuk Michael pada ketiga gadis yang tersungkur dilantai itu sembari menunduk.


"Kau pasti berbohong". Elak Lucas. Tidak mungkin Luna menjebak Fitri. Apa motifnya menjebak gadis yang dia cintai??? Bukankah Luna tahu jika Fitri adalah cinta Lucas???


"Hahah, tanyakan saja pada wanita-wanita ****** ini". Ejek Michael


"Apa itu benar Luna, Dea, Pearce?". Tanya Sean matanya sudah memerah menahan amarah tangannya terkepal "Apa yang kalian lakukan pada Shellena?". Teriak Sean.


"Sean berhentilah berteriak! Aku akan membereskan ketiga gadis ini!!". Senyum smirk Michael.


Michael mengambil belati disaku jas nya.


"Jangan Mike". Teriak Fillipo "Jangan sakiti adikku". Lirih Fillipo. Fillipo tak sanggup melihat Pearce kesakitan.


"Diamlah Fillipo". Bentak Michael.


Srettt srettttt


"Arggghhhhh".


"Argrhhhh".


"Arggrrrhhh".


"Dea". Teriak Dhanny, Diandra dan Dion


"Pearce". Teriak Fillipo, Philip dan Piranda


"Luna". Pekik Lucas, Alexander dan Mouth.


"Hmmmm, ini adalah hukuman bagi kalian yang berani menyakiti gadisku". Michael menurihkan belati itu ke wajah tiga gadis itu.


"Percuma jika kalian cantik, tapi hati busuk". Lanjut Michael mengukir sayatan diwajah Luna.


"Argghhhh". Teriak Luna kesakitan.


"Hmmm, ini hanya hukuman kecil saja!! Jika sampai terjadi hal buruk pada gadisku, maka kalian akan ku jadikan santapan San". Ancam Michael.


"Hentikan Mike". Sentak Park.


"Aku tidak akan membunuh mereka Dad". Michael menggelap belatinya yang sudah dipenuhi dengan darah itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2