
SELAMAT MEMBACA....
Zevanya sampai dirumah sakit. Lama dia berdiri didepan gedung mewah itu. Langkah kakinya terasa berat untuk masuk. Sebenarnya dia belum berani untuk bertemu dokter. Tapi dia juga tahu jika lambat laun kondisinya takkan mampu bertahan jika tidak mengkomsumsi obat.
Zevanya menarik nafas panjang. Dia melangkahkan kakinya dengan paksa dan berusaha menguatkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Permisi dokter”. Senyum Zevanya.
Kenzie yang sedang asyik dengan berkas pasien ditangannya berjingkrak kaget ketika mendengar suara Zevanya.
“Hei”. Dia mencoba tersenyum. Meski hatinya dongkol karena gadis itu mengangetkan nya “Silahkan duduk Nona”. Senyumnya ramah.
“Terima kasih dokter baik”. Ucap Zevanya duduk dengan manis dikursi depan meja Kenzie.
Kenzie mencuri pandang kearah gadis ini. Tekad nya bulan untuk membawa gadis ini pergi dan membalaskan semua dendamnya pada Fillipo. Dia akan membuat Fillipo dan Sean merasa kehilangan dan sakit dari hilangnya sesuatu yang dimiliki.
“Bagaimana?”. Tanya Kenzie menatap Zevanya dengan senyum. Gadis ini terlihat begitu cantik dengan kaos kebesaran dan rambut dijempol asal.
“Dok, apa harus kemoterapi ya?”. Zevanya mengerutkan bibirnya “Maksudku, apakah ada pengobatan lain yang lebih canggih begitu?”. Timpal Zevanya lagi.
Kenzie menggelleng “Tidak ada Nona, hanya itu saja. Obat pun hanya untuk menghilangkan rasa sakit bukan untuk menyembuhkan”. Sahut Kenzie. Kenapa dia jadi merasa kasihan melihat gadis didepannya ini?
Zevanya menyenderkan punggungnya. Dia tampak berpikir keras. Kemoterapi memiliki efek yang cukup fatal, jika dia kemoterapi dia bisa saja namun itu akan membuat semua orang tahu kondisi tubuhnya. Dia tidak mau semua orang tahu jika selama ini dia sakit.
“Begini saja dok. Bagaimana untuk beberapa bulan ke depan, aku minum obat saja”. Pinta Zevanya menampilkan wajah puppy eyes nya.
“Menggemaskan”. Kenzie mengalihkan pandangannya takut terpesona dengan wajah menggemaskan gadis didepannya ini.
“Tapi itu percuma”. Sahut Kenzie berusaha menahan gugup.
“Setidaknya bisa membuat ku bertahan beberapa lama dok”. Lirih Zevanya. Entah kenapa suara lirihan Zevanya membuat hati Kenzie terasa sakit.
Kenzie menghela nafas berat “Baiklah”. Senyum Kenzie.
“Terima kasih dokter tampan”. Goda Zevanya mengedipkan matanya pada Kenzie. Mambuat dokter itu salah tingkah dengan gadis didepannya ini.
“Aku akan menuliskan resep obat untukmu. Minum secara teratur, jangan lupa makan sebelum diminum”. Pesan Kenzie memberikan selembar kertas dan beberapa butir obat pada Zevanya. Kenzie merasa baru kali ini ada pasien yang mengatur dokter, biasanya dokter lah yang mengatur pasien.
“Terima kasih dokter”. Zevanya mengambil obat itu dan memasukkannya dalam tas munggil.
__ADS_1
“Apa kau sudah makan siang dok. Sebagai ucapan terima kasihku padamu, aku ingin mentraktirmu?”. Tawar Zevanya.
Kenzie mengangguk “Boleh. Kebetulan aku belum makan siang”. Jawab Kenzie yang tak mau melewatkan kesempatan bersama gadis ini.
“Ayo”. Mereka berdua keluar dari ruangan Kenzie.
Mereka tampak serasi. Zevanya yang memang cantik dan menggemaskan sangat cocok dengan Kenzie yang mengenakan jas dokter ditambah dengan wajah tampan yang diselimuti dengan wajah dinginnya.
“Kita makan dimana?”. Tanya Kenzie.
“Dikantin rumah sakit saja”. Ucap Zevanya
“Baiklah”. Mereka menuju kantin rumah sakit.
Kedua nya menjadi pusat perhatian. Pertama kalinya pemilik rumah sakit ini mau makan siang dikantin. Selama puluhan tahun mendirikan rumah sakit ini, dan ini adalah pertama kalinya Kenzie mau menginjakkan kakinya dikantin rumah sakit miliknya.
“Kau pesan apa?”. Tanya Kenzie sambil membolak-balik buku menu.
“Sama kan saja dengan dokter”. Sahut Zevanya memainkan ponselnya.
“Baiklah”. Kenzie pun memesan makanan untuk mereka berdua.
“Panggil aku Zeva atau Zeze saja. Jangan Nona, kau bukan pembantuku”. Celetuk Zevanya.
Kenzie terkekeh “Baiklah. Kalau begitu kau jangan panggil aku dokter. Panggil saja Kenzie”. Ujar Kenzie juga.
“Aku panggil Kak Kenz saja ya biar lebih sopan dan akrab”. Senyum Zevanya.
“Terserah padamu saja”. Senyum Kenzie.
Para perawat dan dokter lainnya berbisik-bisik membicarakan kedua orang itu. Mereka penasaran siapa gadis yang sedang bersama pemilik rumah sakit itu? Selama ini mereka tak pernah melihat pemilik rumah sakit ini dekat dengan seorang gadis. Apalagi sampai seakrab itu.
Makanan mereka pun datang. Jika Kenzie sangat menikmati makanannya. Maka Zevanya hanya mengaduk-aduk makanan dalam piringnya dan belum satu suap pun masuk kedalam mulutnya.
“Ada apa?”. Kenzie menatap heran gadis disampingnya ini yang terlihat wajahnya sangat lesu namun justru terlihat begitu menggemaskan.
Zevanya menggeleng “Aku tidak biasa makan sendiri, biasanya selalu disuapin oleh Kak Hem, Kak Iel atau Daddy”. Sahut Zevanya lesu. Dia menekuk kedua wajahnya dimeja.
Kenzie tersenyum gemes “Apa kau mau aku suapi?”. Tawar Kenzie menatap lucu gadis disampingnya ini.
__ADS_1
“Apa tidak merepotkan kakak?”. Tanya Zevanya melihat Kenzie.
“Tentu saja tidak, sini aku suapi”. Kenzie menarik piring Zevanya. Gadis itu langsung berjingkrak senang.
“Terima kasih Kak Kenz”. Ucap Zevanya menyambut suapan Kenzie dengan gembira.
Selama makan Zevanya terus saja berceloteh dengan ucapan-ucapannya yang spontan. Membuat Kenzie tak tahan untuk tidak tertawa. Sebenarnya dia adalah orang yang pantang berbicara saat makan. Namun saat bersama gadis ini dia merasakan suasana yang berbeda. Zevanya seakan masuk kedalam kekosongan hatinya yang selama ini tak pernah terisi. Hidup sendirian dengan harta yang melimpah dan dalam kegelapan tentu bukan hal yang mudah bagi Kenzie. Dia ingin menemukan seseorang yang bisa menjadi orang penting dalam hidupnya.
Setelah makan keduanya segera meninggalkan kantin. Tentu saja tanpa dibayar, sebab kantin rumah sakit itu pun milik Kenzie. Dia sengaja membuat kantin khusus rumah sakit agar semua penghujung pasien tidak bayar dan memberikan mereka makan gratis.
“Kak terima kasih ya. Harusnya aku yang mentraktirmu. Tapi malah sebaliknya”. Zevanya terkekeh sendiri.
“Tidak apa-apa”. Sahut Kenzie.
“kalau begitu aku pamit ya Kak. Sekali lagi terima kasih traktirannya”. Senyum Zevanya.
“Iya hati-hati”. Balas Kenzie.
Zevanya menarik tangan Kenzie lalu mengecup punggung tangan pria itu.
“Terima kasih Kak”.
Kenzie mematung ditempatnya saat benda kenyal tak bertulang itu menempel dipunggung tangannya. Untuk pertama kali dalam hidup seseorang mencium tanganya. Ada rasa aneh yang menjalar dihati Kenzie.
Kenzie menatap punggung Zevanya yang menjauh. Tanpa sadar sudut bibir pria itu tertarik. Dia melambaikan tangan, namun tak dilihat oleh Zevanya yang masih terus berjalan menjauh.
‘Gadis unik”. Gumamnya sambil tersenyum membayangkan wajah Zevanya. Gadis yang membuatnya menghangat.
Kenzie masuk kembali kedalam ruangannnya. Dia langsung menyenderkan tubuhnya dikursi kebesaran miliknya. Bayangan Zevanya masih saja terngiang didalam pikirannya.
“Zevanya Anggela Wilmar”. Dia tersenyum mengingat wajah menggemskan gadis itu.
Kenzie meronggoh ponsel yang dia simpan disaku jas dokternya
“Ryan, segera kerumah sakit. Ada yang ingin aku perintahkan padamu”.
Bersambung.....
LoveUsomuch ❤️
__ADS_1