
SELAMAT MEMBACA....
Zevanya menghela nafas pelan. Hatinya tidak tenang sebelum bertemu Grace. Dia tidak mau punya munsuh. Grace adalah saudara dan sahabat baik bagi Zevanya.
“Kenapa Kak?”. Tanya Sherly. Dari tadi dia bingung melihat Kakak sepupunya itu yang seperti mencari sesuatu.
“Mencari Gege”. Sahut Zevanya singkat.
Kening Sherly mengkerut “Tadi aku lihat Kak Grace keluar”. Sahut Sherly “Memangnya kenapa Kak?”. Tanya Sherly menyelidik.
Zevanya menarik nafasnya pelan “Ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi ini”. Zevanya menunjukkan kotak kado ditangannya “Tapi dia tidak ada”. Timpal Zevanya lagi.
“Sudah, nanti saja kasih nya Kak. Ayo kita nikmati makanan dulu”. Sherly merangkul lengan Zevanya dengan manja.
“Lily duluan saja”. Tolak Zevanya. Dia tidak mood ingin makan.
Sherly berdecak “Kak, nama aku itu S-h-e-r-l-y bukan Lily”. Protes Sherly sambil mengeja namanya. Zevanya suka mengubah nama orang.
Zevanya terkekeh gemes “Sama saja kali”. Ucap Zevanya terkekeh. Dia suka melihat wajah cemberut adik sepupunya itu. Sherly jika protes sangat mirip dengan Paman Zaen-nya, menggemaskan.
“Ya, sudah Kak aku kesana dulu”. Pamit Sherly, tapi mulutnya masih komat-kamit karena kesal namanya diubah oleh Zevanya.
Myron keluar dari Mansion. Perasaan nya tiba-tiba tidak tenang. Dia segera merongkoh saku celananya.
“Homer”.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?”.
“Perketat penjagaan Mansion. Aku merasa ada yang mengintai”. Perintahnya
“Baik Tuan”. Sahut Homer diseberang sana.
Myron menghela nafas berat. Tiba-tiba saja perasaannya diliputi rasa panic dan khawatir. Dia sendiri tidak tahu. Feeling nya mengatakan akan terjadi sesuatu.
Mata Myron menatap Zevanya yang berjalan pelan keluar Mansion. Pria itu memperhatikan langkah gadis yang sangat dia kenal ingin keluar dari fagar Mansion.
Myron bergegas menghampiri Zevanya. Gadis itu tidak boleh keluar dari Mansion sendirian. Apalagi dimalam hari begini dalam keadaan suasana Mansion masih ramai, bisa saja munsuh memanfaatkan keadaaan.
Mata Myron membulat saat melihat pria berbaju hitam mengarahkan pistolnya kearah Zevanya. Dia berlari dengan cepat.
“Ze, awas”. Zevanya menoleh.
Dorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
__ADS_1
Brakkkkkkkkkkkkk
Myron langsung menangkap gadis itu dan mereka berdua jatuh ketanah dengan berguling-guling.
“Zeze”.
“Myron”.
Semua penghuni Mansion keluar saat mendengar suara tembakkan. Mereka berlari menghampiri kedua orang itu.
“Zeze”. Teriak Fillipo, Zehemia dan Zehekiel bersamaan.
“Kau tidak apa-apa?”. Tanya Myron pada Zevanya yang terdiam dalam pelukkannya. Gadis itu masih terlihat syok dan ketakutan. Wajahnya juga pucat pasih. Untung saja Myron cepat jika tidak sudah pasti Zevanya akan tertembak.
Zevanya menggeleng kepala. Myron bangkit dan membantu gadis itu bangun.
“Zeze”. Zehemia dan Zehekiel segera memeluk adiknya dengan perasaan cemas dan juga khawatir.
“Ada apa Myron?”. Tanya Zean juga tak kalah panic.
“Ada penyusup Paman. Dia hampir menembak Zeze”. Sahut Myron, tangan pria itu masih bergetar. Tak bisa dibohongi bahwa dia juga takut. Pantas saja perasaannya dari tadi panic.
“Johannes, Shawn, Luke, Grabielle. Kumpulkan anggota dan tangkap penyusup itu”. Perintah Myron.
“Sayang”. Fillipo memeluk putrinya dengan isak tangis dan ketakutan “Sayang”. Zevanya tak menjawab tatapan gadis itu kosong wajahnya juga sangat pucat.
“Zeze”. Zehemia dan Zehekiel juga ikutan panic melihat adiknya yang hanya terdiam saja, seperti orang yang stroke.
“Zeva”. Yang lain juga ikutan panic.
Sherly, Lucy dan Joanna memeluk Zevanya juga. Kenapa gadis itu tiba-tiba terdiam?
“Va”. Zoalva maju selangkah dia menyingkirkan ketiga gadis yang masih memeluk gadis kecilnya itu “Va”. Zoalva mengoyangkan bahu Zevanya dengan panic “Va, jawab aku jangan hanya diam saja”. Ucap Zoalva panic.
Zevanya menatap Zoalva dengan kosong, sebelum akhirnya terjatuh pingsan dalam pelukkan Zoalva.
“Sayang”.
“Zeze”.
“Zeva”.
Semau berteriak memanggil nama gadis yang tiba-tiba terjatuh pingsan itu. Myron merebut Zevanya dalam pelukkan Zoalva, dia tidak peduli dengan tatapan aneh orang lain. Bahkan dia tak peduli jika Zoalva mengumpatnya dengan kesal. Dia panic bukan main.
__ADS_1
“Dean, cepat periksa Zevanya”. Tegas Zehemia juga panic bukan main.
“Amankan Mansion. Bubarkan semua acara”. Perintah Zaen yang juga sangat panic.
“Temukan penyusup itu”. Perintah Fillipo pada mereka.
“Baik”.
Myron membawa Zevanya kekamarnya diikuti oleh Zehemia, Zehekiel, Fillipo dan Dean. Sedangkan yang lain nya membereskan kekecauannya.
“Dean, cepat periksa Zevanya”. Perintah Fillipo mengenggam tangan putrinya.
“Baik Paman”. Sahut Dean. Dia memeriksa Zevanya dengan telaten. Dean juga ikutan panic apalagi tadi Zevanya hampir tertembak.
“Zehem, Kiel. Kita ke Markas. Biarkan Paman dan Dean yang menjaga Zevanya”. Perintah Myron.
“Tapi Kak…….”.
“Pergilah Son. Biar Daddy yang menjaga adikmu. Selidiki siapa yang berani-berani melukai adik kalian. Temukan dia. Potong jari tangannya, jangan biarkan dia bernafas dengan tenang”. Tintah Fillipo, jiwa Mafianya kembali lagi.
“Baik Dad”. Meskipun berat akhirnya kedua pria kembar itu mau juga mengikuti perintah Ayahnya.
Myron, Zehemia dan Zehekiel menyusul Johannes, Shawn, Luke dan Grabielle ke Markas. Mereka akan mencari siapa yang sudah berani menyerang Mansion Ranlet Flint. Tentu itu bukan orang sembarangan karena tidak ada yang berani dengan keluarga yang paling disegani didunia itu.
Sedangkan Dean, masih memeriksa Zevanya. Fillipo menemani putrinya sambil mengenggam tangan gadis itu yang terasa dingin. Dia sangat takut jika hal buruk terjadi pada Zevanya. Semua itu mengingatkannya pada istrinya dulu.
“Bagaimana Dean?”. Tanya Fillipo pada keponakkannya itu.
“Dia syok Paman. Zeva juga demam tinggi. Aku sudah memberikan antibiotic padanya. Biarkan saja dia istirahat Paman”. Sahut Dean membereskan alat medisnya. Untung saja alat medis nya itu selalu tersedia dimobil dan dibawa kemana pun dia pergi.
“Baik”. Ucap Fillipo. Dia menatap putrinya dengan sendu. Rasa takutnya selalu hilang jika melihat wajah polos Zevanya.
Dean mengelus kepala Zevanya dengan sayang. Tadi dia hampir jantungan saat mendengar suara pistol yang begitu memekik. Meski sudah biasa dengan senjata api. Namun tetap saja dia takut, apalagi itu akan menyakiti orang yang dia sayang.
“Paman, aku izin keluar”. Ucap Dean berdiri.
“Iya Dean. Terima kasih”. Fillipo memaksakan senyum
Dean keluar dari kamar Zevanya. Setidaknya dia merasa sedikit tenang. Namun, dia merasa ada yang aneh ditubuh Zevanya. Kenapa gadis itu bisa sampi syok begitu? Sampai demam lagi? Suhu tubuh Zevanya juga sangat panas. Sedangkan tangannya terasa dingin. Dean merasa ada yang tidak beres dengan tubuh sepupunya itu. Dean takut jika ada penyakit lain yang dihindap oleh sepupunya itu. Namun Dean tetap berpikir positif, dia yakin jika Zevanya hanya syok dan kelelahan karena mengikuti acara yang cukup lama.
**Bersambung.......
LoveUsomuch ❤️**
__ADS_1