Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 154.


__ADS_3

Sadar atau tidak, jatuh cinta tidak bisa memilih pada siapapun. Ia akan berlabuh pada hati yang tepat. Banyak diantara nya yang menyangkal, padahal berbohong hanya akan menyakiti perasaan nya.


SELAMAT MEMBACA.....


"Awwwwww". Pearce terduduk saat merasakan pergelangan kakinya sakit "Kenapa bisa patah?". Kesal Pearce sambil melepaskan high heelsnya yang sudah patah.


Kakinya keseleo, sehingga sedikit tergores dan itu terasa perih.


Pearce mencoba berdiri "Awwww, kenapa sakit sekali?". Gerutu Pearce.


Gleeeppppppppp


Pearce hampir jantungan saat merasa tubuhnya melayang, bahkan Pearce menutup matanya. Merasakan tidak jatuh, Pearce memberanikan diri membuka mata.


"Kak Dhanny". Gumam Pearce yang tanpa sadar sudah berada dalam gendongan Dhanny. Tangan Pearce juga melingkar dileher Dhanny


Dhanny mengendong Pearce dengan wajah datar tanpa ekspresi, dia membawa Pearce duduk dibangku depan hotel.


"Tunggu sebentar". Dhanny berlalu meninggalkan Pearce yang masih menatapnya dengan heran.


"Ada apa dengan jantungku?". Pearce memegang dadanya


Tidak lama kemudian Dhanny kembali dengan membawa kotak obat ditangannya.


Tangan Dhanny dengan telaten mengobati kaki Pearce "Awwwwww". Pekik Pearce menahan perih.


"Tahan ini tidak lama". Ucap Dhanny masih serius mengobati kaki Pearce. Pearce sempat menolak, tapi tatapan Dhanny seakan mampu membekukan otaknya.


"Sudah, sebentar lagi perihnya hilang". Dhanny memasukkan kembali obat-obat itu kedalam kotaknya.


"Darimana? Kenapa sendirian? Apa kau tahu ini bahaya untukmu?". Cecar Dhanny dengan nada kesalnya.


Pearce menelan salivanya kasar. Kenapa pria didepannya ini terlihat kahwatir?


"Aku menghadiri pesta temanku Kak". Jawab Pearce mengigit bibir bawahnya.


"Lain kali jangan suka keluar sendirian malam-malam, dan jangan memakai pakaian seperti ini". Tegur Dhanny. Dhanny membuka jas Dokter yang dia kenakan, lalu menutup tubuh Pearce yang bajunya terlihat transparan.


Pearce tercenggang dan mematung sesaat ketika Dhanny memasangkan jas itu ke tubuhnya.


Pearce memeluk erat jas Dhanny yang menempel ditubuhnya, rasanya Pearce menjadi canggung.

__ADS_1


"Terima kasih Kak". Ucap Pearce gugup.


Dhanny hanya terdiam menikmati udara dingin yang membuat tubuh keduanya serasa dingin dan bersuhu tinggi. Untung saja tidak dalam musim salju, mereka tidak perlu repot memakai mantel yang tebal.


"Kak Dhanny sedang apa disini?". Tanya Pearce hati-hati.


"Melihatmu hampir terjatuh, aku langsung turun dari mobil. Tadi aku sedang menemui temanku disini". Jawab Dhanny tersenyum kearah Pearce.


Pearce tertegun melihat senyum Dhanny, senyum yang tak pernah Pearce sadari. Selama ini Dhanny tidak pernah tersebut, kecuali bersama Fitri. Namun, saat ini Pearce bisa melihat senyum Dhanny yang terlihat begitu tulus.


Jantung Pearce berdegup kencang, dia berusaha menormalkan detak jantungnya. Takut Dhanny menyadarinya bisa mati kutu dirinya.


"Apa yang kau lakukan disini?". Tanya Dhanny.


"Menghadiri pesta ulang tahun temanku". Senyum Pearce canggung.


Dhanny mengacak rambut Pearce dengan gemes nya.


"Kak Dhanny". Pekik Pearce kesal.


"Hahaha". Tawa Dhanny. Sejenak Dhanny terdiam, dia teringat Fitri karena dia sangat suka mengacak rambut gadis yang pernah ia cintai itu. Sampai sekarang pun masih, tapi Dhanny tak mau memaksakan cinta yang tidak tertakdir untuknya. Bukankah cinta tidak harus memiliki?


"Kak Dhanny". Panggil Pearce.


"Apa Kakak sudah melupakan perasaan Kakak pada Kakak Ipar?". Tanya Pearce memberanikan diri. Jujur saja Pearce penasaran tentang perasaan Dhanny pada Fitri.


Dhanny menghela nafas berat "Perasaan itu masih tetap ada Pearce. Tapi aku berusaha menghilangkan nya, bagaimana pun tidak akan dengan mudah melupakan seseorang yang kita cintai, apalagi orang itu selalu berada didekat kita". Dhanny menarik nafas "Tapi aku tidak mau egois, bagiku kebahagiaan Fitri adalah segalanya. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya, jadi aku tidak mau lagi membuatnya semakin terluka karena keegoisan ku. Terkadang, cinta tidak harus memiliki, jika melepas jauh lebih baik lantas kenapa harus mempertahankan perasaan yang takkan terbalas?". Jelas Dhanny panjang kali lebar kali tinggi, sama dengan keliling, hehehe.


Pearce melihat kearah Dhanny. Dia tahu pria disamping nya ini berusaha menutupi semua perasaan nya.


"Pearce".


"Iya Kak".


Dhanny menghadap kearah Pearce, tatapan pria tampan itu terlihat sendu.


"Apa aku bisa meminta bantuanmu?". Pinta Dhanny penuh harap, kedua tangannya memegang tangan Pearce. Membuat jantung Pearce kembali berpacu.


"Apa Kak?".


"Bantu aku melupakan Fitri". Ucap Dhanny. Pearce mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


"Maksud Kakak?". Tanya Pearce tak mengerti dengan ucapan Dhanny.


"Aku ingin kau membantuku, untuk melupakan Fitri". Pinta Dhanny.


"Maksud Kakak?". Pearce masih tak mengerti.


"Menikahlah denganku". Sontak ucapan Dhanny membuat mata Pearce membulat sempurna. Apa menikah? Yang benar saja.


"Menikah?". Ulang Pearce memastikan.


"Iya menikah". Sahut Dhanny mantap "Aku ingin menikahimu, ini bukan sebagai pelampiasan, aku hanya ingin kau menjadi orang yang bisa membuatku bangkit dari patah hati ini". Dhany menghela nafas "Aku tahu kita tidak saling mencintai satu sama lain, tapi bukankah cinta bisa tumbuh seiring banyaknya waktu kebersamaan? Aku yakin suatu saat nanti aku bisa mencintaimu dan kau bisa mencintaiku. kita bisa belajar saling mencintai". Jelas Dhanny penuh harap sambil menggenggam tangan Pearce.


Pearce terdiam dan belum sadar dengan keterkejutan nya.


"Pearce".


"Kak aku....".


"Aku mohon Pearce, bantu aku". Lirih Dhanny sedikit memaksa.


"Tapi aku sudah....".


"Aku tidak peduli masa lalumu Pearce". Potong Dhanny.


Pearce menatap wajah Dhanny, mencoba mencari kebohongan tapi Pearce justru menemukan ketulusan dan keseriusan disana.


"Ajari cara mencintai Kak. Aku akan berusaha mencintaimu dan kita sama-sama belajar mencintai". Senyum Pearce.


Mendengar ucapan Pearce Dhanny langsung memeluk wanita itu. Entah lah keputusan Dhanny untuk menjadikan Pearce pasangan hidupnya tak pernah terpikir dibenak Dhanny, dia sama sekali tidak merasakan getaran pada wanita yang ada dalam pelukkannya ini. Namun Dhanny akan berusaha membuka hatinya untuk Pearce menerima dan mencintai wanita ini.


Pearce masih tak menyangka rasanya seperti bermimpi, dilamar langsung oleh seorang Dokter tampan. Sialnya lagi Dokter itu adalah Kaka dari sahabat nya dan orang yang pernah tergila-gila dengan Calon Kakak Iparnya. Namun Pearce yakin dia dan Dhanny bisa saling mencintai.


Dhanny memegang wajah Pearce, lalu mencium bibir seksi milik Pearce. Bibir ranum yang begitu menggoda. Pearce memejamkan matanya menikmati ciuman Dhanny, meski bukan pertama kalinya dia berciuman namun kali ini terasa berbeda.


Disebuah Apartement, tampak seorang pria tengah duduk dibalkon kamarnya. Tangan kanannya terselip sebatang rokok diantara kedua jarinya.


Dia adalah Arthur Amstrong, seorang pria berusia 33 tahun. Dia hidup sebatang kara, satu-satunya saudara dan sahabat yang dia miliki adalah Mars.


Ditangannya terdapat sebuah foto "Seandainya kau tidak menghianatiku, mungkin kita sekarang sudah bersama. Namun sayang cintamu hanya sebatas harta". Arthur memejamkan matanya.


Pria yang satu ini memutuskan untuk tidak menikah dan akan mengabdikan hidup nya untuk menjalan perusahaan De Wilson Corp, milik Mars yang ada di Korea Utara.

__ADS_1


Arthur juga memilih pensiun dari dunia Mafia. Dia sudah lelah bekerja didunia gelap tersebut. Dia akan memulai hidup yang baru disana.


Bersambung........


__ADS_2