Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 40


__ADS_3

“ *Shellena, kumohon jagalah dia. Dia akan tumbuh menjadi gadis yang jenius dan keras kepala. Kuharap saat dia dewasa nanti kau tidak akan menyakitinya ketika dia membantah semua perintahmu”. Ucap Rachel lagi.


“ Aku bahagia bisa melahirkan dua malaikat kecil kita, setidaknya ada mereka yang akan menemani hari tuamu”. Tandas Rachel air mata sudah mengalir dipipi cantiknya. Sean yang melihat Mommy nya menangis dengan reflek menghapus air mata Mommy nya tanpa tahu apa yang Mommy nya tangisi


“ Mommy kenapa?”. Tanya Sean polos sambil menurunkan tangan munggilnya diwajah Rachel


“ Sean boleh Mommy minta sesuatu padamu?”. Pinta Rachel dengan senyum yang manis


“ Tentu saja! Katakanlah Mommy apa yang ingin kau minta pada Sean?”. Ucap Sean antusias dengan penuh semangat.


“ Mommy titip Daddy dan Shellena sama Sean. Jaga adikku dengan baik, dan kau tidak boleh membiarkan air mata jatuh dipipinya yang manis itu”. Senyum Rachel mengusap lembut kepala putranya.


“ Tentu Mommy, aku akan menjaganya. Aku juga akan menjaga kalian semua dan keluarga kecil kita”. Senyum Sean. Sam tidak bisa membendung air matanya. Sean begitu polos dan tidak tahu apa-apa, dia hanya terlalu merasa bahagia dengan kehadiran adiknya.


Rachel mengendong Shellena dan mencium wajah imut putrinya itu, air mata lolos begitu saja seandainya Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup pastilah dia akan merasa sangat bahagia bisa merawat bayi munggil itu. Rachel meletakkan Shellena diatas dadanya memeluk bayi munggil itu sebagai pelukkan perpisahan.


“ Sam, bisakah kalian memelukku. Aku sudah sangat merasa lelah”. Tandas Rachel menahan nafasnya.


“ Sean, ayo peluk Mommy sayang”. Pinta Rachel merangkul Sean dalam pelukkanya. Sean juga memeluk Rachel dengan penuh tanda tanya, ada apa sebenarnya? Begitulah pikiran Sean kecil


“ Rachel, kumohon bertahan lah”. Tangis Sam memeluk tubuh istrinya. Namun tak terdengar lagi suara, hening tak ada jawaban. Sam memegang lengan Rachel memeriksa pergelangan tangannya dan nadinya sudah berhenti berdenyut.


“ Rachel”. Lirih Sam mengeratkan pelukkannya


“ Dad, apa yang terjadi pada Mommy?”. Tanya Sean yang heran melihat Rachel memejamkan mata

__ADS_1


“ Mommy sudah pergi untuk selamanya Sean”. Jawab Sam lirih


“ Tidak Daddy pasti bohong”. Ucap Sean


“ Mommy”. Teriak Sean sambil menangis memeluk Rachel yang sudah tak bernyawa. Tangisan lirih didalam ruangan rawat inap Rachel.


“ Hoek hoek hoek”. Tangis Shellena kecil saat mendengar teriakkan Sean. Gadis munggil yang tadinya tertidur pulas pun terbangun kala mendengar suara keras yang menghantam telinganya. Sean mengambil Shellena yang masih dalam pelukkan Rachel. Dia menatap wajah adiknya itu, air mata sudah membanjiri pipinya. Dia mencium wajah Shellena dengan penuh kasih sayang.


“ Kakak janji akan menjaga Shellena dan Daddy. Shellena kakak sayang Shellena”. Lirih Sean memeluk bayi munggilnya itu.


“ Rachel”. Lirih Sam yang benar-benar terluka menatap wajah pucat istrinya yang sudah tak bernyawa. Sam mengambil Shellena dalam pelukkan Sean.


“ Hai sayang. Maafkan Daddy karena tidak bisa membuatmu melihat wajah Mommy lebih lama. Daddy janji akan merawat dan membesarkanmu bersama Kak Sean”. Ucap Sam diiringi air mata yang sudah mengalir sejak tadi. Sean masih menangis dengan isaknya. Meskipun Sean masih kecil tapi dia sudah paham tentang kematian dan dia sangat terpukul.


Para dokter dan perawat yang melihat adengan itu terharu dan juga turut merasakan kesedihan melihat keluarga yang terkenal harmonis dan selalu damai, begitu patah saat kehilangan orang yang mereka cintai. Sam yang terkenal dingin dan tegas tampak raut wajahnya penuh kesedihan, wajah dingin itu kini tampil seperti tak punya nyawa.


“ Hai, Cece nya Kak Sean, ganti popok dulu yahhhhh”. Celoteh Sean sambil tersenyum bahagia menganti popok adiknya dengan semangat, Sean sudah terbiasa menganti popok adiknya jadi dia tidak canggung dan bingung lagi, meski pertama kali belajar sering beberapa kali salah. Sam tersenyum melihat kebahagiaan diwajah putra kecil itu, Sean walaupun masih kecil tapi sudah mampu berpikir dewasa dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Sam belajar ketegaran dari kedua buah hatinya tersebut, dia juga tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan.


“ Terima kasih Son”. Sam mengusap kepala Sean kecil saat selesai menganti popok adiknya. Sean hanya tersenyum dan mengangguk.


“ Tuan…..”. Panggil Liam assisten Sam


“ Ada apa Liam?”. Tanya Sam yang melihat Liam berlari ngos-ngosan


“ Tuan, ada kelompok Mafia yang menyerang mansion. Mereka membunuh semua pengawal dan memaksa anda untuk keluar”. Jelas Liam dengan tangan bergetar. Liam juga terluka dibagian kakinya akibat luka tembakan dari para munsuhnya.

__ADS_1


“ Apa yang terjadi?”. Tanya Sam


“ Mereka tidak terima anda menolak kerja sama dengan mereka tentang pembuatan senjata api Tuan”. Jelas Liam.


Sam ketakutan dan khawatir. Yang dia khawatirkan adalah kedua buah hatinya bagaiman jika mereka mencelakai Sean dan Shellena.


“ Apa yang terjadi Daddy?”. Tanya Sean menghampiri Daddy nya. Sam menatap Sean, dia memikirkan sesuatu.


“ Sean dengarkan Daddy baik-baik. Kita diserang oleh beberapa kelompok Mafia dan mereka sudah membunuh beberapa pengawal yang menjaga mansion ini. Kita dalam bahaya. Bawalah Shellena ke Korea dengan Paman Adam, jaga adikmu”. Tandas Sam memegang kedua bahu Sean


“ Tidak Daddy, bagaimana denganmu?”. Tanya Sean dengan mata berkaca-kaca.


“ Pergilah Son!!! Setelah Daddy menyelesaikan semua nya. Daddy akan datang menjemputmu dan Shellena. Kau bawa adikmu ke rumah Kakek dan Nenek disana”. Ucap Sam. Sean tidak mengerti dia hanya menangis dan merasakan ketakutan


“ Daddy, aku takut terjadi sesuatu padamu”. Tangis Sean


Sam menjongkokkan badannya dan menyamakan tinggi badannya dengan Sean.


“ Daddy baik-baik saja Son. Cepatlah sebentar lagi Paman Adam akan menjemputmu dibalkon”. Sam mengusap lembut kepala putranya dan berusaha menenangkan putranya itu, memberi keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.


Setelah lama berdebat dan menyakinkan Sean, akhirnya Sean mengikuti semua perkataan Sam. Mereka berangkat ke Korea menggunakan Jet pribadi keluarga Ranlet Flint. Meskipun dengan hati berat Sam ikhlas melepas kedua buah hatinya agar mereka selamat. Sam berjanji akan menjemput mereka agar mereka kembali lagi bersama.


Sean sampai ke Korea dan dia langsung menuju rumah Kakek dan Neneknya dari Rachel. Sean masih setia mengendong Shellena dengan diikuti oleh Adam yang memang ditugaskan oleh Sam menjaga kedua buah hatinya. Namun kenyataan pahit harus Sean telan, ternyata Kakek dan Neneknya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu akibat sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua nya.


“ Tidak mungkin”. Tangis Sean pecah sambil mengendong Shellena.

__ADS_1


“ Tuan kecil harus ikhlas”. Ucap Adam yang merasakan kesedihan Sean. Begitu banyak masalah yang dihadapi oleh Tuan kecilnya itu. Setelah kehilangan Mommy tercinta Sean harus mengambil alih untuk menjaga adiknya ketika Sam harus berjuang melawan kelompok Mafia itu dan sekarang Sean harus menerima kenyataan bahwa Kakek dan Neneknya pun kini sudah berpulang menyusul Mommy nya.


Bersambung*....


__ADS_2