
Kebencian hanya akan menumbuhkan luka. Kebencian hanya akan merepotkan jiwa. Sebab kebencian akan berkunjung celaka
Karena itu buanglah segala kebencian yang memenuhi dada
Jika tak ingin hidup dalam gelap yang ada.
SELAMAT MEMBACA.....
Dilain tempat, seorang pria duduk dibangku kebesaraan. Tangannya menyesap rokok dan mengembuskan asap rokok itu hingga membentuk sebuah gumpalan.
"Bagaimana?". Tanyanya pada sang asisten yang sedari tadi menemaninya.
"Tuan Besar menyuruh anda kembali ke New York Tuan". Ucap sang Assisten "Karena Tuan Park dan Tuan Michael sudah dibebaskan". Lanjut sang Assisten.
"Baik, kita akan berangkat besok! Siapkan jet pribadi". Suruh nya
"Baik Tuan". Sahut sang assisten.
"Bagaimana dengan senjata itu Wil? Apa Daddy sudah berhasil membujuk gadis jenius itu untuk bekerja sama?". Tanya lagi sembari menyesap wine dalam gelasnya.
"Tuan Besar, mengatakan gadis itu kerja samanya Tuan". Sahut sang Assisten yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang Tuan Muda.
"Bagaimana bisa gadis itu menolak???". Tanyanya mengepalkan kedua tangannya.
"Saya juga tidak tahu Tuan. Sepertinya gadis ini bukan gadis sembarangan, bahkan Tuan Besar sudah mengajukan imbalan yang tidak sedikit, tapi gadis ini tetap menolak!". Sahut sang Asisten yang bernama Willy itu.
"Apa kau tahu siapa gadis itu?". Tanyanya lagi.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu! Saya sudah mencari identitas gadis itu tapi sepertinya memang sengaja disembunyikan oleh seseorang". Sahut Willy.
Pria itu menyenderkan punggungnya, memejamkan matanya berusaha mencari ide agar ia bisa meluncurkan senjata baru.
"Lalu bagaimana dengan senjata yang baru kita pesan???". Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Minggu depan senjata itu akan dikirim Tuan!". Sahut Willy "Tapi Mereka meminta Tuan sendiri yang mengambilnya". Lanjut Willy.
"Baiklah, siapkan semuanya". Sahutnya dingin.
"Maaf Tuan, ini ada telpon dari seseorang". Willy menyerahkan ponsel Tuannya.
"Baik!! kau boleh kekuar". Ia mengambil ponsel itu.
"Ada apa?". Suara nya dingin saat menyambut telpon itu.
"Hahah, tidak perlu sedingin itu Zean. Bagaimana kabarmu?". Tanya suara diseberang sana.
"Aku tidak perlu basa-basimu, cepat katakan ada perlu apa kau menelpon ku?". Tanyanya to the point, tatapannya tajam mengarah kedepan.
"Kau tidak berubah sayang?". Goda suara diseberang sana "Aku hanya ingin menawarkan seorang gadis perawan padamu! Jika kau tertarik aku akan segera mengirim gambarnya". Tawar suara itu.
"Cih, kau pikir aku percaya. Mana ada gadis perawan zaman sekarang?". Ledek Zean.
__ADS_1
"Hahha, apa pantas cassanova sepertimu, menginginkan perawan?". Cibir suara itu "Kau bahkan sudah berulang kali membuatku mendesah dibawahmu". Ucap wanita itu dengan bahasa vulgarnya.
"Dasar ******". Sindir Zean.
"Baiklah, aku akan kirimkan foto gadis ini. Besok temui dia di Hotel Webren City. Dia sedang membutuhkan uang. Percayalah padaku dia masih tersegel". Ucap perempuan.
"Baik". Zean memutuskan sambungan itu sepihak.
Ting
Notifikasi ponsel Zean berbunyi. Segera Zean membuka pesan yang baru saja dikirim. Zean penasaran dengan gadis perawan yang dimaksud mantan teman ranjangnya itu.
"Cantik". Satu kata keluar dari bibir Zean. Zean menarik bibirnya dan tersenyum.
"Apakah benar dia masih tersegel?". Gumam Zean lagi sembari menatap wajah cantik gadis yang terdapat dalam foto itu.
"Hidung mancung, bulu mata lentik, alis tebal tanpa pensil alis dan bibir yang seksi". Senyum Zean tanpa sadar "Sepertinya dia gadis baik-baik". Lanjut Zean
"Baiklah, gadis kecil kau akan menjadi milikku". Zean mematikan ponselnya dan melanjutkan untuk menyesap rokoknya.
"Willy, keruanganku sebentar". Panggilnya dengan intercom
"Baik Tuan". Sahut Willy.
Tidak lama kemudian Willy masuk kedalam ruangan Zean.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Tanya Willy sopan.
"Persiapkan kencanku besok dengan seorajg gadis di Hotel Webren City. Pastikan tidak ada yang menganggu kencanku ini. Jika sampai gagal maka kepala ku akan ku jadikan santapan Si San". Ancamnya.
"Tuan, akan berkencan dengan siapa?". Gumam Willy sembari menuju mejanya.
"Apa Tuan punya kekasih? Apa Tuan sudah tobat menjadi sang Cassanova? Bukankah Tuan sudah bersumpah tidak akan jatuh cinta?". Berbagai pertanyaan timbul dibenak sang assiten itu.
"Ahh sudahlah bukan urusanku, aku harus segera melakukan perintah Tuan!! Jika gagal aku bisa jadi santapan Si San!!". Willy bergidik ngeri saat menyebut nama San, ular piton peliharaan Zean.
Malam pun tiba. Dea, Luna dan Pearce mulai melanjutkan rencananya. Setelah kepergian Mouth, Diandra dan Piranda tentu semua juga atas rencana mereka.
"Saatnya kita beraksi". Senyum sumringgah diwajah Dea.
"Ayo kita kekamarnya!!!". Ajak Pearce.
Ketiga gadis cantik itu menuju kamar Fitri. Mereka memasang wajah ceria karena tidak mau membuat Fitri curiga.
Tok tok tok
Dea mengetuk pintu kamar Fitri.
"Masuk". Teriak suara didalam kamar.
Cekreekkkk
__ADS_1
Pintu terbuka. Ketiga wanita itu tersenyum kearah gadis yang duduk diatas kasur king size itu sambil bersandar didinding ranjang dengan laptop diatas pangkuannya.
"Fitri". Senyum Dea masuk.
"Ehh, Dea, Luna, Pearce. Masuk saja". Sambut Fitri, ia segera meletakkan laptop dipangkuan nya.
"Hmmm, kau sedang apa?". Tanya Luna lembut sembari duduk disamping Fitri.
"Tidak sedang apa-apa, hanya bermain game". Balas Fitri sambil tersenyum manis kearah tiga gadis itu tanpa menaruh rasa curiga.
"Hmmm, begini Kakak Ipar! Tadi Kak Sean dan Paman Sam menelponku, dia menyuruh Kakak Ipar untuk menemuinya di Hotel Webren City, katanya ada pesta kolega bisnisnya". Ucap Pearce dengan mimik wajah serius.
"Benarkah? Bukannya Kak Sean dan Daddy sedang ada perjalanan bisnis ke Amerika?". Tanya Fitri tak percaya.
"Hmm, iya memang Fit. Tapi sudah kembali dan mereka ingin kau menemuinya dihotel, sekalian kalian kembali ke Amerika". Sambung Dea berusaha menyakinkan
Fitri tampak berpikir "Kenapa Kak Sean tidak menghubungiku saja?". Gumam Fitri tapi masih didengar oleh Dea, Luna dan Pearce.
"Hmm, begitu Fitri, mungkin Kak Sean ingin memberimu kejutan makanya Kak Sean tidak memberitahumu". Jelas Luna tersenyum, tanpa Fitri sadari itu hanyalah senyum licik.
"Baiklah, apa kalian akan ikut?". Tanya Fitri.
"Tidak". Sahut Dea cepat "Maksudku, ini adalah acara bisnis Kakakmu dan dia tidak mengajak kami". Seru Dea berusaha menyakinkan.
"Baiklah, aku akan pergi". Ucap Fitri "Kapan acaranya?". Tanya Fitri lagi.
"Sekarang". Sahut Dea senang dengan wajah bahagianya.
"Baiklah aku akan siap-siap". Fitri turun dari ranjangnya.
"Fitri, ini gaun untukmu. Ini dari Kak Sean". Ucap Luna memberikan paper bag, gaun yang mereka beli di Mall siang tadi.
"Benarkah?". Fitri mengambil paper bag itu "Kak Sean memang the best". Senyum Fitri sambil membuka paper bag itu.
"Astaga, gaunnya cantik sekali". Sambil Fitri membalik-balik gaun itu "Aku baru sadar, jika Kakakku kaya. Pasti gaun ini sangat mahal". Ucap Fitri cekikikan dengan perkataannya.
Sementara Dea, Luna dan Pearce ikut tersenyum tentunya dengan senyum licik.
"Biar, aku bantu Kakak Ipar". Tawar Pearce.
"Boleh". Ucap Fitri.
"Gantilah bajumu, kami akan mendandanimu, kau harus cantik biar Kak Sean senang". Ucap Luna.
"Terima kasih Luna". Senyum Fitri.
Fitri pun Menganti piyama tidurnya dengan gaun mewah yang harganya selangit itu. Gaun berwarna putih dengan panjang sampai ke mata kaki, dibagian pinggang nya dilapisi dengan aksesoris terbuat dari mutiara asli, belahan kakinya sampai lutut, dengan lengan sampai bahu dan mengekspos bahu putih milik Fitri. Bagian dadanya menutupi leher. Mereka bertiga sengaja memilih gaun yang tidak seksi, karena Dea tahu selera Fitri yang suka memakai gaun seksi. Jika mereka membeli gaun seksi tentu Fitri akan menolak perintah mereka.
**Bersambung....
Hayo yang penasaran siapa Zean?
__ADS_1
Ikuti terus guys.
LoveUall**.....