Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 141.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


"Boleh 'kan aku memanggilmu Kakak? ehh aku lupa kalau aku tawan......".


"Umppppptttttt". Belum selesai Fitri berbicara Mars sudah menyumpal mulut Fitri dengan tangannya, takut sang Ibu tahu jika Fitri adalah tawanan yang dia culik.


Fitri memberontak tapi Mars malah terus menutup mulut Fitri dengan tangannya "Boleh donk sayang Kakak". Seru Mars dengan penekanan saat melihat sorot mata Ibunya. Mars mengedipkan mata kearah Fitri, untung saja Fitri memang peka jadi paham apa yang dimaksud Mars.


"Heheh iya Kak". Fitri cenggegesan sambil mengaruk tengguknya.


"Ibu belum sarapan 'kan? Bagaimana kalau kita sarapan bersama?". Tawar Mars pada Ibunya


"Boleh Nak. Ibu sudah lama tidak makan bersama mu". Senyum binar diwajah wanita paruh baya itu.


"Kak, bagaimana kalau Ibu membersihkan diri dulu? Biar aku yang bantu. Kakak masak ya buat Ibu". Fitri menaik turunkan alisnya sambil menahan tawa melihat wajah Mars.


"Wah benar Nak, Ibu tidak pernah memakan masakan mu. Pasti enak". Ibu Mars membayangkan masakkan Mars. Ibu Mars bernama Catty.


"Baik Bu". Sahut Mars, matanya menatap Fitri tajam. Tapi Fitri justru menjulurkan lidahnya mengolok Mars "Ayo Bu, Mars bantu". Mars membantu Catty berjalan dan Fitri juga turut membantu.


Mereka bertiga masuk kedalam Villa. Mars disebelah kanan Catty, dan Fitri disebelah kirinya. Semua pelayan di Villa itu tercenggang dengan mulut terbuka lebar, melihat Nyonya Besar mereka kembali pulih. Padahal wanita paruh baya itu sudah dinyatakan gila dan stress akut.


Canda dan tawa mengiringi ketiganya, seakan sudah lama saling kenal. Fitri yang memang memiliki kepribadian ramah dan ceria begitu mudah akrab dengan Catty. Sedangkan Mars yang awalnya membenci Fitri, kini pria itu tampak menyanyangi Fitri layaknya adik.


"Dek, bantu Ibu mandi ya. Kakak akan masak untuk kalian". Ucap Mars. Fitri menahan tawanya saat Mars memanggilnya Dek, terlihat sekali wajah terpaksanya.


"Iya Kakak ku yang tampan, tapi jomblo. Adikmu yang cantik pari purna tanpa noda dan cela ini, akan membantu Ibu dengan senang hati". Seru Fitri dengan kepercayaannya diri.


Mars berdecih mendengar ucapan Fitri yang pede tingkat provinsi itu. Sungguh, demi apapun ingin Mars menelan gadis ini.


Catty menggelleng kepala sambil tersenyum simpul dan bahagia. Catty merasa bersalah karena membiarkan Mars tumbuh tanpa kasih sayangnya. Sejak umur 8 tahun Mars sudah dilatih untuk berbisnis dengan orang kepercayaan almarhum Ayahnya. Sedangkan Catty wanita itu seakan tak peduli, bukan tak peduli tapi karena meratapi kepergian sang suami sehingga dia melupakan ada anak yang seharusnya dia rawat dengan penuh kasih sayang.


Fitri membantu Catty mandi. Fitri melarang para pelayan yang ingin membantu dirinya, karena Fitri ingin merasakan bagaimana merawat seorang Ibu. Meskipun Catty bukan Ibu nya, tapi Fitri merasa senang karena akhirnya dia merasakan kehadiran seorang Ibu.


Tangan munggil Fitri dengan telaten menggosok punggung Catty, beberapa kali Catty menolak tapi Fitri yang keras kepala tak mau kalah. Fitri juga mencuci rambut Catty yang tampak tak terurus, bahkan sangat bau. Selama ini Catty memang tidak mau dimandi kan oleh siapapun, sehingga dirinya begitu tak terurus.


Setelah selesai membersihkan Catty, Fitri membawa wanita paruh baya itu kembali ke kamar, dan memilih setelan baju yang cocok untuk Catty.


Fitri juga mendandani Catty dengan bedak natural yang sudah lama tak terpakai. Mars selalu menyediakan keperluan Ibunya, meskipun tak pernah dipakai tapi Mars tetap menyiapkan semuanya bahkan mengantinya setiap bulan.


Catty tampak cantik dan terlihat muda saat didandani oleh Fitri.


"Wah Ibu cantik sekali". Puji Fitri

__ADS_1


Catty tersenyum "Terima kasih sayang". Balas Catty pada Fitri.


"Ibu tahu tidak aku punya dua pria jomblo lho, tampan banget Bu. Kalau Ibu mau ambil saja salah satunya". Fitri cekikikan menawarkan Daddy dan Ayahnya. Jika kedua pria itu ada didekat Fitri, sudah pasti keduanya kesal bukan main. Karena Fitri selalu suka membuat mereka berdua geleng-geleng kepala.


Catty hanya menggeleng kepala mendengar ucapan Fitri sambil tersenyum lebar. Sejak kematian suaminya, Catty tak pernah berpikir membuka hati untuk pada pria lain.


Didapur Mars tampak serius dengan kelemek yang melekat ditubuh munggilnya. Tidak heran jika Mars pandai memasak karena sedari kecil dia sudah biasa mandiri, ketika Ayahnya meninggal dan Ibu nya depresi, Mars membiasakan diri untuk mengurus segala hal tentang dirinya termasuk urusan perut. Meskipun banyak pelayan Mars tetap belajar untuk mengurus dirinya sendiri.


Para pelayan sampai dibuat melonggo melihat Mars. Ya selama ini Mars memang jarang pulang ke Villa, dia menetap di Amerika dan mereka juga jarang melihat Mars didapur. Namun, kini pria itu terlihat begitu cekatan untuk memasak.


Arthur sampai mengucek matanya berulang kali, saat hendak mengambil air minum didapur tidak sengaja dia melihat Mars tengah memasak.


"Mars, apakah ini kau?". Arthur mendekati Mars dan menyentuh kening Mars "Tidak pantas". Ujar Arthur.


"Ck, kau ini. Jauhkan tanganmu dari keningku". Mars menepis tangan Arthur dikeningnya.


"Awww". Arthur kesakitan menampar pipinya karena dia berpikir bahwa dia sedang bermimpi.


"Kau kenapa?". Tanya Mars heran.


"Aku sedang tidak bermimpi kan?". Ujar Arthur masih tak percaya.


"Ck, lebih baik bantu aku jangan banyak bertanya". Ketus Mars menyerahkan beberapa sayuran pada Arthur.


"Kau tahu kan Mars, aku tidak pernah memegang alat dapur, bagaimana aku bisa membantumu?". Keluh Arthur.


Arthur mencibir kesal. Arthur merasa ini bukan Mars, bayangkan ketua Mafia yang biasanya memotong daging manusia kini harus belajar memotong sayuran. Sungguh Arthur merasa dunia sekarang sudah kiamat. Namun melihat sorot tajam di mata Mars nyali Arthur seketika menciut dan bergidik ngeri, dari pada terkena amukkan lebih baik menurut saja. Toh cuma membantu, begitulah pikir Arthur.


Satu jam kemudian masakkan keduanya sudah selesai, para pelayan diperintahkan oleh Mars untuk menata makanan diatas meja. Masakkan khas Korea tersebut, terlihat begitu mengiurkan dan mengunggah selera.


Fitri dan Catty turun bergabung dan menuju meja makan.


"Wah, Kak Mars sangat pandai memasak". Puji Fitri sambil menarik kursi dan mempersilakan Catty duduk "Silahkan Ibuku yang cantik". Senyum lebar Fitri.


"Terima kasih sayang". Catty duduk.


Mars memutar bola matanya melihat Fitri, tanpa dia sadari sudut bibirnya tertarik.


"Ayo Kak makan jangan malu-malu". Celetuk Fitri tersenyum mengejek pada Mars.


"Ck, kau ini". Mars duduk kembali.


Arthur masih mematung pikirannya dipenuhi tanda tanya. Kenapa bisa begini? Bukankah Catty gila? Bukankah Catty tidak bisa didekati siapapun bahkan Mars sekali pun? Tapi ini, bahkan wanita paruh baya itu tampak cantik dan normal seperti wanita pada umumnya. Dan lagi, Mars dan Fitri terlihat akur dan akrab. Bukankah Fitri tawanan Mars? Tapi kenapa Fitri memanggil Mars Kakak? Seperti sudah lama akrab. Berbagai pertanyaan berkecimpung dikepala Arthur.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan berdiri disitu?". Sindir Mars.


"Ehhh Iya". Arthur duduk "Ibu, apa kau masih mengingatku?". Kini Arthur melihat kearah Catty.


"Arthur". Lirih Catty "Arthur kecil teman Mars?". Ucap Catty.


"Iya ini Arthur, anak Ibu paling tampan". Arthur memeluk Catty dengan bahagia "Terima kasih Ibu kembali". Ucap Arthur melepaskan pelukkan Catty. Mars dan Arthur sudah bersahabat sejak kecil jadi mereka berdua seperti saudara.


Catty tersenyum "Maafkan Ibu tidak merawat kalian berdua dengan baik". Ucap Catty sendu.


"Tidak Bu. Kami yang tidak merawat Ibu dengan baik". Timpal Arthur matanya berkaca-kaca.


"Sudah drama-drama nya makan dulu". Potong Mars.


"Bu, biar Fitri ambilkan". Fitri mengambil mangkuk dan sendok untuk Catty, sambil memasukkan beberapa sop buatan Mars.


"Terima kasih Nak". Catty menyambutnya.


"Kak Mars mau diambilkan juga". Tawar Fitri.


Mars tersenyum "Boleh". Fitri mengambil kan untuk Mars juga.


Lagi-lagi Arthur menatap tak percaya melihat permandangan langka didepannya.


"Ini untukmu Kak Arthur". Senyum Fitri meletakkan mangkuk kedepan Arthur.


Arthur menatap Fitri heran saat memanggilnya Kakak "Kakak kan teman Kak Mars jadi aku panggil Kakak saja ya. Kalau panggil Tuan kan aku bukan babumu". Seru Fitri. Mars menahan tawanya melihat wajah bingung Arthur


"Ahhh baiklah terserah kau saja". Balas Arthur mengambil makanan itu.


Fitri terdiam karena teringat setiap kali makan biasanya dirinya disuapi oleh ketiga Kakak nya atau biasa juga Ayah dan Daddy nya.


"Kenapa?". Tanya Mars heran saat melihat Fitri melamun dan mengaduk makanan dalam mangkuknya padahal tadi gadis itu terus saja mengoceh.


"Kenapa sayang, hmmm?". Tanya Catty lembut.


"Fitri teringat Kak Sean, Kak Zean, Kak Zaen, Daddy dan Ayah Bu. Biasanya setiap kali makan Fitri selalu disuapin". Jawab Fitri menunduk.


Mars terkesiap mendengar ucapan Fitri. Mars baru tahu bahwa Fitri adalah seorang gadis yang benar-benar disayangi oleh keluarga nya. Bahkan makan saja gadis itu harus disuapi saking sayangnya.


"Sini, biar aku suapin saja". Mars menarik mangkuk Fitri.


Fitri tersenyum sumringah "Yeiii, terima kasih Kakak". Fitri menyambut makanan yang di sedorkan Mars ke mulutnya.

__ADS_1


Catty hanya menggeleng sambil tersenyum bahagia. Rasanya seperti bermimpi. Tapi dalam hati Catty masih bertanya siapa Fitri sebenarnya? Apakah dia malaikat yang merupai manusia?


Bersambung........


__ADS_2