Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 95. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA......


Peperangan dimulai. Mereka saling menyerang dengan membabi buta. Terutama Myron, dia menyerang Dave tanpa ampun. Begitu juga Dave menyerang Myron. Mereka berdua saling serang menyerang.


"Lepaskan Zevanya Dave". Teriak Myron.


"Tidak akan. Dia sudah jatuh ke tanganku dan dia adalah milikku". Ucap Dave menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Aku akan memberikan wilayah timur padamu. Asal kau melepaskan Zevanya". Tawar Myron dengan nafas memburu.


"Hahahaha. Kau mau menukarkan nya dengan apapun. Aku takkan mengembalikannya. Zevanya milikku. Aku akan menikahinya dan kami akan hidup bahagia hanya berdua". Ujar Dave dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Tangan Myron terkepal "Tidak akan kubiarkan Dave. Hanya aku yang boleh memiliki Zevanya. Dia milikku. Bukan milikmu". Ucap Myron penuh penekanan.


Dave tertawa garing mendengar pernyataan Myron "Jangan terlalu percaya diri Myron. Dia tidak mencintai mu". Ledek Dave "Jadi biarkan dia menjadi milikku. Aku akan membuatnya mencintaiku". Ujar Dave lagi tak mau kalah. Mereka berdua terus beradu argument.


Yang lain juga ikut bertarung. Anggota Yakuza yang berjumlah ratusan orang itu membuat mereka kewalahan mengalahkannya.


Para pria paruh baya yang berusia hampir kepala enam tak gentar sama sekali. Malah mereka dengan santai menerima serangan dari yang lebih muda.


.


.


.


Zevanya membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya sakit sekali. Dia merasa baru bangun dari koma yang panjang.


Zevanya menatap sekeliling nya. Tidak ada orang. Elena dan Deva, sedang pulang menganganti pakaian mereka.


Zevanya melepaskan selang oksigen dihidung nya serta beberapa selang lainnya bekas operasi. Selang cairan infuse dan selang-selang darah yang mengalir.


"Aku harus menemui Daddy. Aku tidak mau Dad terluka". Lirih Zevanya.


Gadis itu perlahan turun dari ranjang. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dia juga memegang perutnya yang terasa terikat. Bekas operasi itu masih belum juga pulih.


Zevanya mengambil ponsel disaku bajunya. Ponsel Deva yang dia ambil secara diam-diam.


"Ditengah hutan". Gumam Zevanya.


"Aku harus menghubungi triple L". Zevanya mengirim pesan pada ketiga Mutan nya.


Gadis itu menyimpan ponsel yang disaku bajunya. Dia melangkah pelan menuju pintu.


Zevanya mengintip. Banyak sekali pengawal yang menjaganya. Akan sulit untuk dia bisa kabur dari sana.


Namun gadis itu tak kehilangan ide.


"Paman".


"Nona".

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan para pria berbaju hitam itu, Zevanya mengambil kunci pintu.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?". Tanya mereka.


"Paman tolong perbaiki kasurku. Aku susah tidur". Pinta Zevanya dengan wajah yang dibuat sesendu mungkin agar mereka tidak curiga.


"Baik Nona".


"Aaa, Paman sebaiknya kalian masuk semua saja. Kasurku berat tidak akan mampu jika diangkat hanya beberapa orang saja". Ujar Zevanya. Tak lupa wajah lucunya dia tampilkan hingga membuat para pria itu luluh.


"Baik Nona". Mereka masuk semua.


Zevanya berjalan pelan, meraih handle pintu dan memasukkan kunci dari luar.


"Paman kalian gantikan aku saja ya. Terima kasih sudah mau dibodohi". Setelah berteriak Zevanya langsung menutup pintu dan menguncinya dari luar.


"Nona". Mereka semua berlari kearah pintu.


"Sial. Bagaimana bisa kita ditipu olehnya". Radang salah satunya.


"Kita harus cari cara untuk keluar dan menemukan gadis itu. Jika tidak Tuan Dave pasti akan menguliti kita hidup-hidup". Ujar salah satunya.


Zevanya berjalan gontai sambil memegang perutnya. Saat melihat Ricardo, Elena dan Deva secepatnya Zevanya bersembunyi dengan keahlian actingnya. Maklum penulis buku selalu punya cara untuk mengelabui munsuhnya.


Setelah Ricardo, Elena dan Deva menjauh. Zevanya segera melangkah. Dia yakin jika mereka pasti akan mengejarnya.


Zevanya kembali bersembunyi saat melihat Tian masuk kedalam gedung rumah sakit.


"Aku tidak boleh tertangkap". Gumamnya.


"Permisi Kak". Ucap Zevanya pada pria yang memakai moge itu.


"Ada apa?". Tanya pria itu dingin.


"Bolehkan aku pinjam motormu?". Pinta Zevanya tak lupa jurus andalan nya


"Untuk apa?". Kening pria itu berkerut.


"Aku ingin menemui kekasihku di taman. Tapi aku tidak punya uang untuk naik taksi. Aku hanya punya ini". Zevanya menunjukkan blackcard nya. Mata pria itu membulat sempurna.


"Ini untukmu Kak". Zevanya menyerahkan blackcard itu.


Sang pria mengambilnya dengan tangan bergetar


"Password nya hari pertemuan kita". Jelas Zevanya "Jadi bolehkah kupakai motormu?". Pria itu mengangguk.


Zevanya berjingkrak senang. Dia mengambil helm dan memasangkannya ditelinga kepala munggilnya. Zevanya langsung meninggalkan pria yang masih asyik dengan keterkejutan nya sambil memegang blackcard yang diberikan oleh Zevanya.


Zevanya melakukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sesekali gadis itu meringgis kesakitan saat luka bekas operasi ditubuhnya mengangga.


"Aku tidak bisa lewat Bandara. Disana pasti sudah dijaga dengan ketat oleh Arata". Gumam Zevanya.

__ADS_1


"Apa aku langsung saja ya?". Gadis itu tampak berpikir sambil melajukan motornya.


"Baiklah".


.


.


.


"Brengsekkkk".


Pertarungan antara Mafia dan Yakuza masih berlangsung sengit. Myron memang memukul membabi buta. Tak peduli dengan wajah nya yang sudah lebam karena pukulan Dave diwajahnya.


Begitu juga dengan Zehemia dan Kenzie yang melawan Arata. Mereka berdua sempat kewalahan namun mampu menyeimbangi kemampuan Arata.


Bug bugh bugh Bugh.


"Arghhhhhhhhh".


"Daddy". Zehekiel menghampiri Fillipo "Apa kau baik-baik saja Dad?". Zehekiel sangat panik.


"Daddy baik-baik saja Son". Fillipo mencoba berdiri.


Setelah pertarungan sengit. Myron, Zehemia, Kenzie dan yang lainnya kalah dalam pertarungannya itu.


"Ikat mereka".


"Baik Tuan".


Dave tersenyum licik. Dia bisa mengalahkan para Mafia kejam itu dengan kemampuan nya. Tak sia-sia dia belajar ilmu bela diri.


"Bagaimana?". Tatap Dave mengejek Myron "Kau memang tidak pantas menjadi pendamping Zevanya. Yang pantas itu hanya aku". Bisik Dave sambil mencengkram dagu Myron.


Dave beralih pada Shawn


"Son". Zaen berusaha memberontak apalagi ketika melihat Dave membawa belati tajam ditangannya.


"Hai Shawn. Kau masih mengenalku kan?". Ejek Dave "Kau masih ingat, gadis yang kau tiduri itu adalah adikku?". Ujar Dave "Dan kau tahu jika adikku tengah hamil dan mengandung anakmu". Shawn berusaha memberontak wajahnya sudah lebam hampir tak berbentuk.


"Lepaskan putraku Dave". Sentak Zaen menatap tajam. Dia tidak mau jika Shawn disakiti.


Dave menulikan telinganya. Dia mengambil belati disaku celananya dan memainkannya diwajah Shawn.


"Kau tahu kan saat benda ini menyentuh kulitmu, bagaimana rasa sakitnya?". Badan Shawn bergetar dingin.


"Jangan berani-berani menyentuhnya Dave". Sentak Myron menatap Dave tajam dia berusaha memberontak. Namun tidak bisa


"Melepaskan nya?". Dave tersenyum meledek "Kau pikir aku bodoh yang akan melepaskan tangkapanku sendiri?". Ejek Dave.


Sementara Arata hanya menonton dikursi sambil menyesap rokok ditangannya. Dia puas melihat Dave yang menyiksa para tawanan nya.

__ADS_1


Bersambung....


LoveUsomuch ❤️


__ADS_2