
Penyesalan takkan membuat segalanya terulang kembali.
SELAMAT MEMBACA....
Philip memperhatikan putranya. Ia menghela nafas kasar, sedari tadi mata putranya tak lepas dari gadis kecil itu.
"Bagaimana keadaanmu Son?". Tanya Philip pada Fillipo.
Fillipo langsung tersadar dari lamunannya "Seperti yang kau lihat Dad". Sahut Fillipo dingin. Hubungan Ayah dan anak ini memang sudah lama renggang, setelah kematian Fietter. Namun kembali hangat saat kehadiran Fitri dalam hidup Fillipo. Tak bisa dipungkiri jika gadis jenius tersebut mampu mengubah hidup seorang Fillipo.
"Jika kau mencintainya. Perjuangkan!!!". Philip menepuk bahu putranya pelan. Ia paham, bagaimana perasaan putra nya ini.
"Dia tidak mencintaiku". Sahut Fillipo dingin
"Kau bisa membuat nya mencintaimu". Timpal Philip lagi.
Sementara Pearce, gadis yang satu ini diam seribu bahasa. Tatapan kosong. Ia begitu iri dengan kehidupan Fitri yang hangat bersama Kakak dan Daddy nya. Sementara hubungan Pearce dan keluarganya tidaklah terlalu hangat, meski kedua orangtuanya sangat harmonis. Pearce merasa ia tak seberuntung Fitri, gadis kecil itu seakan mampu mengambil seluruh dunianya dalam sekejap.
Ditempat lain, seorang pria paruh baya melempar kan semua barang-barang yang diatas mejanya. Ia begitu marah, emosi dan benci setelah mendengar apa yang terjadi pada adiknya.
"Bagaimana bisa mereka menghabisi Winner King dengan jumlah sebanyak itu?". Tanyanya emosi.
"Me-mereka dibantu oleh Professor Sam Tuan". Sahut sang Assisten ketakutan melihat wajah menyeramkan Tuan nya.
"Sam?". Pria itu tampak berpikir "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?". Dia berusaha mengingat.
"Dia munsuh Tuan Park, Tuan". Sahut asistennya "21 tahun yang lalu Tuan Park pernah menyerang Mansion dan Markas Professor Sam". Lanjut sang assiten
__ADS_1
"Dia bukan Mafia! Hanya seorang Professor. Bagaimana mungkin bisa mengalahkan Park?". Tanyanya lagi.
"Menurut orang suruhan kita, mereka menggunakan robot dan snipper Tuan". Jawabnya.
"Robot?". Gumamnya "Siapa yang menciptakannya?". Lanjutnya lagi.
"Itu masih dalam penyelidikan kami Tuan". Sahut asistennya
"Baik". Ucap pria paruh baya itu "Siapkan semua anggota, kita akan kembali menyerang mereka dan membebaskan Park dan Michael". Tatapnya tajam
"Baik Tuan". Sahut sang Assisten berlalu dari hadapan Tuan nya.
Pria paruh baya itu adalah Pedrosa Glorified, Kakak kandung dari Park Glorified. Dia adalah ketua Mafia dari Black Glorified, kelompok Mafia yang cukup kejam dan berbahaya didunia gelap. Tak ada yang banyak tahu tentang kelompok Mafia yang satu ini, selain identitas yang memang sengaja disembunyikan, Black Glorified juga merupakan cabang dari Winner King. Mereka selalu mengelabui munsuh melalui kelompok ini.
"Park, tenanglah Kakak akan membebaskanmu". Lirihnya memegang foto dirinya dan sang adik. Park adalah saudara satu-satunya yang dimiliki oleh Pedrosa.
Namun, hati Pedrosa sedikit terbuka. Ketika lima tahun silam seorang gadis kecil menolongnya ketika terluka parah saat berperang dan ia melarikan diri ke New York, Amerika Serikat. Pedrosa dirawat oleh gadis kecil yang usianya kira-kira 16 tahun. Pandangan Pedrosa saat itu terhadap wanita berubah saat bertemu dengan gadis itu. Gadis kecil yang baik dan cerewet itu mampu mengubah hidup Pedrosa yang sunyi dan sepi menjadi ramai. Gadis itu mengingatkannya pada seorang wanita yang ia cintai, wanita yang ia tinggalkan hanya karena ia mengikuti keinginan kedua orangtuanya untuk meninggalkan wanita miskin tersebut.
Namun ia terpaksa meninggalkan gadis itu karena ia harus kembali kepada kelompok Mafia dan membuat Markas baru. Saat itulah perpisahannya dengan gadis itu, gadis yang seharusnya sudah cocok menjadi anaknya. Ia Pedrosa berniat untuk mengangkat gadis itu sebagai putrinya, namun sampai sekarang dia tidak menemukan gadis itu.
"Dimana dirimu little Girl?". Lirih Pedrosa memandang foto kecil didompetnya. Foto yang ia ambil diam-diam saat bersama gadis itu.
Pedrosa keluar dari ruangannya dan menuju Markas yang terletak ditengah hutan. Markas yang sudah ia bangun sejak lima tahun belakangan ini.
"Selamat malam Tuan". Sapa beberapa anak buah.
Mereka sudah ketakutan bukan main saat melihat pria menyeramkan itu, datang ke Markas. Tentunya akan ada nyawa yang hilang jika pria paruh baya itu sudah datang.
__ADS_1
"Keluarkan". Perintahnya pada anak buahnya
"Baik Tuan". Beberapa anak buah menyeret seorang pria muda yang tampan.
"Lepaskan aku brengsekkkk". Teriak pria itu menatap Pedrosa.
"Apa begitu sopan santun mu pada Pamanmu sendiri?". Tatap Pedrosa dengan tajam.
"Cih, Paman macam apa yang menyembunyikan keponakkan nya dan menyiksa nya sendiri?". Bentak nya pada Pedrosa.
"Buang omong kosong mu James!". Geram Pedrosa "Kau sendiri yang menghianatiku, jadi aku hanya membalaskan dendam ku". Ucap Pedrosa.
"Aku bukan menghianatimu aku hanya mengambil keuntungan didepan mataku". Sahut James santai. Ya pria tersebut adalah James, pria yang dikira sudah meninggal dibunuh oleh Fillipo tersebut ternyata masih hidup dan diselamatkan oleh Pedrosa. Tentu alasan Pedrosa menyelamatkan keponakkan nya itu ada tujuannya, dia tahu jika keponakkan nya itu lah yang membocorkan pemasaran senjata gelapnya. Serta mengadu domba Kelompok Mafia antara Lion Killer dan Winner King dengan membuat sebuah berita bahwa dirinya dibunuh oleh ketua dari Lion Killer
"Kau bahkan sudah dianggap mati James, kenapa kau masih berkeras kepala sekali". Geram Pedrosa "Kau tahu, akibat kebodohan mu itu, Park dan Michael disekap dan seluruh anggora Winner King tidak ada yang tersisa". Jelas Pedrosa.
"Cih, Park itu bukan Daddyku. Daddy ku sudah dibunuh oleh Kakek nya Fillipo. Pria bangsat itu harus merasakan pembalasanku". Ucap James tajam. Kedua tangannya bogol dengan besi.
"Hahha, kau hanya salah paham James". Tawa Pedrosa menggema diseluruh ruangan "Daddymu dibunuh langsung oleh Park, dan kau tahu Tuan Grande adalah sahabat baik Daddymu, justru dia yang menyelamatkan Daddymu waktu itu". Ucapa Pedrosa berhasil membuat James bungkam. Lidahnya terasa kelu dan seperti mati rasanya. Ia telah diadu domba oleh Park yang mengatakan bahwa Kakek Fillipo yang sudah membunuh Daddy nya. Ternya tua bangka itu yang melakukannya.
"Kenapa terlihat kaget begitu?". Tanya Pedrosa mengejek James "Hah, aku aku tidak mengira kau sebodoh itu James. Park, memang adikku, tapi aku tidak membelanya saat dia melakukan kesalahan. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu membunuhnya". Celoteh Pedrosa lagi. Ia menatap kemarahan dan kebencian di mata James.
"Brengsekkkk". James berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Sudah lah James, berhenti memberontak karena sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu! Kau sudah menghianati kepercayaanku. Sekarang tinggallah ditempat menjijikkan ini sampai hayat menjemputmu". Bisik Pedrosa pada James.
James gemetaran mendengar ucapan Pedrosa. Ia sampai bergidik ngeri, sudah lama ia di siksa ditempat menjijikan itu. Wajahnya sudah tergores-gores oleh belati yang diukir Pedrosa pada wajahnya. Pria tua itu sengaja menyiksa nya dengan kejam tanpa membunuhnya.
__ADS_1
Bersambung.....