
**Kekalahan bukan akhir dari segala perperangan. Merupakan awal yang baik untuk melakukan perlawanan.
SELAMAT MEMBACA**
Sean keluar dari kamar Fitri. Handphone nya berbunyi dan dia segera menjauh saat melihat nama asistennya terpampang dilayar ponsel itu.
"Ada apa Boy?". Tanya Sean.
"Tuan, Markas kita diserang oleh Glorified King. Tuan Park dan Tuan Michael sudah mereka bebaskan, dan mereka membobol semua senjata Tuan Sam". Lapor Boy.
Tangan Sean terkepal mendengar penjelasan dari Boy
"Baik Boy, aku akan segera menemui Daddy". Sean pun menutup telponnya dan berjalan menemui Daddy nya, yang masih bercengkrama bersama Philip dan Pirand.
"Dad". Panggil Sean dan disana juga sudah ada Fillipo. Fillipo menyembunyikan patah hatinya dengan mengobrol bersama kedua orangtuanya
"Ada apa Son?". Tanya Sam yang melihat kekhawatiran diwajah putranya.
"Dad, Markas kita diserang oleh Glorified King, Park dan Michael juga sudah dibebaskan oleh mereka. Dan sekarang senjata Daddy semua dibobol oleh mereka". Jelas Sean.
Deg
Jantung Sam berdetak dengan cepat.
"Bagaimana bisa? Apa penjagaannya tidak ketat?". Tanya Sam tangannya sudah mengepal.
"Kita harus cepat bertindak Sam, seperti nya ini semua ulah Pedrosa". Timpal Philip.
"Benar kata Paman, Daddy". Sambung Sean "Sebaiknya malam ini kita harus berangkat ke Amerika". Lanjut Sean.
"Baik Sean!! Aku akan menghubungi Dhanny dan Lucas untuk membantu kita". Sambung Fillipo.
"Leo, cepat hubungi Lucas dan Dhanny, suruh mereka segera kesini". Perintah Fillipo.
"Baik Tuan". Sahut Leo langsung meninggalkan mereka dan melaksanakan tugasnya
"Dion dan Alexander juga harus ikut. Pedrosa bukan lawan yang bisa kita remehkan". Ucap Philip yang langsung menghubungi adik dan sahabatnya itu.
"Sebaiknya kita bersiap-siap". Ajak Fillipo.
"Mom, jaga diri baik-baik disini jangan kelur dari Mansion jika tidak ada keperluan". Perintah Philip memeluk istrinya.
"Hati-hati Dad". Balas Piranda.
"Pearce, tolong segera hubungi Luna dan Dea untuk datang ke Mansion ini. Ingat pesan Kakak, jangan keluar jika tidak ada keperluan". Tegas Fillipo.
__ADS_1
"Baik Kak". Sahut Pearce.
"Aku titip Fitri pada kalian!! Jangan katakan apapun padanya. Jika dia bertanya, katakan saja kami ada urusan bisnis". Ucap Sean juga.
"Iya Kak Sean". Jawab Pearce. Pearce bergidik ngeri saat melihat tatapan tajam Sean. Sean tak kalah dingin dari Kakak nya Fillipo.
Lucas dan Dhanny sudah bersiap-siap di Mansion Fillipo, begitu juga dengan Alexander dan Dion yang juga sudah bersiap-siap dengan senjata mereka.
Luna, Dea, Mouth dan Diandra juga datang ke Mansion mewah itu. Sesuai dengan perintah para lelaki mereka bahwa mereka akan tinggal di Mansion itu sampai keadaan aman.
Jet pribadi milik keluarga Wilmar itu terbang diudara, langit malam Negara Jerman. Tampak bintang-bintang indah menghiasi langit tinggi itu.
Jet pribadi mirip Mansion terbang itu mengudara dengan cepat. Para penumpang didalamnya terlihat tegang dengan ekspresi masing-masing.
Fillipo, salah satunya yang duduk tanpa ekspresi. Pikiran terfokus pada gadis yang baru saja menolaknya beberapa jam yang lalu. Tak bisa dipungkiri bahwa dia patah hati bukan main, bahkan lebih sakit dari pada kehilangan Fietter saudara kembarnya. Tapi Fillipo juga tidak bisa memaksa gadis itu untuk menerima cintanya. Fillipo sadar bahwa dia tidak pantas untuk gadis unik seperti Fitri.
Perjalanan dua puluh jam itu, tidak terasa. Jet pribadi mendarat di halaman Mansion mewah milik Sam. Dengan langkah tergesa Sam turun dan berlari memasuki Mansion mewah itu, ikuti oleh Philip dan yang lainnya.
Keadaan Mansion tampak kacau, beberapa pelayan tergelatak tak bernyawa.
"Boy". Panggil Sean saat melihat Boy datang menyambut mereka.
"Apa yang terjadi Boy?". Tanya Sam pada Boy.
Namun Boy dan tersenyum licik.
Philip, Sam dan yang lainnya segera mengatur posisi.
"Apa yang kau lakukan Boy?". Bentak Sean.
"Hahha". Boy lalu melepaskan topeng diwajahnya. Tampaklah wajah asli dari Pedrosa.
"Pedrosa". Lirih Philip dan Sam.
"Hai, Sam dan Philip". Sapa Pedrosa dengan tersenyum mengejek "Apa kalian masih mengingatku??". Tanya nya lagi tatapan tajam ia layangkan pada kedua teman lama nya itu yang kini menjadi rival nya.
Sam menatap Pedrosa tajam, tangannya terkepal menahan emosi.
"Apa maumu?". Tanya Sam.
Pedrosa tersenyum mengejek "Mau ku hanya mempercepat kematian kalian berdua". Pedrosa tertawa seram "Tapi sepertinya, tidak segampang itu melenyapkan kalian". Tatap Pedrosa.
Fillipo dan Sean mengepalkan tangannya.
Dor dor dor dor
__ADS_1
Mereka saling serang menyerang. Mansion mewah itu tampak kacau.
Fillipo dan Sean memang ahli dalam tembak menembak, begitu juga dengan Philip dan Sam. Meskipun Sam dan Sean bukan anggota Mafia, tapi mereka membekali diri mereka dengan ilmu bela diri.
Dhanny dan Lucas tak kalah lihai, kedua pria ini memang anggota Mafia yang patut di waspadai, ditambah dengan Alexander dan Dion yang juga merupakan mantan dari anggota Mafia.
Saling serang menyerang masih terdengar menggema di Mansion itu. Namun, karena mereka kalah jumlah dengan Glorified King dan tidak mampu melawan orang dengan jumlah sebanyak itu.
Fillipo dan Sean tergeletak lemah saat peluru itu bersarang ditangan kedua pria tampan ini.
Mereka dilumpuhkan namun tidak dibunuh oleh Pedrosa. Pedrosa tertawa puas melihat kekalahan dari munsuhnya.
"Hahha, akhirnya kalian kalah juga". Tawa Pedrosa "Sam, aku akan melepaskanmu dan melupakan dendam kita, tapi berikan putrimu yang jenius itu padaku. Karena dia adalah senjataku, hahahaha". Ucap Pedrosa.
Sam dan Sean mengepalkan tangan mereka hingga kuku-kuku tangan mereka terlihat jelas "Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan putriku padamu". Tegas Sam.
"Bawa mereka". Perintahnya pada anak buahnya.
Mereka pun dibawa oleh anggota Mafia Glorified King, menuju Markas besar di kota New York itu. Mereka disandra bagai tawanan.
"Arggghhhhh". Teriak Sam saat cambuk itu mengenai punggungnya.
"Daddy". Teriak Sean.
"Arggghhhhh". Pekik Philip juga saat cambuk itu memakan tubuhnya.
"Daddy". Teriak Fillipo.
Sementara Dhanny, Lucas, Alexander dan Dion mereka diikat mulut, tangan dan kaki mereka. Karena Pedrosa tidak punya urusan dengan orang-orang tersebut, jadi Pedrosa menjadikan mereka sebagai penonton.
"Hahahaha". Tawa Pedrosa "Bagaimana Sam?". Tanya Pedrosa mengejek
"Serahkan putrimu dan aku akan membebaskan kalian". Senyum licik diwajah Pedrosa.
"Lepaskan brengsekkk". Teriak Sean.
"Sean Ranlet Flint". Cicit Pedrosa berjalan kearah pria itu.
"Putra dari Rachel Yuanita Carin Sitomorang". Cibir Pedrosa.
"Kau tahu Sean? Ayahmu, ini merebut wanita yang kucintai!! Jadi salahkah cinta aku balas dendam??". Ucap Pedrosa menatap tajam.
"Lihatlah, bahkan dia tidak bisa menjaga gadisku itu!!". Lanjut Pedrosa lagi.
Sean menatap Pedrosa tajam. Tentu saja Sean tahu tentang masa lalu Mommy nya, karena semua tentang Mommy nya sudah diceritakan oleh Sam.
__ADS_1
Bersambung.....