Book Of Flowers

Book Of Flowers
Ayah Anak


__ADS_3

--- Sisi Barat Miralius, Pemukiman Elf Bunga ---


"Hoy!! Berhenti terbang kesana kemari!!"


Verdea sibuk mengejar anak-anak itu. Mereka terbang kesana kemari menghindarinya. Aku bahkan dibuat terkejut karena mereka terlihat sudah paham betul medan area disini


"Oberon. Ayo main dengan kami" Seorang anak mengajakku


Tapi aku menolak permintaannya itu karena aku hanya ingin duduk ditempat saja


Anak itu pun kusuruh terbang kembali bersama teman-temannya. Dia melakukan hal yang kukatakan kemudian mulai membuntuti Verdea dengan senyum jahil


"Anak-anak itu energetik sekali..." Zaphir berkeluh


"Mereka masih muda, jadi biarkan saja. Toh, itu baik untuk mereka bukan?"


"... Begitukah...?"


Aku langsung menyadari wajah sedih Zaphir. Dia terlihat menengok keatas, tapi tatapan matanya terlihat seperti ada penyesalan di hatinya


"Kenapa?"


"..."


Dia diam tak menjawab. Dia hanya terus menatapi anak-anak yang sedang terbang dengan para Fae itu


"... Mengingat sesuatu?" Aku bertanya lagi


"... Oberon"


"Kenapa?"


"Luna dulu seperti apa?"


...


...


Kamu baru bertanya sekarang ya...?


Aku sedikit marah. Tapi aku tidak memiliki hak apapun untuk langsung berteriak di wajahnya sekarang. Lagipula, hal itu akan merusak suasana semua anak itu


Apa aku harus menjawab ya?


"... Tidak banyak yang berubah darinya. Setelah kami bekerja dibawah Verdea, perubahan yang kusadari darinya hanyalah dia tidak ingin bertemu denganmu lagi. Dia bahkan sampai jauh-jauh mengusulkan untuk tidak kembali ke Miralius sewaktu perayaan baru mendekat dulu"


Dia selalu bersikap tegas namun penyayang. Dia yang kedua tertua di kelompok kami, tepat di bawahku. Tapi, dia selalu terasa seperti kakak perempuanku, begitu juga untuk yang lainnya. Aku mempercayainya lebih dari siapapun, dan begitu juga sebaliknya


Sejak kecil, dia tetap lebih tinggi dariku walaupun aku ini laki-laki. Lalu, dia lebih hebat dalam hal pertarungan dibanding diriku. Seandainya aku tidak memiliki lebih banyak Mana dan teknik jarak dekat, dia akan mengalahkanku dengan mudah


Dia juga lebih kuat dariku dalam soal hati. Dia berani mengabaikan tujuan seumur hidupnya untuk mendapat perhatian ayahnya setelah bekerja sebagai pengawal Verdea...


...


"Kesimpulannya, hanya satu yang berubah darinya. Dia tidak pernah mengejar pandanganmu lagi. Bahkan kamu menyadarinya selama akhir-akhir ini bukan, sampai kamu bingung dan bertanya?


Apa jawaban itu cukup memuaskan?"


...


Aku menunggu respon darinya. Tapi hening. Suara pun tidak keluar, apalagi sepatah kata


Dia terlihat kalut dan muram. Mulutnya terbuka sedikit seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Badannya menjadi kaku layaknya sebuah batu


Sepertinya, apa yang baru saja kulontarkan membuatnya terlalu terkejut


Ini... Membuatku sedikit teringat dengan masa lalu kami...


...


"Oh?"


Aku menoleh ketika mendengar suara terkejut dari arah samping dan mendapati Luna bersama Luxor berdiri disana


"Luna, Luxor. Kebetulan sekali. Apa kalian ingin mengunjungi anak-anak juga?"


"Yah, begitulah..." Luna menjawab


Dia kemudian melirik sedikit kearah Zaphir yang tidak berani mengangkat matanya sedikitpun


"Kalau begitu, bantu Verdea mengurus mereka ya? Anak-anak itu cukup bandel" Aku mengalihkan perhatiannya


"Ayolah Luna. Kita bermain sebentar saja bersama anak-anak" Luxor menyela dengan seorang anak bayi berada di pelukannya


Dia menunjukkan wajah anak itu ke Luna, dan Luna pun merespon dengan mengelus wajah bayi itu perlahan menggunakan jari telunjuk

__ADS_1


"Kamu saja yang pergi. Aku akan melihat bersama Vainzel"


"Hah!? Hmph! Tidak seru!"


Luxor kemudian menyerahkan kembali bayi itu kepada si ibu yang berdiri tidak jauh darinya


Dia kemudian meminta beberapa Fae untuk mendekatinya, lalu segera terbang ke udara dan malah ikut menjahili Verdea bersama anak-anak itu. Aku bisa melihat wajah mengamuk Verdea dari sini...


Dasar. Padahal aku sudah bilang untuk menolongnya bukan...?


"Jadi, dimana Eleanor dan Albert? Mereka sepertinya tidak terlihat mengawasi penduduk mereka" Luna membuka pembicaraan dan mulai duduk di sisi ku yang lain


"Entahlah. Dia sempat berada disini sebelumnya. Tapi ketika aku datang, dia langsung bergegas pergi"


"Mungkin ada urusan. Lagipula, dengan kuasa milikmu di Miralius, dia tidak akan bisa macam-macam bukan?"


"Kamu harus berhenti bersikap terlalu waspada pada orang lain"


...


Zaphir sepertinya tidak ingin mengikuti pembicaraan. Aku sesekali melirik kearahnya sejak tadi, tapi dia bahkan tidak menggerakkan sedikitpun otot wajahnya. Luna juga sepertinya sedang menganggap ayahnya ini tidak ada disini atau semacamnya


"... Kenapa? Biarkan saja dia"


...!


Aku sedikit terkejut Luna mengetahui aku melirik kearah Zaphir, bahkan mencoba untuk mengambil perhatianku kembali


"Tapi, dia terlihat murung bukan?"


Aku ini benar-benar payah menjadi penengah. Ayahanda tolonglah aku agar kedua ayah anak ini tidak membuatku bingung lagi...


"... Sudah kubilang abaikan saja dia bukan?"


"Luna-"


"Tidak apa Oberon"


?!


Zaphir tiba-tiba saja bangun dari tempat duduknya. Tidak lama, dia berjalan pergi entah kemana sembari berkata


"Tidak usah khawatirkan aku"


...


Aku berharap kalau saja Luna bersikap seperti ini nyatanya tidak benar. Tapi dugaanku salah


Luna pasti bertingkah seperti ini juga di depan Zaphir, dan itulah yang membuat dirinya jadi bingung dengan perubahan Luna


...


"Sebaiknya... Aku pergi menyusulnya. Dia tidak terlihat baik-baik saja" Aku berkata dan mulai bangun


"... Bagaimana dengan Verdea dan anak-anak?"


"Kalian berdua ada disini bukan? Lagipula, jika ada salah satu dari kalian yang merasa terganggu, itu tanggung jawabku untuk menghilangkannya bukan?


Kalian itu teman-temanku"


Aku beranjak pergi dengan cepat agar bisa menyusul Zaphir dan tidak kehilangan jejaknya


Luna pun hanya menarik napas penuh keluhan, dan kembali mengawasi anak-anak


......................


"Zaphir! Zaphir!"


Aku berlari pelan kearahnya, namun dia juga berusaha untuk tidak terkejar. Dia mempercepat setiap langkahnya, namun lama kelamaan, aku pun sampai tepat di belakangnya


"Kenapa? Bukannya kamu ada kesempatan untuk berbicara santai dengannya?"


"Kesempatan apa?"


"T- tunggu. Pelankan langkahmu terlebih dahulu!"


Tapi dia bahkan tidak memelankan diri sedikitpun


"Aku bilang jalan perlahan!!"


Aku secara tidak sengaja menariknya hingga berhenti dengan sulurku


Aku sama sekali tidak bisa mengikuti tempo gerakannya. Malahan, aku akan menyia-nyiakan tenaga jika seperti itu


"Dengarkan aku sekarang!" Aku berseru kepadanya yang sudah terhenti

__ADS_1


"Aku selalu mendengarkan"


"Tapi kamu tidak ingin sekarang ini bukan?"


"..."


Bagus, akhirnya dia sudah terasa lebih tidak tegang. Itu artinya dia ingin bicara saja di tempat ini


Aku perlahan melepaskan sulurku dari tubuhnya, kemudian memasang kembali kedua sarung tanganku


"Kamu harus tahu, jika kamu atau Luna terus bersikap seperti ini, kalian berdua tidak akan pernah akur. Salah satu dari kalian harus melakukan gerakan untuk mengubahnya"


"..."


"... Apa-apaan tatapanmu itu?"


Tatapannya penuh sekali dengan rasa putus asa. Wajahnya terlihat kendur walaupun dia berusaha menahannya di tempat. Mulutnya terbuka sedikit, dan matanya terlihat berkaca-kaca


Dia sedang sedih. Itu pertama kalinya aku melihat dia putus asa seperti ini. Guruku yang berwibawa dan selalu menghajarku di tempat ketika latihan sewaktu kecil dulu, sekarang terlihat lesu dan tidak berdaya


"... Maaf. Aku... Sepertinya ingin mencari air terlebih dahulu-"


Sebelum dia sempat bergerak, aku memberikannya botol minum milikku


"Peraturan pertama petualang. Selalu bawa kebutuhan pokok untuk persediaan mu"


Dia perlahan mengambil botol itu dari tanganku, kemudian meneguk air di dalamnya sebanyak mungkin


Zaphir langsung merasa segar kembali. Dia kemudian menyerahkan kembali botol itu, tetapi isinya sudah kosong ketika aku memeriksanya


"... Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan diriku dengan Luna. Dia sudah memilih untuk tidak bergantung padaku lagi bukan? Dia bukan anak-anak lagi, dan itu adalah pilihannya. Aku ingin menghormati pilihan itu"


...


Aku tidak menyalahkan mereka berdua. Luna tidak pernah mendapat perhatian dari ayahnya, dan ibunya tiada sejak dia lahir. Tapi, apa yang dia harapkan dari seorang Elf yang lahir di tengah perang brutal dimana kebanyakkan orang terdekatnya sudah tiada?


Zaphir tidak tahu cara memberi perhatian. Dia hanya tahu cara mengayunkan pisau di tangannya itu untuk membunuh siapapun yang menyakiti seorang Oberon. Dia juga sudah mengalami banyak sekali kehilangan selama berabad-abad hidupnya. Lalu...


Apa yang baru saja dia alami mungkin bisa dianggap kehilangan. Dia sudah tidak akan lagi mendapat perhatian dari anaknya...


"Baiklah kalau begitu. Tapi, aku mohon jaga dirimu"


Aku tidak perlu berkata apa-apa lagi. Aku yakin jika aku menceramahi nya, dia justru akan semakin lemas. Sebaiknya aku meninggalkan dirinya dengan apa adanya untuk sekarang ini


"Aku mohon guru. Kamu penting untukku. Begitu juga untuk Luna" Aku berkata sembari memegang pundaknya


Dia menunduk lesu, terlihat jelas kalau dirinya tidak yakin dengan kalimat yang keluar dari mulutku itu


"Apa aku memang penting untuknya? Apa yang sudah kulakukan sehingga dia menganggapku penting?


Dia sudah bukan anak-anak, seperti yang kubilang tadi. Tidak ada apapun lagi yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hubungan kami"


...!


Bukan itu yang seharusnya kamu-


...


...


Sebaiknya aku pergi. Aku tidak ingin semakin merusak suasana...


Dengan itu, aku pun pamit untuk kembali mengawasi anak-anak. Meninggalkan Zaphir yang berjalan berlawanan arah denganku, aku pergi dengan hati berat


...


Jika kalian bertanya, ya. Aku memang menyalahkan diriku lagi, sama seperti ketika kami kecil di Hutan Gelap dulu. Itu pertama kalinya aku menyalahkan diri, dan tidak berhenti disitu saja


Aku selalu menyalahkan diriku ketika berada diantara kedua ayah anak ini. Di hari Zaphir lebih memilih untuk mengangkat diriku disaat itu, dan mengabaikan Luna yang sama juga ikut terluka


Zaphir lebih mementingkan tugasnya ketimbang keluarganya. Dan apabila yang kutakutkan benar, hal itu akan membawa keruntuhan kepada mereka berdua. Dan akulah penyebabnya


Atau begitu yang selalu kuanggap. Lagipula, pemikiran seperti itu ada logisnya juga bukan?


...


Tetapi aku salut kepada Luna semenjak saat itu. Walaupun perhatian ayahnya selalu mengarah padaku, dia tidak pernah dendam atau cemburu padaku sama sekali. Dia justru sangat mempercayaiku, sebesar aku mempercayai dirinya


...


Kisah antara kedua ayah anak ini sebaiknya kusimpan untuk nanti. Aku hanya ingin menambahkan karena secara tidak langsung, aku teringat kepada mereka berdua ketika menulis kembali kisah ini


Mereka bagian penting dalam cerita ini. Apapun yang akan mereka lakukan nantinya, semuanya berputar kepada kami bertiga. Lagipula, yang menyelesaikan masalah antara mereka berdua nantinya adalah Verdea


Hahah... Anak itu benar-benar bisa melakukan apapun...

__ADS_1


Biarkan jawaban dan solusi antara masalah mereka muncul nantinya. Jadi, aku berharap kalian masih mau melihatnya sampai akhir


Oh, dan satu hal lagi. Aku baru ingat kalau Verdea sebenarnya menyadari kalau ada yang mengganggu diantara Zaphir dan Luna. Dia menyadarinya ketika Zaphir beranjak pergi ketika dia masih bermain bersama anak-anak di udara


__ADS_2